
Saat makan malam bareng mama pun aku jadi malas atau sungkan untuk menegur mama. Suasana makan malam pada malam ini begitu dingin. Aku menikmati makanan tanpa berbicara sepatah katapun dengan mama. Hal ini membuat mama menjadi bingung. Dan dia yang mulai duluan mengajak aku untuk ngobrol.
"Kok kamu diam terus sih nak? Kamu jangan sedih terus dong. Apa kamu masih mikirin soal suami kamu dan teman kamu, siapa itu? Miho ya?"
Aku menggeleng. Aku nggak mikirin itu ma. Tapi aku mikirin, kenapa mama berani mengambil cincin aku tanpa meminta izin terlebih dahulu? Kenapa mama tega lakuin itu? Bukan masalah harga cincin itu, tapi ini masalah kepercayaanku kepada mama.
"Nggak ma, aku lagi mikirin cincin aku yang hilang."
"Loh emangnya belum ketemu?"
Kenapa sih, mama malah bertanya balik? Sudah jelas cincin yang aku maksud itu sedang menempel manja di jari manismu ma. Kenapa mama pura-pura tidak tahu. Apa mama pikir, aku ga melihat cincin ku yang sedang kamu pakai itu ma? Aku jadi malas untuk lanjutin makan. Aku bangkit lalu akan pergi ke kamar aku. Tapi mama bertanya lagi.
"Kok ga dihabiskan makanannya? Ga baik loh nak. Habisin dulu, makanannya."
"Lagi ga selera makan ma. Aku mau istirahat aja." jawabku cepat lalu bergegas pergi meninggalkan mama sendirian di ruang makan.
Mama Sera jadi bingung dan ikut menghentikan makan. Mama Sera ikutan bangkit lalu berjalan mengikuti Yaya hingga kamar. Tapi Yaya buru-buru menutup pintu saat berbalik badan hingga mama Sera tidak bisa masuk atau segan untuk masuk.
"Aneh anakku. Kenapa dia tiba-tiba perilakunya jadi seperti itu. Apa aku ada salah sama dia? Atau masalah yang sedang dia hadapi membuat hatinya menjadi kalut dan kacau. Ya Allah, nak. Semoga kamu lekas kembali bahagia. Jangan kelamaan kamu stress, kondisimu yang sedang hamil muda jauh lebih penting sayang." batin mama Sera berdoa.
Keesokan harinya. Yaya sedang duduk menyendiri di kursi taman. Seekor kupu-kupu terbang mengelilinginya lalu hinggap di bahu Yaya. Yaya tersenyum lalu berusaha menangkap kupu-kupu bercorak biru coklat itu. Tapi kupu-kupu itu kembali terbang dan Yaya gagal menangkapnya.
Yaya mengambil sebuah diary di sampingnya.
"Seorang perempuan muda tengah menyendiri. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang penuh dengan misteri. Entah mereka jahat atau baik sama perempuan muda itu. Kupu-kupu adalah sahabatnya. Dan dari kupu-kupu itu dia belajar bahwa perlu usaha keras untuk menjadi sesuatu yang indah. Proses perubahan ulat menjadi kupu-kupu itu perlu fase yang lama. Proses keluar dari dalam kepompong butuh waktu berjam-jam. Itu perlu usaha keras. Begitu juga dengan kehidupan perempuan muda itu. Perlu usaha keras untuk menaklukannya. Dan perempuan itu, harus selalu yakin bahwa semua akan indah pada masanya. Perempuan muda itu adalah aku." tulisku di diary ini.
Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku harus mulai darimana lagi? Aku tidak mau hubungan kekeluargaanku dengan mama hancur. Meski aku tahu dia yang mengambil salah satu cincinku. Lebih baik aku mengambilnya kembali dan mengajari mama bahwa perbuatan yang dia lakukan itu adalah sama saja dengan berbuat jahat ke aku, anaknya sendiri.
__ADS_1
Tapi saat aku bangkit, suara menyebalkan itu terdengar kembali. Ya. Siapa lagi kalau bukan si sambel terasi.
