Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Pelakor Membuka Kartu Matinya Sendiri


__ADS_3

"Terus kapan dong mas kamu beliin aku rumah barunya, mas?"


"Ya kalau kita udah menikah nanti. Tenang sayang, ga sampai setahun lagi kok."


***


Singkat waktu malam pun tiba. Di dalam hotel mewah tempat Miho dan Damar menginap, Miho sedang rebahan santai diatas kasur yang empuk dan nyaman. Sembari menunggu sang pelayan hotel datang ke kamar mereka buat antarin menu makan malam. Daripada gabut, Miho mencoba melihat-lihat story dari teman-teman WA.


Semua rata-rata memposting story keseharian mereka, kecuali Yaya, istri sah dari Damar. Tapi tiba-tiba Miho mendapat chat WA dari Yaya ketika dirinya sedang online WA. Miho membaca itu. Entah kenapa chat Yaya mengupload foto salah satu kawasan jembatan yang terkenal di Jepang.


"Good night, Miho?" ketik Yaya membuka percakapan.


"Too. Yaya, ada apa chat aku kirim foto jembatan itu?"


"Aku ingin tanya kamu sama mas Damar lagi di lokasi yang sama ya? Soalnya kemarin waktu aku lihat story WA kalian berdua itu, seperti di tempat yang sama?"


Miho melirik sinis ke samping. Dia bingung dengan chat yang dikirim oleh istri sah. Apa benar dia mulai curiga kalau dirinya adalah wanita selingkuhan Damar?


"Kebetulan kita bertemu disini tapi kita cuma sekedar bertemu saja gak lebih kok." balas Miho.


"Seorang sahabat yang baik tidak mungkin menyakiti satu sama lain kan Miho?"


"Tentu saja Yaya."


Tapi rasanya Miho sudah bosan kalau terus menerus menjadi wanita simpanan. Miho berubah pikiran. Miho nekat mengunggah story foto berduanya dengan Damar di jembatan yang sama. Hanya satu menit saja Yaya langsung melihat storynya.


"Gimana ya respon si istri sah yang sok kecakepan ini?"

__ADS_1


Tak berselang lama, Yaya kembali mengirim chat yang baru, Miho langsung membukanya.


"Zaman sekarang banyak juga ya orang yang bermuka dua. Baik didepan, busuk di belakang! Semoga aku dan kita semua dijauhkan dari orang-orang seperti itu. Sekarang aku tahu siapa kamu yang sebenarnya Miho. Kamu membuka topengmu sendiri."


"Tentu saja suami kamu gak akan aku lepasin begitu aja Yaya. Sekarang aku udah gak mau lagi menutup-nutupi siapa aku yang sebenarnya!"


"Oke, aku juga tidak akan melepaskan suamiku begitu saja untuk perempuan jahat seperti kamu! Sebaiknya aku jangan menyerah dulu sampai kapanpun aku akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku dengan mas Damar. Demi kebahagiaan Viona dan calon adiknya. Kecuali kalau mas Damar lebih memilih kamu daripada aku! Mari kita buktikan siapa yang akan menang diantara kita!"


Miho melempar ponselnya keatas kasur sembari mengepalkan salah satu tangannya. Yaya malah menantang dirinya bukannya kecewa lalu minta cerai.


"Sialan! Apa Yaya mau ngajakin aku perang? Dia sudah tahu kalau aku berselingkuh dengan suaminya! Oke, apa kamu yakin, kamu bisa ngalahin aku Yaya? Itu semua hanya mimpi! Kamu gak akan bisa ngalahin aku! Lihat aja apa yang akan terjadi sama kamu! Dasar istri sah sialan!" geram Miho dalam hatinya.


Sementara itu didalam kamarnya, Yaya tengah tersenyum puas karena udah berani melawan Yaya. Setidaknya perasannya jadi plong atau lega setelah tahu fakta yang sebenarnya. Kecurigaannya kepada Miho sangat kuat setelah melihat cincin yang mirip dengan cincinnya yang hilang, ada di dalam lemari pakaian Miho.


