
Aku terus melangkah dengan perlahan kearah pohon yang dimaksudkan oleh orang itu. Tapi sepertinya, Anjar mulai mencemaskan aku.
"Hati-hati Yaya." bisiknya dari jauh, aku sempat menoleh kearah Anjar sebentar.
Sedangkan tanganku masih memegang kotak berisi jam tangan ini. Aku terus melangkah hingga akhirnya aku sampai di samping pohon besar ini. Ternyata, saat aku cek, dibalik pohon besar ini ada Martin yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang.
"Loh, sambel terasi ada disini? Kok lu yang ada disini? Kenapa bisa? Lu ya, orang misterius itu?"
"Orang misterius apaan sih telor asin? Gue disuruh datang kesini sama Miho."
Tanpa mereka sadari, sosok suami kejam itu sedang melangkah menghampiri mereka.
Tatapannya terlihat bengis, wajahnya terlihat penuh dengan kemurkaan. Kedua tangannya dikepal, nafasnya membara. Terus melangkah ke dekat mereka.
"Sebenarnya apa sih maksud dari ini semua?"
"Gua juga gak tahu. Itu kotak apaan Yaya yang lu pegang?"
"Ini tadi..."
"YAYA!" teriak suara seperti mas Damar dari belakang aku. Dengan perlahan aku membalikkan badan, melihat sosok laki-laki itu sedang menatapku dengan penuh amarah. Sampai aku rada gemetar dibuatnya.
"Mas Damar?"
"Ternyata benar dugaan aku kalau kamu diam-diam berselingkuh di belakang aku? Apa ini yang dinamakan dengan perempuan yang menjunjung tinggi kesetiaan? Rasanya aku ingin membuat wajahmu yang penuh bertopeng kemunafikan itu menjadi babak belur!"
"Aku gak selingkuh mas! Sekali lagi aku bilang, aku gak pernah selingkuh sama siapapun! Bisa aku jelasin ini semua. Bukan kebohongan-kebohongan jahat seperti yang kamu lakuin kepadaku selama ini! "
"Betul Damar, kita berdua gak ada lakuin hal itu. Gua kesini karena disuruh sama..."
Mas Damar langsung memotong penjelasan Martin. Hingga Martin belum sempat memberikan penjelasan itu sampai selesai.
"Diam lo! Gua ga ada ngajak lu ngomong perebut bini orang! Tapi sebentar lagi, kita akan selesaikan masalah ini secara jantan!"
"Lah, lu mau ngajak gua berkelahi?"
Mas Damar mengangguk dengan gerakan wajah yang menantang. Apakah perkelahian tak bisa untuk dihindari lagi? Aku akan berusaha mencegah mereka saling melukai fisik mereka satu sama lain.
"Sudah cukup! Jangan ada perkelahian diantara kita! Martin, kamu pulang sekarang!"
"Kamu mau melindungi selingkuhan kamu?" sahut mas Damar membuatku bertambah geram.
__ADS_1
"Pulang sekarang Martin!" bentakku kepada teman terbaikku ini.
"Gua gak mau pulang, gua akan tetap disini. Karena gua gak mau lihat lu diapa-apain sama si bajingan sinting itu!"
Aku kembali menoleh wajah kearah mas Damar, dia semakin marah, kedua bola matanya terus melotot tajam seolah mau keluar dari tempatnya.
"Nggak Martin. Gue ga akan kenapa-kenapa. Please, dengerin gue. Gue ingin lo balik sekarang juga, biar urusan ini akan gue selesaikan berdua sama mas Damar."
Martin masih saja bandel, dia tetap berdiri di tempat gak mau pergi. Karena itu gue sengaja mendorong Martin pergi. Sampai dia hampir tersungkur.
"Pergi sekarang!" usirku sembari menangis.
Akhirnya Martin pun mau pergi. Dia pergi dengan langkah yang lemas, suatu langkah, suatu gerakan, suatu isyarat yang tak rela membiarkanku sendirian menghadapi laki-laki bajingan itu.
Anjar juga masih ada disini, dia berlari menghampiri aku. Dia mengajak aku pergi meninggalkan mas Damar.
"Yaya, ayo kita pergi sekarang? Kita ke rumahku saja ya?" ajak Anjar sembari meraih tangan kananku.
Aku menggeleng sembari mengusap air mataku.
"Gak Anjar, kamu pergi juga ya, please?"
"Iya Anjar."
Ketika aku mengiyakan ajakan Anjar tapi mas Damar langsung mencegah aku pergi.
