Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Rencana Jahat Pelakor


__ADS_3

Setelah melakukan pertemuan dengan Miho, Damar kembali pulang ke rumah. Yaya dan mama Sera masih setia menunggu kepulangan Damar ke rumah. Damar menyapa mereka yang sedang menunggunya.


"Siang semuanya, aku pulang. Wah, sepertinya menu makan siang hari enak-enak semua ya." ucap Damar riang.


"Ya jelas enak lah orang istri kamu yang masak. Bukan pembantu kamu yang gak becus masak itu!"


Mama Sera menyindir Elma. Elma sendiri mendengar sindiran dari mama Sera karena Elma sedang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


"Sialan! Itu mulut nenek lampir nyelekit amat sih! Awas aja ya aku kerjain kamu! Tunggu aja nenek lampir!" batin Elma mendendam.


"Bi Surti mana? Kalian pecat dia kah? Masakan buatan dia perfect banget! Nggak kalah dari rasa masakan di restoran besar." puji mama Sera buat pembantu malang itu yang sekarang sedang meringkuk dibalik jeruji besi yang dingin.


"Gak dipecat ma, dia di penjara karena kesalahan dia." jawab Yaya memasang wajah sedih.


"Apa! Dipenjara? Apa salah dia? Mama gak habis pikir, mama kira bi Surti itu orang baik, rada sulit dipercaya kalau dia melakukan kejahatan?" tanya mama Sera tidak percaya.


"Dia mencuri ma jadi Yaya ingin bi Surti mendapatkan hukuman yang akan sangat berharga untuk dia kedepannya. Udah ah ma jangan bahas bi Surti. Besok rencananya kita, aku dan mas Damar mau cari pembantu baru yang bisa memasak ma. Tenang aja." tukas Yaya seraya mengambilkan dua centong nasi buat suaminya.


Damar duduk dengan lega diatas kursi utama.


"Terimakasih sayang." ucap Damar untuk istrinya.


Sedangkan Elma sengaja merekam momen hangat itu untuk memanas-manasi Miho. Miho yang sedang makan mangga muda di apartemannya menonton rekaman video yang dikirim oleh Elma. Miho merasa panas. Apalagi ditambah bareng mama Sera yang kemarin mempermalukannya di kantor.


"Bisa-bisanya mas Damar mau baikin lagi mereka! Aku benci melihat video ini! Aku akan suruh Elma buat bikin Yaya dan mamanya itu tambah menderita! Tunggu saja kalian."


***


Hari telah berganti. Waktu terus berjalan. Kandungan Yaya akan semakin membesar, hingga tiba saatnya melahirkan nanti. Damar seperti biasa, rutinitasnya adalah bekerja setiap hari di kantor sebagai presdir. Hari ini Yaya akan ikut bersama dengan Damar ke kantor.

__ADS_1


Setidaknya setelah mereka kembali baikan, Yaya ingin membersihkan nama suaminya bahwa mereka sekarang sudah akrab. Masalah perselingkuhan itu sudah usai dan tidak perlu ada orang yang nyinyir ke suaminya lagi.


Di depan Yaya, Damar juga berjanji akan menjauhi Miho. Bahkan Damar berjanji kepada Yaya bahwa dirinya akan segera berganti sekretaris.


Singkat waktu, sampailah mereka di kantor. Karyawan lain yang sudah datang terkejut melihat kedatangan Damar bersama istrinya, yang sama-sama sedang membuka pintu mobil dan keluar dari dalam.


"Wah sepertinya mereka sudah baikan ya? Terus gimana nasib si pelakor sialan itu? Apa dia mau resign dari kantor?"


"Gak tahu. Tapi aku senang sih lihat pak Damar dan bu Yaya memutuskan untuk kembali baikkan saja dibanding bercerai. Pasti bu Yaya mempertimbangkan masa depan anaknya itu yang paling utama."


"Iya, aku yakin juga begitu."


Pembicaraan para karyawan wanita pagi ini. Damar dan Yaya berjalan menghampiri mereka lalu menyapa sekumpulan karyawan itu. Lalu para karyawan membalas sapaan itu dengan senyuman yang ramah. Damar dan Yaya saling bergandengan mesra di sepanjang koridor. Mereka akan bersama-sama menuju ke ruangan tempat Damar bekerja.


