Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Damar Dibawa Polisi


__ADS_3

Damar dan Miho sedang menikmati kebahagiaan mereka berdua di kamar apartemen Miho.


"Gak sabar mas, beberapa hari lagi kita akan jadi pasangan suami istri. Ya meski baru sebatas nikah siri sih. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kita akan segera menikah yang sah secara hukum negara juga."


"Kamu mau dibelikan apa sayang? Jujur mas sedang malas banget melihat Yaya perempuan paling munafik di dunia. Dia sama aja seperti kita. Sama-sama tukang selingkuh tapi dia selalu ngerasa di pihak yang tersakiti."


"Haduh, namanya juga dia mas. Dia kan orang yang munafik. Dia butuh kaca untuk mendefinisikan karakter dia yang sejatinya. Kamu yang sabar ya mas? Tenang, masih ada aku. Aku berjanji, gak akan berpaling ke yang lain. Selamanya aku akan setia sama kamu mas."


Damar mengecup mesra bibir Miho, kemudian mereka berdua berpuas diri di dalam permainan cinta yang menggelora.


2 Minggu Kemudian


Sore ini, langit agak gelap karena mendung datang. Hati yang kelabu itu masih kehilangan jejak semangat yang melintang. Betapa bunga yang seharusnya harum namun gagal membuat hidungku riang. Tiada sesuatu yang menjadikan aku tumbuh melainkan tujuan-tujuan yang menghadang, dengan tantangan yang berat seperti mencoba menghancurkan kayu dengan belati kecil. Butuh proses yang cukup panjang.


Surat gugatan cerai itu akan muncul tanpa menunggu waktu yang panjang. Tidak tahan lagi terikat hubungan dengan laki-laki kasar yang bikin hati ini semakin meradang.


Di depan rumah sakit, tepatnya di taman, bersama mamaku aku sedang membawa mama untuk jalan-jalan keluar. Biar mama tidak bosan terus rebahan di dalam kamar.


Aku melihat kearah yang lain, banyak juga pasien lain yang bergembira bersama keluarga mereka. Perhatianku terfokus kepada seorang pasien wanita yang dijaga penuh oleh seorang laki-laki dan anak kecil.


Pasien wanita itu pasti sedang bersama suami dan anaknya. Mereka tampak ceria dan harmonis sekali. Si laki-laki menyuapi istrinya terus dengan potongan buah yang menyegarkan. Memberikan kesegaran lewat kasih sayang dan juga makanan yang kaya akan manfaat itu.


"Seandainya aku berada di posisi dia, pasti aku akan merasa beruntung." ucapku dalam hati, sembari memandangi mereka dengan senyuman.


Aku tersenyum, tapi hatiku iri melihat mereka. Hingga aku memutuskan untuk membawa mama ke taman belakang saja.


Mama terus melihat ke bibirku yang terluka. Aku lihat beliau menangis. Beliau pasti sedih melihat kondisi aku yang seperti ini.


"Sudah ma jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja kok. Kita bisa bahagia hanya dengan hidup bersama tanpa adanya laki-laki kurang ajar itu."

__ADS_1


Air mata turut mengalir di wajahku. Entah sudah berapa galon air mataku aku keluarkan. Tapi yang pasti, hidupku harus terus berjalan dengan hati. Hati yang memotivasi diri ini untuk selalu berjuang dan bersabar.


*


*


*


Disisi lain


Surat panggilan lamaran pekerjaan untuk Martin diterima oleh perusahaan. Mulai besok Martin sudah boleh bekerja di perusahaan tersebut. PT. Gemilang Gara Indonesia. Jabatan Martin adalah di manajer bagian produksi.


Kebetulan jabatan itu sedang kosong. Martin mengalahkan ratusan orang lain yang juga melamar untuk mendapatkan jabatan itu. Martin benar-benar senang mendapatkan panggilan ini.


Tidak sia-sia pernah kuliah jauh-jauh di luar negeri. Mungkin karena kuliah di luar negeri ini juga yang membuat pihak perusahaan lebih menerima dirinya dibanding yang lain.


"Oke, gua cuma ingin bekerja di perusahaan sebesar ini dengan nyaman. Semangat untuk diri gua sendiri!" tukas Martin seraya melihat surat itu.


