Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Hadiah Untuk Teman Baik


__ADS_3

Tapi ya sudahlah, ga penting untuk bertanya soal keanehan yang aku rasain. Bisa jadi memang dia ada masalah pribadi sama Miho yang gak seharusnya aku ikut campur soal itu. Bisa jadi office girl itu iri sama Miho, karena melihat Miho adalah wanita karir yang cantik dan perfect.


"Aku ga salah pilih teman. Ga ada salahnya juga kalau aku mengajakmu bergabung di geng arisanku. Umur kamu berapa cantik?"


"27 bu. Umur bu Yaya?"


"29, umur kita ga jauh beda kok Miho. Mulai sekarang, kamu memanggilku dengan panggilan Yaya aja ya kan udah aku bilang kemarin?"


"Apa itu kurang sopan bu? Ibu kan istri direktur, dan kenapa ibu mengajak saya bergabung? Bu Yaya kan tahu saya hanya pegawai biasa di kantor. Gaji saya mana cukup buat kehidupan sehari-hari aja langsung habis bu. Saya mana bisa arisan sebanyak itu tiap kali arisan. Pasti arisan yang geng ibu buat nilainya mencapai puluhan juta setiap kali arisan. Saya gak mampu bu."


"Tenang aja Miho. Arisan cuma satu juta aja per bulan. Saya ga ikut arisan yang nominalnya besar. Bagi saya arisan sebagai ajang silaturahmi saja. Kamu pasti mampu kan kalau cuma segitu?"


Miho merenung sejenak, dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut gabung di geng arisanku. Aku sangat senang mendengarnya. Lalu aku mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasku. Aku memberikan kotak itu sebagai pemberian hadiah untuk Miho. Karena Miho telah berhasil membantuku mengungkap, kalau Desi adalah orang ketiga dalam rumah tanggaku.


"Aku memberikan ini untukmu, tolong diterima dengan senang hati ya?"


"Apa ini bu?"


Miho menerima kotak pemberian hadiah dariku, lalu dia membukanya.


"Ya ampun, ini serius untukku? Jam tangan merk ini kan mahal banget bu! Aku kalau mau beli jam tangan merk ini, perlu pikir-pikir seribu kali. Sayang uangnya bu." ucap Miho segan untuk menerima jam tangan mahal dariku.


"Aku ga mau bu, aku kembalikan saja." imbuhnya.


Miho menyodorkan kotak berisi jam tangan itu dihadapanku. Lalu aku menggeser kotak itu ke depannya lagi.


"Ini buat kamu. Ini adalah hadiah atas usaha kamu bantuin aku. Aku sedih kalau kamu tolak,"


"Tapi waktu itu saya kan udah bilang sama ibu, kalau saya ikhlas membantumu,"


"Dan saya juga ikhlas kasih itu ke kamu Miho."


Karena tidak mau berlarut-larut dengan masalah pemberian hadiah ini, akhirnya Miho dengan gaya malu-malu mau menerima jam tangan mahal dariku. Syukurlah, aku senang.


***

__ADS_1


Malam kembali datang.


Bulan dan bintang menghiasi langit yang hitam gelap.


Lampu-lampu kota mulai menyala menerangi jalan.


Miho sedang berdiri di dekat jendela kamar apartemennya. Seraya memandang riuh lalu lintas di tengah jalan.


Miho memakai jam tangan mahal itu.


Hatinya sangat ceria.


"Happy banget gue! Udah dapetin materi dari suaminya, eh dapetin juga materi dari istrinya. Kamu memang pelakor yang paling beruntung Miho! Semoga saja seterusnya, istri sah oon itu kasih aku hadiah-hadiah yang mewah, hahahahahaha." tawa Miho membahana, seraya memandang jam tangan bergengsi itu.


***


Waktu terus berlalu.


Tiada hari tanpa aktifitas yang menyenangkan di rumah.


Meski aku belum bekerja lagi, tapi bukan berarti aku hanya ongkang-ongkang kaki saja di rumah. Aku punya kebun kecil, yang aku tanami aneka bumbu dapur dan sayur mayur. Hampir setiap hari aku selalu mengawasi kebun kecilku ini. Ulat adalah musuh terbesarku.


Tapi mas Damar melarangku.


Mas Damar menyuruh aku untuk fokus saja menjaga kandungan.


Dan kalau suatu saat nanti aku kembali bekerja, aku ingin kerja satu kantor dengan mas Damar dan juga Miho.


Aku membuang daun-daun kuning dan juga ulat-ulat nakal yang menempel di tanamanku. Memang yang aku kerjain ini kelihatan sepele tapi aku menyukainya. Siang ini aku ingin datang lagi ke kantor, membawa menu makan siang kesukaan mas Damar.


