
Keesokan harinya...
Mas Damar sedang berkemas-kemas akan segera berangkat ke Jepang setelah memesan tiket penerbangan.
Aku membantunya packing.
Setelah selesai packing, aku mengantarkannya hingga depan rumah.
"Selamat menjalankan tugasmu ya mas? Aku boleh ikut antar kamu sampai ke bandara nggak?" tanyaku.
"Jangan sayang. Kamu dirumah aja ya sayang?"
"Aku kan mau melepas kangen dulu mas sama kamu?"
Tapi wajah mas Damar malah terlihat kurang senang saat aku bilang kalau aku ingin ikut dengannya, mengantarnya sampai bandara. Mas Damar tetap tidak setuju. Dia tidak ingin aku ikut mengantarnya.
"Nggak usah pakai diantar segala sayang? Kayak mas bakalan lama banget disana? Mas janji, sesampainya disana mas akan sering video call sama kamu. Sampai ketemu lagi di minggu depan ya sayang?" ucap mas Damar kemudian dia melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Lalu mas Damar menutup kaca mobilnya dan dia bergegas melaju pergi. Aku agak sedih. Aku ingin berpeluk cium dengannya di bandara, karena biar gimanapun, pergi ke luar negeri selama tujuh hari itu kan cukup lama mas.
Mengikutinya secara diam-diam juga sebaiknya tidak perlu aku lakukan. Mendingan aku mengurus bunga-bunga kesayanganku saja deh di taman.
***
Di bandara, Miho sudah ada disana. Miho memakai topi dan pakaian hangat serba berwarna pink. Tidak lupa kacamata hitam juga Miho kenakan. Miho ingin waktu selama seminggu kedepan adalah surga dunianya. Liburan yang indah dan menyenangkan. Meluapkan rasa penat karena pekerjaannya sebagai sekretaris selama ini.
Mereka berdua sudah mengatur semua ini sedemikian rupa agar tidak ada orang yang curiga. Termasuk orang-orang di kantor sekalipun. Miho minta izin kepada atasan bahwa dia ingin ke Jepang selama beberapa hari. Miho menjadikan kedua orangtuanya yang sedang sakit sebagai alasan untuk mengambil cuti kerja selama beberapa hari.
Miho mengambil cuti selama tiga hari kerja. Sisa empat hari lagi Miho akan cari rencana lain supaya pihak atasan tidak curiga atau bahkan memecatnya.
"Mas Damar tercinta? Akhirnya kita bisa liburan bareng. Ke luar negeri lagi!" girang Miho kemudian gelendotan dengan Damar.
"Iya, kapan lagi kita bisa bersenang-senang seperti ini berdua di negara lain. Aku udah bela-belain semua ini, demi kamu sayang! Kamu jangan suka ngambek lagi ya sayang?"
"Iya mas aku janji gak akan ngambekan lagi."
Lalu mereka berdua berjalan bersama mencari tempat duduk di bandara. Menunggu jadwal penerbangan mereka. Negara pertama yang akan mereka datangi adalah Korea Selatan. Miho dan Damar sangat tidak sabar melihat pemandangan indah yang ada disana.
Hingga esok malam pun tiba, mereka sudah berada di Hamdeok Beach salah satu wisata pantai yang indah di Korsel. Damar dan Miho sedang menikmati indahnya pantai ini. Mereka tengah berpelukan mesra, berdua di pinggir laut. Betapa indahnya negara ini. Rasanya Miho ingin selamanya tinggal disini. Bersama dengan Damar.
"Nanti kalau kita menikah, kita bulan madu yang lama dan bulan madunya dinegara ini lagi ya sayang?"
__ADS_1
"Apa sih yang nggak buat kamu Miho."
"Uuuh, senangnya jadi selingkuhan kamu mas. Apa aku adalah wanita selingkuhan yang paling bahagia di dunia ini?"
"Tentu saja Miho sayang,"
Miho tidak ingin berpisah dengan Damar. Damar adalah sumber kesenangannya. Melepas Damar sama saja Miho akan kehilangan nikmat duniawi yang selama ini Miho sulit dapatkan. Target menjadikan Yaya sebagai janda akan Miho semakin upayakan.
Damar lupa, saking bahagianya sedang liburan bareng pelakor, sampai-sampai ia lupa kalau belum video call dengan istrinya sedari pagi.
"Sayang, kamu tunggu disini bentar ya?"
"Mas Damar mau kemana sih?" bingung Miho.
