Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Si Pelakor Disergap Pria Mesum


__ADS_3

Dan alhasil, siang ini Miho sukses mendapatkan tekanan dari orang-orang yang ada di kantor. Semuanya memberikan sanksi sosial untuknya. Tapi Miho tidak mau tinggal diam, di tengah-tengah kantin Miho menyuarakan keadilan dan penghormatan yang seharusnya tetap dilakukan kepadanya, seperti biasa.


"Kalian ini manusia-manusia aneh ya! Bukti saya melakukan perselingkuhan juga baru sebatas foto yang diposting Desi dan itu juga bisa saja hanya editan. Kalian tahu kan Desi itu siapa? Desi itu pelakor busuk memalukan! Bisa jadi dia ingin jatuhin karir saya! Hanya dengan postingan foto yang bisa saja hanya editan, kalian langsung mengecap saya sebagai seorang pelakor? Kalau udah ada buktinya yang konkret baru silahkan deh kalian giniin aku! Bukannya kalau menuduh orang lain tanpa bukti itu adalah fitnah? Dan fitnah itu lebih kejam daripada membunuh!" lantang Miho.


Semua orang saling menatap satu sama lain, mereka membahas apa yang barusan diucapkan oleh Miho. Salah satu dari mereka berbicara dengan keras, membalas ucapan Miho yang barusan.


"Kalau gitu kamu harus buktiin ke kita kalau foto yang diposting si Desi itu hanya sebatas editan saja?" jawab seorang karyawati berbaju pink dan bermata sipit.


"Intinya foto itu dipastikan hanya editan si Desi gila buat ngejatuhin karir aku!" sahut Miho seraya berkacak pinggang dan menatap sebal ke samping kiri.


"Heh Miho! Kamu harus sujud dan minta maaf kepada bu Yaya! Kalau nggak, jangan salahin kita kalau kita yang akan memaksamu dengan cara yang tidak nyaman buat kamu minta maaf kepada bu Yaya! Setuju gak teman-teman?" saran karyawati lain dan itu membuat Miho semakin cemas.


"SETUJUU!" sahut semua kompak.


"Kalian ini ngapain repot-repot memberikan sanksi sosial untuk pelakor ya? Jadi pelakor itu kan urusan si pelakor bukan urusan kalian. Mending kalian urus diri kalian yang belum tentu suci itu!"lantang Miho lagi.


"Dosa kita ya urusan kita, tapi kita bukan perusak rumah tangga orang seperti anda! Dan kita ada dipihak yang tersakiti."


lantang salah satu karyawati lain.


"Yaudahlah terserah kalian, mbak!" panggil Miho kearah pelayan kantin.


"Iya?"


"Saya bayar dua kali lipat asal saya tetap dilayani seperti biasa!"


"Baik mba!"

__ADS_1


Lalu Miho duduk dengan nyaman. Setidaknya tekanan dari orang-orang di sekitarnya sekarang sudah agak mereda.


Miho akan memikirkan cara gimana supaya dirinya bisa menang dan membungkam si Yaya.


Miho tidak mau terkena sanksi sosial. Rasanya sangat tidak mengenakkan. Malam ini Miho ingin bicara empat mata dengan Yaya, di sebuah tempat yang sepi. Miho mengajaknya lewat chat Whatsapp.


"Yaya?"


Yaya yang sedang asyik menyisir rambutnya di depan cermin mendengar notifikasi pesan masuk. Yaya segera membuka pesan itu.


"Ini kan nomornya Miho, ada apa ya dia?" ucap Yaya penasaran.


"Ada apa?"


"Aku mau malam ini kita ketemuan di taman Kencana. Aku ingin kita bicara empat mata."


"Ngapain harus ketemuan kalau kita bisa bicara empat mata secara virtual lewat chat ini? Aku lagi malas keluar rumah."


Gimana ya, apa aku turuti aja kemauan Miho? Ah, iya saja lah. Aku penasaran Miho ingin berbicara apa kepadaku. Apa dia ingin minta maaf lalu mengakhiri hubungannya dengan suamiku? Kalau seperti itu bagus.


Alhasil, malam ini aku bertemu dengan Miho di taman Kencana.


