
Mama Sera terkejut mendengar jawaban dari sang dokter. Jadi perempuan perebut suami orang itu tengah mengandung seorang janin. Karena hal itu mama Sera jadi punya pikiran apakah Miho tengah mengandung anak Damar? Dugaan tengah mengarah kesana.
"Saya gak peduli dengan nasib wanita itu dok, tapi janinnya baik-baik saja kan?"
"Tenang bu, janinnya baik-baik saja, tapi harus dijaga semaksimal mungkin."
"Oke dok. Saya tidak kenal wanita itu. Saya tidak punya hubungan kerabat apa-apa dengan dia. Tapi saya akan tetap membayar biaya administrasinya."
"Baik bu."
Miho masih berbaring dengan lemas. Ia mengelus perutnya. Terpikir untuk segera menghubungi mas Damar memberitahunya bahwa dirinya pingsan gara-gara ibu mertuanya.
"Dengan calon anak ini, mungkin aku bisa menguasai semua kekayaan mas Damar nanti." batin Miho seraya menatap foto bayi kecil di dinding kamar. Ruangan ini adalah ruang perawatan ibu hamil.
Malam ini, hujan badai turun di sebuah pantai daerah Finlandia. Damar dan Yaya sedang berdua di sebuah gubug kecil tepi pantai. Mereka terjebak dalam hujan badai yang sedang terjadi disana.
"Mas, gara-gara kamu sih tadi kelamaan ambil fotonya, jadi gini kan, kejebak hujan."
"Gapapa sayang, yang penting kita berdua, saling pelukan dengan hangat kaya gini, rasanya nyaman dan indah, meski suara petir dan badai yang riuh bergemuruh, kita tetap bersama dan mesra seperti ini."
Entah kenapa rasanya tetap beda. Sudah tak seindah dulu lagi. Trauma perselingkuhan itu, masih terbayang.
__ADS_1
Datang kesini masih gagal menyembuhkan luka yang membekas di hati aku. Rasanya udah benar-benar berbeda seperti dulu. Dapatkah itu kembali? Menghangatkan hati yang penuh dengan salju kesedihan ini? Pasti itu perlu proses lagi.
"Mas, kenapa sih kamu harus pernah selingkuh sama Miho?q Aku kira Miho wanita baik-baik tapi ternyata dia adalah pelakornya. Sampai sekarang, aku masih belum bisa terima dan lupain itu mas. Kamu tahu kan, aku tidak pernah mau diduakan. Begitupun kamu kan mas?" ucapku ditengah hujan badai yang sedang melanda ini. Lampu yang ada di dalam gubug kecil ini bergoyang-goyang terkena angin.
Mas Damar hanya diam saja, belum menjawab pertanyaanku barusan.
"Aku mohon kamu jangan pernah membahas atau mengingat hal ini lagi ya? Hubungan mas dan Miho sudah menjadi masa lalu yang tidak akan pernah berubah menjadi masa depan. Karena mulai hari itu, hari dimana kamu pulang ke rumah mama kamu, mas bertekad akan memperbaiki semuanya."
Damar masih berbohong, sebenarnya dia akan menikah beberapa minggu lagi, dengan Miho. Hingga hari pun berganti. Pagi menyapa para turis dengan semangatnya.
Yaya tengah menikmati indahnya matahari terbit dari tepi pantai. Pasir putih terasa lembab saat ia injak, semalam hujan turun cukup lama. Yaya menatap debur ombak, menggulung-gulung dengan seruannya, lalu memotret dirinya sendiri di tepi pantai.
Miho yang sedang sarapan pagi di apartemen hanya bisa menahan rasa panas melihat Yaya yang sedang dimanjakan dengan kebanggaan dan kemewahan oleh Damar.
"Sebel aku! Beruntung banget sih nasibnya Yaya, dibawa sama mas Damar ke Eropa. Seumur-umur aku belum pernah menginjakkan kaki disana. Mas Damar gak adil! Kalau mau ngajak istrinya kesana, harusnya aku duluan yang diajak kesana. Katanya mencintai aku? Atau itu cuma bualan dia semata ya?" ucap Miho dengan hati resah.
Kali ini, Miho tidak mau diam saja. Miho mau menyerang Yaya secara langsung lewat sosial media. Miho nekat chat Yaya, memakinya dengan kata-kata yang senonoh!
"Hei perempuan busuk! Aku yakin kamu pernah jadi perempuan liar pada masanya. Perempuan tukang selingkuh! Perempuan yang suka jual diri. Anggap aja aku adalah karma untukmu merusak rumah tangga sebagai karma untuk kamu, ******! Yang happy ya disana." ketik Miho bejat.
Sontak saja Yaya yang langsung membaca chat dari pelakor gila itu tidak terima. Yaya langsung membalas chat kurang ajar dari perempuan itu.
__ADS_1
"Kata-kata kamu mencerminkan kalau kamu itu bukan perempuan yang berkelas. Aku tarik kata-kata aku waktu itu yang bilang kalau kamu adalah orang yang berkelas! Ternyata aku salah besar. Kamu adalah perempuan hina, diantara yang paling hina, bagi aku, kamu gak lebih dari sampah yang sudah mengacaukan hubungan rumah tangga aku."
Yaya mengirim chat panjang itu dan langsung dibaca oleh Miho. Miho semakin meradang karena Yaya bukan istri sah lemah yang tinggal diam ketika diserang.
"Orang gak bener kamu! Dulu kamu pernah mabok-mabokan loh kata mas Damar, hehe. Ternyata Yaya yang katanya elegan dan inspiratif itu pernah bobrok juga pada masanya toh, hehe."
"Itu tidak benar! Aku pernah mabok itu dipaksa teman. Perempuan penghancur rumah tangga orang, kamu ngajak perang ya sama aku! Aku yakin, kamu tiba-tiba nyerang aku karena kamu iri kan lihat aku diajak mas Damar liburan ke Norwegia? Iya kan? Kasihan deh."
"Oh, aku emang iri. Tapi pada kenyataannya mas Damar itu masih cinta sama aku, Yaya. Jika kamu terus bertahan dengan mas Damar, siap-siap kamu akan makan hati, karena pastinya mas Damar akan lebih sayang sama aku, calon istri keduanya, hehe."
Apa maksud pelakor ini bilang kalau dia adalah calon istri muda mas Damar? Aku langsung menelpon Miho dari sini. Miho mengangkat telepon aku.
"Halo, selamat berlibur istri sah yang tak dianggap. Kamu pikir, dengan berlibur ke Norwegia, kamu merasa mas Damar masih mencintai kamu? Kamu salah besar! Cintanya hanya untuk aku. Dia mau mempertahankan kamu hanya karena janin yang tengah kamu kandung itu! Aku juga sedang mengandung janinnya."
Yaya belum percaya. Yaya berpikir bisa jadi Miho hanya sedang membual saja, biar dirinya stress dan kandungannya akan bermasalah.
"Bualan apa lagi ini? Hentikan omong kosong kamu perempuan licik! Saya tidak akan pernah termakan sama drama murahan kamu lagi!"
"Drama? Hah? Ini fakta lah. Kamu harus bisa menerima kenyataan kalau aku mengandung benih yang ditanam oleh mas Damar, uuuh."
Bersambung...
__ADS_1