
"Kenapa kamu malah bermesraan dengan istri kamu mas? Mana janjimu? Katanya hari ini, kita pergi ke dealer mobil?" kesal Miho lalu membuang ponselnya ke lantai. Di waktu yang bersamaan, ponsel itu tergelincir hingga ke luar ruangan, tepat mengenai sepatu hak tinggi Desi yang sedang berjalan ke dekat pintu ruangan Miho.
"Miho, ngapain buang HPnya sampai sini ya?"
Desi mengambil HP itu lalu membuka pintu ruangan Miho.
"Miho, ini HP kamu terlempar sampai keluar loh? Kenapa sih kamu?"
"Gapapa. Lain kalau kalau masuk ketuk pintu dulu dong Des. Mana etikanya?"
"Iya maaf, aku tuh reflek aja karena lihat HP kamu jatuh terus buru-buru buka pintu deh."
"Ada apa kamu?" tanya Miho agak jutek.
Desi duduk di kursi seberang didepan meja Miho. Desi meletakkan HP itu diatas meja. Desi menghela nafasnya, hari-harinya selalu dipenuhi dengan masalah.
"Aku mau curhat sama kamu?"
"Duh lagi ga mood deh. Lain kali aja ya?"
Desi tampak kecewa karena Miho tidak mau mendengar ceritanya hari ini. Lalu Desi pun pergi dari ruangan kerja Miho, tanpa pamit. Wajah Miho berwarna agak merah. Kemarahannya sungguh tengah meluap-luap.
"Awas aja kalau nanti ketemu! Aku akan beri perhitungan ke kamu mas! Karena kamu udah ingkarin janji kamu!"
***
Di depan air terjun, Damar dan Yaya sedang duduk bareng diatas sebuah batu besar. Banyak bintik air yang terbang di udara mengenai tubuh mereka. Sejuk dan menyegarkan. Indah dan mempesona. Penuh romantisme dan kehangatan. Itulah kalimat-kalimat yang menggambarkan kebahagiaan Yaya hari ini.
"Sejuk banget!" girangku.
Aku bahagia sekali siang ini. Ditambah lagi, ada air kelapa muda yang menemani kami. Ini surga dunia!!!
"Mas, sore ini kita bakar ayam yuk ditengah hutan? Di dekat tempat wisata ini, ada warga yang jualan ayam kampung loh mas?"
Mas Damar mengangguk, menyanggupi permintaanku. Tak apalah kalau tadi mas Damar belum menjawab pertanyaanku soal mengapa harus ada privasi dalam hubungan berumah tangga? Semoga dilain kesempatan, dia mau dengan jujur, bisa terbuka satu sama lain.
Sorenya, aku dan mas Damar pergi membeli seekor ayam. Habis itu kita akan membakar ayam itu dibalut dengan banyak racikan bumbu yang akan membuat cita rasa ayam bakar ini menjadi lebih enak. Aku selalu mengupdate aktifitasku hari ini via story WA. Semua teman-temanku pasti melihatnya. Tak terkecuali Miho.
__ADS_1
Teman-temanku yang lain banyak yang membalas storyku, tapi Miho hanya melihat saja tanpa ia membalasnya. Itu tidak penting sih buatku, mau membalas atau hanya melihatnya saja. Tidak penting juga buat Miho berkomentar.
Sebelum kami pulang, sebelum malam datang, aku dan mas Damar menikmati ayam bakar bersama. Kami menikmatinya dibawah pohon yang rindang. Semilir sejuk angin sore menerpa kami berdua. Aku mengabadikan momen ini, menjadi story sosial media terakhir pada hari ini.
Aku membubuhkan caption "thankyou so much mas Damar atas kebahagiaan yang kau berikan pada hari ini. Hari ini sangat indah mas."
Lalu aku kembali mengunggah di story WA.
"Terus aja terus! Pamer kemesraan dasar tukang pamer!" gerutu Miho di kantor, menatap penuh kecemburuan ke layar HP.
Aku menutup ponselku sembari tersenyum. Aku ingin sering-sering seperti ini di masa kehamilan aku yang sekarang. Banyak teman-temanku yang ikut senang melihatku berbahagia dengan mas Damar hari ini.
Beberapa saat kemudian, diatas gedung kantor. Miho sedang berdiri seraya melihat matahari terbenam. Miho memegang ponsel dan disaat yang bersamaan, Damar sedang menyetir mobil, sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Miho kembali menghubungi Damar tapi kali ini via video call.
Melihat siapa orang yang mengajak VC mana bisa Damar mengangkat panggilan tersebut disaat sedang bersama istrinya. Lagipula Damar juga sedang menyetir.
"Miho, mas tahu pasti kamu marah banget. Tapi tenang saja sayang, dealer tutup pukul sepuluh malam, kita akan langsung kesana nanti malam." batin Damar cemas karena lalai akan janjinya.
