
Miho dan Damar melanjutkan liburan mereka ke Hong Kong. Negara terakhir dalam agenda liburan mereka minggu ini. Disana nanti, Miho ingin mengunjungi banyak tempat, dan juga membeli banyak barang-barang bermerk disana.
Didalam pesawat, Miho membuka penutup jendela. Miho melihat keluar, merasa menang karena sekarang, dirinya jauh lebih bisa menguasai Damar ketimbang si istri sah. Bahkan mungkin, sekarang kebanyakan pengeluaran Damar lebih banyak dihabiskan untuk dirinya.
Beberapa jam berlalu, pesawat yang ditumpangi mereka mendarat di bandara Hong Kong. Miho menuruni tangga pesawat dengan cantik, disusul Damar dari belakang yang membawakan koper. Miho membuka kacamatanya, menghirup udara segar badara.
"Sayang, kita langsung resevarsi hotel ya. Cari hotel yang paling mahal." pinta Miho yang selalu ingin dimanjakan dengan kemewahan termahal.
"Tentu sayang. Apa sih yang nggak buat kamu sayang."
Berkali-kali Damar mengucapkan kalimat itu, apa sih yang nggak buat selingkuhannya tercinta. Sementara itu di Indonesia, Yaya sedang berdiri di belakang jendela kaca kamarnya. Yaya sedang menatap keluar, tepatnya kearah taman, dimana Arif sedang bekerja memetik daun-daun kering yang ada ditaman.
"Telaten juga ya si Arif ngurusin tamanku. Aku gak salah pilih telah memperkerjakan mereka berdua."
Itu yang ada dipikiranku sekarang. Meski aku masih kecewa dengan rasa masakan Elma tadi siang, tapi itu bukan ranah Elma untuk bekerja menjadi tukang masak juga. Aku masih mempercayakan itu ke bi Surti.
Tiba-tiba perutku terasa lapar dan aku ingin makan buah mangga yang aku simpan didalam kulkas. Aku melangkah dengan cantik menuju ruang santai, saat aku buka pintu kulkasnya, aku terkejut karena dua buah mangga itu sudah tidak ada lagi disana.
Yang tersisa hanya buah apel dan pir. Kemana mangga yang lezat itu? Perasaan aku belum memakannya. Apa jangan-jangan? Aku langsung pergi ke dapur pergi mencari bi Surti dan Elma. Elma sendiri sedang mengepel lantai di dapur sedangkan bi Surti sedang sibuk memotong bawang.
"Kalian, lihat mangga kesukaan aku dikulkas nggak?" tanyaku dengan nada tinggi.
Bi Surti dan Elma, kulihat mereka saling menatap antar satu sama lain, tapi wajah bi Surti tampak tegang sekali.
"Anu nyonya, dua-duanya dimakan habis sama bi Surti. Katanya dia lagi pengin makan buah mangga dan dia lagi males buat beli ke pasar." jawab Elma mengejutkan aku.
Sudah dua kali bi Surti membuat aku kecewa.
"Apa benar itu bi Surti?" tanyaku memastikan lagi.
Bi Surti mengangguk sembari menangis.
"Yaudah, ini cuma mangga, cuma persoalan sepele, tapi sikap kamu yang seperti itu, kalau diulangi sekali lagi, semoga bibi bisa dapat pekerjaan yang lebih baik di tempat lain ya." ucapku, sepertinya ucapanku membuat bi Surti langsung menjadi lemas. Karena ancamanku kali ini tidaklah main-main. Aku akan memecatnya jika sekali lagi, dia membuatku kecewa.
Lantas aku keluar dari dapur. Aku menyendiri lagi di taman. Jujur aku merasa sedih dengan sikap bi Surti yang sekarang. Bi Surti yang sekarang bukan lagi bi Surti yang aku kenal dari dulu. Dia jadi kurang sopan dan aneh. Padahal selama ini, aku dan mas Damar selalu memperlakukan dia dengan hormat. Semoga bi Surti mau berubah lagi jadi seperti biasanya yang sopan dan beretika.
__ADS_1
Singkat waktu, hari yang aku tunggu akhirnya tiba. Mas Damar pulang dari luar negeri. Dia membawa banyak sekali oleh-oleh dari Jepang. Aku tidak langsung membukanya, terlebih dulu aku menyuruh mas Damar untuk mandi air hangat biar badannya jadi fresh.
