
"Dalam doa, tersimpan makna. Dalam doa, tersimpan suatu harapan. Dalam doa, terkadang ada rasa ketakutan. Itu yang sedang aku alami sekarang." ucapku dengan gaya lemas, bersandar di dinding bangunan yang kecil ini.
Selalu memejamkan mata. Aku takut membuka mata, takut tiba-tiba ada banyak penampakan di depanku. Kuburan adalah tempat yang lekat dengan hal itu.
"Mama, tolong aku, datanglah kesini ma." aku mengigau. Tak sadar ternyata aku ketiduran. Lalu aku langsung tersentak dan membuka mata, kembali lagi aku menetra nisan-nisan yang berjejeran di depanku. Lama kelamaan hawa semakin dingin. Aku menggigil, semakin menggigil. Dalam rasa dingin yang mendera ini, aku bingung harus berbuat apa.
Lama kelamaan, hujan mulai mereda. Dari yang tadi intensitasnya lebat, berubah menjadi lebih ringan. Aku langsung bergegas berjalan keluar dari area pemakaman. Menyusuri tepian jalan yang suram dan kelam. Aku menoleh kebelakang, harapanku adalah satu, ada kendaraan yang lewat.
Aku tidak tahu sedang berada dimana, aku belum pernah datang ke tempat ini. Sepertinya jarak dari rumah agak jauh. Sudah cukup lama aku melangkah, aku memutuskan untuk pasrah. Dalam rasa lelah yang semakin membuatku gelisah. Tapi secercah kebahagiaan itu kembali menyapaku. Ada kendaraan lewat. Dia adalah truk yang sepertinya mengangkut bahan pangan.
Lampu pandang truck yang sangat terang itu menerpaku. Aku melambaikan tangan dan syukurlah, sopir yang mengemudikan truk itu mau menghentikan truknya sejenak. Dia turun memakai jaket anti hujan, lalu dia menghampiriku. Seorang laki-laki tua berkumis. Wajahnya terlihat adem dan baik.
"Neng, ngapain sendirian disini?" tanya laki-laki tua itu bingung. Terlihat dari raut wajahnya.
"Saya tersesat kek. Bisa bantu saya, antarin saya ke jalan besar?"
"Bisa neng, mari masuk kedalam truk saya." ajak kakek tua yang baik hati. Wajahnya sayu dan aku yakin dia adalah orang baik. Aku dibantu untuk naik dan masuk kedalam truk. Lalu aku duduk disamping si kakek.
Sepanjang perjalanan menuju jalan besar, aku penasaran sebenarnya aku lagi ada dimana. Tempat ini masih asing bagiku.
"Kek, kita ada dimana sih sekarang?" tanyaku membuka percakapan.
"Kita ada di desa Waru neng dekat hutan belantara. Disini adalah pemakaman terpencil yang terkenal angker. Neng kenapa bisa sampai sini?"
"Saya diculik kek sama orang jahat. Terus saya dibuang kedalam rumah tua yang ada di daerah sana." jawabku seraya menunjuk arah belakang.
__ADS_1
"Tega sekali orang yang sudah berbuat jahat kepada neng. Kalau boleh tahu, nama neng teh siapa?"
"Nama saya Yaya. Nama kakek?"
"Nama saya kakek Joni. Gimana kalau saya mengantarkan neng, sampai ke rumah neng saja? Neng gak boleh pulang sendiri, nanti bisa-bisa diculik lagi sama orang yang jahat?"
Beruntung banget aku malam ini. Dipertemukan dengan orang sebaik kakek ini.
"Makasih kek kalau ga merepotkan saya mau banget."
"Gak merepotkan kok neng, sama-sama."
Akhirnya aku bisa bernafas lega. Beberapa jam kemudian truk yang aku tumpangi mulai memasuki area jalanan komplek perumahan aku. Aku dan kakek sampai didepan rumah. Alangkah senangnya aku bisa menjejakkan kaki di tempat ini lagi.
Kakek itu buru-buru pamit, padahal aku ingin mengambil uang dulu kedalam, sebagai pemberian atas rasa terimakasihku kepadanya. Tapi kakek itu menolak dan dengan keikhlasannya dia menolongku.
"Semoga saja. Iya neng sama-sama."
