
"Kenapa lu bengong telur asin? Kita udah harus pergi loh. Udah yuk jangan kelamaan disini?" ajak Martin kepadaku.
Martin langsung menyadarkan lamunanku. Aku bergegas mengembalikan barang-barang yang aku acak ke tempatnya lagi. Aku juga merapikan lagi pakaian-pakaian Miho. Sebenarnya aku ingin membawa pulang cincin itu, tapi belum tentu cincin itu adalah cincin punyaku yang hilang.
Aku menutup lagi lemarinya lalu aku dan Martin bergegas keluar dari dalam unit apartemen Miho. Satpam keamanan masih setia menjaga kita dari luar.
"Makasih banyak pak? Sungguh, kita gak ambil apa-apa dari dalam kamar ini. Kalau gitu, kita berdua pamit dulu ya pak?"
"Iya mbak, mas, sama-sama."
***
Sore harinya, aku kembali duduk menyendiri di kursi taman. Lalu tiba-tiba ada seorang dokter yang menelpon aku dari rumah sakit, mengabarkan kepadaku kalau mamaku masuk rumah sakit. Aku terkejut mendengar kabar ini. Aku harus segera menengok mama disana.
Aku buru-buru mengambil kunci mobil didalam rumah, kemudian, aku pun sampai di rumah sakit. Aku berjalan menyusuri koridor panjang mencari kamar tempat mama dirawat. Setelah aku sampai ke kamar yang aku tujuan, aku segera masuk kedalam. Aku melihat kondisi mamaku yang tengah terbaring pucat.
"Mama? Mama maafin aku kalau mama jatuh sakit gara-gara aku diemin terus dari kemarin?" ucapku sedih dan sangat merasa bersalah didalam hatiku.
"Ma?" panggilku.
Mama menolehkan wajahnya ke aku. Dia memang tidak sedang tidur.
"Kamu datang Yaya?"
Aku lekas duduk di kursi samping ranjang. Aku memegang tangan mama, dimana mama masih memakai cincinku yang dia ambil. Aku memegang cincinku.
"Iya aku datang. Maaf ya ma kalau akhir-akhir ini sikap aku agak dingin kepadamu. Tapi ini semua bukan semata-mata karena kesalahan aku. Kesalahan mama juga yang udah mencuci cincin ini?"
Wajah mama tampak kaget ketika aku menyebutnya telah mencuri.
"Kamu ini ngomong apa nak? Jadi itu alasan kamu mendiamkan mama sampai mama mikirin terus hingga mama sakit seperti ini? Ini cincin mama nak. Mama beli ini dan mama gak pernah ambil punya kamu. Kwitansi pembeliannya aja ada dirumah mama nak. Mama sengaja membeli cincin ini mungkin bentuknya emang mirip dengan cincin milikmu."
__ADS_1
Bak tersambar petir di siang bolong, jadi aku telah salah menuduh orang? Dan orang yang aku tuduh adalah orang yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkan aku? Sedurhaka ini aku sekarang? Aku langsung menciumi tangan mama, memohon ampun atas tuduhan salah yang sudah aku buat. Aku benar-benar bodoh dan tidak bisa berpikir jernih selama ini.
"Maafin aku ma? Aku benar-benar menyesal udah buat mama sampai jatuh sakit seperti ini? Tampar aku, tampar aku ma?" isakku, merasa sangat bersalah.
"Sudah-sudah nak. Yang penting, kamu udah tahu kebenarannya. Meski mama ini orang yang bar bar, suka mukulin orang kalau lagi marah, tapi mama ga pernah mempergunakan tangan mama ini untuk mencuri. Mama nggak mau mencuri. Apalagi mencuri punya anak mama sendiri, mama nggak tega nak,"
"Iya ma, aku udah bodoh banget menuduh mama sampai mendiamkan mama akhir-akhir ini. Sampai mama sakit seperti ini?"
"Udah jangan dibahas lagi nak. Hapus air mata kamu. Yang penting sekarang kita telah kembali hangat seperti biasa." ucap mamaku, meski dia terlihat galak dan kasar, tapi dia adalah orang yang sangat pemaaf dan sanhat menyanyangi anaknya.
Aku sangat menyanyangi mamaku. Dan mulai sekarang aku janji, aku nggak akan sembarangan menuduh orang lain lagi sebelum ada bukti yang kuat. Termasuk cincin mirip punyaku yang juga ada didalam lemari pakaian Miho.
