Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Telur Busuk Untuk Pelakor


__ADS_3

Sore harinya mas Damar sudah pulang ke rumah. Biasanya dia sampai rumah pukul tujuh atau delapan malam. Mas Damar pulang tanpa aku menunggunya di depan rumah. Dia tiba-tiba saja masuk ke kamar, tapi dia diam, wajahnya masih merah marah. Sedangkan aku masih menangis diatas kasur.


Sekarang dia pun yakin kalau aku sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Miho.


Mas Damar, dia yang mengingkari janjinya, yang katanya mau setia sama aku, tapi malah selingkuh dengan wanita lain. Dan wanita itu adalah orang yang sangat aku percaya menjaga mas Damar agar tidak berselingkuh lagi. Ternyata semua itu cuma sekedar omong kosong. Dia menikam aku dari belakang.


Aku merasa getaran kecil diatas kasur. Mas Damar duduk diatas kasur, sepertinya dia sedang mengamatiku, aku enggan untuk menoleh ke belakang. Tapi aku berbicara sesuatu.


"Mas, aku udah tahu kamu selingkuh dengan Miho. Miho sendiri yang membuka topengnya kepadaku waktu itu. Dan sekarang yang aku inginkan adalah, kamu pergi meninggalkan Miho untuk selama-lamanya. Jangan pernah kembali lagi menjalin hubungan gelap dengan dia di belakang aku."


Entah kenapa, aku kira mas Damar bakal minta maaf sembari menangis, dia malah menjambak rambut aku. Aku yang sedang hamil ini.


"Sudah cukup! Reputasi aku udah hancur, semua orang menghujat aku lagi. Dan sekarang, Mihoku juga kena hujat. Itu semua gara-gara siapa? Gara-gara mama kamu yang melabrak aku terang-terangan di kantorku!"


Rasa sakit ini menjalar di bagian kepalaku. Mahkotaku disakiti olehnya. Mengapa tega seorang suami yang sudah jelas bersalah, tapi sekarang malah tega menganiaya istrinya?


"Sakit mas! Kenapa kamu melakukan ini? Ternyata selain menyiksa perasaanku, kamu juga menyiksa fisikku juga!"


"Ini belum seberapa, belum sebanding dengan yang aku dan Miho dapatin di kantor tadi karena kelakukan ibumu yang barbar itu!" marah mas Damar berbicara lalu dia melepaskan jambakan tangannya dengan cara menoyor kepalaku ke depan. Lalu aku menolehkan wajah kearahnya, air mataku semakin deras mengalir, bak air terjun kecil yang nampak di pelupuk mata kesedihan.


"Menikah denganmu adalah penyesalan terbesarku didalam hidup aku. Sekarang aku tahu, kamu memang bukan laki-laki yang baik!"

__ADS_1


"Kamu pikir kamu perempuan baik juga hah!"


"Apa kamu pikir, kamu lebih baik daripada aku mas?


Apa kamu nggak pikir resiko yang nanti akan menimpaku, menimpa anak kita, dan diri kamu sendiri mas!"


"Aku nggak peduli! Yang penting aku puas bisa dapatin wanita secantik Miho! Bahkan setelah ini aku mau menikah dengannya. Setelah bercerai dengan perempuan kampungan seperti kamu!"


PLAAAAAAK


Mas Damar menamparku. Dia menjadikan aku sebagai pelampiasan setelah dilabrak sama mama aku di kantor. Setelah ini, lebih baik aku pergi saja ke rumah mama. Menginap selama satu bulan disana. Lagian hubunganku dengan mas Damar sudah hancur berkeping-keping. Buat apa aku bertahan disini?


Dia selalu ada disaat aku sedang sedih. Bi Surti selalu siap buatin aku minuman hangat sebagai penenang tubuh. Berhubung mas Damar sedang tidak ada dirumah, aku akan memanfaatkan momen ini untuk pergi dari rumah. Kalau mas Damar tahu pasti aku akan dicegat untuk pergi.


Aku membuka pintu kamar. Melangkah keluar dengan membawa koper yang besar. Elma berlari menghampiri aku.


"Nyonya, kamu mau pergi kemana?"


"Bukan urusan kamu. Selama aku pergi, aku titip rumah ya. Kamu urus suami aku. Masakin dia, kamu belajar masak yang bener! Jangan lupa bersih-bersih rumah. Aku janji, aku akan menaikan lagi gaji kamu."


"Tapi nyonya, nyonya mau kemana? Sepertinya nyonya akan pergi lama? Itu nyonya bawa koper besar?"

__ADS_1


Aku tidak menjawab pertanyaan Elma lalu aku lanjut berjalan saja dengan cepat, menuju pintu depan. Elma terus mengejarku, merongrongku dengan sejuta pertanyaan. Tapi aku terus diam tak memberikan jawaban sepatah katapun.


Lalu Elma meraih tanganku. Dia memohonku agar memberinya jawaban. Lalu aku berhenti sejenak, tepat di depan pintu.


"Aku sedang bertengkar hebat dengan mas Damar. Sekarang, aku lagi ingin sendiri. Tolong jangan tanya lagi atau kamu akan aku pecat!"


Setelah aku memberikan jawaban ini, Elma langsung diam membisu. Lalu aku membuka pintu depan dan pergi dari rumah. Aku pergi mencari taksi di pinggir jalan. Aku menunggu beberapa saat, sembari memandang jalanan sekitar. Aku akan pergi dari rumah ini selama satu bulan. Aku mau menenangkan diri aku dulu.


Aku ingin memutuskan diri dulu dari gemerlapnya dunia luar, fokus dengan kehamilanku, tanpa ada orang yang mengangguku. Disisi lain, Damar sedang menenggak banyak minuman di sebuah bar. Ditemani cewek-cewek bohay di sampingnya. Damar tahu, dirinya sudah banyak berbuat salah kepada sang istri. Tapi dirinya merasa sulit untuk lepas dari kesalahan-kesalahan itu.


Damar juga menyesal karena sudah melakukan kekerasan fisik kepada Yaya tadi sore. Damar ingin segera pulang dan meminta maaf, namun pengaruh alkohol malah membuatnya tertidur.


Sontak saja orang-orang di dalam bar membantu Damar, mengangkatnya dan dibawa masuk ke dalam sebuah kamar didalam bar. Cewek-cewek seksi yang menemani Damar memanfaatkan momen itu untuk menguras isi dompet Damar. Semua uang Damar diambil oleh mereka lalu mereka pun pergi.


Keesokan harinya. Matahari terbit menyinari kota. Ini bukan alam, melainkan lingkungan yang penuh dengan polusi udara. Desa adalah tempat terbaik untuk memanjakan diri dan melebur dengan alam semesta. Suara kicau burung dan ayam yang saling berkokok bersahutan.


Miho keluar dari apartemennya, dia sedang berjalan di depan gedung apartemen menuju tempat mobilnya diparkir. Tiba-tiba, ada seseorang yang melemparnya dengan telur busuk! Miho sangat terkejut. Telur busuk itu tepat mengenai bahunya. Bajunya pun jadi bau busuk. Miho berteriak marah!


"Woy! Siapa yang lemparin telur busuk ini!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2