
"Aku mau cari kerja di tempat lain aja. Keputusan saya sudah bulat, bu. Semua orang disini menghujat saya! Karena saya dianggap telah berselingkuh dengan suami anda."
"Semuanya, kumohon? Jangan ada yang bahas hal itu lagi ya? Saya sudah maafin Desi, dan Desi juga sudah berjanji kalau dia mau berubah. Biarkan dia bekerja dengan nyaman, mengais rezekinya disini." tekanku berbicara lantang kepada semua orang yang sedang menyaksikan perdebatanku dan Desi.
"Ah, bu Yaya ini berhati malaikat. Jangan terlalu baik jadi orang bu! Orang zaman sekarang, kalau dibaikin malah pada ngelunjak!" sahut seorang karyawan.
Aku tidak mau menyalahkan karyawan itu, tidak mau juga menyalahkan Desi lagi.
"Apa yang mereka bilang begitu bikin hati ini terasa sedih bu Yaya, permisi."
Desi kembali ke ruang kerjanya. Aku cukup sedih melihat keputusannya tapi apa boleh buat, aku gak bisa mencegah niatnya. Lagian ini terjadi juga atas kesalahannya sendiri. Ah, yasudahlah. Desi, semoga kamu dapat pekerjaan yang lebih baik. Semoga kamu gak merusak rumah tangga orang lagi ya!
Lalu aku melihat ada Miho yang tengah berdiri ditengah kerumunan orang. Sadar sedang dilihat olehku, Miho bergegas berjalan menghampiri aku. Lalu kita pergi ke kantin sebentar, sebelum aku membawa bekal makan siang untuk mas Damar.
"Gimana kondisi kehamilan kamu? Baik-baik aja kan bu?" tanya Miho membuka obrolan.
"Makasih Miho atas perhatianmu. Aku baik-baik aja kok. Sekarang aku ngerasa lega karena perselingkuhan mas Damar udah terungkap. Mas Damar udah janji kalau dia ga akan nyakitin aku lagi."
"Itu sangat bagus bu Yaya. Setelah ini bu Yaya ga boleh stress lagi, fokus aja sama kesehatan dan kehamilan kamu."
"Kamu benar Miho."
"Hahahaha, kalau kamu tahu fakta apa yang sebenarnya terjadi, kamu pasti akan ngemis maaf ke si Desi! Yaya, Yaya, Jadi orang kok oon banget sih! Seandainya kamu tahu kalau wanita bertopeng yang ada di depanmu ini adalah orang ketiga yang sebenarnya, mungkinkah kamu akan membunuhku?" batin Miho dengan tatapan dingin kearah Yaya.
Aku merasa bingung.
Kenapa tatapan Miho tiba-tiba terlihat aneh? Tapi ah sudahlah, mana bisa aku membaca isi hatinya. Mungkin Miho sedang kurang enak badan jadi dia terlihat tidak fokus.
Aku menoleh ke samping. Aku melihat office girl yang kemarin sinis sama Miho tengah melangkah sembari membawa secangkir kopi panas diatas nampan.
Dia melangkah perlahan sampai tepat di belakang Miho. Office girl itu malah kepeleset mengakibatkan menumpahkan secangkir kopi panas di punggung Miho.
__ADS_1
"Aw!" rintih Miho kaget.
Office girl itu panik lalu meminta maaf.
"Maafin saya bu. Saya ga sengaja?"
Miho langsung berdiri, punggungya terasa perih dan panas lalu Miho bergegas berlari ke toilet. Tadi sebelum berlari, Miho memaksa si office girl untuk menunggunya disini. Aku lekas berdiri dan memandang si office girl itu dengan pandangan marah melihat sahabatku ketumpahan kopi panas karena kecerobohannya.
"Kalau kamu kerjanya ga bener, bisa-bisa kamu akan kehilangan pekerjaan kamu disini!" tekanku kepadanya.
"Maaf bu, lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi." ucap office girl itu kemudian mengambil sebuah kain pel buat membersihkan lantai.
"Tunggu disini sampai Miho balik!"
Si office girl itu manut saja. Tapi aku menangkap gerak gerik yang mencurigakan dari office girl ini. Bibirnya sedikit tersenyum, yang menandakan kalau dia senang karena udah bikin Miho jadi seperti itu barusan. Office girl ini terus menatap kearah samping, tempat dimana tadi adalah arah Miho berlari pergi.
