
"Gausah sampai ngelabrak Desi juga ma? Aku gak ingin melihat mama memukuli perempuan. Lagian sekarang sudah malam. Sekarang mama pulang atau mama mau nginep disini?" tawarku.
"Pokoknya apapun yang mama mau itu harus kejadian! Mama ingin ketemu si pelakor itu sekarang juga! Damar pasti tahu dimana rumah dia. Damar, dimana tempat tinggal si pelakor itu?" tanya mamaku lalu ia berbalik badan menghadap mas Damar.
"Waduh kenapa jadi panjang gini urusannya? Aku kan ga tahu dimana rumah Desi." batin Damar bingung.
Damar yang terus terdiam bingung langsung digampar oleh mama Sera.
"Jawab mama!"
"Ampun ma, aku ga tahu dimana rumah Desi. Selama ini kalau kita mesra-mesraan ga pernah di rumahnya."
"Terus kalian selingkuhnya dimana? Di kebon? Di sawah? Atau malah di kuburan!?"
"Sumpah ma, Damar ga tahu dimana Desi tinggal!"
Mama terus mencecar mas Damar dengan berbagai pertanyaan. Lalu daripada makin ribet aku inisiatif bertanya ke Miho saja lewat Whatsapp. Setelah Miho membalas dan memberi tahu, aku langsung pergi ke rumah Desi bersama dengan mama dan mas Damar.
Di dalam mobil, akulah yang menyetir mobil. Aku lihat dari kaca spion mas Damar sama sekali tidak menunjukkan raut wajah cemas. Dia seolah tidak peduli kalau sebentar lagi terjadi hal yang tidak mengenakkan kepada Desi yang notabene adalah selingkuhannya. Apakah rasa cinta mas Damar kepada Desi secepat itu hilang? Tapi, bukankah ini yang aku mau?
Malahan aku yang cemas. Karena aku sedih kalau melihat seorang wanita dipukuli. Tapi yasudahlah, itu udah resiko kalau berani menyakiti perasaanku. Ada sosok mama yang selalu sedia membelaku.
Singkat waktu sampailah kami di rumah Desi. Aku melihat sejenak, rumahnya cukup mewah. Aku dan mama keluar dulu dari dalam mobil. Mama langsung berjalan cepat memencet bel. Dia seperti seorang yang sedang kelaparan dan tidak sabar mau menyantap orang lain dengan amarahnya.
"Desi! Buka! Keluar kamu pelakor gila!" teriak mamaku.
Aku harap-harap cemas. Semoga mama masih bisa menahan emosinya. Tidak menghukum Desi secara berlebihan. Mama mengeluarkan ponselnya, entah mau ia gunakan untuk apa aku tidak tahu. Tapi tak berselang lama Desi keluar membuka pagar.
"Ada apa sih rame-rame?" tanya Desi bingung.
Mama langsung menjambak Desi lalu mendorongnya ke tanah. Mama juga menginjak-injak kaki Desi sampai Desi merintih kesakitan. Aku bergegas memegang kuat mama dibantu oleh mas Damar. Aku tidak ingin mama terbawa ke jalur hukum karena sudah menyakiti orang lain.
__ADS_1
"Udah stop ma. Aku tahu mama mantan preman pasar, tapi ga gini juga ma! Mama bisa masuk penjara!" jelasku mewanti-wanti.
"Pelakor seperti dia harus dikasih pelajaran yang nikmat seperti ini Yaya! Biar dia kapok dan jera. Terus berhenti ganggu rumah tangga kamu nak!" urai mama marah.
Mama menghempas tanganku dan mas Damar. Kemudian mama mengaktifkan fitur merekam video. Mama merekam Desi, ternyata mama mau memviralkan Desi.
"Biar tahu rasa kamu pelakor! Sekali-kali kamu harus viral biar kamu jera! Jadi pelakor itu keterlaluan banget! Merusak rumah tangga orang lain tuh akibatnya fatal! Kenapa kamu ga mikir sampai kesitu Desilakor!" pekik mamaku terus memojokkan Desi.
Desi hanya bisa menangis. Wajahnya tampak tertekan. Desi hanya bisa pasrah.
"Tapi saya bukan pelakor lagi bu! Saya udah berubah, saya sekarang cuma mau fokus kerja aja. Ibu tahu kan kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan?" lirih Desi sembari menutupi wajahnya.
Mama semakin geram, lantas menampar wajah Desi.
"Lihat ges! Si pelakor sinting ini malah ngedrama. Dasar pelakor drama queen! Udah terbukti salah masih aja ga mau ngaku! Emang dasar, pengin aku bejek-bejek muka songong kamu ya, dasar pelakor edan!"
