Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Kematian Miho


__ADS_3

Didepan apartemen Miho, Martin tengah menunggu Miho keluar dari apartemen. Martin ingin memberikan peringatan jika Miho masih berani mengganggu ketenangan Yaya dan keluarganya. Tak berselang lama Miho keluar sembari membawa sebuah tas. Sepertinya Miho mau pergi ke suatu tempat.


"Itu dia orangnya." ucap Martin dan kemudian keluar dari dalam mobil.


Miho sendiri tengah menunggu taksi online yang ia pesan. Melihat kedatangan Martin, Miho pun menjadi penasaran akan apa maksud kedatangan laki-laki sukses itu.


"Martin? Kamu ngapain kesini?"


"Aku kesini karena aku tahu kamu adalah orang yang udah nyuruh dua preman buat menyakiti mama Sera. Miho, dimana hati nurani kamu? Sampai hati kamu mau menyakiti orang yang sedang kena stroke seperti mama Sera?"


"Tahu darimana kamu soal hal itu?"


"Aku ada di lokasi kejadian saat kedua preman suruhan kamu datang dan mau menyakiti mama Sera. Aku yang mengusir mereka dengan uangku sendiri!"


Miho berkacak pinggang lalu melangkah beberapa langkah kedepan Martin.


"Jangan suka ikut campur urusan orang karena ini tidak ada hubungannya dengan kamu! Memangnya siapa mama Sera? Keluarga bukan mertua bukan. Mendingan kamu urus urusan kamu sendiri!" kecam Miho lalu menghujam dada Martin dengan jari telunjuknya.


Martin memegang kuat lengan Miho.


"Aw! Sakit! Lepasin, kamu mau apa sih! Aku bisa teriak nih."


"Silahkan saja teriak! Tapi satu hal yang harus kamu ingat di otak kamu jika kamu masih suka mengganggu ketenangan keluarga Yaya, kamu akan terima resikonya!" ancam Martin tak main-main.


Miho menepis pegangan tangan Martin lantas Miho semakin berani menentang Martin.


"Kamu pikir aku takut sama ancaman kamu? Seorang Miho Misaki tidak pernah takut sama ancaman siapapun. Yang ada aku bakalan makin brutal mengacaukan hidup Yaya karena gara-gara dia mas Damarku jadi mendekam di penjara!"


"Dasar wanita jahat! Masih saja menyalahkan Yaya atas kejadian itu!"


Martin semakin geram melihat sikap Miho.


"Awas ya kamu! Ancaman saya tidak pernah main-main." tukas Martin seraya menunjuk wajah Miho.


"Silahkan saja kalau kamu berani lawan saja aku!" tantang Miho tak gentar.


***


Hingga akhirnya hari dimana Miho melahirkan anaknya pun tiba. Miho merasa ketakutan akan menghadapi proses yang sangat menyakitkan ini. Miho teriak-teriak panik sembari memanggil-manggil nama Damar.


"Mas Damar! Mas Damar kesini mas! Aku takut. Dok tolong telpon suamiku dipenjara, aku ingin dia tahu kalau aku mau melahirkan anaknya."

__ADS_1


"Baik bu akan segera kita kabari suami anda. Tapi sulit buat kita mendatangkan suami anda kesini jika suami anda sedang dipenjara."


"Lakukan apapun yang saya perintahkan dok! Saya takut, saya takut mati dok, huaaaa." isak Miho meronta-ronta.


Dokter dan suster yang akan menangani Miho lahiran dibuat bingung dengan kepanikan yang dialami oleh Miho.


Disisi lain didepan rumahnya, Yaya sedang menjemur pakaian bayinya. Semilir angin pagi yang menyejukkan raga menerpa tubuh Yaya. Yaya tersenyum dengan ketenangan hidup yang ia rasakan meski bayang-bayang kejahatan Miho masih menghantui dirinya.


"Miho? Sedang apa dia disana ya? Semoga dia sadar dan berhenti jahatin aku." harap Yaya sembari memeras pakaian.


Miho terus memperjuangkan kelahiran anaknya ditemani dokter dan beberapa suster. Dalam hidupnya baru kali ini Miho mengalami rasa sakit yang sesakit ini.


"Sakit banget! Dokter! Suster! Aku tidak kuat lagi! Tolong panggil mas Damar dok! Tidaaaak, aku takuut matii!" titah Miho terus saja meronta panik.


"Sabar bu Miho, ayo bu dorong lebih kuat lagi. Tarik nafas, buang nafas." jawab sang dokter seraya mengelap keringat yang banjir di wajah Miho.


"Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa." teriak Miho sekuat mungkin dan anaknya pun lahir ke dunia.


"Oeeeeee oeeeeeee oeeeeee."


