
"Alangkah bahagia melihat mama sudah sadar. Yang aku harapkan sekarang cuma ini." syukur Yaya sembari memeluk hangat mamanya.
Mama Sera baru bisa membuka mata saja, menggerakan badan belum bisa selincah waktu biasanya. Lalu dokter mengajak Yaya untuk berbicara empat mata.
"Ini penting untuk dibicarakan, mba Yaya? Saya harus segera bersuara."
"Apa? Penting sekali? Soal penyakit mama?"
Sang dokter mengangguk dengan tatapan serius. Lalu aku mengikuti kemana langkah dokter ini memnawaku. Sebuah ruangan kecil yang kosong, tempat dimana seseorang membahas penyakitnya dengan sang dokter.
"Bagian belakang kepala ibu anda mengalami cedera yang cukup serius setelah kami melakukan CT scan."
"Apa? Jadi mama saya jadi stroke gara-gara dia terjatuh ya dok?"
"Itu benar. Maka dari itu anda harus ekstra sabar dalam merawat ibu anda kedepannya. Berikan dukungan moril dan dukungan material semampu yang anda lakukan. Jangan pernah membuat perasaan ibu anda menjadi stress berat. Penyembuhan mungkin akan memakan waktu lebih lama."
"Lalu, apakah mama saya bisa kembali normal seperti biasa?"
"Bisa diobati dengan terapi."
"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk mama saya dokter."
Aku mengangguk dengan satu wajah yang digulung satu nestapa. Cahaya bola lampu temaram, keluar dari dalam bola mataku. Entah kenapa rasanya aku pusing dan mataku berkunang-kunang. Aku ingat aku belum makan dari pagi. Semua karena kekhawatiranku akan kondisi mama.
"Dok, kalau gitu saya cari makanan dulu ya? Saya butuh itu sekarang."
"Ingat, kamu juga harus jaga mental kamu. Jangan sampai down juga. Selalu berdoa kepada Yang Diatas, dijauhkan dari segala tindak kejahatan yang mengancammu."
"Tentu dokter."
Aku lekas pergi keluar, ke kantin rumah sakit. Aku membeli sebungkus nasi dan sepotong telur dadar. Aku menikmati makanan ini didalam kantin. Aku terasa lapar tapi selera makanku buyar. Aku hanya sedikit makan saja yang penting ada yang masuk kedalam perutku. Aku kepikiran terus soal mama.
*
__ADS_1
*
*
Pukul sembilan malam, aku kembali ke rumah. Aku pulang naik taksi. Aku melangkah masuk kedalam kamar. Tapi ada suatu hal yang membuatku terkejut, aku mendengar suara ******* dari dalam kamar aku dan mas Damar. Suara ******* yang terdengar kecil seperti di HP. Aku langsung dobrak pintunya, aku sangat terkejut saat melihat mas Damar juga terkejut sampai tak sengaja melempar HP yang ia pegang. Aku melihat tangannya ia keluarkan dari dalam celana, bukan dari dalam saku celana.
"Kamu sedang apa mas? Nonton video panas?"
"Gak sayang. Ini gatal, abis digaruk."
"Maksudnya? Aku barusan denger suara ******* wanita. Kamu selain selingkuh, juga hobi nonton video panas ya? Gitu banget kamu mas?"
"Jangan menuduhku seperti itu!" marah mas Damar.
Sekarang dia malah membentakku? Aku menatap kearahnya seraya menaikkan salah satu alisku.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah menjadi marah mas? Harusnya yang marah itu aku. Berhubung aku lagi males marah, yaudah, aku memilih sabar aja. Kasihan calon bayiku ini." balasku seraya berjalan berani ke depan mas Damar.
"PLAAAAAK!"
Mas Damar langsung menamparku?! Dibelakangku, ada Elma yang secara kebetulan melihat mas Damar melakukan kekerasan fisik kepadaku. Aku memegang wajahku yang terasa sakit, aku bingung dengan perlakuan mas Damar sekarang.
"Aku salah apa!"
"Kamu bilang aku tukang selingkuh, apa bedanya sama kamu!"
