
Kedua bahu Miho dipegang oleh sopir taksi mesum itu.
"Kamu mau apa, pergi dari sini! Tolong, tolong!" teriak Miho panik.
Sopir taksi mesum itu mencumbui leher Miho, Miho sangat ketakutan dan risih. Kemudian ia menendang burung dari sopir taksi itu dan berlari keluar. Miho berlari ke sembarang arah, memasuki area taman Kencana yang gelap dan mencekam.
"Sialan! Dasar perempuan sialan! Akan kukejar kamu sampai dapat!" lantang sopir taksi mesum itu dari dalam mobil, kemudian keluar menyusul Miho.
"Aku harus segera kabur, tapi taman ini gelap banget."
Miho menyalakan fitur senter di ponselnya kemudian berlari ke dalam taman yang sunyi dan gelap. Miho sangat tidak beruntung, malam ini dirinya malah hampir dinodai oleh sopir taksi mesum. Miho terus berlari di area dalam taman kemudian Miho berlari kearah kebun yang kosong dan tidak terawat.
Miho memutuskan bersembunyi dulu dibalik pohon yang rimbun dan mencekam.
"Perempuan sialan, dimana kamu!" teriak sopir taksi itu, menyeramkan. Miho bisa mendengar suara mengerikan itu dari kejauhan.
Sopir taksi itu melihat sekeliling, tidak ia lihat ada Miho. Sopir taksi itu memutuskan untuk kembali saja ke mobil dan pergi membiarkan Miho kabur, Miho merasa lega karena sopir mesum itu sudah pergi. Miho menarik nafas dalam-dalam nafas lega.
"Harusnya bukan aku yang akan diapa-apain, tapi si Yaya! Ini semua gara-gara istri sah kurang ajar itu! Dia udah tipu aku. Katanya disini, tapi mana dia? Duh, mana tempat ini sepi banget lagi."
Miho melihat sekeliling, penuh dengan semak belukar. Miho takut kalau ada setan yang tiba-tiba muncul. Tempat sepi seperti ini, biasanya angker.
"Duh, aku harus segera pergi dari sini, takut!"
Miho bangkit kemudian melangkah. Tapi tangannya merasa ada sesuatu yang tertinggal. Miho teringat kalau tas yang ia bawa berada di bawah pohon rimbun tadi. Miho buru-buru balik dan mengambil tasnya lagi.
"Ini semua gara-gara Yaya sialan! Awas aja Yaya! Tunggu pembalasanku lewat tangan Arif dan Elma! Kamu akan kubuat sengsara selamanya!" gerutu Miho mendendam.
__ADS_1
Saat Miho selesai mengambil tas dan berbalik badan, ia mendengar suara cicitan kelelawar dan sontak saja Miho jadi kaget sampai melempar ponsel yang ia pegang.
"Ah! Kelelawar sialan! Apes banget aku malam ini!"
Miho melangkah ke dekat semak belukar ingin mengambil ponselnya yang jatuh, tapi...
"SRAAAK, BRU AAAAK!"
Miho terjatuh kebawah. Ukurannya cukup dalam, bokong Miho jadi terasa sakit.
"Aaaaaaa! Toloooong! Sakiiit!" teriak Miho kesakitan.
Miho masuk ke sebuah sumur yang ukurannya cukup dalam. Miho tidak menyangka malam ini dirinya akan seapes ini.
"Toloooong! Toloooong aku!" teriak Miho. Tapi tidak ada orang yang mendengarkan, karena tempat ini begitu sepi. Untungnya ponsel Miho ikut terjatuh kedalam sumur dan tidak rusak.
Miho menelpon Damar tapi tidak kunjung diangkat. Damar sendiri dirumah sedang asyik menonton pertandingan bola hingga malas untuk menghiraukan telepon yang masuk.
"Argh! Mas Damar lagi ngapain sih! Apa dia udah tidur? Tega banget sama orang yang dia sayang, kesal!"
Miho benar-benar semakin takut. Malam ini dingin dan dia sendirian terjebak di dalam sebuah sumur yang gelap. Miho menangis ketakutan. Saat melihat kebawah menggunakan senter, Miho melihat ada beberapa ekor kelabang yang sedang merayap.
"Aaaaaaa!" teriak Miho sejadi-jadinya. Miho menutup matanya lalu menempel di dinding sumur, menjauhi kelabang-kelabang mengerikan itu. Mana ada satu kelabang yang ukurannya besar banget.
"Itu kelabang apaan sih besar banget, kelabang obesitas kah? Tolong, tolong! Aku takut!"
Miho terus menjerit ketakutan. Miho berusaha memanjat tapi dinding sumur susah untuk dipanjat. Tidak ada cara lain, selain menghubungi orang lain. Kelabang besar itu merayap kearah kaki Miho, Miho takut digigit. Mungkin itu adalah sebuah karma instan untuknya karena sudah berniat menjahati Yaya.
__ADS_1
Sementara itu Yaya sudah sampai ke rumah. Yaya masuk kedalam rumah, melihat suaminya yang masih asyik menonton bola. Karena capek dan juga lagi malas, Yaya langsung masuk saja kedalam kamar, tapi suaminya berbicara.
"Darimana saja kamu sayang?"
Mas Damar tahu aku sedang berdiri di belakangnya. Aku kemudian duduk di samping mas Damar. Apa aku ceritakan saja yang sebenarnya, kalau aku sudah tahu soal perselingkuhannya dengan Miho?
"Aku dari mall mas." jawabku berbohong.
Mas Damar tampak heran saat mendengar jawaban aku, tapi aku pulang tanpa membawa barang belanjaan.
"Beli apa sih? Kok pulang nggak bawa apa-apa. Kalau tahu dari mall, mas tadi pasti nitip beli minuman bersoda "
"Minuman bersoda terus, hampir tiap hari kamu minum itu. Kamu gak khawatir sama kesehatan kamu mas? Bisa-bisa kamu kena penyakit berbahaya gimana? "
Jawabku, yang masih saja mempedulikan kesehatan mas Damar. Meski dia sering menyakiti hatiku, tapi aku tetap mempedulikan kesehatannya.
"Tenang sayang, aku kan masih sering olahraga."
"Yaudah, aku masuk dulu ke kamar ya mas. Aku mau istirahat."
"Iya, mas mau lanjutin nonton bola dulu ini sampai selesai. Happy banget mas, klub jagoan mas udah mencetak gol sebanyak lima kali."
Aku hanya tersenyum saja sedikit kemudian melangkah menuju kamar. Sementara itu di dalam sumur, Miho semakin menderita dengan nasib sialnya malam ini. Kelabang-kelabang itu terus saja menjadi mimpi buruk buat Miho pada malam ini.
"Aku benci semua ini! Kenapa harus aku? Kenapa bukan istri sah sialan itu aja yang menderita!" teriak Miho dari dalam sumur tua itu.
Bersambung...
__ADS_1