
"Cerita sama mama kalau kamu lagi ada masalah? Udah berkali-kali mama bilang begitu. Kenapa kamu selalu saja memendam itu semua sendirian?"
Aku menunduk malas, lalu aku bangkit dan pergi saja meninggalkan mama sendirian di taman. Aku masuk kedalam rumah lalu aku pergi ke kamar dan mengunci pintu. Aku masih sangat kecewa soal pencurian cincin itu. Bukan masalah harganya sekali lagi, tapi ini masalah kepercayaan seorang anak kepada orang tuanya.
Orang tua juga pasti akan sebaliknya, kalau anaknya melakukan perbuatan yang mengecewakan seperti itu. Rasanya aku ingin menyuruh mama untuk pulang saja ke rumahnya tapi aku nggak enak. Lebih baik besok aku pergi sendiri aja ke tempat wisata yang kemarin.
"Nak. Jujur mama sedih melihat kamu bersikap dingin sama mama. Lebih baik mama pulang saja kalau menurut kamu, kehadiran mama tidak diinginkan dirumah ini sekarang." ucap mama Sera, wajahnya sedih, kemudian mama Sera bergegas kemas-kemas pakaiannya. Akan pulang malam ini juga. Padahal rencana menginap masih tersisa beberapa hari lagi.
Disaat sedang bete menunggu mas Damar mengabari aku, akhirnya dia kasih kabar juga. Aku segera mengangkat VC dari dia.
"Selamat malam sayang? Maaf mas baru VC. Seharian ini mas sibuk banget mengawasi project pembangunan. Sampai gak sempet buat pegang HP sayang. Kamu lagi apa sekarang?"
"Lagi mikirin kamu lah mas."
"Haha bisa saja istriku tersayang. Besok mas mau beli oleh-oleh. Mama kamu mau dibelikan apa sayang?"
"Gausah belikan dia apa-apa mas dan gausah juga belikan aku oleh-oleh. Dengan kamu pulang dalam keadaan baik-baik aja aku udah bersyukur kok."
"Kok gitu sih? Kok kaya nggak ceria gitu wajahnya?"
"Hmm gapapa mas. Aku lagi kurang enak badan aja."
"Kalau gitu kamu istirahat saja ya sayang. Jangan lupa ke dokter kalau kesehatan kamu sedang turun. Jaga terus calon bayi kita. Aku mencintaimu, Viona dan juga calon anak kedua kita."
Aku melirik kearah foto pernikahanku dan mas Damar selama beberapa detik, lalu aku kembali menatap ke wajah mas Damar di layar ponsel.
"Mas, Miho ke Jepang tuh? Kata kamu kemarin, dia ada di Indonesia?"
Seraya menunggu jawaban, aku lihat wajah mas Damar mendadak tegang. Kenapa dia?
"Masa sih. Kok aku gak tahu ya?Mungkin dia pergi ke Jepang sesaat setelah keberangkatan aku. Jadi aku gak tahu kalau dia pergi ke Jepang juga. Tapi ngapain dia balik ke negaranya?"
__ADS_1
"Katanya orang tuanya sedang sakit yang mengharuskan Miho untuk pulang ke negaranya. Kamu ga bohong kan mas?"
Mas Damar menggeleng.
"Tapi semalam aku denger suara Miho loh, pas kita VC."
"Oh, suara itu, suara itu... Suara dari turis yang sedang jalan-jalan di pulau malam itu. Biasa lah sayang, mirip-mirip suaranya. Tapi itu bukan Miho kok."
"Ooh gitu..."
"Kayaknya pertanyaan kamu sekarang mulai menjurus kearah kecurigaan nih? Roman-romannya kamu mulai curiga dan berprasangka buruk sama aku? Kamu mau mengganggu mental kamu sendiri dengan prasangka yang tidak-tidak?"
"Aku cuma bertanya biasa aja kok bukan bermaksud menuduh kamu yang tidak-tidak hanya sekedar memastikan saja, apa itu salah?"
"Yaudah. Aku mau tidur dulu ya. Kamu juga, jangan lupa tidur yang cukup ya sayang?"
Aku mengangguk lalu berkata.
