
Di sudut kamar paling pojok, Minah duduk seraya menelungkupkan wajahnya pada kedua lututnya. Ia merasa malu karena sudah salah menebak, memfitnah dan juga malu oleh guru-gurunya.
Apalagi saat meminta maaf di depan semua anak santri. Takut, jika tidak ada yang mempercayainya lagi dan menjauhinya.
Namun, itu hanya ketakutannya saja. Buktinya saat ini teman satu kamarnya tetap masih peduli. Mungkin hanya Hawa yang belum bisa memaafkan karena dirinya orang yang telah di fitnah.
Aisyah dan Asyiah memasuki kamar, keduanya saling pandang saat mendengar tangisan Aminah di pojok kamar. Mereka melangkah mendekati Aminah.
"Minah kamu kenapa?" tanya Aisyah, tetapi Minah masih tidak menjawab dan tetap pada posisinya, membenamkan wajah pada kedua lututnya.
Aisyah menatap Asiyah, sedetik kedua bahunya terangkat dia tidak tahu ada apa dengan Aminah, meminta Asiyah untuk bertanya pada temannya itu.
Asiyah berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan tubuh Minah. Di usapnya dengan lembut pundak Minah lalu berkata, "Minah? Kenapa menangis? Ceritalah, apa kami punya salah?" tanya Asiyah dengan lembut.
Akhirnya Minah pun mendongak, wajahnya sangat basah, dan matanya terlihat sembab, mungkin karena terlalu lama menangis.
Tangannya menghapus sisa-sisa air mata pada pipinya. Lalu menatap kedua temannya bergantian.
"Aku malu Syah, semua anak santri pasti sekarang sedang memojokan ku. Aku tidak bermaksud untuk memfitnah, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat," tutur Aminah.
Asiyah pun tersenyum.
"Jadi karena itu kamu menangis? Minah jangan pernah mengambil kesimpulan tanpa mencari tahu kebenarannya. Siapa yang bilang jika para santri memojokan mu? Itu hanya perkiraanmu 'kan?"
Minah hanya diam.
"Ingat kata pak Kiyai. Tabayyun, carilah kebenarannya dulu, periksalah dulu sebelum menyebarkan sesuatu. Kami semua tidak ada yang memojokanmu atau membencimu. Manusia melakukan salah itu hal biasa tapi ingat jangan di ulangi lagi," tambah Asiyah.
"Benar, apa kata Asiyah. Jangan menangis lagi, jadikanlah peristiwa itu sebagai pembelajaran untukmu. Dan untuk kami semua di sini." Aisyah menambahkan.
"Aku tahu, dari awal kamu tidak terlalu suka pada Hawa, itu sebabnya kamu begitu antusias menyebarkan kabar buruk tentangnya. Aku tidak tahu apa alasanmu membencinya, tapi … cobalah dulu mengenalnya lebih dekat, Hawa anak yang baik, belum tentu apa yang kamu pikirkan tentangnya seburuk yang kamu kira."
Aisyah dan Asiyah berharap jika Minah dan Hawa akan menjadi teman. Semoga kesalahpahaman di antara mereka berdua segera berakhir.
Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah bersaudara, sehingga tidak sepantasnya ada kebencian yang mengakar dalam diri mereka, permusuhan yang bekepanjangan, dan sifat dengki yang menggerogoti akhlak mereka.
Islam adalah rahmat atau dalam bahasa masyhur-Nya yaitu kasih sayang. Jadi tiada hari tanpa kasih sayang, dan pengamalan kasih sayang tersebut merupakan amalan hingga ajal menjemput.
Allah Ta'ala berfirman:"Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS.Al-Hujurat {49}:10).
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, ketiga santri di pojok kamar menoleh ke arah pintu yang di mana Hawa berdiri di sana. Seketika pandangan mereka pun bertemu, sorot mata Hawa begitu tajam menatap Minah.
Sedetik Minah menurunkan tatapan matanya, entah ia malu atau merasa bersalah.
"Hawa kemarilah," panggil Aisyah, tetapi Hawa malah berlalu menuju ranjang tidurnya.
"Ngapain kalian di situ kumpul sama orang yang memfitnah. Nanti kalian ikut di fitnah juga." Sindir Hawa dengan mata mendelik.
Wajah Minah sudah merah seperti tomat, bagaimana dia mau meminta maaf, sedangkan sikap Hawa saja dingin padanya. Sudah pasti tidak akan ada pintu maaf baginya.
Aisyah berjalan mendekati Hawa, lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu bilang begitu Hawa, Minah 'kan sudah meminta maaf. Jadi maafkanlah, Allah saja selalu memaafkan hambanya kenapa kita sebagai manusia tidak bisa saling memaafkan. Hidup rukun itu jauh lebih baik, damai dan tentram tidak seperti hidup yang saling bermusuhan."
"Maaf! Ck, malas maafin orang kaya gitu."