Setelah selesai mengurus kebun kecilku, aku mau masak, makanan kesukaan mas Damar.


Tapi aku terkejut saat pagi-pagi gini mama datang ke rumah. Mama selalu membawa buah tangan kalau datang kesini. Pembantu mengabari aku kalau mama sedang menunggu di depan.


Meski dia adalah mama kandungku, tapi dia tidak langsung sembarangan masuk kedalam rumah ini. Karena biar bagaimanapun, rumah ini dibeli sepenuhnya menggunakan dana dari mas Damar. Aku membuka pintu, lalu aku memeluk mama.

__ADS_1


"Selamat pagi cinta, ini mama bawa jajanan pasar kesukaan kamu,"


"Tahu aja kalau aku lagi ngidam jajanan pasar ma. Ayo masuk kedalam?"


"Iya sayang."


Aku lekas membuatkan teh untuk beliau. Kedatangan mama kesini hanyalah sekedar untuk memberi kudapan lalu memantau kesehatanku saja.


"Kamu baik-baik terus ya nak. Jangan sampai banyak pikiran. Syukurlah kamu sehat. Terus gimana Damar? Dia masih kegatelan?"


"Nggak kok mam. Siang ini aku mau ke kantor, aku mau bawain masakan kesukaan dia. Ya, sebenarnya mau mantau mas Damar sama Desi juga sih,"


"Bagus nak. Pantau terus mereka! Kalau pelakor itu masih aja ganjen, panggil mama, okey? Biar mama yang turun gunung buat ngelabrak itu pelakor!"


Aku tersenyum geli mendengarnya, takut ngelihat mama berbuat anarkis lagi, tapi aku juga senang punya mama yang sangat perhatian kepada anaknya. Selepas kepergian almarhum papa yang sangat baik. Almarhum papa adalah orang yang setia.


Meski mama terkesan bar bar, tapi papa selalu sabar dan tidak pernah pergi ke lain hati. Aku ingin mas Damar seperti almarhum papa. Bisa bertahan hanya dengan satu pasangan saja sesuai janji setia yang dulu dia ucapkan didepan gedung pernikahan.


Seburuk-buruknya mas Damar, aku masih bisa menerima kekurangan dia. Dan seburuk-buruknya aku, mas Damar juga harus bisa menerima kekurangan aku.


Lalu siangnya aku pergi ke kantor naik taksi. Kedatanganku ke kantor langsung disambut dengan ramah oleh para karyawan. Mereka menyapaku, menghormati aku sebagai istri dari atasan mereka. Tak terkecuali, si pelakor itu, Desi!


Dia berlari menghampiri aku, lalu dia bersimpuh di depanku.


"Bu Yaya, maafin aku? Aku mau resign dari kantor ini. Aku mau cari kerja di tempat lain. Kerja apa aja yang penting nyaman. Daripada disini, aku digunjing terus sama pegawai lain. Sebelum aku pergi, aku ingin bu Yaya bener-bener tulus maafin aku? Cukup aku dan Tuhan yang tahu kalau aku, ga pernah deket sama suami ibu. Gapapa aku dituduh seperti ini tapi yang pasti aku yakin, suatu saat pasti kebenarannya akan terkuak. Maafin aku?"


Aku menyuruh Desi bangun.


"Hal yang membuatku malas buat maafin kamu adalah, kamu masih aja ngelak kalau kamu itu pernah berselingkuh dengan mas Damar!"


"Sampai kapanpun saya ga akan mengakui kalau saya pernah berselingkuh dengan suami anda bu Yaya." pas bicara ini Desi mengeluarkan air mata. Dia seperti tidak sudi mengakui suatu kesalahan yang sebenarnya dia seolah tidak melakukan itu.


"Yaudah aku maafin. Kamu ga perlu resign. Tetep kerja ya disini? Tapi jangan genit lagi ke suami aku! Kamu harus menjaga harga diri kamu sebagai seorang perempuan yang terhormat. Kamu contoh tuh teman kamu, Miho, dia perempuan yang anggun dan terhormat. Orang-orang yang berkarir di kantor itu impian banyak orang loh. Jangan kamu sia-siakan hanya demi nafsu dan ego kamu semata!"


Desi menggeleng. Tekadnya untuk resign sudah bulat. Sementara itu, Miho sedang mengintip dari balik kerumunan orang yang mengamati Yaya dan Desi.

__ADS_1


"Desi, drama banget sih kamu! Mau resign aja ngedrama! Biar apa coba, biar bu Yaya iba sama kamu? Dasar mantan pelakor caper! Hm, jadi kasih hadiah ini buat Desi gak yah? Mendadak males deh." batin Miho tidak senang.


Bersambung...


__ADS_2