"Jangan berani kamu pergi!" ancam mas Damar seraya menunjuk aku.
"Anjar, aku mohon."
Anjar pun terpaksa pergi meninggalkan aku disini berdua sama mas Damar, meski aku tahu dia tidak mau membiarkanku disini, terlihat dari mimik wajahnya yang cemas. Setelah Anjar sudah tidak terlihat lagi, mas Damar melangkah ke depanku. Dia melangkah kedepan, kakiku melangkah dengan perlahan ke belakang. Hingga aku terpojok di pohon besar belakang aku.
"Mau apa kamu mas?" tanyaku gemetar.
Apakah dia akan menampar aku?
Atau memukul aku?
Atau malah, yang terburuk dia mau membunuh aku, di tempat sepi ini?
Akhirnya bibirku berdarah karena ulahnya, akibat dipukul dan berbenturan dengan gigi aku, sampai bibir aku tergigit oleh gigiku sendiri. Inilah yang aku rasakan hari ini. Penderitaan yang tidak hanya menyesakkan dada, tapi juga menyakitkan raga.
__ADS_1
Aku menangis sesenggukan, darah dari bibir mengalir sampai pakaian aku.
"Kamu sungguh tega sama aku mas. Aku ini sedang hamil, hamil anak kedua kamu. Sampai hati kamu melakukan itu. Seandainya istri-istri diluar sana melihat kejadian ini, kejadian dimana seorang laki-laki tega menyiksa seorang wanita!"
Wanita bukan mahkluk yang rendah dan juga boleh untuk diperlakukan dengan seenak hati. Tanpa wanita, laki-laki tidak akan berketurunan, membangun peradaban sampai alam semesta ini akan hancur pada masanya.
Aku hanya bisa pasrah menerima perlakuan ini. Apakah dia akan berhenti menyiksaku? Tidak!
Lalu mas Damar menjambak rambut aku, menampar wajahku berkali-kali. Sampai di perbuatan yang menurut aku sudah sangat kelewat batas. Mas Damar mendorong aku hingga kepalaku membentur pohon besar.
"Aw." rintihku seraya memegang kepalaku yang berdarah.
"Kenapa kamu tega menyiksaku mas? Aku sedang hamil anak kamu!" isakku pilu.
"Aku gak yakin itu pure anak aku. Bisa jadi anak kedua yang kamu kandung itu, ada campurannya dengan laki-laki selingkuhan kamu itu! Bagiku, anak kandung aku cuma Viona."
Jawaban mas Damar yang membuat aku terpukul mendengarnya. Secara langsung dia bilang aku pernah berhubungan intim dengan laki-laki lain, perbuatan yang sangat keji. Padahal aku ga pernah melakukan perbuatan itu.
"Fitnah, fitnah terus yang kamu lakuin! Kepala aku sakit mas, aku gak ingin kamu terus menerus menyiksa aku! Bawa aku, bawa aku ke rumah sakit sekarang?" isakku lagi sembari berusaha meraih tangan mas Damar. Aku merangkak pilu dibawah mas Damar yang sedang berdiri tanpa merasa iba atau bersalah.
Tapi apa, mas Damar malah pergi meninggalkan aku disini sendirian. Dalam penderitaan yang teramat sangat menyiksa. Mas Damar malah menendang hidung aku menggunakan kakinya dan mataku semakin berkunang-kunang. Aku pun pingsan.
Hingga tiba sepasang kekasih yang mau foto-foto di taman ini, mereka panik saat melihat Yaya yang sedang pingsan dengan keadaan memprihatinkan dibawah pohon besar.
"Itu orang kenapa mas?"
"Apa jangan-jangan dia korban penganiayaan?"
"Ayo segera tolong dia."
Yaya pun dibawa ke rumah sakit. Syukurlah, saat hasil pemeriksaaan, kandungan Yaya tidak kenapa-kenapa. Anjar datang menjenguk Yaya di rumah sakit. Saat Yaya sadar Anjar ingin sekali membawa Yaya pulang ke rumahnya.
"Kamu babak belur itu ulah suamimu kan? Dia telah melakukan KDRT. Ayo kita bawa masalah ini ke ranah hukum? Kamu juga sebaiknya menggugat cerai laki-laki gila seperti dia."
"Gimana nasib anak aku Anjar kalau aku berpisah dengan bapak mereka?"
"Diluaran sana tidak mustahil untuk seorang janda bersikap mandiri dan bisa membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Jangan mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat lagi."
Kata-kata Anjar betul-betul membulatkan tekadku untuk berpisah dengan mas Damar.
Bersambung...
__ADS_1