Suara mirip Miho yang memanggil Damar waktu video call waktu itu, beserta dua mobil baru dengan harga mahal yang baru saja Miho beli.


***


Menjadi perusak hubungan rumah tangga orang adalah perbuatan yang sangat tercela. Efek buruk yang ditimbulkan begitu besar. Selain rasa sakit hati dan kesedihan yang sangat mendalam, anak juga bisa menjadi korban atas sesuatu yang bernama PERSELINGKUHAN.


Dan Yaya tidak ingin anaknya menjadi korban dari perbuatan itu. Yaya terus jalan santai mengitari komplek. Komplek tempat tinggal Yaya cukup sepi orang yang lewat. Baik siang hari apalagi malam. Karena semua penghuninya adalah orang-orang kaya yang jarang beraktifitas diluar rumah.


Namun Yaya sering keluar untuk berolahraga santai sejenak. Hingga Yaya menjumpai dua orang asing yang sepertinya sedang kebingungan mencari alamat rumah. Dua orang asing itu adalah sepasang laki-laki dan perempuan. Mereka celingukan kesana kemari.


Yaya bergegas menghampiri mereka. Siapa tahu ada yang bisa Yaya bantu.


"Hai? Kalian ini siapa? Saya belum pernah melihat kalian ada di komplek perumahan ini? Apa kalian warga baru disini?" tanyaku ramah.

__ADS_1


Si perempuan terlihat senang saat aku menghampiri mereka.


"Hai juga, kenalin aku Elma dan ini Arif suamiku. Kita berdua sedang mencari pekerjaan disini. Siapa tahu ada majikan orang kaya yang mau menerima kami sebagai pembantu atau sopir mereka. Barangkali, mba lagi butuh pembantu atau sopir?


"Namaku Yaya. Salam kenal ya. Aku punya satu pembantu di rumah. Tapi aku rasa, aku juga membutuhkan pembantu lain sih. Aku sekarang juga gak punya sopir pribadi. Kalau kalian mau bekerja, aku harus izin dulu sama suamiku. Tapi aku juga harus tahu data kalian?"


"Syukurlah, akhirnya ada juga orang yang bisa memberikan kami pekerjaan. Kami sedang membutuhkan banyak uang mbak. Buat biaya pengobatan anak kita." jelas si laki-laki yang bernama Arif ini.


"Memangnya anak kalian dimana? Dia sakit apa?" tanyaku, peduli.


"Dia ada di kontrakan. Neneknya yang menjaga. Dia sakit autoimun. Saya sedih banget. Begitu susah mencari pekerjaan, dari kemarin kita luntang-lantung cari kerjaan, hingga kita coba mencari pekerjaan di komplek ini, dan akhirnya kita bertemu dengan orang sebaik mbak. Tolong usahakan agar kita bisa diterima oleh suami mbak?" ucap lirih Elma seraya menangis sedih.


Aku juga ikut terhanyut dalam kesedihan.


"Akan aku usahakan. Boleh minta nomor HP kalian, biar aku simpan dan kalau suami aku setuju atau tidak setuju, aku akan langsung menghubungi kalian."


"Makasih banyak mbak. Nomor HP saya 085333xxxxxx." tutur Elma.


Lalu aku mencatat nopenya dan menyimpannya di dalam kontak HP aku.


"Yaudah, kalau gitu aku pulang dulu ya ke rumah. Sampai jumpa?" pamit ku kepada mereka.


"Sampai jumpa kembali." balas mereka kompak.


Aku merasa senang kalau aku bisa bantu mereka mendapatkan pekerjaan. Aku selalu sedih kalau mendengar cerita kehidupan orang-orang lain yang malang. Prinsip aku adalah, menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang, aku merasa bahagia jika bisa seperti itu.


Namun dibalik kebaikan Yaya, tampak tatapan mata yang licik dan tajam, mereka bersembunyi di balik topeng. Arif dan Elma senyum-senyum licik menatap Yaya dari belakang, tanpa sepengetahuan Yaya. Siapakah mereka berdua itu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2