Angin bertiup cukup kencang, sepertinya hujan akan segera turun sebentar lagi. Aku membuka kaca mobil, beberapa daun kering yang tersapu angin masuk ke dalam mobilku. Suasana sangat sepi sekali, hampir tidak ada orang. Setahu aku taman ini memang sepi dari dulu dan kurang terawat.


Ngapain ya Miho ngajakin aku ketemuan di tempat sepi seperti ini? Apa tidak ada tempat lain yang lebih nyaman? Aku kemudian keluar dari dalam mobil. Aku memasang syal, aku gunakan untuk sedikit menghalau hawa dingin yang kurasakan. Rambutku berkibar-kibar, terkena sapuan angin malam yang membuat kedua mataku jadi agak perih juga. Benar-benar sunyi dan mengerikan. Tempat ini berasa lokasi syuting film horor.


"Miho, kamu dimana?" panggilku.

__ADS_1


Tidak ada jawaban mungkin dia belum sampai. Aku mengambil ponsel aku, aku chat dia, aku bilang kalau aku sudah ada di taman Kencana. Tak berselang lama Miho membalas chat ku. Dia bilang kalau sekarang taksi yang ia tumpangi sedang terjebak macet, jadi aku harus bersabar menunggu sampai dia tiba.


Aku agak marah dengan pertemuan ini, aku disuruh menunggu sendirian di tempat seperti ini? Yang aku takutkan adalah, bukan hantu, melainkan orang jahat seperti begal atau orang jahat yang bisa saja memperkosa aku?


Aku kembali masuk kedalam mobil. Aku menunggu dari sini. Ternyata Miho sama sekali belum dalam perjalanan menuju taman Kencana. Miho masih leha-leha didepan kantor. Miho dengan sengaja mengulur waktu dengan tujuan membuat Yaya merasa bosan atau ketakutan, menunggunya dengan terlalu lama hingga datang di tempat seperti itu.


"Hahaha, semoga si istri sahabat ketemu gondoruwo dan dibawa ke alam gaib!" batin Miho berharap, seraya tersenyum licik sembari menikmati es krim dingin.


Sudah satu jam menunggu, Miho belum juga datang. Waktu sudah menunjukan hampir pukul sembilan malam. Yaya melihat ke samping, suasana semakin mencekam.


"Aduh lama banget sih ni orang, aku tinggalin aja dia, males! Mendingan balik dan bobo aja di rumah. Pasti mas Damar udah pulang deh." ucapku kesal lalu mulai menghidupkan mesin mobil. Aku pergi meninggalkan taman, bodo amat sama pertemuan ini. Dan beberapa saat berselang, Miho sampai ke taman Kencana dengan menaiki sebuah taksi.


Miho turun dari taksi, dia lihat tidak ada orang disini. Miho buru-buru ngechat Yaya.


"Kamu dimana? Kok nggak ada di taman? Kamu bohong ya sama aku? Kamu pasti belum dateng ke taman ini?"


Miho selesai mengetik chat itu menunggu Yaya membalas tapi tidak kunjuk dibaca chatnya. Karena Yaya masih sibuk menyetir mobil. Miho menunggu di dalam taksi dulu bersama dengan seorang sopir taksi. Sopir taksi itu tampaknya curi-curi pandang kearah Miho. Dia seperti mesum dan tergoda sama kecantikan dan kemolekan tubuh Miho. Apalagi Miho malam itu memakai baju yang sangat seksi.


Yaya lupa charger HP. Baterai yang tadinya satu persen sekarang sudah lowbat. Alhasil, ponsel Yaya jadi tidak aktif.


Sopir taksi itu terus memandangi Miho dengan agresif. Lekuk tubuhnya ketat semampai, Miho merasa tidak nyaman dengan sopir taksi didepannya.


"Kamu lihatin apa sih pak? Saya harap anda bisa sopan ya! Atau saya akan laporkan anda kepada atasan anda!"


"Lihatin siapa lagi kalau bukan wanita seksi di belakang saya."


"Harap sopan ya! Saya telpon polisi kalau anda berani macam-macam!"

__ADS_1


"Buat apa sopan di tempat sepi seperti ini. Kamu milikku cantik!" balas sopir taksi itu kemudian menyergap Miho dari depan.


Bersambung...


__ADS_2