
Selesai arisan bareng teman-teman, aku segera pulang ke rumah. Aku cuma makan sedikit aja di rumah teman arisanku. Aku cuma makan sepotong bolu dan minum air putih satu gelas kecil. Aku melakukan itu karena aku hari ini ingin makan siang di rumah. Makan masakan kesukaan aku. Bi Surti juru masak kebanggaanku, rasa masakannya tidak pernah mengecewakanku.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, dia masih giat dan semangat dalam bekerja. Aku juga akan memberinya uang bonus gaji yang lebih banyak. Sampai di rumah, aku bergegas masuk kedalam rumah. Seperti biasa aroma masakan sedap tercium oleh indera penciumanku.
Aku melangkah menuju meja makan, namun yang aku kaget adalah, kulihat bi Surti yang sedang makan siang dengan begitu santainya. Dia mengambil banyak makanan yang sudah disiapkan olehnya untuk aku. Lantas aku langsung menegur dia!
"Bi Surti! Kenapa kamu makan makanan yang udah disiapkan untuk saya? Mana kamu makan disini? Maaf ya bi, bukannya saya sombong, tapi etika sebagai pembantu itu harus tetap diterapkan! Kamu bukan bagian dari anggota keluarga asli disini, meski kamu juga sudah saya anggap seperti anggota keluarga saya sendiri. Jangan sampai respect saya kepada kamu selama ini jadi hilang!"
Bi Surti terlihat sedih sekali. Sepertinya dia juga tidak benar-benar ingin makan siang di meja makan. Dia seperti dipaksa oleh seseorang. Bi Surti menangis sedih.
"Maaf nyonya." ucap bi Surti singkat lalu bergegas bangkit.
"Tunggu! Jelasin dulu kenapa kamu berani sekali makan siang di meja makan? Kamu bebas makan dimana aja bi, tapi etika itu perlu diterapkan!"
Bi Surti menoleh kearahku, dia menangis sesenggukan.
"Sesekali bibi ingin coba rasain, makan siang di meja makan nyah. Udah gitu saja, permisi." jawab bi Surti seraya terisak.
Seperti ada yang aneh dengan sikap bi Surti. Karena hal ini mood ku buat makan siang jadi hilang. Aku pergi ke dapur, aku lihat, Elma sedang memasak.
"Elma, bukannya bi Surti sudah masak. Kok kamu masak lagi?"
Elma mematikan kompor lalu melangkah kedepanku.
"Maaf nyonya, saya hanya ingin mencoba memasak untukmu. Saya tahu bi Surti makan siang di meja makan. Jadi saya inisiatif buat masak masakan yang baru. Karena saya yakin pasti nyonya akan marah. Kalau berkenan, nyonya muda bisa coba masakan saya nanti."
Baik juga hati si Elma ini. Aku jadi kagum sama pembantu yang baru bekerja ini.
"Tapi tugas kamu kan bukan memasak?"
"Saya tahu nyonya, sesekali tidak apa."
__ADS_1
"Lantas, kenapa kamu tidak menegur bi Surti tadi? Gak berani?"
Elma mengangguk lalu menatap kurang berani kearah bi Surti yang sedang berdiri di dekat kami dan dia terus menangis sedih.
"Saya mana berani menegur ART senior seperti bi Surti ini. Biarin aja lah nyah, semoga kedepannya bi Surti bisa lebih tahu etika lagi. Maafin bi Surti ya nyah?"
Aku semakin terkesan sama Elma. Tidak salah aku memilih dia sebagai pembantu baru.
"Baik. Aku semakin kagum sama kamu sebagai seorang pembantu baru tapi lebih mengerti soal etika. Kalau masakan kamu enak, saya akan minta kamu jadi juru masak dirumah saya juga. Nanti gaji kamu saya tambahin. Antar masakan kamu ke meja makan."
"Siap nyonya."
Aku kembali ke meja makan. Setidaknya mood makan siangku kembali muncul. Karena aku penasaran dengan rasa masakan Elma. Aku duduk menunggu di meja makan. Dia bikinin aku sup asparagus beserta omelette telur. Omelette telur adalah salah satu masakan kesukaan aku.