"Alhamdulillah, akhirnya anak bu Miho lahir juga. Dia perempuan bu." ucap sang dokter sembari membopong pelan bayi Miho.


"Dok, pasien mengalami pendarahan hebat!" panik suster.


"Segera kita tangani dia." sahut si dokter panik.


Dokter melakukan penangan namun ternyata beberapa saat kemudian, Miho sudah tidak ada lagi di dunia ini. Miho tidak bisa diselamatkan karena pendarahan yang hebat itu.


"Pasien sudah meninggal dok."


"Innalillahi wainnailaihi roji'un." ucap sang dokter sedih.


Di penjara, Damar tengah harap-harap cemas menunggu kabar kelahiran anaknya dari Miho.


"Miho sayang kamu pasti bisa sayang." ucap Damar cemas sembari duduk gelisah didalam sel tahanan.


Seorang sipir melangkah ke dekat sel tempat Damar ditahan, sipir itu mengabari Damar bahwa istrinya telah melahirkan.


"Damar, istri kamu sudah melahirkan. Bayi kamu lahir dengan selamat dia bayi perempuan."


"Syukurlah kalau gitu, terus bagaimana keadaan istri dan bayi saya pak?"

__ADS_1


"Keadaan bayi perempuan kamu sehat, tapi istri kamu..."


"Kenapa dengan keadaan Miho istri saya pak?" tanya Damar dengan ekspresi yang mulai agak cemas lagi. Jari-jarinya menggenggam pintu sel.


"Kamu harus bersabar Damar. Saya turut berdukacita ya saya mau mengabarkan juga bahwa istri kamu telah meninggal dunia."


Lutut Damar serasa lemas. Keadaan di sekitarnya seolah terasa gelap mencekam. Damar bersimpuh diatas lantai tahanan. Damar benar-benar tidak menyangka Miho telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Miho... istriku yang cantik? Kenapa kamu pergi secepat ini sayang? Aku sangat mencintaimu sayang, jangan tinggalkan aku? Tidaak, Mihooku." ucap Damar lirih diiringi air matanya yang mulai mengalir dengan deras.


"Istri kamu meninggal karena pendarahan hebat Mar. Dia kehabisan darah. Kalau begitu ikhlaskan kepergian istri kamu ya? Sekali lagi saya turut berdukacita. Kamu harus semangat demi anak kamu jika kamu sudah bebas nanti."


Damar menutup wajahnya, duduk meringkuk sembari terus menangis di pojok tahanan. Tahanan lain yang satu sel dengannya ikut terdiam. Mereka menatap Damar dengan tatapan iba. Mereka ikut merasakan kesedihan berat yang tengah dialami oleh Damar. Sebagai manusia yang masih punya hati nurani mereka memilih untuk terdiam.


***


Di kamar bayinya, Bakti, Yaya tengah merapikan kaos kecil yang dipakai oleh Bakti. Yaya memegang pipi gembul Bakti rasanya menggemaskan sekali.


Yaya begitu mencintai anak keduanya itu. Satu bulan lagi Viona akan kembali ke Indonesia di masa liburan sekolahnya. Yaya tidak sabar berkumpul dengan Viona lagi. Berkumpul bersama anak-anak yang ia cintai.


Terdengar suara ketukan pintu didepan rumah. Yaya menoleh lalu bergegas pergi kedepan rumah buat bukain pintu.


"Anjar, ada apa? Mari masuk?"


Anjar datang dengan wajah yang agak datar membuat Yaya menjadi penasaran apa maksud kedatangan Anjar dengan wajah datar seperti itu.


"Kamu kenapa Anjar? Kok wajah kamu terlihat datar? Kamu lagi ada masalah?"


"Aku datang sore ini membawa kabar duka. Tapi entah kabar duka atau kabar bahagia buat kamu kalau Miho dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami pendarahan hebat atas kelahiran anaknya, Yaya."


"Innalillahi wainnailaihi roji'un." ucap Yaya agak shock mendengar kabar duka itu.


"Besok jenazah Miho akan diantarkan ke Jepang, negara kelahirannya. Miho akan dimakamkan disana. Apa sore ini kamu mau melihat Miho untuk yang terakhir kalinya? Aku tahu dia musuh kamu jadi kamu tidak datang pun tidak masalah."


"Nggak Anjar, aku mau melihat Miho untuk yang terakhir kalinya."


Betapa baiknya hati Yaya, masih mau melihat jasad orang yang telah mendzolimi dirinya. Merebut suaminya bahkan waktu itu menyuruh preman buat menyakiti ibunya yang sedang sakit.


Sore ini mereka berdua meluangkan waktu akan pergi ke rumah sakit tempat Miho lahiran bersama dengan Anjar kesana.Yaya ingin melihat Miho yang terakhir kalinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2