
"Anu nyonya, barusan saya lihat jadi terlambat melerai."
"Buruan telpon ambulance!!!"
"I iya nyonya."
Elma buru-buru berlari kedalam untuk menghubungi ambulance. Sedangkan Arif menghampiri mama Sera yang sedang menunggui Miho yang masih pingsan. Terbesit dalam ide mama Sera, gimana kalau gunakan kaos kaki busuk untuk membangunkan pelakor ini?
"Rif, lepas kaos kaki kamu!"
"Buat apa nyah?"
"Udah deh gak usah banyak bacot, lepasin!"
Arif melepaskan salah satu kaos kakinya yang warnanya kekuningan. Mama Sera sangat jijik melihatnya dan bisa dibayangkan kira-kira baunya sebusuk apa.
"Lekas cium kaos kaki itu!"
Arif menggaruk kepalanya meski tidak terasa gatal. Arif tidak mau, Arif yakin takut muntah karena baunya pasti lebih tidak enak dari bau ******.
"Cium!"
"Ya nyonya."
Arif mana berani membantah majikannya yang galaknya minta ampun itu. Setelah Arif mencium kaos kakinya, aromanya bikin dirinya hampir mengeluarkan isi lambungnya.
"Huek." suara mual Arif.
Mama Sera tersenyum geli melihatnya.
"Siniin kaos kaki kamu!"
"Huek, gila bau banget! Belum dicuci berapa hari nih?! Nyonya Sera mau cium juga!"
"Cuih ogah! Saya mau gunakan kaos kaki busuk kamu itu buat bangunin orang ini, siapa tahu manjur!"
"Tega banget nyonya, apa gak ada cara lain yang lebih sopan?"
"Hei kenapa kamu membela orang ini? Dia itu merusak rumah tangga anak saya."
"Yaudah, ini nyonya kaos kakinya."
__ADS_1
Mama Sera mengambil kaos kaki busuk itu dari tangan Arif kemudian iseng sebentar untuk mencium baunya. Karena tidak tahan, mama Sera malah tidak sengaja melemparkan kaos kaki itu diatas wajah Miho.
"Ini kaos kaki bau terasi busuk! Jorok kamu Arif!"
Arif dan Elma yang selama ini adalah orang-orang suruhan Miho, Arif bergegas mengambil kaos kaki itu. Miho tidak kunjung bangun meski sudah ada aroma busuk itu.
"Nggak bangun nyonya. Itu artinya Miho nggak sedang berpura-pura pingsan nyonya. Butuh penanganan dari medis untuknya."
Mama Sera tampak curiga dan wajahnya penuh tanya. Kenapa Arif tahu nama Miho?
"Darimana kamu tahu nama pelakor ini?"
Arif tampak agak panik setelah mendapatkan pertanyaan itu dari mama Sera. Arif takut penyamarannya menjadi orang suruhan Miho ketahuan. Elma datang berlari, memberi tahu kalau dirinya sudah menelpon ambulance. Sebentar lagi akan tiba ambulance kesini.
Elma melihat suasana tegang diantara Arif dan mama Sera.
"Kenapa kalian?" tanya Elma bingung.
"Suami kamu tahu nama perempuan ini! Apa dia dan Miho sudah saling kenal?"
Elma tampak gugup juga lalu mulai mengarang cerita.
"Kita dulu sempat bekerja selama beberapa bulan sama dia nyonya. Tapi karena gajinya kecil dan dia galak, makannya kami gak betah." jawab Elma berbohong.
"Saya mencium aroma kebohongan yang nyata." tukas mama Sera serius.
"Yang nyonya cium tadi kaos kaki bau saya nyonya, bukan kebohongan?" sahut Arif gemetar.
"Kalian sekongkol sama Miho ya!" kejut mama Sera membuat mereka berdua berjingkut kaget.
"Mana ada nyonya! Buat apa kita sekongkol sama dia!" bantah Elma gemetar.
"Soalnya sejak kalian bekerja disini, banyak kejadian yang tidak mengenakkan menimpa anak saya dan juga saya. Kemarin saya hampir kecelakaan, saya curiga ada orang yang sengaja merusak rem mobil saya." tutur mama Sera dengan tatapan tajam. Menunjuk Arif dan Elma secara bergantian.
"Tapi kalau nyonya gak ada bukti, nyonya gabisa menuduh saya dan istri saya seperti itu!" bela Arif.