Beberapa saat menunggu akhirnya Miho kembali. Miho sudah berganti pakaian. Apakah Miho akan memarahi si office girl ini? Miho melangkah mendekat ke si office girl yang sekarang sedang berdiri sembari memegang mopel. Miho menatap dingin ke arah si office girl ini, sampai dia berhenti didepannya.
"Harusnya si office girl ini yang minta maaf ke kamu Miho. Siapa nama kamu mba?" tanyaku kepada si office girl yang ceroboh ini.
"Yati bu,"
"Yati, kamu temani Miho ke klinik. Saya tidak ingin terjadi apa-apa sama Miho. Sepertinya kopi yang kamu bawa barusan itu adalah kopi yang diisi full dari air termos mendidih. Terlihat dari kepulan asapnya tadi."
"Betul sekali bu. Masih perih banget ini punggung saya, aw." sahut Miho merintih.
Office girl itu mengangguk, bersedia untuk mengantarkan Miho pergi ke klinik. Lalu mereka berdua pergi bersama. Ada-ada saja kejadian yang terjadi hari ini. Aku sampai menggelengkan kepala. Lalu setelahnya aku akan segera pergi menuju ruangan mas Damar.
Sekarang sudah jam makan siang. Aku sudah masak makanan kesukaan dia. Semua ada di dalam rantang yang aku pegang. Sampailah aku di dalam ruangan mas Damar. Dia sedang sibuk membaca berkas-berkas.
"Aku datang mas," kataku lalu tersenyum untuknya.
__ADS_1
"Eh, sayang. Mari duduk," sahut mas Damar. Dia lekas bangkit dari duduknya lalu merangkulku. Lalu kita sama-sama duduk berdua diatas sofa panjang di dalam ruangan.
"Kamu bawain aku apa sayang?"
"Aku buka ya mas, ini makanan kesukaan kamu. Ada nasi, rendang ayam, sama tumis brokoli udang. Kamu makan ya?"
"Makasih sayang. Kamu emang istri terbaik. Mas beruntung punya istri sebaik kamu. Mas nyesel udah selingkuh sama Desi. Mas udah menyakiti hati dari istri sesempurna kamu. Cantik iya, baik iya, setia juga iya. Mas ngerasa bodoh udah bikin kamu sedih sayang. Mas rasanya ingin memukuli diri mas sendiri! Hiks," urai mas Damar, ekspresi wajahnya terlihat tampak bersalah.
"Kata-katamu sungguh menghanyutkan mas. Tapi, kamu jangan cuma ngomong aja ya, buktikan dengan tindakan! Tahan nafsumu, tahan egomu, kita sama-sama saling menahan dari hal itu, biar kita, ga saling mengingkari janji setia yang udah kita ucapin dulu?"
"Iya sayang."
Kami saling berpelukan kemudian beberapa saat beradu kecupan bibir. Setelah itu, aku ingin menyuapi mas Damar tapi dia belum mau makan, lalu aku bertanya.
"Kenapa, belum laper mas?"
"Iya. Nanti mas makan ya, sekarang mau lanjut baca dokumen penting ini, berkas-berkas ini dulu,"
"Yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya. Kamu yang semangat ya kerjanya, biar tabungan masa depan kita makin banyak! Hehehe."
Mas Damar tersenyum mendengar ucapanku lalu aku dan dia kembali berpelukan. Setelah itu, aku bangkit, aku kembali tersenyum manja kepadanya. Tingkah kami siang ini, mengingatkan aku saat masa awal menikah dulu.
Sangat mesra dan menyenangkan. Aku berjalan sampai dekat pintu, lalu aku menoleh lagi ke belakang. Aku dan mas Damar lagi-lagi saling melemparkan senyuman mesra. Terlihat lucu dan menggemaskan lalu mas Damar berlari memelukku lagi dengan agresif.
"Ah mas Damar! hahaha."
Aku sungguh bahagia. Aku telah mendapatkanmu kembali seutuhnya mas. Lalu akupun benar-benar pergi dari kantor. Setelah Yaya pergi,
Damar memegang rantang makanan yang dibawakan Yaya, karena tadi sudah makan siang bareng Miho alhasil Damar pun udah kenyang. Damar melemparkan rantang makanan itu ke tempat sampah di dalam ruangan.
Bersambung...
__ADS_1