Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Mengutarakan Perasaan Kembali


__ADS_3

Yaya melihat Miho yang sedang duduk kesakitan dibawah pohon di tengah guyuran hujan. Yaya lekas datang kesitu sembari memakai payung. Yaya sedikit memayungi Miho yang kehujanan.


"Kamu sedang apa disini, Miho?"


Melihat Yaya datang, Miho perlahan bangkit dan kakinya yang terkena dahan pohon tumbang terasa agak nyeri.


"Kamu buta ya! Lihat dahan pohon itu! Jatuh menimpa kaki aku! Kamu pasti tadi doa yang tidak-tidak kan sehingga aku jadi apes seperti ini?!"


"Apaan sih? Aku juga kena apes barusan, aku dirampok sama dua preman."


"Oh kalau itu sih derita kamu Yaya!"


"Kalau kamu apes ketimpa dahan pohon ya jangan berdiri dibawah pohon apalagi disaat sedang hujan seperti ini. Lagian, ngapain kamu hujan-hujanan segala? Cari penyakit?"


Miho mau menampar Yaya lagi karena kesal tapi Yaya dengan cepat bergegas memegang tangan Miho yang mau digunakan buat menampar wajahnya kembali. Kedua perempuan itu selalu berseteru dan mereka berdua sama-sama tengah mengandung anak Damar.


"Lepasin tangan kamu wanita munafik!"


"Kamu tuh wanita munafik! Pura-pura baik didepan aku tapi diam-diam kamu ambil suamiku? Sebagai istri yang baik apa kamu sudah kamu rutin pergi ke penjara buat bawain makanan kesukaan mas Damar disaat jam besuk narapidana?"


"Bukan urusan kamu!"


Miho menginjak kaki Yaya kemudian Miho berjalan menjauhi Yaya. Yaya terus menatap Miho yang sedang melangkah pergi menjauhinya dibawah lindungan payung yang ia pegang sehingga air hujan tidak membasahi tubuhnya. Yaya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku perempuan itu. Dulu Yaya menilai Miho wanita yang sempurna tapi ternyata itu semua adalah salah besar setelah Yaya tahu siapa Miho yang sesungguhnya.


***


Singkat waktu sampailah hari dimana Yaya akan melahirkan anak keduanya. Kondisi mama Sera sudah semakin membaik dan terapi terus dilakukan. Proses Yaya lahiran ditemani oleh Anjar sahabat terbaiknya.


"Oeeeeeee oeeeeeeee oeeeeeeee."


Suara tangisan bayi keluar memecahkan ketegangan yang barusan terjadi. Akhirnya anak kedua Yaya telah lahir dan dia adalah bayi laki-laki yang sangat tampan. Yaya bernafas lega setelah berhasil melahirkan anak keduanya. Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya.


Betapa besarnya perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya apalagi jika sang ibu adalah sosok istri yang terluka karena ulah suaminya yang kejam, tega mengkhianatinya, maka dari itu betapa mulianya sosok seorang ibu. Bagai sang matahari yang menyinari dunia, begitulah kiasan untuk kasih tulus seorang ibu.

__ADS_1


Anjar datang berdiri di samping ranjang tempat Yaya berbaring sembari membopong bayi Yaya.


"Yaya, anak kamu tampan sekali. Kamu beri nama dia siapa Yaya?"


Yaya masih sangat lemas namun Yaya ingin sekali membopong anak keduanya. Dia memang tampan dan mirip sekali dengan ayahnya. Ayahnya yang kini mendekam di penjara.


"Aku beri nama dia Bakti Putra Setya, dengan harapan anak keduaku akan selalu berbakti kepada orang tuanya, setia kepada pasangannya, jadilah anak yang pintar, baik, dan sukses di kemudian hari ya nak?" harap Yaya sembari mengecup dahi bayinya.


Yaya membopong bayinya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Anjar selalu tersenyum melihat Yaya yang kini bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang si laki-laki jahat Damar.


***


Malam harinya, seorang laki-laki gagah tengah melangkah di koridor rumah sakit sembari membawa keranjang buah dan juga sebuah amplop berisi uang 10 juta. Tepat pukul 8 malam laki-laki tampan itu kemudian masuk kedalam kamar tempat Yaya berada.


"Selamat malam telor asin?" sapa laki-laki yang sudah tidak asing lagi kemudian kembali menutup pintu.