Banyak pegawai yang menyapa ramah mereka dan mereka berdua selalu membalasnya dengan senyuman. Diam-diam, si pelakor sedang mengamati mereka berdua dari belakang. Hatinya mendadak panas melihat kemesraan mereka.


"Lancang kamu mas! Pagi-pagi gini pamer kemesraan bareng perempuan yang paling aku benci didepan aku! Didepan orang-orang!" Miho membatin iri.


"Sayang, gak lama lagi jabatan Miho akan segera diganti dengan orang lain. Bukan Miho lagi tapi mas akan memperkerjakan seorang karyawan magang. Penampilannya cupu sekali. Dia wanita biasa yang sederhana tapi mas yakin dia adalah orang yang baik dan profesional. Dia gak mungkin bersikap genit ke mas dan mas juga udah berjanji juga kan kalau mas gak akan berselingkuh lagi dengan siapapun itu."


Aku lega mendengar perkataan mas Damar, bahwa dia akan mengganti Miho dengan yang lain.


"Terus nanti Miho kerja apa mas? Ganti jabatan disini atau dia mau pindah tempat kerja?"


"Tidak tahu. Hidup dia biar menjadi urusan dia sendiri. Mas mana mau ikut campur apalagi dekat-dekat dengan dia lagi sayang." jawab Damar lagi-lagi berbohong.


Tapi apakah aku masih bisa mempercayai perkatannya? Sejujurnya aku kurang begitu yakin, tapi aku akan melihat perkembangannya kedepan.


***

__ADS_1


Aroma masakan untuk makan siang terhirup oleh indera penciuman mama Sera. Sebelum berangkat ke butik kecilnya, mama Sera ingin makan siang dulu biar semakin bertenaga. Mama Sera masuk ke dapur melihat Elma yang sedang masak capcay udang.


"Heh!" ucap mama Sera dengan ekspresi galak dari belakang Elma.


Elma agak terkejut sampai hampir saja Elma menjatuhkan spatula yang ia pegang.


"Aku mau cicipin rasa masakan kamu."


"Si, silahkan nek lampir." jawab Elma keceplosan.


"Apa! Kok kamu manggil aku dengan sebutan nenek lampir? Kamu benci ya sama aku? Jawab!"


"Maaf nyonya bukan begitu. Bukan begitu maksud saya. Saya semalam habis nonton film nenek lampir jadi keingat terus bawaannya. Masa orang secantik nyonya Sera saya panggil nenek lampir sih, hehe."


"Awas aja kalau kamu berani sama aku! Yaudah, sini aku cicipin masakan kamu."


Mama Sera langsung melepeh, rasanya keasinan.


"Kamu ini mendingan nggak usah masak deh! Urus saja pekerjaan rumah yang lain! Kamu mau bikin saya dan anak mantu saya darah tinggi ya dengan rasa asin yang luar biasa seperti masakan kamu itu!"


Elma hanya bisa terdiam mendengar amarah mama Sera yang meluap-luap. Suaranya nyaring, lantang bak sedang berbicara didepan microfon.


"Yaya dan Damar benar-benar harus cari juru masak yang handal!" lanjut mama Sera berbicara kesal sembari berjalan pergi keluar dari dalam dapur.


"Dasar nenek lampir gila, nenek lampir galak! Awas aja ya, awas! Duh nyebelin banget sih dirumah ini ketambahan si nenek lampir! Bikin hidupku jadi tertekan disini." batin Elma gelisah.


Elma masuk kedalam kamar, istirahat sebentar sebelum bekerja lagi. Biasanya dia selalu bawa banyak camilan enak dari dalam kulkas tapi sekarang kurang berani karena takut ketahuan sama mama Sera. Mama mertua Damar yang galak dan mengerikan itu. Rasanya Elma ingin segera menghabisi mama Sera.


Elma membuka chat. Ada chat dari bosnya, Miho. Elma membaca chat itu. Suatu tugas yang membuatnya makin tertantang, dengan iming-iming bayaran lebih mahal.

__ADS_1


"Bikin si istri sah dan ibunya yang sinting itu celaka! Aku benci banget sama mereka. Gara-gara mereka mau baikan lagi sama mas Damar, pernikahan impianku yang indah dan menyenangkan jadi tidak terwujud. Kalau kamu gagal, aku tidak akan segan-segan menghabisi kamu beserta suamimu Elma!" ancam Miho tidak main-main.


Bersambung...


__ADS_2