
"Buat apa kamu datang kesini menantu kurang ajar! Pergi kamu dari sini! Jangan pernah berani menampakkan batang hidung kamu di rumah saya!" usir mamaku, seraya menunjuk kasar mas Damar.
Mas Damar hanya diam saja, lalu melihat kearahku. Aku menunduk ke bawah. Aku sudah memikirkan keputusanku matang-matang, bahwa aku ingin. Aku berjalan menghampiri mama dan mas Damar.
"Sudah jangan ada keributan disini. Nanti tetangga pada datang dan kita jadi malu." ucapku melerai.
Mama akhirnya tenang dan setelah itu, aku berbicara dengan mas Damar. Aku ingin bicara dari hati ke hati dengan mas Damar. Berhubung mas Damar datang kesini dengan menaiki mobil, aku mengajaknya berbicara di dalam mobilnya.
"Mama, aku mau bicara sama mas Damar berdua, mama tunggu disini dulu ya?" izinku.
"Iya. Kalau si sialan ini berani berlaku kasar lagi sama kamu, panggil mama! Teriak! Biar mama yang menghajarnya." jawab mamaku tegas.
Lalu, aku dan mas Damar masuk kedalam mobil. Aku memulai pembicaraan dengannya.
"Gimana mas kamu hidup tanpa aku selama beberapa hari terakhir? Kamu udah bisa lupain aku?"
"Apa maksud dari pertanyaan kamu ini? Kamu gak mau beri aku kesempatan, please Yaya? Sekali lagi aja. Kalau aku melanggar kesempatan itu, aku rela berpisah dengan kamu."
"Apa aku bisa memegang kata-katamu untuk yang terakhir kalinya? Aku capek mas kalau dibohongin terus. Kalau aku berikan kesempatan lagi eh kamu selingkuh lagi."
"Tentu saja aku akan memegang kata-kataku. Aku tidak akan pernah berselingkuh lagi sayang."
Aku menarik nafas dalam, kemudian melihat keluar mobil, tepatnya mamaku yang masih setia berdiri disana. Menjagaku dengan mengawasinya dari sana. Kemudian aku kembali menatap kearah mas Damar.
"Gimana sayang? Kamu mau kasih aku kesempatan atau tidak? Ingat baik-baik. Biar gimanapun nanti, anak kita butuh figur seorang ayah."
"Aku akan memberikan kamu kesempatan jika kamu mau tinggalin Miho. Kalau tidak, aku jelas tidak mau memberikan kamu kesempatan sekali lagi mas."
"Aku akan tinggalin Miho demi kamu Yaya."
__ADS_1
Aku mengangguk, demi anak aku, demi anak kita. Demi kebahagiaan dan masa depannya. Tanpa melupakan bahwa aku juga berhak bahagia. Semoga setelah ini, mas Damar tidak mengingkari janjinya lagi.
"Aku mau. Sekali lagi kamu mengkhianati aku, jangan pernah berharap akan ada kesempatan lagi." ucapku dengan tatapan dingin.
"Iya sayang, aku janji."
Aku melakukan ini, memberinya kesempatan kembali, adalah demi anak aku kalau sudah lahir nanti. Dia pasti akan sedih kalau tumbuh kembang tanpa figur seorang ayah. Ditambah mas Damar yang katanya mau berubah. Sekali lagi saja.
Aku keluar dari dalam mobil. Aku mau kemas-kemas pakaianku dan kembali lagi ke rumah yang biasa aku tempati. Tapi sebelum itu, aku mau pamit dulu ke mama. Aku melangkah menghampirinya, lalu aku memeluknya. Seorang wanita yang kuat dan selalu menjaga anaknya.
"Kamu kasih dia kesempatan lagi? Jangan nak, nanti kamu nyesel!" ucap mamaku mewanti-wanti aku.
"Doakan saja semoga aku gak menyesal telah memilih keputusan ini ma. Aku lakuin ini demi anak aku ma. Yaudah, aku pamit dulu ya ma? Sering main ke rumah ya?"
Mama mengangguk meski wajahnya terlihat tidak rela. Lalu dia membantuku kemas-kemas pakaian. Usai sudah mengemas pakaian ke dalam koper, mama mengantar aku kedepan rumah.
Diluar, mas Damar bergegas berjalan cepat membantu aku membawa koper yang cukup berat ini ke mobil. Aku kembali berpelukan dengan mama lalu mas Damar kembali menghampiri kita. Dia tersenyum kepadaku dan mama.
