Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Bertengkar


__ADS_3

"Desi kamu tega mau bakar aku? Kenapa kamu sekarang jadi iblis sekejam ini!"


"Hei ngaca, lo juga iblis wahai wanita busuk! Lo adalah salah satu iblis di dunia yang akan gue musnahin sekarang!"


"Tidaaaaaaak!" teriak Miho semakin ketakutan.


Semua karyawan wanita juga berteriak dan beberapa dari mereka bahkan sampai menutup mata, takut melihat orang yang akan dibakar hidup-hidup. Beruntung ada seorang satpam yang datang berlari dengan sangat cepat kemudian bergegas memukul Desi sampai pingsan.


"Hampir saja aku terbakar, untung aja ada satpam itu. Bener-bener mantan pelakor gila kamu Des! Nyesel aku pernah jadikan kamu sebagai kambing hitam demi menutupi kedok perselingkuhanku." batin Miho sembari menangis takut.


Miho buru-buru pergi untuk membersihkan dirinya yang banjir cairan bensin. Jika kena api sedikit saja dirinya akan langsung terbakar.


"Serem banget yah si Desi?"


"Wajar aja, dia jadi gitu gara-gara difitnah si pelakor itu."


"Desi kelewatan tapi Miho juga sama-sama kelewatan. Aku aja kalau difitnah pasti akan merasa sangat kesal."


"Iya itu betul."


Bincang-bincang para karyawan kantor. Dibelakang mereka ada Damar yang sedang berdiri mengamati mereka.


"Lagi bahas apa kalian? Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing." titah Damar mengejutkan mereka.


Melihat ada sang presdir perusahaan yang sedang menyimak mereka dari belakang mereka pun bergegas kembali masuk kedalam kantor. Namun Damar merasa ada yang aneh, aroma apa ini, aroma bensin yang kuat begitu menyengat. Membuat Damar ogah untuk diam disitu terus.

__ADS_1


Di dalam sebuah kamar mandi, Miho sudah berganti pakaian. Semua pakaiannya yang bau bensin itu akan Miho buang dan bakar. Meski harganya mahal dan itu dibelikan oleh Damar, tapi bau bensin ini menyimpan kenangan yang menyeramkan bagi Miho, yaitu ketika si Desi yang mau membakarnya tadi di depan kantor.


Karena kejadian yang mengancam nyawanya pagi ini, Miho tidak akan tinggal diam, Miho akan melaporkan Desi ke kantor polisi.


***


Siangnya, mereka berdua tengah diinterogasi bersama didepan seorang polisi. Mereka duduk berjejeran namun ditengah mereka ada seorang polwan yang menjaga agar tidak terjadi keributan lagi diantara mereka.


"Bu Desi, kenapa anda ingin membakar bu Miho?" tanya pak polisi membuka pembicaraan yang menegangkan.


"Karena dia selama ini sudah memfitnah saya pak. Sampai saya kehilangan pekerjaan. Pak, fitnah itu perbuatan yang melanggar hukum juga kan!"


"Kamu benar bu Desi. Begitu juga dengan perbuatanmu, itu jauh lebih melanggar hukum lagi. Sekarang, apakah kalian ingin membawa masalah kalian ke babak selanjutnya?"


"Apa kalian tidak ingin berdamai saja? Toh kalian berdua sama-sama masih baik-baik saja. Tidak ada luka. Tidak ada akibat fatal ditimbulkan. Masalah pekerjaan kan masih bisa dicari lagi."


"Apaan! Saya ditampar sama dia tadi pagi pak! Saya juga mau dibakar hidup-hidup!"


"Heh pelakor berbisa tinggi, lo juga udah fitnah gue! Lo pikir gue akan biar lo bebas gitu aja! Nggak! Kita harus sama-sama mendekam di penjara! Biar impas!"


"Oh gue ogah ya mendekam di penjara! Lo aja sana ngapain bawa-bawa gue! Lo kan mau ngebakar gue, gak banget kalau sampai orang sinting ini ga di penjara pak, nanti bisa-bisa saya dicelakain lagi sama dia! Saya bisa mati pak!"


"Heh emang dasar ya lo pelakor sialan!"


Desi mau menyerang Miho kembali, tapi polisi wanita yang menjaga mereka langsung memegangi Desi dan menahannya.

__ADS_1


"Jangan buat keributan disini!" lantang polwan itu.


"Hahaha, mampus! Emang enak lo dibentak sama polisi!" ejek Miho.


"Kamu juga jangan buat keributan disini!" bentak si polwan kepada Miho.


"Sudah jangan ribut! Untuk sementara kalian berdua akan sama-sama kita tahan. Karena kalian berdua sama-sama bersalah kan!"ucap bapak polisi.


"What!" sahut Miho dan Desi kompak.


Mereka berdua ditahan didalam penjara kantor polisi namun ditempatkan didalam ruangan yang berbeda agar tidak terjadi keributan.


***


Bukan sebuah kisah yang indah, kisah yang memberikan sentuhan kebahagiaan untuk hati. Tapi kisah yang mengalir bak hujan petir yang kurang meneduhkan ditengah lapang. Ketika seorang sahabat sedang gelisah, karena suatu masalah yang menerjangnya.


Dia ingin membantu, tapi objek yang sebenarnya membutuhkan bantuan tidak mau menerima uluran tangan yang menghanyutkan.


"Sejatinya aku ingin selalu ada disampingmu Yaya. Ketika kamu seperti sekarang, aku ingin sekali memelukmu, menenangkanmu, sama seperti dulu waktu ibu kamu sedang terkena masalah. Aku adalah orang yang selalu ada disampingmu." ucap seorang laki-laki gagah bermata tajam itu, yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya.


Sentuhan gerimis melambai, menyapa wajah dan badannya. Hembusan angin bernama patah hati, menyesakkan mata, membisukan rasa.


"Buat apa kamu bertahan dengan laki-laki yang selalu membuat hari-harimu luka dan berduka." lanjut Martin geram. Ingin rasanya menghajar Damar saat ini juga karena Martin yakin, kesedihan Yaya pasti karena laki-laki bajingan itu lagi. Meski sebenarnya Martin salah kira. Yaya sedih karena ada orang misterius yang berniat mencelakai dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2