Mama mau menendang Desi tapi aku dan mas Damar buru-buru menarik mama kuat, ke dalam mobil.
Desi berlari ke dalam rumah lalu mengunci pagar. Sementara aku mulai menyetir mobil, malam ini benar-benar kacau. Aku jadi stress banget. Apalagi aku sedang hamil seperti ini. Sampai kembali di rumah, aku langsung membuatkan segelas teh hangat untuk mama. Semoga emosi mama mereda setelah minum teh.
Mas Damar masuk kedalam kamar, membiarkan aku dan mama berdua di ruangan santai. Aku melihat mamaku meminum teh itu dengan perlahan. Syukurlah, sepertinya kemarahan mama mulai mereda. Mama memegang tanganku, dia memberi aku wejangan.
"Kamu jadi istri jangan terlalu cengeng, jangan terlalu lemah. Kalau kamu bersikap seperti itu, nanti yang ada kamu akan mudah ditindas oleh orang-orang jahat di sekitarmu. Kamu harus mencontoh mamamu ini nak?"
Mama memberikan aku wejangan seraya menatapku sedih. Kita berdua sama-sama terhanyut dalam lara. Tapi aku ga ingin terus-terusan menangis. Aku tersenyum lalu berusaha akan bangkit lagi.
***
Di apartemennya, Miho sedang mandi busa sambil menikmati segelas teh lemon yang hangat. Miho begitu senang dan merasa aman setelah berhasil mengkambinghitamkan orang lain buat menyelamatkan kedok perselingkuhannya dengan Damar. Miho terus menerus tersenyum puas! Miho merasa menang, merasa aman, juga merasa bahagia.
Miho tidak akan melepaskan begitu saja laki-laki sumber uang yang berstatus sebagai suami orang itu. Miho tidak akan membiarkan semua orang tahu kalau dirinya itu berstatus sebagai wanita simpanan orang. Bisa hancur reputasinya.
__ADS_1
"Setelah ini aku yakin, istri sahnya mas Damar pasti gak akan curiga lagi kalau suaminya punya selingkuhan. Yuhuu, aku aman! Buat Desi, i'm sorry friend. Aku terpaksa tumbalin kamu demi kebahagiaanku. Tenang aja Desi, besok aku akan kasih kamu hadiah yang spesial." ujar Miho berjanji.
Keesokan harinya, dengan penampilan yang super elegan, Miho mencari-cari Desi di kantor. Miho bingung Desi gak kelihatan apa hari ini dia tidak masuk kerja? Bukannya Desi, Miho malah menjumpai Yaya sedang ada di kantor pagi-pagi sekali. Pasti Yaya sedang mengamati gerak-gerik suaminya pikir Miho.
"Hai Miho?" sapaku.
Aku bergegas menghampiri Miho yang sedang berdiri menatap kehadiranku.
"Bu Yaya pagi-pagi sekali sudah ada di kantor? Apa ibu mencari Desi? Hari ini dia belum masuk kerja bu."
"Buat apa saya mencari pelakor ga tahu diri itu, saya cari kamu lah. Seorang wanita yang cerdas dan terhormat. Kamu belum masuk jam kerja kan? Aku ingin curhat sama kamu bentar aja?"
"Bu Yaya mau curhat sama aku? Gimana kalau kita ngobrol di kantin aja sekalian kita sarapan bareng?"
"Boleh, ide yang bagus."
Aku merangkul hangat Miho. Tidak bosan aku bilang aku merasa beruntung punya teman sebaik Miho. Di dalam tas yang aku bawa, aku sudah menyiapkan hadiah yang istimewa untuk Miho.
Kami pun duduk di kursi kantin. Kita sama-sama pesan menu sarapan yang sama. Nasi goreng kecap pedas manis.
"Bu Yaya, ini juga salah aku soal perselingkuhan pak Damar dan Desi,"
"Kenapa kamu yang salah Miho?"
"Karena aku ga becus jaga teman aku, sehingga aku lengah dan ga tahu kalau Desi diam-diam selingkuh sama suami kamu. Kalau aku tahu, pasti aku mati-matian memperingatkan dia bu!"
Miho benar-benar luar biasa dan membuatku merasa kagum. Tapi, sepertinya ada yang aneh dengan gerak-gerik seorang Office Girl yang sedang mengepel lantai di kantin kantor ini. Aku melihat tingkah office girl itu, dia seperti tidak senang melihat Miho yang barusan berbicara seperti itu.
MEMANGNYA KENAPA YA?
Bersambung...
__ADS_1