"Telur asin, pagi-pagi kok udah galau aja?" kedatangan dia bikin aku makin galau dan bete aja.
Aku menoleh ke belakang, dia sedang tiduran diatas rumput.
"Ngapain lu tiduran disitu udah kaya ulet keket aja! Buruan bangun!"
"Gak. Sini duduk aja disampingku?"
"Apaan sih! Pergi sana! Mentang-mentang mas Damar lagi gak ada dirumah, kamu menjadikan ini kesempatan untuk bertemu sama aku? Aku gak mau ya ketemuan sama kamu lagi di rumah mas Damar ini!"
Martin bangkit, dia melangkah kedepanku.
"Kamu butuh teman. Kamu butuh seseorang untuk membantumu menyelesaikan masalahmu. Kamu gabisa hadapin semua itu sendirian!"
"Tapi aku ga punya masalah apa-apa kok. Jangan sotoy deh Tin. Kalaupun aku ada masalah, masalahnya tuh ada di kamu. Berhenti bersikap rese sama aku dan mas Damar!"
"Yaya, kamu itu sahabat aku. Kalau kamu punya masalah, jangan sungkan untuk cerita sama aku. Sekalipun kamu gak mau cerita, aku juga udah tahu kalau kamu itu lagi ada masalah. "
"Emang, kamu tahu darimana?" aku bertanya penasaran lalu aku duduk lagi diatas kursi taman. Martin ingin ikutan duduk juga tapi aku melarangnya.
"Kamu duduk diatas rumput!"
"Iya nyonya."
Martin pun jongkok lalu dia kembali melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Dari mama kamu lah. Waktu itu kita bicarain soal itu. Jadi, masalah apa yang ingin kamu selesaikan sekarang?"
"Ngapain sih kalian berdua, kamu dan mama urusin rumah tangga aku. Aku bisa menyelesaikan itu sendiri kok.
"Kalau kamu bisa menyelesaikan urusan kamu sendiri, kenapa sekarang kamu kaya lagi stress banget? Jangan sedih terus. Artinya apa? Kamu butuh bantuan orang lain. Aku siap kok bantuin kamu."
Aku merasa bertambah bete. Martin disini sok mau ngebantuin aku, bikin aku tambah geram saja. Aku takutnya ada orang lain yang lihat terus bikin fitnah yang tidak-tidak. Aku sampai celingukan kesana kemari.
"Kamu pulang aja deh sana. Aku lagi ingin sendiri. Bisa kan?"
"Yaudah aku akan pulang." sahut Martin sembari berdiri.
Martin melangkah pergi. Aku sedikit lega, tapi dia berhenti lagi dan berkata kepadaku.
"Aku siap bantuin kamu kapanpun kamu butuh Yaya. Jangan sungkan buat call me. Detektif Martin, selalu siap untuk membantu nyonya muda Yaya Sandrina."
Kesal! Aku berdiri, lalu berjalan cepat dengan wajah jutekku kedalam rumah. Sementara itu Martin malah tertawa kecil melihatku kesal seperti ini.
"Dasar rese!" kesalku dalam hati.
Singkat waktu, malam kembali datang. Bulan dan bintang kembali menemani para manusia pecinta malam. Aku tengah duduk sendirian lagi di kursi taman. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Menunggu mas Damar video call lagi. Berkali-kali aku mengecek ponsel. Tidak ada pesan masuk apalagi VC.
Melihatku berada diluar sendirian saat malam, mama lekas menghampiri aku.
"Gak baik kalau perempuan hamil malam-malam diluar sendirian." ujar mama datang.
"Mama apaan sih. Aku lagi pengin sendiri. Mama kembali kedalam rumah aja deh."
__ADS_1
Mama malah duduk di samping aku. Duh, hari ini adalah hari yang paling memuakkan dalam hidup aku. Mamaku mencuri dan si rese Martin yang makin nyebelin. Rasanya, aku ingin tidur panjang selama berbulan-bulan alias koma.
Bersambung...