Begitulah Hawa, dia tidak akan peduli dengan perasaan orang lain, apalagi orang itu sudah menyakitinya.
Asiyah menuntun Aminah untuk berdiri menghadap Hawa, tetapi Aminah tidak berani. Namun, Asiyah dan Aisyah terus membujuk Minah, agar meminta maaf pada Hawa.
Dengan langkah ragu Minah pun mendekati Hawa dan meminta maaf padanya.
"Maafkan aku sudah salah menuduh dan berakhir memfitnah kakakmu. Aku tidak tahu jika kalian …," ucap Minah tertahan karena Hawa memotongnya.
"Makanya tanya dulu, jangan langsung sebar berita saja!" ketus Hawa.
"Sudah Hawa, kasihan Minah. Dia sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya. Ayolah Hawa, kita semua teman maafkanlah. Ingat loh membenci itu dosa, bermusuhan lebih dari tiga hari itu dosa."
Dengan malasnya Hawa memutar bola matanya bersamaan dengan hembusan nafas yang berat.
Dalam hatinya masih tidak terima dan belum bisa memaafkan. Akan tetapi kedua temannya terus membujuknya dengan hadis.
Sehingga tangan Hawa bergerak untuk mengenggam tangan Minah. Dan mereka pun bersalaman.
"Nah, gitu. Kalau akur 'kan enak, jangan bermusuhan lagi ya."
Senyum merekah dari Aisyah dan Asiyah. Akhirnya kedua temannya berhasil di damaikan. Walaupun hati mereka belum sepenuhnya memaafkan, semoga Allah SWT selalu membukakan pintu hatinya supaya mereka lebih dekat dan akrab.
*****
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 03.00 dini hari, waktunya menjalankan sholat malam di waktu sepertiga malam.
Semua santri terbangun dan mensucikan diri sebelum akhirnya pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat malam. Tetapi tidak dengan Hawa yang masih berdengkur dalam tidurnya.
Aisyah dan Asiyah sudah membangunkannya tetapi tidak pengaruh. Lalu Minah mencoba membangunkannya, dengan membisikan sesuatu pada telinganya, memberitahukan jika ada Ustadzah Lili di luar.
Seketika Hawa membuka matanya lalu terbangun berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Aisyah, Asiyah, dan Minah hanya tertawa melihat tingkahnya.
Setelah Hawa selesai mereka berangkat bersama.
Sepanjang jalan mata Hawa terus terpejam karen masih mengantuk, sehingga tidak melihat jalanan dengan benar.
"Awas Hawa!" teriak Minah yang menggenggam tangannya membuat langkah Hawa terhenti.
"Apaan sih!" ketus Hawa yang langsung melepaskan tangannya.
"Itu ada lubang, becek lagi. Kalau kamu injak nanti pakaianmu kotor dan najis." Minah mengingatkan, Hawa hanya diam seraya melihat lubang itu.
"Jangan so peduli," ujarnya lalu melangkah pergi. Minah hanya bisa menghela nafasnya panjang. Harus sabar menghadapi sifat Hawa.
Sesampainya di mesjid mereka semua melakukan sholat tahajud, lalu di lanjut dengan mengaji. Hawa dan Minah duduk berdampingan.
Hawa mengingat apa kata Amira, gadis kecil penghafal 30 Juz. Menghapal surah pada waktu sepertiga malam. Hawa, pun menjadikan kesempatan itu untuk menghapal.
Namun, Hawa lupa cara-caranya. Sehingga berkali-kali ia menghapal selalu saja salah dan lupa, Minah yang mendengarkan pun langsung membantunya.
Tidak peduli Hawa menolak bantuannya, Minah tetap mencoba.
"Hawa kamu sedang menghapal? Sini aku bantu."
"Tidak usah," ketus Hawa.
"Biar mudah, aku akan melihat Al-Quran jika kamu salah aku akan membenarkan. Dan caranya kamu bisa membacanya dulu sampai 7 balik, setelah itu kamu bisa langsung menghapalnya. Misalnya, dari ayat 1 sampai 10 kamu baca dulu sampai 7 balik, lalu kamu baca lagi dengan cara menghapal. Mau aku bantu?"
Awalnya Hawa diam. Setelah di pikir-pikir Hawa memang membutuhkan bantuan agar cepat menghapal. Apalagi hari ini harus setor hapalan 10 ayat jika di gabung dengan ayat sebelumnya berjumlah 40 ayal, terkadang dirinya lupa.
"Aku tidak meminta bantuan ya, kamu yang menawarkan." Gengsi Hawa, ingin di bantu tetapi tidak ingin meminta.
Hawa pun mulai menghapal dan Minah tetap fokus pada ayat Al-Quran, melihat hukum tajwid dan mahorijul hurufnya.
__ADS_1
Aisyah dan Asiyah tidak sengaja melihat kekompakan mereka berdua, mereka merasa senang dan bersyukur. Kedua temannya semakin lebih akrab sekarang.