"Iya saya tahu. Tapi satu hal yang perlu kalian garis bawahi adalah, jangan pernah macam-macam sama saya, mengerti!"
"Mengerti nyonya." jawab Arif dan Elma kompak. Dan tak berselang lama, ambulance datang membawa Miho ke rumah sakit Miho mengalami benturan kepala yang cukup keras hingga mengakibatkan dirinya pingsan.
***
__ADS_1
Martin sedang merapikan kemejanya sebelum berangkat mencari kerja di Indonesia. Keputusannya untuk kembali menetap di luar negeri ia tunda terlebih dulu. Martin memutuskan akan tetap disini, sampai Yaya bestienya itu kembali semangat seperti sediakala.
"Gua akan tetap disini, menjaga lu dari jauh wahai bidadari hati. Gua tahu, gua salah karena telah mencintai orang yang sudah menjadi pasangan dari laki-laki lain. Tapi gua, tidak akan membiarkan lu terus terpuruk dalam kesedihan lu." ucap Martin didepan cermin lemari. Sesekali Martin menata kembali rambutnya yang masih rada berantakan. Biar kelihatan lebih rapi dikit.
Kemudian Martin mengambil berkas-berkas yang penting di dalam sebuah lemari. Berkas-berkas itu terdiri dari ijazah yang amat sangat diperlukan dalam mencari pekerjaan. Singkat waktu, siang sudah berubah menjadi sore
Martin duduk di tepi jalan, tepatnya di sebuah trotoar. Martin punya mobil, punya motor, tapi hari ini, Martin ingin melepas kangen waktu ia masih kecil dulu, yang suka bepergian dengan berjalan kaki.
Martin sedang ingin bernostalgia. Peluh membasahi tubuhnya. Haus mendera kerongkongannya. Sebotol air mineral langsung habis ia minum dan ia guyurkan di kepalanya. Setelah itu, botolnya tidak dibuang secara sembarangan. Martin peduli dengan kebersihan lingkungan.
"Ga susah sih cari kerja. Ada beberapa lowongan tapi gua belum tertarik. Gelar sarjana lulusan internasional ini membuat gua mudah mendapatkan pekerjaan. Tapi, gaji besar adalah prioritas gua. Dari tadi belum ada yang bikin sreg gajinya. Gua akan mencoba ngelamar kerja di perusahaan lain lah." batin Martin.
Martin kembali berdiri kemudian lanjut melangkah sampai nanti menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dirinya. Akhirnya ia berlabuh di sebuah gedung yang besar. Sebuah kantor yang tampak artistik dan megah. Banyak penjaga di depannya. Itu adalah kantor tempat Damar, suami Yaya bekerja sebagai presdir.
"Kantor ini kantornya suami Yaya. Tapi gua akan mencoba melamar pekerjaan disini." ucap Martin bersemangat. Entah kenapa melihat dari tempatnya saja rasanya Martin ingin mendapatkan pekerjaan disini.
Terasa nyaman pastinya. Dengan bekal pendidikan yang bagus, lulusan universitas luar negeri, Martin optimis bisa menggenggam apa yang ia inginkan.
Martin mulai melangkahkan kaki masuk kedalam kantor. Apakah Martin akan berhasil mendapatkan pekerjaan di kantor yang sama dengan Damar bekerja???
Sementara itu, di rumah sakit, Miho sudah terbangun dari pingsannya. Di sampingnya ada seorang dokter wanita dan mama Sera.
"Syukurlah, akhirnya anda sadar juga." ucap sang dokter.
"Kenapa orang ini dok? Saya belum bertanya sama dokter. Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan tadi?"
"Mari kita bicarakan di ruangan lain bu. Biarkan mba ini beristirahat terlebih dulu."
Mama Sera mengangguk lalu melirik sejenak kearah Miho yang masih terbaring lemas diatas ranjang. Miho melihat sekeliling ruangan.
"Kenapa dia dok? Apa saya sudah melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya?"
"Apakah ibu mendorong atau memukulnya?"
"Saya mendorongnya sampai terjatuh dok."
"Kalau begitu, ibu sudah melakukan hal yang cukup berbahaya kepada nona itu."
"Gimana?"
"Dia sedang mengandung. Usia kandungannya masih sangatlah muda bu. Untung yang kena benturan kepalanya bukan perutnya."
__ADS_1
Mama Sera sangat terkejut mendengar penuturan dari si dokter bahwa Mohon sedang hamil.
Bersambung...