
Seandainya kamu mengajukan cerai dan bercerai, aku ingin memelukmu, menjadi suami dan juga orang yang meredakan resah dukamu.
***
"Mas, aku dipenjara untuk sementara waktu."
"Kenapa bisa?"
"Bantuin aku mas. Bayar pengacara terbaik! Ini masalahku dengan Desi. Soal yang waktu itu kita mengkambinghitamkan Desi, sekarang lanjut ke ranah hukum. Kamu akan aku seret kalau ga melakukan cara buat bantu aku!"
"Ah nambah-nambah masalah aja! Iya-iya, mas akan cari pengacara terbaik. Kamu yang sabar ya,"
Ketika Damar mau menutup panggilannya dengan Miho, Miho menyuruh untuk mendengarkan permintaannya lagi sejenak.
"Tunggu mas! Suruh orang buat bawain aku makanan enak kesini, yang banyak! Aku gak bisa hidup tanpa makanan lezat."
"Ya."
Damar kemudian menutup panggilannya dengan Miho kemudian melakukan permintaan-permintaan yang diminta oleh selingkuhannya itu.
***
Sementara itu di dalam rumah, Yaya masih mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan siang ini Yaya belum mandi.
Aku sedang merasa sangat malas untuk bergerak, malas untuk melakukan aktifitas apapun diluar sana. Bukan karena jiwaku yang suka malas-malasan,tapi karena hujan air mata yang sedang aku alami ini. Yang aku mau hanyalah rebahan dan menuliskan kisah sedihku, merangkainya dengan terenyuh diatas lembaran berwarna putih ini.
Alangkah lebih baik kalau aku menulis di tengah indahnya alam segar. Itu akan memberikan sentuhan hiburan yang mungkin akan mewarnai hati nelangsaku ini. Kenapa badai tidak kunjung berhenti. Disaat aku bilang itu, setitik air mata menetes di wajahku.
Lalu, seorang wanita masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dia adalah wanita terbaik dalam hidupku. Mama datang membawakan aku menu makan siang, aromanya sedap tapi aku tidak tergoda untuk menyantap.
"Makan siang dulu nak, kamu berhak sedih, berhak mengurung diri seperti ini. Tapi jangan pernah lupa asupan gizi itu juga penting. Ingat calon bayi yang ada di dalam perut kamu."
Ya ampun, benar kata mama. Aku boleh mengabaikan kesehatanku sendiri, tapi jangan sampai yang lain terlibat dan terbawa didalam kesedihan yang sedang aku alami ini, jangan sampai jadi korban apalagi ini adalah calon bayiku, darah dagingku sendiri!
Dengan cepat aku langsung merebut piring besar yang mama pegang. Aku ambil semuanya dengan tangan, makan semuanya dengan cepat sampai tak bersisa sedikitpun.
Rasanya nasi goreng ini enak, entah siapa yang membuatnya tapi aku yakin pasti bukan Elma. Aku yakin pasti ini mama yang bikin.
"Dari rasa masakan yang aku makan barusan, aku yakin pasti mama yang membuatnya. Enak banget mam, ada kencurnya."
__ADS_1
"Bukan."
Mama menggeleng, bukan dia yang buat terus siapa?
"Oh pasti mama order di aplikasi pesan antar makanan?"
Mama menggeleng lagi, terus siapa? Mana mungkin masakan ini bikinan mas Damar!
"Martin yang buat nak."
Aku langsung tersedak saat aku sedang minum air putih. Aku batuk-batuk sebentar lalu setelah rasa gatal ditenggorokanku hilang, aku langsung memegang kedua tangan mama.
Bola mataku melotot, wajahku menatap kejut arah mama. kenapa bisa Martin? Orang yang paling rese sedunia itu! Ternyata dia makanan yang aku santap siang ini.
"Memang dia yang masak nak. Tadi dia datang kesini, nitip makanan itu buat kamu makan. Syukurlah, kamu makan sampai habis, Martin pasti senang kalau dia tahu. Mama akan kabarin dia sekarang." ucap mama happy sembari membentuk jari O disamping wajahnya.