"Malam juga, eh kamu? Kamu jenguk aku Tin? Kirain kamu sudah melupakan aku setelah berbulan-bulan tidak mengabariku? Kamu udah sukses ya sekarang?" jawab Yaya kemudian perlahan duduk diatas ranjang.


Martin melihat bayi mungil yang sedang tidur nyenyak di samping Yaya.


"Iya terimakasih banyak? Sekarang penampilan kamu semakin mahal. Kamu sekarang udah sukses ya?"


Martin mengangguk kemudian meletakkan keranjang buah itu diatas meja kecil di samping ranjang.


"Alhamdulillah, sekarang aku adalah CEO di perusahaan tempat mantan suamimu dulu menjabat sebagai seorang CEO juga. 4 bulan berlalu dan pemilik anak perusahaan menujuk diriku sebagai CEO yang menggantikan posisi Damar karena progres kerjaan aku yang begitu baik."


"Alhamdulillah, aku ikut senang melihatmu kini menjadi orang sukses. Kamu telah mendapatkan cita-cita yang kamu impikan, Tin."


Martin mengingat belasan tahun lalu ketika Yaya dan Martin sedang mengerjakan PR berdua di rumah Yaya. Ditemani setoples keripik pisang mereka mengobrol berdua ditengah usaha dalam mengerjakan PR.


"Cita-cita kamu apa Tin kalau boleh tahu?"


"Hm apa ya,"

__ADS_1


"Bakat kamu kan usil Tin, cita-cita kamu pasti mau jadi wartawan gosip yang suka usil sama kehidupan orang lain kan? Hehehe."


"Sok tahu deh! Cita-cita aku sangat keren. Aku ingin jadi CEO di sebuah perusahaan besar. CEO yang menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. CEO yang tampan dan kuat, lihat aura wajahku? Jika aku sudah dewasa nanti aku sangat cocok kan jadi seorang CEO tampan terkenal? Wajah tampan begini emang yang paling cocok deh!"


Yaya tertawa terbahak-bahak mendengar cita-cita yang diutarakan oleh Martin. Mereka berdua adalah sahabat yang sangat kompak pada masanya.


"Ngakak ah! Ngakak banget! Mana ada CEO tampan terkenal tapi usil dan hobi ngupil? Hahaha. Lagian jadi orang lu pede amat sih!"


"Dih, rese lu!" balas Martin kemudian mengacak-acak rambut Yaya.


"Selalu saja rambut gue yang jadi korban!"


Flashback selesai


"Sekarang aku berhasil mendapatkan apa yang aku impikan." ucap Martin bahagia.


"Tapi sebenarnya itu baru setengah saja, yang setengah lagi aku belum mendapatkan itu." lanjut Martin berkata membuat Yaya rada kebingungan.


"Setengah-setengah maksudnya gimana sih?" tanya Yaya tidak mengerti.


Martin duduk diatas kursi kemudian Martin mulai menjabarkan apa maksud dari perkataannya. Disisi lain Anjar sedang menyimak obrolan mereka dari balik pintu.


"Yang setengah adalah cita-cita pertamaku. Cita-cita pertamaku adalah menjadi CEO terkenal seperti waktu itu dulu aku bilang dan sekarang aku telah mendapatkannya. Yang kedua adalah..."


Martin menghentikan perkataannya sejenak sembari menatap dalam-dalam kepada Yaya. Yaya menunggu lanjutan perkataan dari Martin dan Yaya menatap Martin secara dalam juga,


"Yang kedua adalah apa Tin? Kok kamu diam?"


"Memilikimu sebagai istriku."


Martin memberanikan diri mengucapkan itu. Namun Yaya menggeleng sembari tersenyum.


"Mana mungkin CEO tampan dan bujangan seperti kamu memilih menikahi janda beranak dua sepertiku? Setelah pernikahanku dengan mas Damar yang gagal total, aku memutuskan untuk hidup tanpa suami selamanya. Fokus mengurus anak-anak aku dan bekerja sendiri dengan nyaman dan bahagia. Tidak ada pintu lagi untuk laki-laki lain. Aku masih trauma, Tin. Kamu selamanya akan menjadi sahabat aku tidak lebih. Masih banyak perempuan yang lebih baik untuk kamu diluaran sana." ucap Yaya membuat Martin berputus asa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2