Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Istri Sah vs Pelakor


__ADS_3

"Apalagi sih mas?"


"Kamu tidur diluar malam ini!" kata mas Damar lalu dia masuk kedalam dan kemudian mengunci pintu. Aku tidak tinggal diam saja, aku menggedor-gedor pintu hingga menimbulkan suara yang gaduh. Tapi tetap saja mas Damar tidak mau membuka pintunya. Hingga aku capek sendiri dan sandaran dibalik pintu itu.


"Mas Damar buka mas, dingin." ucapku sedih. Air mata kembali menetes. Pak satpam penjaga tampak iba melihatku diperlakukan seperti ini. Dia bergerak menghampiri aku lalu membantu aku berdiri.


"Nyonya tidur di ruang jaga saya saja, biar saya tidur diluar. Kasihan nyonya dan calon bayi nyonya."


Kenapa yang baik adalah laki-laki lain. Karena ini demi kesehatanku dan juga bayi aku, maka aku menerima bantuan dari pak satpam penjaga. Aku dibawa kedalam ruangannya yang sempit dan juga berantakan.


"Untuk sekarang sampai besok disini dulu."


"Maaf pak, gara-gara saya, kamu jadi tidur diluar."


"Udah biasa kok saya tidur diluar. Tidak apa-apa nyonya. Yang penting sekarang adalah kesehatanmu dan calon anakmu."


"Sekali lagi terimakasih banyak ya pak satpam? Jangan lupa bawa bantal dan sarung."


"Sama-sama nyonya."


Kemudian aku menutup pintu ruangan kecil ini, membiarkan pak satpam tidur diluar sendirian.


Sebenarnya aku bisa pulang ke rumah mama. Disana jauh lebih nyaman. Tapi sekarang udah malam dan aku juga udah letih banget. Diruangan ini hanya ada cahaya lampu temaram dan juga beberapa kursi dan meja, juga radio kecil yang selalu menemani hari-hari pak satpam.


Aku rebahan diatas kasur lantai yang tidak terlalu lebar ukurannya. Aku rebahan sembari berpikir untuk segera mengajukan gugatan cerai dan pergi selamanya dari kehidupan laki-laki brengsek itu.


"Apakah ibu akan bertahan selamanya dengan ayah kamu, atau pergi dari kehidupannya. Dapatkah kamu rela jika suatu saat nanti, kita hidup tanpa mengenal ayah kamu yang jahat itu nak?" tukasku berbicara sembari memegang perutku.


Tak terasa aku memejamkan mataku dan kemudian membukanya lagi di pagi hari. Aku bangun kesiangan, padahal aku harus segera kembali ke butik.


Aku buru-buru keluar dari dalam ruangan pak satpam. Hingga pukul delapan pagi, pintu rumah belum terbuka untuk aku. Betapa teganya mas Damar kepadaku. Padahal aku ingin mandi, gosok gigi, dan lain sebagainya.


"Mas Damar buka pintunya mas?" panggilku dengan nada tinggi.


Terlihat Elma keluar membuka pintu tapi dia tidak mempersilahkan aku untuk masuk.


"Aku mau masuk kedalam dan jangan halangin aku. Gara-gara tuduhan kamu kemarin, mas Damar berubah jadi tega sama aku!"


"Maaf nyonya sekali lagi, maaf. Tapi saya gak diizinkan untuk mempersilahkanmu masuk kedalam."

__ADS_1


Aku melihat-lihat kedalam, ada mas Damar yang sedang duduk dengan angkuh diatas sofa ruang tamu.


"Oke! Kalian pikir aku ini gembel yang tidak punya rumah! Aku ga akan kembali ke neraka seperti ini, bye!" lantangku. Elma wajahnya seperti kaget melihatku yang berani melawan. Entah bagaimana mas Damar, tapi aku langsung beranjak pergi dari tempat ini.


Aku pergi ke pinggir jalan menunggu angkutan yang lewat. Ada sebuah angkot lewat, pagi ini aku pulang ke rumah mama naik angkot aja deh.


"Dasar istri gak tau diri." ucap Damar yang didengar oleh Elma.


Elma tertawa licik melihat pasangan suami istri itu berantem. Sementara itu, ponsel Damar tiba-tiba ada panggilan video yang masuk. Itu adalah dari Viona anaknya.


"Ada apa Viona?"


"Papa kok jutek sih, gimana kabar papa?"


"Kamu sekolah yang bener sana, gausah tanya-tanya kabar papa, papa sibuk."


Langsung saja Damar menutup panggilan video itu. Karena papanya bersikap seperti itu, sontak saja Viona jadi sedih di asramanya.