Usai itu, kami sama-sama saling menutup VC. Rasanya sekarang aku ingin segera terbang ke Jepang, untuk memastikan, apakah mas Damar dan Miho sedang berada di lokasi yang sama, sedang berduaan gitu? Suara mirip Miho kemarin dan Miho yang sedang ke Jepang juga, membuatku berpikir kacau seperti ini. Kecurigaan dan kekhawatiran yang sangat beralasan.
Beberapa saat kemudian, aku mulai rebahan, tapi tiba-tiba bi Surti datang mengetuk pintu. Aku bergegas bangkit lalu membuka pintu untuk bi Surti.
"Bibi ada apa?"
"Anu nyonya, saya disuruh nyonya Sera memberi tahu kepada nyonya Yaya kalau nyonya Sera akan pulang malam ini. Dia sudah berkemas-kemas dan baru aja pergi nyonya."
Apa? Mama mau pulang?
Aku bergegas berjalan cepat menuju kedepan rumah. Aku membuka pintu depan dan aku lihat, mama sedang berjalan dengan membawa kopernya pergi meninggalkan rumah ini. Jujur aku agak sedih. Tapi disisi lain aku juga kecewa sama mama. Ibu adalah salah satu pembimbing terbaik untuk anaknya.
Mana sekarang lagi hujan gerimis lagi. Kasihan, mama pasti kedinginan.
__ADS_1
***
Sejak malam itu selama dua hari kedepan aku dan mama sudah jarang telpon lagi. Hubungan aku dengannya agak renggang, tapi aku belum menjelaskan kepadanya apa penyebabku sekarang sering mendiamkan mama.
Maafin aku mama. Mungkin sekarang aku udah jadi anak yang kurang ajar. Tapi semoga mama sehat-sehat aja disana. Dan semoga hubunganku dengan mama bisa secepatnya kembali seperti semula. Semoga mama mau mengakui kesalahannya dan mengembalikan cincin yang dia ambil.
Pagi ini, setelah VC bersama mas Damar, aku dibuat terkejut dengan story WA yang dipostingnya. Foto lokasinya kurang lebih sama seperti story yang diposting Miho semalam. Mereka benar-benar seperti berada di daerah yang sama dan apakah mereka sedang berdua?
Mas Damar memposting foto story WA sedang berdiri di tepi laut dengan adanya sebuah jembatan yang bentuknya sama persis seperti yang ada di story Miho semalam.
Aku jadi semakin curiga dan teringat Martin. Dia bersedia membantu aku kapanpun aku membutuhkan bantuan. Aku segera telpon dia dan dia dengan senang hati mau membantuku. Awalnya aku gengsi sih tapi Martin adalah orang yang bisa dipercaya buat menjaga rahasia.
Sore harinya, aku bertemu dengan dia di taman kota. Entah kenapa aku merasa risih sama penampilan Martin. Dia memakai setelan baju dan celana yang cenderung seperti orang-orang yang mau berangkat ke acara besar. Padahal aku ga mau ngajak dia kemana-mana. Langsung saja aku menegur penampilan dia.
"Martin, kamu ini selalu aja lebay. Ga pernah berubah! Aku gak mau ngajak kamu kondangan atau menghadiri acara resepsi orang. Tapi pakaian kamu terlihat mewah dan berkelas!"
"Terserah gua dong telur asin mau pakai pakaian kek gimana. Kenapa lu yang ribet sih. Dan satu hal lagi, kalau ngobrol sama gua jangan pake aku kamu, tapi lu gua. Kita kan bestie?"
"Lihat aku sambal terasi!"
"Gua bukan aku!"
"Arghh! Sambel terasi edan! Lihat gua! Gua aja pakai daster biasa. Karena kita, ga akan pergi ke tempat yang mengharuskan kita untuk memakai pakaian wow seperti yang lu pakai sekarang!"
"Udah gausah meributkan soal pakaian. Sekarang, lu mau minta bantuan apa ya telur asin?"
"Hm... Bantu gua cari tahu dimana tempat Miho tinggal. Gue ingin kenal pribadi Miho lewat tetangga atau orang yang tinggal disekitarnya."
"Oke siap. Hayuk bu RT berangkat ..." jawab Martin siap, lalu dia mengulur salah satu tangannya untuk aku pegang. Langsung saja aku tabok pakai tanganku!
Bersambung...
__ADS_1