Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Dua Orang Jahat Itu Telah Mati


__ADS_3

Melihat seorang wanita pucat yang terbujur kaku didalam ranjang kamar mayat ini adalah pengalaman pertama bagi Yaya datang ke tempat seperti ini. Yaya membuka kain putih penutup tubuh Miho dan dibelakang Yaya berdiri sosok Anjar.


Mereka berdua turut berduka atas kepergian Miho. Yaya mengingat ketika Miho apa saja kejahatan yang ia lakukan kepada dirinya.


"Yaya, sekarang jiwa itu sudah terlepas dari raganya. Apa kamu mau memaafkan kesalahan Miho yang begitu besar kepadamu atau kamu belum ikhlas untuk memaafkannya?"


Yaya menggeleng


"Aku belum untuk memaafkannya. Aku tidak bisa memaafkan Miho secepat itu Anjar. Tapi aku memikirkan bagaimana dengan nasib bayinya. Dia adalah anak dari mas Damar juga."


"Membawa bayi itu turut serta buat dirawat keluarganya di Jepang? Gimana?" tanya Anjar.


"Apa keluarganya Miho di Jepang sudah tahu bagaimana kehidupan kelam anaknya disini? Apa mereka bisa menerima jika Miho sudah punya anak dan apa mereka mau merawat anaknya Miho dengan mas Damar? Jika mereka tidak mau merawat bayi itu biar aku saja yang merawatnya." ucap Yaya seraya menundukkan kepalanya berbesar hati jika harus merawat anak dari wanita jahat itu.


Di hari yang sama beberapa saat berlalu, saat Yaya dan Anjar sedang melangkah di tengah koridor rumah sakit. Mereka mau melihat bayi Miho tapi tiba-tiba dokter yang tadi membantu Miho melahirkan datang mengabarkan kepada Yaya bahwa DAMAR BUNUH DIRI DIDALAM SEL.


Sontak saja Yaya sangat kaget mendengar kabar mengerikan itu.


"Apa, suami Miho bunuh diri?"


"Benar bu Yaya."


"Ya Allah, dihari yang sama Engkau ambil nyawa Miho. Dihari ini juga mantan suamiku bunuh diri karena pasti dia tidak bisa menerima kematian Miho. Hari ini dua orang yang telah mendzolimi aku, mereka telah pergi selama-lamanya dari kehidupan ini." ucap Yaya dihatinya seraya menundukkan kepalanya kembali.


Yaya masuk kedalam ruangan tempat bayi Miho berada. Bayi kecil itu sedang tertidur pulas diatas ranjang kecil. Yaya menatap dengan rasa iba kepada bayi mungil itu. Yaya melihat dari sisi ranjang kecil itu.


"Bayi ini tidak bersalah yang salah adalah kedua orang tuanya." batin Yaya.


"Apa dia sudah diberi nama dok?" tanya Yaya kepada sang dokter.


"Belum. Apa anda saja yang memberi dia nama?"


Yaya menggeleng.

__ADS_1


"Mungkin nanti keluarganya di Jepang yang akan memberi dia nama. Kalau mereka tidak mau mengurus bayi ini biar aku saja yang mengurusnya."


Setelah itu dokter memberikan ponsel milik Miho. Yaya ingin mencari tahu nomor ponsel keluarga Miho yang bisa dihubungi. Saat menggulirkan kontak ponsel Miho kebawah Yaya melihat ada kontak dengan nama hahaoya.


"Disini banyak kontak dengan nama khas Jepang, hahaoya artinya apa ya Njar coba searching di google."


Anjar searching sebentar di google kemudian setelah tahu artinya dengan bantuan terjemahan online di google hahaoya artinya adalah ibu.


"Oh berarti hahaoya pasti ini nomor kontak ibunya Miho. Tapi gimana aku bisa menjelaskan kepada ibunya Miho? Aku aja tidak bisa bahasa Jepang."


"Mungkin dia bisa bahasa Inggris. Kamu kan pinter bahasa Inggris juga Yaya?"


"Baiklah akan aku coba."


Ternyata saat Yaya mencoba menghubungi ibunya Miho dan memberi tahu semuanya soal kehidupan Miho di Indonesia, ibunya Miho belum bisa menerima hal itu. Ibunya Miho bahkan tidak mau mengurus anaknya Miho.


"Kalau keluarganya Miho gak mau ngurusin bayi itu, maka dengan ikhlas aku yang mengurus bayi itu." ucap Yaya berbesar hati.


"Yaya? Kamu serius? Kamu biaa ngurus tiga anak sekaligus? Viona, Bakti, dan juga bayi ini? Belum lagi kamu juga harus ngurus ibu kamu. Itu akan sangat merepotkan buat kamu Yaya." ucap Anjar khawatir.


