Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Orang-Orang Kantor Menekan Miho Si Pelakor


__ADS_3

Aku memutuskan untuk membiarkan bi Surti mendekam dibalik jeruji besi saja. Biar gimanapun bi Surti sudah berbuat salah, dan alangkah lebih baik kalau dia mendapatkan hukuman biar jera dan tidak mengulangi lagi kesalahannya. Aku sendiri tidak tahu apakah keputusanku ini adalah yang tepat atau tidak, tapi yang aku inginkan sekarang adalah itu.


"Jangan nyonya, nanti kalau saya di penjara, siapa yang akan membiayai hidup cucu-cucu saya? Mereka masih pada sekolah nyonya, mereka harus fokus sekolah, bukan mencari uang. Nanti sekolah mereka bisa terganggu." isak pilu bi Surti sembari terus memegang tanganku.


"Tenang aja, aku yang akan biayain hidup mereka. Karena biar gimanapun, bibi udah kerja disini selama puluhan tahun lamanya. Sekarang, bibi harus mempertanggungjawabkan perbuatan bibi dulu di penjara. Mencuri adalah perbuatan yang tercela. Mas Damar, segera panggil polisi?"


Aku melangkah pergi meninggalkan bi Surti. Bi Surti akan mengejarku tapi dia berhenti, karena keputusanku sudah bulat. Jadi dia pasrah. Aku agak kasihan sih melihatnya tapi aku merasa hal ini yang harus kulakukan. Aku berjanji, aku yang akan membiayai hidup kedua cucunya sampai mereka dewasa dan punya penghasilan sendiri nanti.


Singkat waktu hari terus berlalu. Hari-hari berlalu dengan membosankan selama aku diam. Walau aku sudah mengetahui perselingkuhan suamiku dengan sekretarisnya, tapi aku ingin mendapatkan hati suamiku kembali sepenuhnya untuk aku.


Kira-kira sekarang si pelakor itu lagi ngapain ya? Kenapa dia sudah tidak online Whatsapp selama beberapa hari?


***


Di kantor, Miho sedang melangkah anggun bak model di tengah-tengah kerumunan karyawati kantor yang sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Mereka membicarakan sesuatu itu seraya melirik sinis kearah Miho. Miho jadi bahan tatapan sinis orang-orang pagi ini.


"Ada apa dengan mereka?" batin Miho bertanya. Miho menoleh ke samping kanan dan kiri dengan perasaan bingung.


"Dia ya orang yang dimaksud di story barusan? Denger-denger katanya dia itu pelakor juga loh. Lagi anget nih gosipnya?"


"Eh masa sih? Orang kelihatannya dia kaya orang baik gitu kok?"


"Gak nyangka ya dari luar kelihatan elegan dan sempurna, tapi aslinya, iblis betina yang merusak rumah tangga orang!"


Miho yang mendengar obrolan mereka membuka mulutnya terkejut. Mereka tahu kalau dirinya adalah pelakor? Miho bergegas berjalan cepat menuju lift. Saat Miho sedang berdiri didalam lift, Miho melihat keluar, orang-orang itu, semua menatapnya dengan buas.


Miho sampai di lantai atas tempat ruangannya berada. Miho membuka pintu ruangannya lalu menutupnya kembali. Miho membanting tasnya ke meja. Miho menggebrak meja, kedua matanya melotot, tatapan yang menyeramkan ia keluarkan. Benar-benar aura antagonis! Anak kecil yang melihatnya pasti akan ketakutan.

__ADS_1


"Sialan! Siapa yang udah bocorin ke publik kalau aku adalah selingkuhan mas Damar? Selama ini yang tahu hal itu cuma si istri sah sialan itu! Pasti dia pelakunya! Awas aja kamu Yaya! Aku akan bikin perhitungan sama kamu! Oh tidaak, nama baik aku!"


Miho bergegas mengambil ponselnya dalam tas, kemudian Miho menginstal kembali aplikasi Whatsapp. Miho terlihat tidak sabar ingin melihat apa yang sedang terjadi didalamnya. Apa mereka menyerang Miho juga lewat sosial media? Setahu Miho, si Yaya juga punya nomor kontak teman-teman kantornya. Jadi wajar saja kalau gosip ini langsung tersebar dengan cepat. Teman-teman kantor bisa melihat story Yaya.


