
"Aku yakin suatu saat kamu akan membuka pintu lagi untuk laki-laki lain. Aku akan menunggumu sampai kamu siap dan sudah bisa melupakan trauma atas pernikahanmu." ucap Martin kemudian melangkah kepada Yaya. Martin menyerahkan amplop tebal berisi uang senilai 10 juta itu. Uang dengan nominal yang sangat berarti bagi Yaya. Sekarang gaji Martin setiap bulan menyentuh angka diatas 200 juta.
"Apa ini?" tanya Yaya.
"Ini adalah hadiah atas kelahiran anak kedua kamu. Siapa nama dia? Anak kedua kamu tampan sekali."
"Nama dia adalah Bakti. Aku berharap sifat anak ini akan jauh berbeda dengan ayah kandungnya."
"Aamiin. Kamu harus mendidiknya dengan baik dan benar. Ini adalah hadiah untuk Bakti anak kamu. Mohon diterima ya jangan sungkan? Kita ini kan sahabat sejati?"
Yaya menerima uang itu lalu membuka isinya dan menghitung berapa nominalnya.
"10 juta. Sebanyak ini kamu kasih uang untuk aku? Padahal aku bukan siapa-siapa kamu loh. Ayah dan ibu kamu lebih berhak dikasih uang sebanyak ini. Aku ambil 20% saja ya?"
"No Yaya, its oke. Itu adalah hadiah untuk Bakti. Aku mohon jangan ditolak? Hargai niat baik aku? Itu adalah rezekinya Bakti."
Kemudian Yaya menerima saja daripada Martin memaksa dirinya terus.
"Kalau gitu terimakasih banyak ya Tin? Aku berharap semoga karir kamu akan semakin cemerlang kedepannya."
"Aamiin, terimakasih atas doa baiknya ya?"
Lantas Yaya dan Martin saling tersenyum satu sama lain.
***
Didalam sebuah apartemen, Miho tengah duduk diatas kasur sembari mengelus perutnya yang sudah besar.
"Pusing sekali rasanya. Aku membutuhkan banyak uang buat bayar biaya sewa apartemen ini bulan depan. Aku juga butuh uang buat persiapan lahiran aku. Mas Damar sekarang dipenjara dan aku tidak bekerja. Tidak ada cara lain selain menjual salah satu mobil yang dulu dibelikan oleh mas Damar." ucap Miho dengan wajah cemberut.
"Ini semua terjadi gara-gara mantan istri mas Damar yang munafik itu! Perempuan munafik itu akan menerima akibatnya karena telah berani bermain-main dengan Miho Misaki! Aku akan membayar seseorang buat menghajar ibu kamu yang stroke itu sampai dia babak belur!" lanjut Miho berkata. Rencana jahatnya sangat keterlaluan.
Dua hari berlalu, Anjar sahabat terbaik Yaya tengah menyuapi mama Sera didepan rumah. Anjar begitu peduli pada kehidupan Yaya. Anjar selalu ingin membantu Yaya sebisa mungkin. Selain itu Anjar sangat berterimakasih kepada mama Sera karena dulu sewaktu dirinya kesusahan mama Sera mau membantu biaya pengobatan ibunya hingga ibunya sembuh. Sekarang rasanya Anjar ingin sekali membalas kebaikan mama Sera di masa lampau.
__ADS_1
Namun tiba-tiba datang dua laki-laki berwajah jelek, sangar, dan berotot besar ke depan rumah mama Sera. Anjar menaruh mangkok berisi bubur hangat itu diatas teras kemudian Anjar menyapa kedua laki-laki misterius itu.
"Selamat pagi? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anjar kepada kedua laki-laki itu.
"Itu yang duduk di kursi roda, dia ibunya perempuan bernama Yaya Sandrinna kan?" tanya salah satu dari laki-laki sangar itu.
Anjar mengangguk namun Anjar punya feeling kalau kedua laki-laki ini adalah orang suruhan yang jahat.
"Kalian mau ngapain kesini?" tanya Anjar seraya bersedekap dada.
"Kita mau memukuli ibu-ibu itu. Kita gak sabar sekali, hahaha."
"Apa! Siapa orang yang udah nyuruh kalian tega melakukan perbuatan sekeji itu?"
"Bukan urusan lu sana pergi kalau lu mau slamet!"