"Kamu yang tenang ya? Aku siap kok merawat bayinya Miho."


Yaya menatap Anjar dalam-dalam begitu mulia hati dari sahabatnya itu.


"Terimakasih banyak Anjar? Kamu adalah orang yang sangat baik. Jaga bayi itu baik-baik ya? Sekarang kamu beri bayi itu nama yang indah?"


"Baik Yaya. Dok, bayi itu bayi perempuan kan?" tanya Anjar kepada dokter.


Dokter itu mengangguk. Sebelum memberi nama, Anjar searching dulu di google.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberi dia nama Akiara. Aku cocok dengan nama ini. Setelah aku searching nama-nama khas orang Jepang Akiara artinya kuat. Aku berharap Akiara bayi yang akan aku rawat ini menjadi orang yang kuat di kemudian hari." harap Anjar seraya menatap keatas.


Yaya tersenyum melihat kebahagiaan Anjar. Yaya bisa melihat ketulusan Anjar yang mau merawat bayi itu.

__ADS_1


***


Keesokan harinya Yaya mendatangi pemakaman Damar yang mati bunuh diri karena frustasi setelah mengetahui kematian Miho, perempuan cantik yang sangat dia cintai itu. Damar dimakamkan pada jam 9 pagi.


Disisi makam berdiri Yaya, Martin, dan juga Anjar. Yaya turut bersedih atas kepergian Damar dengan cara yang tidak wajar itu. Biar gimanapun Damar pernah menjadi laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Yaya mengingat semua kebaikan Damar yang pernah Damar lakukan kepadanya.


"Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kamu mas." ucap Yaya dengan tulus.


Tapi untuk kesalahan Damar kepadanya, rasanya masih berat buat Yaya memaafkan Damar secepat itu. Lantas Yaya menatap kepada laki-laki baik nan gagah yang tengah berdiri di sampingnya, sambel terasi alias si Martin.


"Aku turut berdukacita ya? Entah kenapa bunuh diri selalu dijadikan pilihan untuk mengatasi masalah yang ada. Padahal itu bukan cara yang dibenarkan." ucap Martin.


"Iya Martin, kamu benar."


Kemudian selesai mendatangi pemakaman Damar, Yaya pun kembali ke rumah Damar. Kekayaan Damar baik uang tabungan, mobil, dan rumah itu semua akan jatuh kepada anak-anak kandung Damar termasuk Viona, Bakti, dan Akiara.


Yaya datang diantar oleh Martin menggunakan mobil Martin. Yaya keluar dari dalam mobil kemudian melangkah dengan perlahan menuju kedepan pintu. Suasana rumah terasa sangat sepi sekali.


"Rumah yang pernah aku tempati selama sepuluh tahun ini. Rumah yang penuh akan kenangan. Baik kenangan yang manis maupun kenangan yang pahit." ucap Yaya dihatinya kemudian Yaya mulai masuk kedalam rumah mantan suaminya.


"Ini adalah rumah yang sangat indah. Tapi ini bukan rumahku lagi. Statusku adalah mantan istri. Tapi suatu saat nanti, Viona, Bakti, dan Akiara berhak atas semua ini karena mereka adalah anak kandung dari mas Damar. Semoga mereka bertiga menjadi anak-anak yang saling menyayangi satu sama lain." harap Yaya sembari menitikan air mata.


Setelah mendatangi rumah mantan suaminya, Yaya ingin segera langsung pulang ke rumahnya. Diperjalanan pulang Yaya bilang ke Martin kalau Yaya mau mampir dulu ke pasar buat beli sayuran dan daging.


Yaya belanja di pasar memilih sayuran segar dan juga daging segar yang baru dipotong.


Setelah selesai belanja tak sengaja Yaya melihat Arif dan Elma yang sedang berdebat dibalik sebuah pohon. Mereka berdua tengah membicarakan sesuatu. Diam-diam Yaya memperhatikan omongan mereka dari belakang mereka tanpa mereka berdua sadari.


"Malam ini kita rampok barang-barang berharga yang ada dirumah Damar. Setuju gak mas? Berhubung dirumah itu udah gak ada orang. Pasangan selingkuh itu udah pada modar mas. Persediaan uang kita udah mau habis nih mas? Kamu mau kan malam ini kita lakuin itu?"


"Ide bagus Elma sayang. Pokoknya segala macam tindak jahat kita jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Termasuk kejahatan kita kepada si nenek lampir Sera."


Yaya membuka mulutnya ketika mendengar Arif membicarakan kejahatan yang ia lakukan kepada ibunya.

__ADS_1


"Ternyata yang bikin mama aku sakit itu mereka! Awas aja kalian! ARIF! ELMA! IBLIS KALIAN!" murka Yaya lalu melangkah dengan penuh amarah kearah Arif dan Elma.


Bersambung...


__ADS_2