
Mas Damar masih duduk di depan TV, menyaksikan pertandingan sepakbola di TV. Aku sebelum tidur mau memilah-milah dulu gaun dan aksesoris yang akan aku pakai besok buat pergi ke acara kondangan pernikahan temanku.
Aku sudah menentukan gaun mana yang akan aku pakai, tinggal aksesorisnya. Aku membuka kotak perhiasan aku. Sepertinya ada yang aneh lagi. Lagi-lagi beberapa perhiasan aku ada yang hilang!
"Siapa sih yang mencuri? Kemarin cincinku yang seharga dua puluh juta, sekarang gelang sama cincin lain kesukaan aku juga diambil. Dasar pencuri! Pasti ada yang nggak beres dirumah ini!"
Aku berteriak memanggil Elma dan bi Surti di ruang tengah, menyuruh mereka untuk berkumpul disini. Mas Damar yang mendengar kehebohan aku juga ikut datang menemuiku.
"Ada apa sih sayang teriak-teriak?" tanya mas Damar melangkah menghampiriku.
Aku tidak menghiraukannya, yang aku tunggu adalah bi Surti dan Elma. Elma datang dengan terburu-buru ke ruang tengah dan disusul oleh bi Surti yang juga tampak panik.
"Ada apa nyonya?" tanya mereka kompak.
Mereka berdua tampak panik, tapi Elma terlihat yang paling panik. Apakah dia yang mencuri perhiasan-perhiasan aku?
"Kemarin cincin aku hilang, sekarang yang lain juga ikutan hilang, bukan bermaksud menuduh kalian, tapi aku ingin cek kamar kalian satu persatu. Apa kalian keberatan?" tanyaku dengan tegas.
"Tidak nyonya." jawab bi Surti lebih dulu.
"Tidak apa nyonya. Silahkan geledah kamar saya." diikuti oleh Elma dengan gaya bicara yang agak gugup.
__ADS_1
Aku memilih akan menggeledah kamar Elma lebih dulu. Aku masuk kedalam kamar Elma diikuti oleh tiga orang di belakang aku. Dibantu mas Damar, aku geledah semua barang-barang yang ada di kamar Elma. Tapi kita tidak menemukan apa-apa.
Karena Elma terbukti tidak bersalah, aku pun pergi ke kamar bi Surti. Bi Surti tampak santai dan tenang, sepertinya dia yakin kalau dia tidak takut ketahuan karena mencuri. Semoga saja benar, aku tidak ingin orang-orang yang bekerja dirumahku ternyata adalah orang jahat.
Aku dan mas Damar menggeledah kamar bi Surti. Aku buka bantalnya, selimutnya dan mas Damar mengecek isi lemari kecil yang ada didalam kamar bibi. Tapi kita juga tidak menemukan apa-apa.
"Nyonya mohon maaf, nyonya belum cek semua yang ada disini. Tadi di kamar saya nyonya balik kasurnya." kata Elma.
"Oh iya lupa, bentar." sahutku.
Bi Surti masih tampak santai dan satu aku balik kasurnya, ternyata, aku menemukan apa yang aku cari ada didalam sini. Kurang ajar! Kenapa bi Surti berani sekali mengambil perhiasan-perhiasan aku!
"Apa ini bi Surti!" tanyaku dengan nada marah sembari mengangkat cincin dan gelangku, menunjukannya ke depan wajah bi Surti.
"Itu apa nyonya, bibi nggak tahu kenapa bisa ada disitu?" jawab bi Surti malah balik bertanya.
"Jangan pura-pura nggak tahu bi Surti, udah jelas buktinya ada nih, perhiasan aku yang hilang ada di dalam kamar bi Surti. Aku kecewa sama bibi!" lanjutku berbicara.
Raut wajahku berubah menjadi raut wajah kekecewaan yang sangat dalam. Tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Ternyata kebaikan bi Surti selama ini cuma manipulatif saja. Aku gak nyangka, bi Surti adalah seorang penjahat yang manipulatif, pikirku.
"Udah sayang. Mas akan segera menghubungi kantor polisi." sahut suamiku.
__ADS_1
Bi Surti langsung menangis histeris tatkala mas Damar mau melaporkannya kepada polisi. Dia bersimpuh di kaki mas Damar, memohon agar tidak dijebloskan kedalam penjara.
"Tolong jangan lakukan itu tuan, saya tidak akan pernah rela kalau saya dipenjara, atas suatu kejahatan yang tidak pernah saya lakukan." isak bi Surti membela dirinya.
"Sudah jelas perhiasan istri saya ada dibalik kasur kamu bi Surti! Kamu harus diberikan hukuman biar kamu kapok! Saya akan tetap membawa masalah ini ke jalur hukum." jawab mas Damar lantang.
"Kalau saya di penjara, dua cucu saya di kampung siapa yang akan ngurusin mereka tuan? Kasihanilah kita? Mereka masih kecil tuan? Mereka harus fokus sekolah. Saya benar-benar tidak melakukan perbuatan keji itu kepada nyonya Yaya?" lanjut bi Surti seraya terisak histeris.
Aku antara iba dan kecewa melihatnya. Bagi aku perhiasan ini tidak lebih berharga daripada kepercayaanku kepada bi Surti. Aku sangat kecewa bi. Kenapa kamu mengkhianati kepercayaanku selama ini.
Aku pergi keluar saja dari dalam kamar, daripada terus melihat keributan yang sedang terjadi di dalam. Pembantu yang selama ini kukira baik itu mengejarku, merangkul tanganku. Bi Surti mengiba kepadaku agar aku mau membantunya.
"Nyonya, jujur saya tidak ikhlas meminta maaf karena saya benar-benar tidak bersalah. Nyonya saya selama ini menghormatimu, menjagamu, gaji yang kalian berikan sudah lebih dari cukup. Buat apa saya mencuri? Tapi kalau saya harus mendapatkan maaf agar terbebas dari jerat hukum, tolong maafkan saya nyonya Yaya?" mohon bi Surti seraya memegang erat tanganku.
Bahkan dia sampai bersimpuh terduduk diatas lantai. Sontak, air bening mengalir dari kedua bola mataku. Aku ingin memaafkan dia tapi Elma menghentikan niatku dengan perkataannya.
"Mohon maaf nyonya Yaya. Kalau menurut saya, penjahat seperti bi Surti jika dimaafkan langsung belum tentu dia akan berubah. Justru dia bisa semakin brutal lagi dalam melakukan aksi kejahatan selanjutnya, karena merasa, orang yang dia jahati itu adalah orang yang gampang dimaafkan. Saya setuju dengan tuan Damar. Beri efek jera untuk dia dengan melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Tak peduli bi Surti punya keluarga di kampung." kata Elma memberi saran.
"Gimana Yaya? Kamu mau maafin bi Surti atau menjebloskan dia ke dalam jeruji besi?" tanya mas Damar.
Aku benar-benar bimbang diantara dua pilihan yang sulit. Aku memikirkan nasib dua cucu bi Surti, tapi disisi lain aku juga memikirkan perkataan Elma. Lalu aku memutuskan untuk...
__ADS_1
Bersambung...