Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Dibuang Ke Sarang Psikopat


__ADS_3

Dengan memasang banyak CCTV maka akan jauh lebih memudah untuk memantau aktifitas yang terjadi dalam rumah ini. Aku merenung di taman belakang rumah. Aku sedang menilai kepribadianku sendiri. Aku menilai apa saja kesalahan-kesalahan yang sudah aku buat selama ini.


Sejauh ini, aku bukan orang yang sempurna. Aku juga punya beberapa kesalahan, yang besar. Aku juga pernah mabuk di bar, aku pernah salah menuduh orang yang sebenarnya tidak bersalah. Dia adalah Desi. Besok aku akan mencarinya dan meminta maaf.


Aku sudah berdamai dengan keadaan.


Aku sudah berdamai dengan orang yang udah mengkhianati janjinya. Bermesraan dan menduakan aku dari belakang.


Aku juga sudah menunjukkan kepada dunia bahwa aku dan mas Damar, sudah kembali seperti semula. Terutama, aku melakukan ini demi anak yang akan lahir ini.


Berdamai dengan kesalahan rasanya indah. Mulai detik ini juga aku ingin menjadi orang yang lebih tangguh. Semoga tidak ada badai yang membuatku berubah laksana puing yang hancur diterjang. Buih yang terombang-ambing dalam gejolak laut biru.


"Aku harus menjadi manusia yang tangguh." ucapku seraya memejamkan mata.


Tiba-tiba ada yang menimpuk sesuatu ke belakang kepala Yaya sampai Yaya matanya berkunang-kunang dan Yaya pun pingsan. Setelah itu Yaya dibopong, dimasukkan kedalam karung besar, dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Malam ini terlihat agak mencekam.


Seorang wanita hamil yang dibawa kekejaman malam. Siapakah pelakunya? Dia adalah Arif. Arif ingin membuang Elma ke sebuah rumah tua dimana kabarnya ada penghuni mengerikan di dalamnya. Bukan makhluk halus melainkan PSIKOPAT.


Gerimis turun, lambang kesedihan. Mencekam didera hawa. Hawa sungguh dingin! Kemanakah nasib wanita yang tengah mengandung itu nanti? Apakah dia akan selamat ataukah akan kiamat? Kiamat besar artinya kehancuran alam semesta, sedangkan kiamat kecil adalah kematian.


Dengan bengisnya Arif menyeret karung berisi Yaya yang masih pingsan. Arif meletakkan karung berisi manusia bernama Yaya itu didalam sebuah rumah tua.


Arif melihat sekeliling, atas bawah depan belakang kanan kiri takut tiba-tiba mendapatkan sabetan benda tajam dari cerita psikopat yang beredar itu.

__ADS_1


"Semoga psikopat itu tidak menangkapku. Aku ga boleh ketahuan, aku harus pergi dari sini." ucap Arif lalu berlari meninggalkan Yaya. Sayangnya karung masih terikat, itu akan membuat perempuan hamil itu jadi sulit bernafas.


Suara jangkrik dan binatang malam nyaring terdengar. Memeriahkan malam yang sunyi dan mencekam. Yaya tersadar, membuka kedua indera penglihatannya. Yaya langsung disambut dengan warna kuning lusuh didepan matanya.


"Aku didalam karung? Ah, kepalaku masih terasa sakit." rintih Yaya.


Yaya berusaha keluar, tapi sulit. Dirinya diikat dalam karung yang rumit.


"Tolooong!"


"Toloooong!" lanjut Yaya berusaha, tapi belum ada orang yang datang. Sekuat tenaga ia gunakan tangan, alat alamiah manusia yang paling berguna setelah mata. Tanpa tangan, orang akan kesusahan.


Aku berusaha merobek karung ini tapi susah sekali. Ingin ku berkata kasar, menyumpahi orang yang udah melakukan hal sampah ini kepadaku!