Damar berjalan ke sebuah pohon besar, Damar berdiri dibawahnya. Suasana cukup ramai turis yang datang dari berbagai negara. Beberapa turis itu melintas di belakang Damar. Mereka asyik bercanda tawa dan berselfie ria.
"Sayang, selamat malam? Happy dinner ya?"
"Happy dinner too sayang. Kamu udah sampai di Jepang mas?"
Damar mengangguk.
"Kamu lagi di pulau ya? Aku bisa mendengar suara deburan ombak. Coba, aku ingin lihat pulaunya mas?"
"Wah malam yang indah ditepi pantai mas?"
"Iya sayang."
"Sekarang aku udah kasih kabar ke kamu kan? Aku baik-baik aja nih. Besok pagi kita VC lagi ya?"
"Kok cuma bentar doang mas. Aku kan kangen? Masa VC ga nyampe lima menit?"
"Lebay kamu sayang, hehe. Belum juga sehari udah kangen berat. Mas harus meeting sama orang nih. Sampai jumpa besok ya sayang?"
"Mas!?" panggil Miho.
Sedetik sebelum Damar mematikan video call dengan Yaya, Miho terdengar sedang memanggil Damar dan Yaya mendengar suara itu!
Sontak saja Yaya jadi terkejut mendengar suara perempuan itu.
"Yang barusan itu kaya suara Miho ya? Masa sih? Apa iya mas Damar kesana bareng Miho? Tapi kemarin bilangnya tidak?"
__ADS_1
Aku jadi gelisah dan bingung.
Aku ingin video call lagi, tapi pasti mas Damar gak akan angkat. Karena dia mau ketemu sama rekan bisnisnya. Untuk memastikan itu, aku besok akan pergi ke kantor saja. Kira-kira Miho ada di kantor atau tidak. Kalau ada, berarti suara yang barusan mirip Miho itu bukan suara Miho. Mungkin saja itu suara orang lain yang tidak aku ketahui itu siapa. Rasa cemasku muncul lagi.
Damar berbalik badan lalu marah ke Miho.
"Kamu kenapa sih manggil aku kenceng banget!"
Miho terkejut, Damar tiba-tiba membentaknya.
"Sayang, kenapa kamu marah? Apa salah aku kalau aku manggil kamu kenceng?"
"Jelas salah. Barusan aku lagi VC sama Yaya! Kalau dia denger, dia pasti curiga lagi!"
"Aku nggak akan minta maaf dan gak akan peduli kalau dia tahu! Toh lambat laun, perselingkuhan kita akan kebongkar! Justru aku menunggu momen itu. Biar istri kamu minta cerai terus kita bersatu mas?"
Damar melangkah beberapa langkah kedepan Miho. Damar menatap kesal Miho.
"Gila kamu! Kalau perselingkuhan kita terbongkar, pasti nama kita jadi jelek. Kamu juga aku, kita akan dihujat sama banyak orang! Kamu belum tahu seberapa kasarnya ibunya Yaya. Sayang, kita bisa bersatu dengan cara yang aman!"
Miho menghela nafas kesal kemudian berkacak pinggang lalu berbalik badan.
"Cara aman apa? Tapi gak ada cara aman lain selain kita menghabisi nyawa istri kamu mas." ujar Miho dengan nada bicara yang dingin. Ekspresi wajahnya mengikuti nada bicaranya, terlihat kelam dan dingin.
"Kamu jangan punya pikiran senekat itu! Jangan sampai terjadi hal seperti itu. Aku nggak mau kalau sampai kita bertindak kriminal. Miho sayang, pikiran kamu sedang kacau. Maafin mas karena barusan udah ngebentak kamu ya?"
Miho kembali berbalik badan dan menatap serius kearah wajah Damar.
"Nggak mas. Justru pikiran aku semakin cerdik." ucap Miho sembari menunjuk kepalanya menggunakan jari telunjuk.
"Tapi kalau kita sampai senekat itu, resikonya sangat besar sayang. Kalau kita ketahuan kita yang membunuh Yaya, kita bisa masuk penjara."
"Cara apalagi biar aku bisa bersatu dengan kamu tanpa perlu dicibir orang?"
"Mas akan bilang bosan meski itu menyakitkan buat dia karena dia mencintaiku dengan tulus, selamanya."
"Tetap saja kamu yang bakalan kena cibir mas! Rasa bosan itu harus sama-sama kedua belah pihak!"
""Yaudah, terpaksa aku akan menjalankan rencana kamu itu!"
Miho langsung tersenyum senang dan licik.
__ADS_1
ABersambung....