"Gak akan! Aku akan melindungi bu Sera!"
Salah satu preman mendorong Anjar hingga Anjar terjatuh diatas rumput namun Anjar bergegas menarik kaki dari preman yang mendorongnya hingga preman itu ikutan jatuh tengkurap.
Tak jauh dari depan rumah mama Sera, ada Martin yang sedang menyetir mobil menuju rumah mama Sera. Martin ingin sekali menjenguk mama Sera membawakan buah dan juga pakaian-pakaian baru untuk mama Sera. Saat mobil yang ia kendarai sampai didepan rumah mama Sera, Martin terkejut ketika melihat Anjar sedang berkelahi melawan dua laki-laki kekar. Anjar sedang dipukuli oleh kedua preman biadab tersebut.
"Gak beres ini aku harus segera keluar buat membantu Anjar." ucap Martin kemudian bergegas keluar dari dalam mobil.
Martin berlari dengan cepat kemudian Martin menendang punggung salah satu preman suruhan Miho sampai preman itu terjatuh ke rumput. Melihat kedatangan Martin, Anjar jadi merasa lega karena ada orang lain yang membantunya mengatasi preman-preman suruhan itu.
"Martin? Syukurlah kamu datang. Bantu aku melawan mereka berdua Tin?" pinta Anjar.
"Sebaiknya kamu mundur saja dan bawa mama Sera kedalam rumah. Biar aku saja yang mengatasi dua tikus got ini." titah Martin kepada Anjar.
Kedua lengan Martin membentuk aba-aba gaya orang yang mau berkelahi sembari menatap kepada preman-preman biadab itu.
"Baiklah kalau begitu." ucap Anjar kemudian bergegas mendorong kursi roda mama Sera masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Katakan siapa orang yang udah nyuruh kalian!" tanya Martin kesal.
"Kita tidak akan kasih tahu! Tapi kita akan membuat lu menyesal karena lu sudah menghalang-halangi kita menyakiti ibu dari Yaya Sandrinna itu. Bos kita udah bayar mahal kita!" jawab salah satu preman bertatto.
"Berapa kalian dibayar sama bos kalian? Sebutkan nominalnya?" tanya Martin lagi.
"Kita dibayar 15 juta! Mau apa lu tanya-tanya nominal segala! Buruan ayo maju lawan kita-kita!" geram preman yang satu lagi.
"Oh cuma 15 juta ya? Gua akan kasih kalian 30 juta asal kalian kasih tahu siapa orang yang sudah nyuruh kalian buat menyakiti mama Sera?" tawar Martin menggoda dengan nominal uang sebanyak itu.
Kedua preman itu terdiam lalu saling menatap wajah satu sama lain.
"Gimana nih?"
"Ah pasti dia cuma ngibul doang! Buruan kita hajar dia!"
"Gua gak ngibul!"
Martin mengeluarkan sebuah kertas kecil yaitu cek sebesar 30 juta dari dalam saku bajunya.
"Ini adalah cek sebanyak 30 juta. Kalian bisa ambil ini dan kalian bawa pergi saja. Gua gak akan laporin kalian ke polisi karena mama Sera masih baik-baik saja. Tapi kalian kasih tahu siapa orang yang udah bayar kalian buat menyakiti wanita malang itu. Kalian tahu mama Sera kan sedang menderita penyakit stroke? Sampai hati kalian mau menyakiti dia! Dimana hati nurani kalian!" tutur panjang Martin sangat kesal melihat manusia yang mau melakukan kejahatan seperti itu hanya demi uang yang tak seberapa.
"Baiklah kita terima penawaran lo. Siniin ceknya!"
"Ooh tidak bisa! Katakan dulu siapa orangnya?"
Salah satu preman itu menunjukkan sebuah foto dimana foto itu adalah foto dari Miho Misaki. Foto wanita Asia Timur berwajah cantik bak bidadari.
"Sudah gua duga pasti dia orangnya. Karena cuma dia satu-satunya orang yang bermusuhan dengan Yaya." batin Martin marah.
"Siniin ceknya!"
Martin melempar cek itu kemudian kedua preman itu pun pergi. Martin bergegas masuk kedalam rumah mama Sera. Martin rasanya ingin sekali membuat perhitungan dengan Miho karena Miho masih saja mengusik ketenangan keluarga Yaya.
__ADS_1
Bersambung...