
Di teras depan. Marwah, Hawa dan Yusuf duduk dalam diam. Ummi dan Kiyai memberikan waktu untuk mereka bertiga. Yusuf menatap kedua wanita itu bergantian.
"Mama ... Hawa apa kalian setuju dengan niat baik ku ini? Aku tahu masalah yang menimpa keluarga kita beberapa waktu lalu. Tapi itu sudah berlalu."
"Kenapa kamu memilih Asma?" tanya Marwah yang menatap Yusuf.
"Berkat petunjuk dari Allah swt. Tidak hanya itu Yusuf diminta seseorang untuk menjaganya."
"Kamu yakin akan bahagia?"
"InsyaAllah Mah. Yusuf pasti bahagia." Katanya yang tersenyum.
Marwah menghela nafas panjang lalu berkata, "Jika kamu bahagia Mama juga ikut bahagia." Tidak bisa melarang. Marwah hanya bisa berharap jika Asma jodoh yang baik untuk putranya. Dan akan mencoba melupakan masalah yang lalu.
"Jadi ... Apa Mama setuju?"
"Tidak ada yang bisa Mama lakukan selain memberikan restu. Jika pun Mama melarang kamu pasti akan menikahinya, Mama tidak bisa menghentikan jodoh yang sudah ditentukan oleh Allah."
"Terimakasih Mah."
Dengan bahagianya Yusuf memeluk sang ibu. Namun, masih ada satu wanita yang belum memberikan restu untuknya.
"Hawa, kakak ingin tanya apa yang membuatmu tidak setuju? Bukankah kalian berteman seharusnya kamu senang jika mempunyai ipar yang sudah dekat denganmu. Kalian bisa bercanda dan berbagi cerita bersama."
"Dia seumuran dengan ku. Aku tidak mau punya ipar yang sama mudanya dengan ku."
Yusuf tersenyum mendengar ucapan Hawa.
"Hanya karena itu? Hawa, muda atau tua tidak menjadi ukuran. Tidakkah kamu senang memiliki ipar yang muda bisa dijadikan sebagai sahabat. Mungkin kamu tidak akan kesepian lagi jika pulang ke rumah karena ada teman cerita. Kakak juga punya adik ipar yang seumuran walaupun lebih tua kakak dua tahun."
"Iya-Iya. Tapi kakak harus janji hanya Hawa yang kakak sayang. Jangan lupakan Hawa setelah kakak punya wanita lain."
Cemburu. Mungkin itu yang Hawa takutkan, jika Yusuf tidak akan peduli lagi padanya.
"Sampai kapanpun kakak sayang sama kamu. Hawa adik kakak yang paling kakak sayang. Jadi ... apa kamu setuju?"
"Terserah kakak saja," jawab Hawa dengan ketus.
"Alhamdulillah, kakak anggap kamu setuju. Mama lebih baik kembali ke dalam. Kasihan semua orang sudah menunggu."
Yusuf kembali masuk ke dalam. Akhirnya acara lamaran pun selesai. Semua orang bahagia karena Marwah dan Hawa akhirnya setuju.
*****
"Baik, terimakasih pak Kiyai sudah memberitahukan saya," ucap seorang pria pada sambungan telepon. Pria itulah yang berniat melamar Asma, tetapi lamaran Yusuf sudah lebih dulu di terima.
"Ternyata Asma sudah ada yang melamar," lirihnya.
"Permisi Pak, pasien sudah sadar," ujar seorang dokter yang tiba-tiba keluar dari sebuah kamar. Pria itu langsung berdiri menghadap Dokter.
"Apa lukanya parah? Tidak serius 'kan?"
__ADS_1
"Tidak ada luka yang serius. Kandungannya pun dalam keadaan baik-baik saja."
"Kandungan? Maksud Dokter dia hamil?"
Sungguh terkejutnya pria itu yang mengetahui jika wanita yang hampir saja ditabraknya dalam keadaan hamil. Beruntung janin dalam perut wanita itu baik-baik saja..
"Maaf, Mba namanya siapa? Tadi saya sama sekali tidak sengaja. Dan ... Dokter bilang kandungan mu baik-baik saja. Apa kamu merasakan sakit? Jika ada yang dirasa beritahu aku. Biar nanti aku panggilkan Dokter untuk memeriksanya."
Sherly masih diam enggan menjawab.
"Mba? Saya Ibrahim nama mu?"
Barulah Sherly mendongak saat Ibrahim mengulurkan tangannya.
"Sherly, aku Sherly," jawabnya yang menjabat tangan itu.
"Mba Sherly apa ingat nomor suami anda? Biar saya hubungi takutnya suamimu mencari mu."