Disisi lain Damar sedang tertawa terbahak-bahak di dalam ruangannya. Dialah yang menerima Martin bekerja di perusahaan ini dengan tujuan untuk membalas Martin yang ia yakini memang benar sudah berselingkuh dengan Yaya. Damar ingin mengacaukan hidup Martin, membuatnya menderita kedepannya.


"Haha, laki-laki bajingan itu akan bertekuk lutut didepanku. Lihat yang akan saya lakukan, tidak main-main! Hidupmu akan hancur, nama kamu akan di cap buruk sama orang-orang. Berani sekali kamu, berselingkuh dengan istriku. Bukan cuma Yaya doang yang harus menderita, kamu juga harus menderita Martin!" ucap Damar jahat sembari memukul meja dengan genggaman tangannya.


Momen diterima kerja membuat Martin ingin mentraktir orang rasanya. Martin berdiri didepan rumah sembari menatap pelataran rumahnya. Hidupnya yang sepi tanpa pasangan selalu membuatnya merasa seperti sendirian. Martin ingat sama perempuan yang selalu membuat moodnya naik. Bercanda atau berantem kecil dengan dia.


Martin mengingat waktu masa-masa mereka masih sekolah dulu. Ketika dirinya dan Yaya habis memberi es krim berdua di pinggir jalan. Martin terus melihati Yaya yang sedang menjilati es krim itu dengan segarnya.


"Enak ya es krimnya?"


Yaya mengangguk dengan ceria.

__ADS_1


"Gue suka rasa vanila. Karena vanila itu selain manis, aromanya juga bikin mood yang hancur jadi rapi kembali."


Karena sikap isengnya itu, Martin mengoleskan es krim yang ia pegang ke hidung Yaya.


"Aaa! Kenapa lo bikin hidung gue belepotan, iseng banget sih jadi orang? Itu es krim coklat!"


"Biar makin gemesin lah, udah hidung pesek belepotan pula. Udah mirip kaya badut alay di taman sebelah itu, hahaha."


"Sialan lo!" karena kesal Yaya dengan iseng juga melorotin celana Martin sampai hampir lepas kebawah.


"Woy gila lu! Ini dipinggir jalan! Iseng amat yak. Aduh jadi dilihatin orang kan!" kesal Martin seraya menaikan lagi celananya.


"Itu adalah pembalasan yang pas untuk orang iseng seperti lo, hahaha." balas Yaya lalu berlari manja kedepan.


"Woy sialan! Tungguin gua, gua balas lo yang lebih parah lagi!" teriak Martin lalu berlari mengejar Yaya sembari tertawa kecil.


Mengingat masa-masa SMA memang indah, punya kenangan tersendiri. Apalagi kenangan sama si dia. Senyum-senyum terus kalau ingat. Tapi sekarang Martin sudah tak bisa menggapai bercanda berdua bersama Yaya lagi. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


Martin mengingat kemarin waktu Yaya membentaknya untuk pergi dari taman. Martin merasa kasihan tapi mau gimana lagi, Yaya ga mau dibantu olehnya.


Bagaimana kabar dia sekarang? Pertanyaan yang muncul di pikiran Martin. Apakah dia baik-baik saja? Martin tahu kalau Yaya sedang sibuk di rumah sakit untuk menjaga ibunya. Tapi kalau ngajak Yaya ketemu disana, pasti Yaya tidak mau.


Singkat waktu, hari telah berganti lagi. Laki-laki itu tampak semakin dewasa dengan balutan kemeja biru dan celana panjang hitam. Ya, dia adalah Martin. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan.


Hari ini harus tampil menarik, sebagai pegawai baru, ia harus menunjukkan hal menarik dari segala sisi. Beradaptasi dengan lingkungan perusahaan dan tentu saja karyawan lain yang lebih senior.


"Pagi ini, gua menjejakan kaki di depan kantor. Gua memegang banyak map dan gua, sudah siap untuk sesuatu tantangan yang disebutkan dengan kata kerja karena cuan is number one!"


Namun saat Martin sampai didepan kantor, Martin melihat Damar sedang dibawa polisi sembari diborgol. Di depan kantor juga ada Yaya, Miho, dan Anjar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2