Aku bergegas menelpon mamaku karena mas Damar beli oleh-oleh ini untuk dia juga.
"Halo mama?"
"Ada apa nak?"
"Kerumah dong. Ada oleh-oleh dari luar negeri nih untuk mama. Nanti mama bisa tunjukkan ke teman-teman mama, hehehe."
"Hehe, bisa aja kamu nak. Pasti Damar udah pulang ya?"
"Iya. Mama buruan kesini ya?"
"Iya nak, nanti sore, mama lagi ngurus butik dulu. Sibuk, hari ini banyak pelanggan."
"Wah, selamat ma. Semoga butik mama makin ramai."
"Iya, semoga saja nak."
Ada kipas sensu, kitkat dengan berbagai rasa, merchandise anime, dan tentu saja baju serta sandal khas Jepang. Yaya hanya minta dibelikan oleh-oleh yang sederhana saja. Yaya tidak ingin Damar gunain banyak uang untuk hal yang kurang penting.
"Makasih ya mas untuk oleh-olehnya?"
"Buat apa makasih, sudah seharusnya mas bawa pulang oleh-oleh kan selagi mas mampu. Itu juga cuma menghabiskan biaya yang sedikit. Santai aja ya sayang?"
"Iya mas."
Sore harinya...
"Oh iya, itu suara mobil mama didepan rumah."
Aku bergegas membukakan pintu untuk mama. Mama datang dengan wajah sumringah. Pasti mama udah tidak sabar melihat oleh-oleh yang udah dibelikan untuknya sama mas Damar.
"Ayo ma masuk kedalam? Oleh-olehnya ada diatas meja tuh." ajakku bersemangat.
__ADS_1
Mas Damar masih asyik duduk santai sembari bermain handphone diatas sofa. Mas Damar rebahan, dan dia tidak bangkit saat melihat mamaku datang. Malahan dia terkesan acuh.
"Mas, ini mama udah dateng." ucapku.
"Itu oleh-olehnya diatas meja ma, mama pasti suka." jawab mas Damar seraya memandangi terus ponselnya dan rebahan.
Pasti mas Damar lagi capek karena habis seminggu bekerja di luar negeri. Aku ajak saja mama untuk membuka oleh-olehnya sekarang. Mama dibelikan pakaian Yukata oleh mas Damar. Pakaian ini cocok dipakai saat musim panas.
"Makasih ya nak Damar, mama suka ini."
Selain itu mama juga dibelikan topi yang lucu juga sandal khas negeri matahari terbit sama sepertiku. Mama suka semua. Mama bahagia akupun senang melihat mama bahagia.
"Makasih ya Damar?" ucap mamaku lagi.
"Hm," jawab mas Damar singkat.
Berhubung mama sedang ada disini, aku ingin mama ikut makan malam dan menginap dirumah ini lagi pada malam ini.
"Mas, boleh ya mama nginep lagi disini?" ucapku memohon dengan nada bicara yang kedengaran manja.
Mas Damar bangkit juga dari rebahannya lalu dia menggeleng tidak setuju.
"Kenapa kamu tidak setuju mas?" tanyaku penasaran dan juga agak sedih.
"Sumpek sayang. Dirumah kita udah ada banyak orang. Dua pembantu dan satu sopir."
"Kamu ini aneh mas? Lagian Elma dan Arif kalau malam kan pulang ke kontrakan mereka. Rumah kita juga besar banget dan banyak kamar." protesku.
Sepertinya mas Damar masih dendam sama mama waktu dulu mama memukulinya karena ketahuan selingkuh dengan Desi.
"Udah nak gausah dipeributkan. Mama gak akan nginep, lagian mama juga punya rumah kan? Kamu yang semangat ya nak. Jaga terus kehamilanmu dengan baik. Jangan meributkan hal yang tidak penting." ucap mama lembut sembari memegang perutku.
"Iya ma, makasih. Aku sayang banget sama mama." sambutku terharu lalu aku memeluknya.
Tapi entah kenapa mas Damar malah terlihat muak dengan sikap kami didepannya. Mas Damar pergi duluan kedalam kamar. Kesal aku rasanya! Dasar suami tukang selingkuh!
__ADS_1
Bersambung...