"Aku belum menikah, aku tidak punya suami." Jawaban Sherly membuat Ibrahim bingung. Hamil tapi tidak memiliki suami.
"Kamu pasti heran kenapa aku bisa hamil. Ceritanya panjang," ujar Sherly.
"Lalu kenapa kamu ada di jalanan?"
"Aku berlari dari ibuku. Yang meminta ku untuk menggugurkan kandungan. Aku tidak mau itu sebabnya aku pergi"
"Astaghfirullah."
"Aku mohon bawa aku denganmu. Aku tidak ingin pulang dan mengugurkan kehamilan ini. Aku mohon."
"Aku bisa bekerja jika itu harus. Yang penting aku tidak ingin pulang dan bertemu ibuku."
Sherly terus memohon. Berharap pria itu akan membawanya. Tidak peduli jika dipandang buruk oleh Ibrahim. Yang dipedulikan saat ini hanyalah keselamatan nya..
Ibrahim pun tidak tega melihat Sherly yang terus memohon. Hingga akhirnya dia membawa Sherly ke rumahnya. Sherly pun sudah menceritakan siapa dirinya dan kenapa sampai mengalami hal buruk.
"Ini rumahku. Kamu bisa tinggal di sini. Dan aku akan tinggal bersama orang tua ku."
"Kenapa tidak tinggal di sini? Aku bisa tidur di luar."
"Bukan masalah tidur. Tapi pria dan wanita yang bukan mahrom tidak diizinkan berdekatan dan satu rumah. Itu akan menimbulkan fitnah."
Sherly terdiam. Dia merasa malu. "Maaf," ucapnya.
"Tidak perlu minta maaf. Ini kuncinya kamu bisa lihat-lihat ke dalam. Jika kamu ingin makan sesuatu ada di dalam kulkas. Jika menginginkan sesuatu kamu bisa hubungi saya."
"Terimakasih."
"Sama-sama."
*****
__ADS_1
"Ibrahim, kamu pulang Nak? Tumben."
"Iya Ma. Lagi pengen tidur di rumah."
"Bagaimana tentang lamaran mu waktu itu?" tanya sang ayah yang duduk di sofa bersama ibunya.
"Tidak jadi Pa. Wanita itu sudah ada yang mengkhitbah."
"Sayang sekali," ucap ayahnya.
"Mungkin bukan jodoh Ma, Pa," ucapnya yang tersenyum hambar.
Di tempat lain sepasang suami istri hanya saling diam dan membelakangi. Hawa masih marah pada Adam karena merahasiakan niat baik Yusuf yang akan melamar Asma.
"Sayang, masih marah? Sudah dong jangan marah bukankah tadi bilang setuju."
"Tapi kenapa Aby tidak bilang jika hari itu lamaran kak Yusuf."
"Aby hanya ingin buat kejutan."
"Takut ya jika Hawa gagalin."
"Astaghfirullah, suudzon saja. Gak boleh gitu."
"Lain kali Aby gak boleh rahasia-rahasiaan lagi."
"Iya, istri Aby cantik. Sudah jangan marah lagi ya senyum. Nanti dede bayi ikut cemberut di dalam."
Hm ... gumam Hawa yang tersenyum tipis.
"Eh Aby gimana ya keadaan Sherly? Hawa jadi teringat Sherly."
"Kita doakan saja semoga baik-baik saja. Sudah, jangan dipikirkan lagi ingat kata Dokter jangan stres."
"Tapi Hawa khawatir By."
"Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa pada Sherly. Sudah jangan dipikirkan lagi sekarang tidur."
"Enggak mau By pengen makan."
"Makan? Makan apa?"
"Puding."
"Puding?" Hawa mengangguk.
Adam segera menuju dapur, tetapi tidak menemukan puding. Tetapi Adam menemukan bahan-bahan yang bisa dijadikan puding.
"Gimana caranya ini." Adam fokus membaca tulisan dalam kemasan puding. Lalu mempraktekannya menaburkan satu saschet serbuk puding pada wajan yang sudah diletakkan di atas kompor. Diberikan sedikit gula dan air. Setelah bahan sudah menyatu tangan Adam terus mengaduk puding itu hingga matang.
Dengan sabarnya Adam menuangkan cairan kental itu ke dalam wadah citakan lalu dimasukkan ke dalam kulkas.
__ADS_1
Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Di saat semua orang tertidur Adam harus berada di tengah dapur yang gelap. Setelah lama menunggu puding itu sudah mengeras.
"Alhamdulillah." Adam segera memindahkan puding itu ke dalam piring dan membawanya pada Hawa. Namun, saat sampai di kamar Hawa sudah terlelap.