"Toloooong!" kembaliku berteriak.


Dan akhirnya, entah karena apa lama-lama ikatan tali yang kencang itu lama kelamaan kendor. Syukurlah, aku akhirnya bisa keluar dari dalam karung. Seperti bayi yang keluar dari rahim ibunya. Aku menangis dan berteriak, rumah tua yang mengerikan dan banyak asap terbang mengitari jangka hitam.


Banyak lukisan tua di dinding. Rumah tua ini sudah lama tak berpenghuni. Oh, Tuhan, sial sekali aku malam ini.


"Tolong?" teriakku sekali lagi berteriak.


Tidak ada orang yang datang tapi perutku terasa sakit. Aku berusaha merangkak menuju sebuah kursi tua. Aku duduk diatasnya tapi kursi ini sudah keropos. Lalu pantatku mencium lantai tua yang penuh dengan debu. Sakit bertambah karena guncangan ini. Rasa sakit itu bertambah sengit. Aku bergulat dengan malam yang dingin dan berisik. Berisik karena suara binatang malam, sekaligus sunyi karena menyendiri.

__ADS_1


Aku terus memindai keadaan sekitar. Gelap dan mencekam. Malam yang hitam juga kelam. Bukan salah malam, tapi salah si kejam yang membuangku di tempat padam gulita ini.


Aku mencoba berdiri lalu bergerak menuju sebuah jendela tua yang sudah renta. Jendela itu sudah keropos dan bergoyang-goyang, seperti akan terjatuh.


Aku mengamati keluar, hanya ada kebun kosong yang tidak terawat. Apakah tempat ini jauh dari kehidupan yang ramai? Dimana aku?


"HPku dimana?" aku panik.


Aku berusaha mengingat, dikala kepalaku yang masih terasa pening dan sakit. Ada seseorang yang melempar benda keras ke bagian belakang kepala aku. Benda yang mungkin bernama batu itu, berhasil membuatku memejamkan mata tak berdaya.


"Kalau aku tahu pelakunya, aku gak akan maafin dia!" ucapku kesal.


Tanganku bergerak tak tentu arah, sembarang saja sebagai ungkapan rasa panik atas sesuatu yang menderaku malam ini. Lancang, bajingan, gila! Teriak kasarku dalam hati.


Aku menangis dalam kesendirian yang menyiksa. Ketakutan yang mengancam, hingga aku melihat bayangan orang yang memasuki area dalam rumah tua ini. Aku tidak mematung, aku pergi mencari tempat untuk sembunyi. Aku sembunyi dibalik tumpukan kayu.


Apa aku aman disini? Ya ampun, aku melihat seekor belatung yang sedang merayap dibawahku. Aku geli tapi mau bagaimana lagi, aku gak mungkin keluar sekarang. Bisa-bisa, nanti aku ditangkap sama orang itu, kalau orang itu ternyata adalah penjahat.


Aku mengintai dari balik celah, orang itu membawa pisau! Aku yakin dia bukan orang baik. Aku harus gimana ini? Apakah aku akan tertangkap sama dia dan kehidupanku akan kiamat pada malam hari ini?


Aku memejamkan kedua mataku, keringat dingin bercucuran. Ya ampun, orang itu mendekat ke tumpukan kayu ini! Apakah orang yang menyembunyikan wajahnya dibalik topeng berwajah zombie itu akan segera menjumpai aku? Siapakah dia?


Mungkinkah dia pembunuh seperti yang pernah aku tonton dalam film atau serial web?

__ADS_1


Suasana semakin tegang, jantung ini sudah gak karuan lagi dalam berdetak. Sepasang kaki bersepatu boots itu semakin mendekat! Aku bisa melihatnya dari bawah. Aku merasa seolah seperti korban yang sedang berada didalam film trhiller yang dulu aku tonton, tegang dan menyeramkan! Orang itu kemudian membuka...


Bersambung.


__ADS_2