"Sejak kapan aku selingkuh mas?"
"Arif melihat kamu berduaan dengan laki-laki lain di sebuah cafe. Tadi Elma cerita sama aku. Aku berhak marah dong kalau ternyata, kamu sama aja sepertiku!"
"Tapi pada kenyataannya aku ga sama seperti kamu! Martin adalah teman lamaku dan saat itu, aku sedang sendirian di cafe dan dia datang nyamperin aku. Aku nyuruh dia pergi, tapi dia gak mau karena aku sedang sedih waktu itu gara-gara kamu dan dia ingin menghiburku, tapi aku menolak. Karena aku gak mau ada fitnah yang mengatakan, aku jalan sama laki-laki lain."
"Aku gak percaya mulut kamu ya!"
__ADS_1
"Aku bukan kamu!" ucapku dingin lalu menunjuk wajah mas Damar
"Yang tega melakukan KDRT kepada wanita yang sedang mengandung anaknya."
Aku bukan istri yang penakut. Aku tahu etika aku sebagai seorang istri, tapi bukan berarti aku bersikap lemah dihadapan suami yang kejam dan jahat seperti mas Damar ini.
"Ingat! Sadar diri kamu! Siapa yang banting tulang membiayai kebutuhan mewah kamu selama ini? Liburan mahal ke Norwegia? Harusnya kamu tuh mikir, ga semua wanita bisa dapatin laki-laki kaya sepertiku! Aku akan cari bukti perselingkuhan kamu, lalu akan aku viralkan kamu di mana-mana! Biar semua orang tahu, kamu itu ga ada bedanya sama suami kamu ini!"
Mas Damar akan berjalan keluar dari dalam kamar tapi aku meraih tangannya. Aku menangis lalu berbicara kepadanya dengan nada bicara yang emosional tapi tidak tinggi.
"Kalau kamu viralin aku karena kenyataan itu terserah! Tapi jangan pernah berani viralin aku karena sebuah fitnah!"
Mas Damar menepis pegangan tanganku lalu mendorongku keatas kasur. Sepertinya dia bersih keukeuh untuk mencari bukti perselingkuhan yang tidak pernah kulakukan itu. Aku melihat Elma masih berdiri di depan pintu.
"Masuk kamu." titahku.
Elma kemudian berjalan masuk kedalam kamar sembari *******-***** jarinya. Seperti orang yang sedang gugup. Lalu aku bangkit dan kemudian mencengkram bahu Elma.
"Kenapa kamu bilang kepada mas Damar kalau aku berduaan dengan laki-laki lain di cafe! Kalau lihat itu jangan langsung cuap-cuap dulu! Cari tahu dulu kebenarannya, dia siapa, apa aktifitas yang terjadi kala itu. Sekarang, lihat! Aku dituduh sama mas Damar. Padahal aku ga pernah lakuin perbuatan buruk itu. Mengkhianati mas Damar, aku tidak pernah! Aku anti berbuat senonoh."
Elma kemudian bersimpuh sembari memeluk kedua kakiku. Dia menangis tapi air matanya belum keluar.
"Mas Arif mempunyai buktinya nyonya, saya bingung harus ngomong apa. Saya juga kasihan sama tuan Damar kalau dia yang disalahin terus sama nyonya?"
"Keluar kamu dari sini! Gak usah menangis didepanku! Gak usah memfitnah aku! Foto di cafe itu hanyalah fitnah!"
"Nyonya maafkan saya? Saya tidak pernah tahu akan jadi seperti ini. Nyonya ditampar tuan Damar itu bukan kesalahan saya nyonya?"
"Keluar sekarang!" bentakku sangat marah.
Elma buru-buru keluar karena aku yang marah besar kepadanya. Lalu aku membanting pintu kamar dan menangis sejadi-jadinya. Hancur banget aku hari ini sakit banget rasanya! Mas Damar, Martin, Arif, Elma, mama. Rasanya aku ingin mengakhiri kehidupan aku, tapi aku masih mau bertahan demi mama, Viona, dan juga calon anak yang akan lahir ke dunia ini.
Bersambung...
__ADS_1