Saat dicek, ternyata story terbaru Yaya itu hanya memposting bunga-bunga indah di tamannya. Tidak mungkin mereka semua tahu perselingkuhan dari story macam ini tapi saat Miho melihat story Desi. Desi ternyata mengunggah foto Damar dan Miho yang sedang duduk berpangkuan didalam ruangan kerja Damar.


"Ini dia villain yang sesungguhnya guys! Lihat saja kelakuan mereka berdua di belakang kalian! Pangku-pangkuan mesra gitu! Sekarang kalian tahu kan siapa pelakor yang sebenarnya!" ketik Desi dalam captionnya.


"Sialan! Darimana Desi bisa dapetin foto itu!" batin Miho kesal.


"Sekarang, semua orang yakin kalau aku itu adalah orang ketiga? Aku harus gimana ini?" pusing Miho didalam batinnya. Miho memejamkan mata, hatinya sangat emosi, cemas, dan pusing.


Pasti kedepan, dirinya akan jadi bahan cemoohan orang-orang di kantor. Semua teman perempuan akan menggunjingnya. Waktu makan siang tiba. Rasanya Miho malas keluar untuk makan di kantin. Tapi perutnya udah keroncongan banget. Kalau pesan makanan pun dirinya harus turun untuk mengambil makanan itu. Tak ada cara lain selain meminta bantuan pujaan hatinya.


"Halo sayang. Suruh orang buat antarin makan siang kesini dong?"


"Percuma mas! Semua orang udah tahu perselingkuhan kita dan itu gara-gara si Desi brengsek! Dia posting foto mesra kita berdua mas!"


Wajah Damar berubah menjadi panik saat tahu kabar itu. Pantesan barusan beberapa perempuan yang bekerja di kantor tampak ilfil melihatnya. Ternyata karena itu alasannya.


"Semua akan aman kalau belum ada bukti yang jelas! Kamu bisa jadikan foto itu adalah editan sebagai tameng sayang!"


"Iya sih mas. Yaudah deh aku keluar aja. Udah keroncongan banget nih perutku bawel banget."


Miho menatap kearah pintu, terlihat ragu apakah akan lanjut atau tidak. Daripada menderita karena lapar lebih baik keluar saja. Miho keluar dari dalam lift. Tetap saja dirinya masih ragu. Miho merasa belum siap mental mendengar gunjingan dari teman-teman satu kantornya.


Miho berjalan ditengah lobi, disaksikan oleh beberapa karyawati yang sedang duduk-duduk.

__ADS_1


"Eh itu si pelakor lewat tuh." bisik salah satu dari mereka.


Miho mengepalkan tangan kesal. Tidak seperti hari biasa dimana mereka selalu bersikap menyenangkan kepada dirinya. Miho sampai di kantin.


Orang-orang yang sedang duduk makan siang di dalam kantin mereka semua memperhatikan Miho dengan tatapan kesal. Miho merasa risih jadi bahan tontonan mereka, tapi Miho berusaha untuk cuek.


Saat Miho mau duduk di suatu meja yang ada seorang karyawan wanita, eh karyawan itu malah pindah tempat duduk ke meja lain. Semua orang ogah dekat dengan Miho lagi.


"Ih nyebelin banget sih!" kesal Miho, berbicara di dalam hatinya.


Biasanya pelayan di kantin juga datang mendekat jika dia sudah masuk kantin, bertanya mau pesan apa? Tapi kali ini, Miho malah tidak diperlakukan seperti itu lagi. Jadi Miho terpaksa memesan sendiri dengan langsung mendatangi si pelayan kantin.


"Mba, saya pesan nasi sama ayam goreng ya?"


"Maaf, ayam gorengnya udah habis."


"Lah itu apa dipiring?"


Miho melihat kearah piring dimana masih banyak menu ayam goreng yang tersisa.


"Ini buat makan siang saya dan karyawan lain."


"Kok pilih kasih gitu mba? Harusnya penjual itu lebih mengutamakan pembelinya dong! Karena dimana-mana pembeli adalah raja!"


"Tapi saya tidak sudi mengutamakan pembeli yang suka merusak rumah tangga orang seperti anda, hehe."


Miho bertambah cemberut karena diperlakukan seperti itu oleh si penjual di kantin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2