Kalau nanti mas Damar pulang dari Jepang, aku akan langsung mempertanyakan soal cincin aku yang hilang. Soalnya aku ingat betul, terakhir aku memakai cincin itu sebulan lalu dan dua minggu lalu cincin itu masih ada didalam kotak perhiasan.
***
Senja itu indah. Pemandangan yang memanjakan mata di daerah Tokyo. Sungguh pemandangan senja sangat memanjakan netra orang yang melihatnya. Begitu juga dengan pemandangan indah saat matahari terbit.
"Udah lama aku ga balik ke tempat kelahiran aku mas. Makasih ya udah bawa aku kesini lagi? Aku terakhir dateng ke Jepang dan datang ke kolam ini tiga tahun yang lalu mas,"
"Sama-sama sayang. Enak banget tinggal disini. Udaranya seger, minim polusi udara. Nggak kaya di Jakarta. Polusi udara dimana-mana. Rasanya ingin menambah waktu liburan kita tapi itu gak mungkin,"
"Ya makannya, kalau kita udah menikah nanti, kita tinggal disini aja ya mas?"
"Boleh sayang. Nanti kita tinggal disini. Mas kerja disini, berdua bersama kamu, selamanya,"
"Pasti indah dan romantis banget mas. Dan istri sah kamu yang sok cantik itu, dia akan menjadi janda,"
"Iya. Mas berjanji akan menceraikan dia kalau anakku sudah lahir nanti. Demi orang yang secantik kamu sayang."
Miho merasa menang dan puas. Anugerah kecantikan diatas rata-rata yang ia miliki, membuatnya menjadi pujaan ribuan lelaki tampan. Mudah baginya menaklukan laki-laki. Sebenarnya ada laki-laki yang lebih kaya daripada Damar, tapi pilihan Miho jatuh kepada Damar. Karena Damar udah tampan dan tajir pula.
__ADS_1
Yang lain Miho jadikan sebagai cadangan saja suatu saat kalau dirinya berpisah dengan Damar. Sekarang, Miho hanya ingin menguras harta Damar saja dan meminta kemewahan yang baru, baru, dan baru lagi. Kemewahan apalagi itu?
"Mas, aku mau kemewahan yang baru lagi?"
Damar menyeruput lemon tea lagi lalu menjawab keinginan Miho.
"Kemewahan apa lagi sayang?"
"Rumah baru dengan harga diatas dua milyar? Kamu pasti mampu kan beliin aku rumah dengan harga segitu?"
Permintaan Miho semakin berat saja menurut Damar. Permintaan Miho kali ini benar-benar membuatnya pusing. Saldonya di bank bisa habis kalau menuruti keinginan berlebihan Miho yang satu ini.
"Aku bosen mas tinggal di apartemen mulu. Sempit dan membosankan. Aku ingin tinggal didalam rumah yang mewah dan luas. kamu pasti mau kan sayangku beliin aku rumah mewah?"
"Bukannya apartemen kamu itu luas ya sayang? Harga sewanya aja lumayan mahal?"
Miho menggeliat manja, bibirnya dimanyunin.
"Bosen mas. Bagi aku itu sempit. Kalau rumah mewah kan jauh lebih luas. Aku ingin punya rumah yang besar, ada kolam renangnya juga. Ada air mancurnya, please mas? Beliin ya? " manja Miho memohon.
Damar memicit dahinya. Tidak mungkin ia menuruti permintaan Miho yang kelewatan itu. Yaya dan mama mertuanya bisa curiga kalau uang tabungannya lenyap begitu saja. Belum lagi janji Damar yang akan membawa Yaya berlibur ke Eropa bulan depan. Itu juga akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
"Maaf, kali ini mas tidak bisa menuruti keinginan kamu sayang?"
Miho langsung bangkit dan marah-marah!
"Kenapa sih kamu sekarang jadi pelit sama aku? Pasti kamu pelit karena kamu ingin manjain Yaya juga kan! Kamu mau beliin rumah baru untuk dia, bukan aku mas?"
Damar menyusul Miho bangkit dari kursi.
"Sampai kapanpun, saya tidak akan membiarkan hubungan kita ini terbongkar publik. Bisa hancur reputasi saya sebagai direktur. Saya bisa kehilangan pekerjaan saya. Bersabarlah Miho sampai waktunya kita akan bersatu telah tiba. Tunggu anak keduaku lahir. Aku nggak mau bayi aku terbunuh juga!"
__ADS_1
Bersambung...