Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Kompor Meledak


__ADS_3

Aku menemani mama hingga malam tiba. Dia masih belum saja bangun. Aku sangat sedih melihat wanita yang sudah merawatku kini tengah terbaring tidak berdaya. Kali ini giliran aku yang akan merawatnya. Jasa seorang ibu terhadap anaknya, tidak akan terbalaskan oleh suatu hal baik sebesar apapun itu.


"I love you mama," ucapku, lalu aku mengecup pipi mamaku.


Mas Damar sudah pulang ke rumah. Dia harus beristirahat karena besok sudah kembali bekerja. Aku disini menjaga ibu sendirian, hanya ibu, satu-satunya keluarga yang masih aku punya.


Untuk melepas rasa sepi dan sedihku, seperti biasa aku mau video call dengan Viona. Beberapa bulan lagi dia akan kembali ke Indonesia, di masa liburan panjangnya.


"Hai sayang, kamu lagi apa disana?"


"Viona habis les ma. Mama apa kabar disana?"


"Mama baik nak. Kamu disana, doain terus mama, papa, dan juga oma kamu yang sedang sakit."


"Apa, oma sakit? Semalam Vio video call sama oma ga kaya orang lagi sakit ma?"


"Mama juga bingung. Terkadang ada suatu penyakit yang gejalanya muncul secara tiba-tiba."


"Tapi kemarin Vio lihat ada sosok seram di kamar oma, ma."


"Sosok seram?"


"Iya ma. Kaya yang di film horor gitu lewat di belakang jendela kamar oma."


"Mungkin itu pak satpam kali sayang. Yaudah, kamu doain terus ya oma kamu? Bentar lagi kamu punya adik loh, kamu pasti seneng kan sayang?"


"Seneng dong ma. Gasabar meluk dede bayi nanti."


Aku sedikit terhibur ketika ngobrol bersama anakku ini. Viona dan calon adiknya akan menjadi harta yang paling berharga dalam hidup aku. Aku akan jauh lebih menyayangi mereka daripada mas Damar si tukang bohong itu.


*


*


*


Sementara itu, Martin sedang tidak sabar menunggu surat lamarannya diterima oleh kantor yang ia sambangi kemarin. Kantor dimana Damar adalah direktur di tempat tersebut. Martin sedang mengaduk kopi susu di dalam cangkir kecil, sebentar lagi akan ia seduh sembari menonton pertandingan bola club favoritnya.


Martin yang awalnya ingin bekerja di Amerika saja kini sudah mantap untuk memutuskan bekerja di Indonesia saja, namun seandainya lamaran kerja kemarin tidak diterima dan ia tidak dipanggil oleh perusahaan, maka Martin berencana akan membangun bisnis dari kecil dulu.


Martin duduk diatas sofa putih depan televisi. dimana orangtuanya? Ayah dan ibunya tinggal di kota lain. Hampir setiap hari Martin selalu berkabar lewat telepon dengan mereka. Sampai sekarang Martin masih ingin bertahan dengan status single.

__ADS_1


Martin belum menemukan perempuan yang cocok untuk mengisi hatinya. Dari dulu hanya Yaya, perempuan yang ingin ia jadikan sebagai istri. Sampai saat ini kebodohan akan rasa penyesalan masih sering Martin rasakan.


Sementara itu disisi lain, Damar sedang mandi di dalam kamar mandi. Kesegaran air membasahi tubuh kekarnya. Usai mandi Damar mengambil sebuah handuk, setelah selesai mandi, Damar pergi ke ruang santai. Damar tersenyum lega karena mama mertuanya yang bawel kena penyakit yang membuatnya menjadi lumpuh dan bisu.


"Setidaknya dengan orang galak itu kena stroke, aku tidak akan mendengarkan suara berisiknya lagi memarahiku!" ucap Damar pelan.


Damar tersenyum puas, merasa keberuntungan berpihak kepadanya dan nasib sial menimpa mama mertuanya. Elma datang membawakan segelas kopi panas. Elma menyajikan kopi itu diatas meja depan tuan mudanya.


"Ini tuan, saya bikinin kopi untuk tuan."


"Ah, saya gak sudi minum kopi buatan kamu. Pasti kalau ga kemanisan, pahit!"


"Pedes banget sih mulut tuan Damar. Kalau bukan karena uang, saya ogah pura-pura ngebabu disini." batin Elma seraya menatap sinis Damar.