Ih, mama juga nyebelin banget deh. Tahu ini bikinan Martin, jelas aku gak mau makan. Mending makan bikinan Elma aja, meski gaenak rasanya, tapi gabakalan bikin aku jadi semenyesal ini.
"Udah dong nak jangan bete gitu, nak Martin bikinin ini pasti dengan sepenuh hatinya, segenap raganya, memasak itu bukan hal yang mudah loh nak. Harus pakai perasaan."
"Maksud mama apa sih? Mama mau bilang kalau aku ga pintar masak? Terus masakan Martin jauh lebih enak?"
"Nggak gitu, bagi mama, masakan mama tetap yang paling enak."
"Tapi dengan ini kamu bisa belajar untuk menghargai orang yang kamu anggap paling menyebalkan sekalipun. Martin adalah sahabatmu nak, hargai dia."
Aku langsung bangkit dari kasur, lalu mencubit gemas wajah ibuku.
"Mama ini mood banget sih. Aku mau mandi dulu ya sekarang. Ma, dari kemarin aku belum mandi."
"Pantesan bau kecut dari tadi."
"Ih mama ih."
Terimakasih mama, kau yang selalu ada untukku. Kamu adalah harta terindah, harta yang paling berharga, yang pernah aku miliki. Aku gak bisa bayangin kalau gak ada mama. Semoga mama akan panjang umur dan selalu ada di hari-hariku.
***
Di sebuah ruangan.
__ADS_1
Damar tidak tinggal diam melihat perempuan yang ia cinta sedang mendekam didalam kantor polisi.
Damar menjenguk Miho, membawa banyak makanan lezat untuk asupan Miho selama ditahan nanti. Mereka berdua bertemu di ruang jenguk tahanan.
Miho langsung memeluk Damar tatkala melihat Damar yang sedang khawatir menunggunya.
"Mas! Tolong aku mas, kamu pasti bisa kan bebasin aku dari sini?" manja Miho dalam dekapan Damar.
"Mas akan mengusahakannya sayang. Kamu pasti akan segera bebas. Oh iya, pak polisi apakah boleh saya bertemu dengan tahanan lain yang bernama Desi juga?"
"Boleh, hanya sepuluh menit saja ya. Saya akan segera membawa dia kesini."
Beberapa menit kemudian, polisi datang dengan membawa Desi. Damar melihat dengan seksama kearah wajah Desi yang tampak marah.
"Desi?"
"Apa!" jawab Desi sewot lalu duduk duluan diatas bangku.
Kemudian, Damar juga duduk disusul Miho yang ikut duduk di samping Desi, namun Miho jarak duduknya agak menjauh dari Desi.
"Desi, aku harap kamu jangan memperpanjang masalah ini. Kamu, mau minta uang berapa agar berhenti menuntut Miho karena dia pernah mencemarkan nama baik kamu?"
"Gue butuh seratus juta, sanggup gak lo! Sebagai ganti atas pencemaran nama baik yang waktu itu kalian lakukan demi menutupi borok perselingkuhan kalian!"
Miho mendelik sinis. Seratus juta itu bukan uang yang sedikit!
"Nggak mas! Jangan mau menuruti permintaan perempuan gila ini! Uang seratus juta itu dua puluh persen dari total gaji kamu loh selama sebulan! Aku nggak mau!" sahut Miho kesal.
Desi menampar Miho. Setidaknya rasa puas ia dapatkan setelah menampar perempuan pelakor ini.
"Kenapa kamu nampar aku? Dasar perempuan bar bar!"
"Biarin aja lo emang pantes dapetin itu! Gara-gara fitnah lo waktu itu, gue juga kena tampar ibu-ibu galak! Belum lagi waktu gue belanja ke pasar, diserang juga sama ibu-ibu anti pelakor."
"Yaitu derita kamu."
"Lagian, gaji pak Damar kenapa lo yang ribet? Ups, lupa gue, lo kan simpenan pak Damar. Jadi lo gabakal rela ngeliat pak Damar kasih uang banyak ke gue kan!"
"Diem kamu!"
__ADS_1
Damar menggebrak meja, melerai mereka dengan suara keras itu.
Bersambung...