Lalu kakek Joni pergi mengendarai truknya. Aku melambaikan tangan kearahnya. Setelah itu, aku mulai masuk kedalam rumah. Seperti biasa pintu depan selalu terkunci. Kenapa sepertinya tidak ada orang yang pergi mencariku? Padahal aku udah hilang cukup lama.
Mungkin mereka berpikir aku sedang pergi ke rumah teman kali ya. Kemudian lagi, aku menggedor pintu dengan kencang. Laksana orang yang sedang menagih hutang, marah karena orang yang meminjam tak kunjung membayarnya.Seperti itulah suara gedoran pintu yang aku ciptakan lewat tangan. Sangat kencang biar pada dengar.
Aku menggedor pintu dengan kencang biar orang yang kemungkinan sudah tidur segera mendengarkan. Tapi sepertinya, mereka semua sudah lelap dalam tidurnya. Aku tidak tahan lagi dengan hawa dingin di pakaianku ini. Badanku gemetaran.
Aku duduk di depan pintu, masih lemas sekali rasanya. Aku menatap sekeliling, sepi seperti tempat tadi.
__ADS_1
"Tolong bukain pintu!" teriaku sangat kencang.
Tapi tetap saja, tidak ada orang yang keluar untuk bukain pintu. Karena hal itu, aku mencoba masuk lewat jendela. Semua jendela juga sama saja terkunci. Aku benar-benar didera penderitaan pada malam ini. Aku sangat benci pada orang itu. Orang yang sudah menculikku.
"Orang itu benar-benar keterlaluan! Siapa orang yang benci sama aku, setahu aku cuma si Miho. Selain itu, aku merasa gak punya musuh selama ini. Tega banget sih!" ucapku dalam hati, sembari melangkah lesu mengelilingi rumah.
Diam-diam, sepasang suami istri yang jahat itu tengah mengamati Yaya dari balik tirai ruang paviliun. Mereka berdua menetra istri yang malang itu dengan tatapan sinis, marah, kesal, karena ternyata Yaya bisa selamat, sama seperti mama Sera.
"Gagal lagi mas rencana kita. Kita pasti cuma bakal dimarahin aja sama bos Miho." tukas Elma sembari memukul pelan jendela.
"Sekarang, kamu keluar gih. Kita gak mungkin diam disini terus, nanti bu Yaya curiga."
Kemudian Elma menarik nafas, marah ia rasakan dan kemudian keluar dari dalam paviliun. Elma berlari kearah Yaya. Dari arah belakang Yaya, Elma menghampiri Yaya yang tengah kedinginan.
"Bu Yaya?"
Yaya menoleh, tapi matanya berkunang-kunang, hingga akhirnya Yaya pingsan menubruk Elma, sampai mereka berdua sama-sama terjatuh. Si Elma tertimpa tubuh Yaya, rasanya cukup berat.
"Sial! Malam-malam ketiban orang. Mas Arif! Mas Arif! Bantuin aku mas, sini!" teriak Elma.
Lalu Arif berlari kearah mereka, mereka sama-sama berjibaku membawa Yaya kedalam rumah. Damar sendiri belum pulang ke rumah. Damar ternyata sedang menemani Miho di dalam apartemennya. Tak lama lagi mereka akan menikah siri secara diam-diam.
Beberapa hari lagi mereka akan melakukan fitting gaun pengantin dan juga baju pengantin untuk Damar. Mereka sekarang tengah terlelap bersama, dalam heningnya malam. Tapi malam ini Miho terbangun dari tidurnya, lalu menatap laki-laki yang sedang ia peluk dengan hangatnya. Miho menyandarkan kepalanya diatas dada Damar.
"Kamu tampan sekali mas. Kamu juga orang yang sukses. Sampai kapanpun aku ga akan melepaskan kamu. Kamu mampu memberikan aku kepuasan yang aku inginkan. Karir kamu bagus di kantor, tidak mungkin, tidak akan kubiarkan kamu bersama dengan Yaya selamanya. Aku tidak suka berbagi dengan wanita lain. Kamu hanyalah milikku seutuhnya mas." ujar Miho seraya berbisik pelan.
__ADS_1
Lantas Miho membuka selimutnya, mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Miho berdiri di dekat jendela, lalu menatap luar apartemen dengan tatapan kejam.
"Aku harus bisa singkirin Yaya dari dunia ini, gimanapun caranya. Arif dan Elma berhasil gak ya?" batin Miho ambisius.