"Ya maaf tuan, coba dulu baru menilai."


Damar pun mau mencicipi kopi buatan Elma. Damar berkata kalau sampai rasa kopinya tidak ia sukai, maka Elma jangan sekali-sekali berani membuatkannya kopi lagi. Damar pun menyeruput kopi itu, ternyata rasanya sudah lebih enak hingga Damar menghabiskan beberapa teguk. Lalu Damar menaruhnya kembali diatas meja.


"Oke, ini better. Kerja kamu lumayan."


"Makasih tuan." balas Elma sembari senyum-senyum genit.


"Oke, saatnya memanas-manasi tuan Damar!" batin Elma lagi.


Damar langsung melempar bantal kecil diatas sofa ke tubuh Elma. Damar marah karena Elma berani mempertanyakan sesuatu yang menyinggung ranah pribadinya.


"Jangan ikut campur urusan saya! Sana kembali ke dapur! Kandang kamu tuh ada disana!"


"Ampun tuan bukan begitu maksud saya. Gimana jadinya kalau nyonya Yaya ternyata berselingkuh juga dengan laki-laki lain?"


Damar terdiam sejenak ketika Elma bertanya hal demikian.


"Maksudnya?"


"Nggak tuan, gimana kalau nyonya Yaya selingkuh juga. Sebenarnya saya gak bermaksud mau memfitnah tapi saya pernah memergoki nyonya Yaya berdua di cafe dengan laki-laki lain yang sepertinya bukan keluarga nyonya Yaya."


"Jelas saya akan menganggapnya perempuan munafik, sama seperti dia mengganggapku laki-laki bajingan yang bisanya hanya selingkuh dan menyakiti hatinya saja!"


"Wow, jawaban tuan Damar terdengar panas. Semoga huru-huru yang akan aku buat dengan mas Arif nanti, bisa bertambah panas dan membakar seluruh keluarga ini, hahahaha." batin Elma riang.


"Oh gitu. Yaudah tuan, saya mau balik ke dapur."

__ADS_1


"Tunggu!"


"Ya tuan?"


"Gimana ciri-ciri orang yang berdua sama Yaya di cafe? Coba jabarkan dengan detail?"


"Gimana ya ciri-ciri orang itu, aku pernah melihat sekali waktu itu di HP mas Arif. Aku udah lupa lagi." ucap Elma bingung di dalam hatinya.


"Woy babu?"


"Ya tuan. Ciri-cirinya kulitnya putih, wajahnya ganteng, tinggi tuan, terus macho gitu."


"Goblok! Ciri-ciri yang lebih spesifik lah!"


"Ya tuan. Mukanya tirus, hidungnya mancung, kalau ga salah ada tahi lalat yang menempel di hidung mancungnya itu."


"Hidung mancung, tahi lalat, itu mah ciri-ciri saya! Lihat nih di hidung saya ada tahi lalatnya, mancung juga. Gak pesek kaya kamu!"


"Tuan kok bawa-bawa hidung saya sih."


"Habisnya kamu goblok sih. Udah babu, goblok lagi! Sana balik ke kandang kamu!"


"Ya tuan."


Elma kembali ke dapur dengan membawa nampan. Kesal ia rasakan karena Damar begitu emosional.


"Yaya selingkuh sama laki-laki lain? Masa sih? Kalau iya, artinya sama aja dong kaya aku?" tanya Damar dengan ekspresi kaget.


*


*


*


Yaya ketiduran di dalam kamar tempat mama Sera dirawat. Tiba-tiba, salah satu tangan mama Sera yang Yaya peluk bergerak ringan. Membuat Yaya terbangun dari tidurnya. Akhirnya mama Sera sadar dari komanya.


"Mama, mama sudah sadar." kejut Yaya dengan ekspresi yang senang. Yaya bergegas memanggil dokter dan tak berselang lama Yaya datang kembali bersama seorang dokter dan suster. Mereka mengecek kondisi mama Sera. Dokter memegang denyut nadi mama Sera.


"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya."


Betapa senangnya Yaya, rasa nestapanya kembali membaik, pulih seperti luka yang dibalut sebuah perban air mata. Air mata haru mengalir di wajah sendu itu.

__ADS_1


"Mama? Akhirnya harta yang paling berharga dalam hidupku telah kembali." ucap Yaya penuh rasa syukur.


Bersambung...


__ADS_2