"Ini dia nyonya, selamat menikmati, maaf kalau rasa masakan saya belum bisa bikin nyonya merasa puas. Saya masih belajar nyah."
"Makasih Elma. Padahal ini tidak termasuk tugasmu dalam bekerja disini, tapi kamu baik banget. Kamu makan siang juga ya."
"Baik nyonya."
Tapi yaudahlah, hati dan sikap manusia tidak akan selalu sama. Adakalanya berubah. Aku mulai menyendok sup yang tersaji didalam mangkuk didepanku. Aku memasukannya kedalam mulutku.
Aku langsung melepehnya. Makanan apa ini, kenapa rasanya asin banget? Lalu kucoba omelette telurnya, rasanya juga sama. Bikin pengin muntah. Aku segera memanggil Elma suruh datang ke meja makan.
"Elma!"
Elma berjalan cepat kearahku. Wajahnya terlihat gugup.
"Ada apa nyonya? Pasti rasa masakan saya kurang enak ya? Maaf nyonya, saya belum pandai memasak."
"Kalau kamu belum pandai masak ya jangan maksain diri untuk masak lah! Kamu gak kira-kira masukin garam kedalam sup ini dan juga kedalam omelettenya. Rasanya seperti saya sedang makan garam." tegurku, lalu aku meminum air.
__ADS_1
"Maaf nyonya. Saya janji nggak akan bikin nyonya Yaya kecewa lagi. Tapi tolong, jangan pecat saya ya?"
"Siapa juga yang mau memecat kamu! Tapi mulai sekarang, biarin bi Surti yang masak ajalah. Saya gak akan izinin kamu masak lagi. Lama-lama saya bisa darah tinggi kalau makan makanan yang keasinan terus!" titahku, lalu aku bangkit dan melangkah menuju kamarku dengan hati yang kesal.
Menyesal? Jelas iya. Udah bela-belain gak makan siang dirumah teman arisanku tadi demi untuk makan siang dirumah yang berakhir kacau seperti sekarang ini? Aku membanting tasku ke kasur lalu aku tiduran. Lebih baik aku tidur siang saja daripada terus menerus gak mood.
Sementara itu, di samping rumah, Elma dan Arif sedang duduk berdua, sembari sama-sama memegang ponsel mereka masing-masing. Elma sedang chat dengan Miho, sedangkan Arif sedang senyum-senyum senang melihat sebuah situs beli nomor togel online.
"Gimana, kamu udah jalanin tugas kamu dengan baik?"
"Sudah bos. Ini baru permulaan. Siang ini aku berhasil bikin nyonya Yaya jadi badmood. Belum lagi rencana saya dan mas Arif yang selanjutnya,"
"Hahaha, good job! Tenang aja ya kalian? Bayaran kalian pasti akan lancar dan nominalnya itu jauh lebih besar daripada gaji kalian jadi babu pura-pura disitu!"
"Hahaha, siap bos. Uang DPnya mana nih? Lumayan lah buat nyicil motor baru?"
"Malam ini akan segera ditransfer. Gausah bawel deh!"
"Oke bos."
Elma menutup chat dengan wajah ceria. Arif langsung bertanya soal orang yang menyuruh mereka itu.
"Si Miho beneran terbukti mau bayar kan sayang?"
Elma mengangguk seraya tersenyum kepada Arif.
"Yups. Malam ini uang DP sebanyak lima juta akan masuk ke saldo rekening kita. Aku bisa belanja sepuasnya mas!"
"Dan aku bisa main judi sepuasnya sayang, hehe."
Nyatanya Arif dan Elma adalah orang-orang suruhan Miho yang dibayar untuk membuat hari-hari Yaya menjadi tidak menyenangkan.
__ADS_1
Miho sedang tersenyum puas di luar negeri. Miho senang jika Yaya menderita. Miho tidak akan membiarkan ATM berjalannya tetap bersama dengan Yaya. Miho tidak akan biarkan itu terjadi!!!
Bersambung...