Viona menangis sesenggukan. Beberapa teman satu kamar menghampiri Vio, menenangkan Vio yang sedang sedih.


***


Hari ini ada lima orang yang membeli pakaian di butik mama. Pemasukan cukup lumayan, belum lagi pesanan puluhan gaun pengantin itu. Nanti aku mau beli buah-buahan segar di mall untuk mama.


Pukul tiga sore, aku berangkat ke sebuah mall dengan menaiki taksi. Kemana-mana sekarang aku pakai taksi. Mas Damar sudah berubah menjadi sosok yang semakin tega kepada istrinya.


Sepanjang perjalanan aku melihat sekeliling, suasana pinggir jalan. Aku berusaha untuk tetap tersenyum. Aku melihat orang-orang yang sedang beraktifitas disana, sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Tapi perhatianku teralihkan dengan melihat seseorang yang menciptakan badai kehancuran dalam rumah tanggaku. Ya, dia adalah Miho. Miho sedang berdiri anggun didepan mall sembari menenteng sebuah tas mahal.


"Turun disini aja ya pak. Ini bayaran taksinya."


"Baik mba, makasih."


"Sama-sama."


Aku keluar dari dalam taksi. Melangkah menghampiri wanita ular itu. Melihat kedatanganku, Miho terus menatapku dengan tatapan sinis.


"Sepertinya takdir mempertemukan kita disini wahai perempuan perebut suami orang!" marahku kemudian menampar wajah Miho dua kali.

__ADS_1


Miho terlihat kaget ketika aku menampar wajahnya dua kali dengan penuh keberanian.


Sejenak kemudian Miho membuang mukanya, tidak sudi menatapku lagi. Tapi aku berhenti sejenak didepan wanita ular ini.


"Eh ada mba perebut suami orang, mau beli apa?"


"Gausah sok akrab ya, aku ga sudi bertegur sapa sama orang munafik seperti kamu."


"Ga sudi bertegur sapa sama orang sepertiku? Memangnya aku punya kesalahan apa? Apa aku ini orang yang dihujat masyarakat?"


"Kamu mau apa? Mau mempermalukan aku disini?"


"Oh tentu tidak. Aku cuma mau membeli buah didalam, untuk mama aku."


"Oh. Oh iya, aku lupa kasih tahu kamu soal ini."


Miho mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya, lalu dia melemparkan undangan itu ke wajahku. Tidak sopan! Lalu aku mengambil undangan yang jatuh diatas lantai itu. Aku membuka isinya, sudah ada foto prewedding Miho dan mas Damar. Aku hanya tersenyum melihat foto ini.


"Kenapa kamu senyum-senyum? Udah ga waras kamu ya, stress kamu gara-gara merasa kalah saing sama aku?"


"Ngapain aku saingan sama pelakor busuk seperti kamu! Selingkuh sama suami orang sampai hamil diluar nikah. Udah jelas, level kita berbeda. Aku ogah bersaing sama barang kualitas rendahan." ucapku pelan tapi pasti menusuk dan menghujam dadanya.


Miho juga tersenyum kearahku.


"Kata-kata kamu emang nusuk ya, Yaya! Tapi aku ga akan down gara-gara perkataan kamu itu. Ah, mendingan aku pulang ke apartemen, terus istirahat. Karena hari H aku dengan mas Damar tersayang, harus tampil prima dan perfect." ucap Miho dengan gaya sinis kemudian melangkah beberapa langkah pergi dari aku. Tapi dia kembali berhenti.


"Eits, jangan lupa dateng ya! Jadi saksi momen bahagia aku bersama mas Damar tersayang." lanjutnya sembari mencolek pipiku.


Aku menepis jari wanita sialan ini kemudian aku mencengkram lengannya.


"Apa-apaan sih! Sakit tahu! Buah emang ga pernah jatuh jauh dari pohonnya. Sama-sama barbar seperti mama kamu yang sekarang kena karma itu!"


"Diam kamu! Jangan bawa-bawa mama aku. Yang pasti, sekasar apapun mamaku, aku tetap bangga punya mama yang mencintai anaknya. Terus mendidik anaknya. Hingga aku jadi seorang anak yang terdidik, dan tentu saja gak mau merusak rumah tangga orang lain."


Miho melototi aku, lalu dia mencengkram lenganku juga.


"Kamu udah salah cari lawan, kamu akan menyesal Yaya!" bisik Miho didepan wajahku. Entah mengapa aku merasa seperti melihat aura setan wanita yang mengerikan 5 cm didepanku ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2