Tawaran mas Damar membuat aku dan mama terkejut. Dia mengizinkan mama untuk ikut tinggal juga dirumahnya. Kesempatan ini tidak akan mama Sera sia-siakan. Demi menjaga Yaya dari kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi lagi, mama Sera akhirnya menerima tawaran Damar untuk tinggal bareng mereka.
"Baiklah, mama akan ikut tinggal bareng kalian. Tapi jangan salahin mama kalau mama bikin kalian emosi. Tahu sendiri kan watak mama dari dulu seperti apa?"
Aku dan mas Damar mengangguk. Lalu aku memeluk mama lagi. Senang rasanya akan tinggal satu atap bersama mama sendiri. Mas Damar sendiri masih punya orang tua tiri sih, tapi orang tua tiri yang sekarang menetap di Melbourne.
Lantas aku menunggu mama kemas pakaian. Disisi lain, di kantor, Miho tengah tidak fokus bekerja. Sedari pagi perutnya terasa mual dan agak pusing juga. Akhir-akhir ini Miho seperti mengalami morning sickness. Sore nanti rencananya Miho akan periksa ke dokter.
Miho juga sudah memutuskan diri dari sosial media. Teman-teman WA semua memblokir dirinya. Miho jadi bete tapi akan tetap mencari kebahagiaan dengan nikmat duniawi, yaitu harta.
Seseorang mengetuk pintu ruangan Miho, Miho menyuruhnya untuk masuk. Ternyata itu adalah pegawai lain. Seorang bendahara yang datang mengantarkan berkas untuk ditandatangani oleh pak direktur Damar. Tapi Damar sekarang lagi tidak ada di kantor.
__ADS_1
Bendahara bernama Tari itu tampak tidak senang hati melihat Miho. Seperti ogah-ogahan datang ke ruangan Miho, namun Miho adalah pegawai yang menjabat sebagai sekretaris Damar.
"Ini ada berkas penting yang harus ditandatangani oleh pak direktur Damar."
"Taruh aja di meja bendahara jutek."
Tari menaruh berkas itu diatas meja sementara Miho masih pusing dan sibuk memicit dahinya.
"Kenapa kamu sekretaris muna?"
"Gausah sok akrab deh! Kamu sama kaya yang lain. Jauhin aku!"
Tari duduk di sebuah kursi depan meja Miho. Kini mereka berdua saling berhadapan. Wajah Miho menjadi semakin malas karena Tari tidak pergi tapi malah duduk disini.
"Enak kah jadi pelakor? Ketahuan jadi pelakor resikonya besar. Kamu akan dihujat dan dijauhi banyak orang. Mendingan kamu minta maaf langsung sama istri sah yang udah kamu rebut suaminya, didepan umum, didepan kita semua. Lalu kamu mulai lagi hidup dengan baik dari awal." saran Tari, niat Tari sebenarnya baik. Tari ingin Miho bisa seperti dulu lagi, tidak dijauhi oleh orang-orang di kantor.
"Kamu ini nggak usah sok peduli deh dan jangan ngurusin hidup aku! Pergi kamu dari sini!" usir Miho dengan penekanan nada bicara.
Tari pun bangkit dan melangkah keluar dari dalam ruangan Miho. Tari terlihat kesal saat Miho tidak mau mendengar saran darinya. Eh tak berselang lama, Miho berlari dan menabrak Tari dari belakang sampai Tari hampir saja jatuh. Miho berlari ke toilet. Dari luar, Tari bisa mendengar suara Miho yang sepertinya sedang muntah-muntah.
"Kenapa ya tuh orang? Apa jangan-jangan dia hamil? Waduh bakal makin gawat kalau dia sampai beneran hamil?" ucap Tari curiga.
***
Kembali ke rumah yang sudah bertahun-tahun Yaya dan Damar tempati. Elma dan Arif melihat kedatangan majikan mereka. Kali ini, kedatangan anggota keluarga baru yang akan tinggal di dalam rumah ini. Siapa lagi kalau bukan si galak mama Sera.
Elma tampak agak segan melihat mama Sera. Dari wajahnya saja udah kelihatan aura galaknya. Beda sama Yaya yang sendu dan manis.
"Selamat siang nyonya Yaya? Senang melihatmu kembali kesini." sapa Elma ramah.
__ADS_1
Yaya hanya tersenyum kemudian masuk kedalam rumah. Diikuti oleh Damar, sedangkan mama Sera masih berdiri di depan rumah, didepan dua orang jahat suruhan Miho itu. Mama Sera menatap nyalang Arif, yang kemarin bersikap mencurigakan waktu berada di rumahnya.
Bersambung...