"Kenapa ga diangkat mas! Sini aku aja yang angkat kalau kamu mau fokus nyetir mobil?"
"Gausah sayang, ini rekan kerja mas mau bahas detail proyek yang minggu depan mas kerjakan. Nanti mas telpon balik saja di rumah,"
Aku terus memperhatikan wajah suamiku. Kenapa dia tampak terlihat bingung? Apa dia sedang mikirin sesuatu? Dia seperti sedang gusar.
"Brengsek!" teriak Miho diatas gedung, seraya memandang ponselnya, dimana barusan Damar menolak panggilannya.
Miho melangkah ke pinggir, seperti orang yang mau melompat dari atas gedung. Sebenarnya tujuan Miho itu adalah ingin memancing Damar buat segera datang kesini, dengan aksinya yang pura-pura mau bunuh diri. Tapi Damar malah tidak mengangkat teleponnya.
Pukul tujuh malam mereka baru sampai ke rumah. Yaya dan Damar segera masuk kedalam, mereka akan bergegas mandi. Saat Damar sedang menunggu Yaya mandi, Miho kembali video call. Sekarang Damar bisa mengangkat panggilan dari Miho karena Yaya sedang mandi. Damar melirik sejenak kearah kamar mandi lalu Damar pun pergi keluar rumah.
Damar langsung mengangkat panggilan dari Miho di depan rumah. Damar dibuat terkejut saat melihat layar dimana Miho sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Belum lagi rambut Miho yang acak-acakan seperti orang yang tengah frustasi.
"Kenapa kamu ingkar janji mas? Aku kecewa banget sama kamu! Dengan enaknya kamu pergi bersama istri kamu buat liburan berdua. Itu artinya kamu lebih sayang sama dia daripada aku! Aku tidak kamu prioritaskan!"
"Sayang bisa mas jelasin, mas harus lakuin itu, berlibur bersama Yaya. Selain dia sedang hamil, mas tidak ingin dia stress apalagi curiga karena semalam kan mas menginap di tempatmu?"
"Ya tapi ga harus ingkar janji juga kali mas! Aku nungguin kamu dari pagi, kita pergi beli mobil bareng hari ini, tapi apa! Kamu malah pergi senang-senang sama istri kamu!"
__ADS_1
"Maafin mas ya? Lain kali, mas gak akan ingkar janji lagi. Lagian..."
"Cepat kesini atau aku akan!..."
Miho mengarahkan kameranya kearah bawah gedung, itu adalah isyarat jika Damar ga segera datang ke kantor, maka Miho akan loncat dari atas gedung.
"Jangan nekat kamu Miho!"
"Makannya buruan kesini!"
"Tapi aku bentar lagi harus dinner bareng istriku?"
"Apa tadi ga cukup kenyang waktu kalian makan ayam bakar berdua, hah?"
"Arghh! Yaudah, aku kesana sekarang. "
Damar buru-buru berlari mengambil kunci mobil lalu bergegas pergi naik mobil dengan ngebut. Melihat suamiku pergi ngebut, aku pun berteriak bingung. Aku baru selesai mandi, aku memakai piyama dan handuk yang masih aku gulungkan di kepalaku.
"Mas mau kemana!" teriakku bingung.
Aku hanya mengamati mobilnya pergi saja tanpa mengikutinya menggunakan mobil lain. Biarkan saja dia pergi tanpa pamit, mungkin sedang ada urusan mendadak. Aku sedang belajar untuk mengurangi rasa curigaku. Gak mau aku, stress karena terlalu parno berlebihan.
Singkat waktu, sampailah Damar di kantor. Damar naik keatas pakai lift hingga ia sampai diatas gedung. Miho masih setia berdiri disana. Ketika sudah sampai diatas gedung, Damar berlari lalu berhenti. Damar semakin panik saat menatap Miho yang masih berdiri disana.
"Aku datang sayang," ucap Damar lembut.
Lantas Miho berbalik badan dan kemudian berlari memeluk suami orang tersebut.
"Kamu udah rusak mood aku hari ini mas. Kamu tega biarin aku sedih lihat kemesraan kamu bareng perempuan nyebelin itu di story WA. Dia norak mas, pamer kemesraan mulu dari pagi."
"Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu tetap yang aku prioritaskan. Bulan depan, kita liburan ke luar negeri ya sayang? Satu minggu deh! Mas janji."
Miho melepas pelukannya dengan Damar. Miho menatap ceria wajah Damar. Mendengar akan diajak jalan-jalan keluar negeri tentu saja membuat diri Miho kembali bergairah.
"Awas jangan ingkar janji lagi!"
"Iya sayang."
__ADS_1
Kemudian, mereka berdua saling ciuman bibir dengan panas diatas gedung itu.
Bersambung...