Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 22- Bendera Kuning


__ADS_3

"Shodaqallahul adzim." 


Selesai sudah hapalan Hawa, alhamdulillah lancar dan ada kemajuan baik dalam tajwid dan mahorijul hurufnya. 


Adam yang mendengarnya pun sangat senang. Namun di balik kelancarannya itu Hawa mempunyai maksud lain. 


"Sekarang mana handphoneku." Kata Hawa seraya mengulurkan tangannya, seolah meminta pada Adam.


Hawa menagih janji, Adam akan memberikan ponselnya jika Hawa menghapal dengan lancar surat-surat sebelumnya hingga ayat akhir hapalan. 


Dengan senyum mengembang, tidak ada rasa malunya Hawa meminta, dengan tubuh yang condong ke depan hampir saja dekat dengan Adam. 


Dengan malasnya mata Adam berpaling, menghindari tatapan dosa itu. 


"Saya tidak membawanya." 


"Apa! Bukannya Ustadz sudah janji untuk memberikan ponselku. Lagian ini 'kan hari jumat hari liburku, semua santri bebas dan berhak meminta barangnya terutama ponsel." 


"Bawa buku-buku itu, ponselmu ada di kantorku." Kata Adam yang berlenggang pergi. 


Hawa terlihat kesal, ingin sekali melayangkan buku itu pada Adam. Susah payah ia menghapal talaran, pada hari liburnya ternyata Adam masih tidak memberikan ponselnya.


Brak, 


Dengan kerasnya Hawa mendaratkan buku itu di atas meja. Beruntung ruangan Adam tidak menyatu dengan ruang guru lainnya. Sehingga tidak ada yang melihat tingkah Hawa. 


Adam sedikit kesal karena Hawa berani bersikap tidak sopan padanya. Dengan emosi Adam melempar sebuah ponsel pada Hawa, hingga ponsel itu terjatuh ke bawah lantai. 


"Ponselku!" Hawa terkejut, yang langsung mengambil benda pipih itu. 


"Ih! Ustadz…." 


"Apa! Mau marah lagi? Baru kali ini saya berhadapan dengan santri sepertimu. Tidak sopan, tidak nurut, selalu membangkang." Mungkin kesabaran Adam sudah habis menghadapi tingkah Hawa yang bar-bar. 


"Kalau begitu pulangkan saja aku. Aku juga tidak betah tinggal di sini penuh dengan aturan." 


Bukannya meminta maaf Hawa malah membuat Adam semakin murka. Entah apa yang akan terjadi pada Hawa jika Adam tidak meredam emosinya. 


Hawa mendelikan matanya sejenak lalu pergi meninggalkan ruangan Adam. 


"Astagfirullah," lirih Adam, lalu mengusap wajahnya kasar.


*****


Di dalam kamar Hawa langsung mengecek handphone yang sudah retak itu.


"Ih! Nyebelin banget sih, rusak 'kan handphone ku," rengek Hawa yang mencebikkan wajahnya. 


"Dasar Ustadz rese!" cecarnya.


Hawa mencoba menyalakan ponselnya. Seketika senyumnya mengembang saat layar datar itu menyala. Tidak berselang lama layar itu kembali mati.


"Eh, kok mati. Udah rusak lowbet lagi." 

__ADS_1


Hawa segera mencari charger di dalam lemarinya, setelah ketemu langsung menghubungkan pada ponselnya agar batrai ponselnya berisi.


"Hawa!" panggil Minah, Aisyah, dan Asiyah. 


Hawa pun menoleh pada ketiga temannya itu. Wajah mereka terlihat bingung dan sedih. Entah apa yang sudah terjadi.


"Hawa?" 


"Hm." 


Aisyah, Asiyah, dan Minah hanya saling pandang mereka bingung mau berkata apa, dan silih memerintah. 


"Ada apa?" 


"Mm … di panggil pak Kiyai," ujar Minah. 


Hawa pun menoleh pada mereka, " Bilang dong dari tadi susah amat." Hawa langsung berdiri meninggalkan kamarnya. 


"Ya Allah, semoga Hawa di sabarkan, dan di tegarkan." 


"Aamiin." Kata ketiga santri itu serempak.


***** 


Adam baru saja pulang ke rumahnya, melihat Ummi dan Abi-Nya yang terduduk lemah di atas kursi. Mereka terlihat sedih. 


"Assalamualaikum." 


"Walaikumsalam." Ummi dan Kiyai mendongak saat mendengar suara Hawa. 


Adam, berlalu ke kamarnya, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Umminya. 


"Hawa, hari ini kamu harus pulang, Ummi dan Kiyai akan mengantarkanmu." 


Sejenak Hawa terdiam. Kenapa tiba-tiba di pulangkan. Sedetik tatapan Hawa tertuju pada Adam, yang berdiri di barisan anak tangga menuju kamarnya. Karena mengingat perdebatannya di ruangan Adam tadi. 


"Apa secepat itu aku di pulangkan? Tapi baguslah aku tidak betah di sini," batinnya. 


Hawa berpikir jika Adam berbicara pada kedua orang tuanya karena perkataan Hawa, yang bilang ingin di pulangkan. 


"Serius Ummi?" 


Wajah sumringah Hawa pancarkan, yang begitu senang karena akhirnya bisa pulang ke rumahnya. Tetapi tidak dengan Ummi dan Kiyai yang terlihat sedih. 


"Ya sudah, kalau begitu aku mau bereskan semua pakaianku. Aku tidak perlu kembali ke sini 'kan?"  


"Siap-siap saja, sebentar lagi kita akan berangkat." 


Dengan gembiranya Hawa berlari menuju asramanya. Tanpa pamit pada kedua guru di depannya membuat Adam semakin kesal. 


Adam melangkah menuruni tangga, mendekati Ummi dan Aby-Nya. 


"Ummi, Aby? Kenapa tiba-tiba anak itu di pulangkan?" 

__ADS_1


Ummi dan Kiyai pun saling pandang. 


"Kami dapat kabar bahwa ayahnya ….," ucap Kiyai tertahan, saat ponselnya berdering. 


"Sebentar Aby angkat telepon dulu." 


"Dari siapa By?" tanya Ummi.


"Yusuf." Ummi langsung mengangguk meminta suaminya untuk segera menjawab telepon itu. Sepertinya memang sedang ada masalah di keluarga mereka. 


Hawa begitu gembira, hingga bersenandung ria, seraya mengemas semua pakaiannya ke dalam koper. 


Ketiga temannya hanya menatapnya dalam diam. 


"Aku senang karena aku di pulangkan. Oh ya apa kalian mau ikut?" ajak Hawa pada mereka bertiga. 


Aisyah, Asiyah, dan Minah hanya menggeleng. 


"Kenapa tidak mau? Padahal jika kalian mau aku akan membawa kalian. Bukankah kalian ingin melihat gedung tinggi, bioskop, dan mall? Jika kalian ikut aku akan membawa kalian ke sana." 


"Hawa, kenapa kamu sangat bahagia?" Aisyah bertanya.


"Jelas, karena aku akan pulang ke rumahku." 


Hawa menutup rapat kopernya. Lalu bangkit berdiri, seraya membayangkan dirinya setelah berada di rumahnya. 


"Aku rindu kamarku. Sherly, Mira, kita akan bertemu lagi," batin Hawa lalu melangkah pergi membawa kopernya. 


Minah, Aisyah dan Asiyah menatap punggung Hawa dengan sendu. 


"Sepertinya Hawa belum tahu." 


****


Dalam mobil, Adam duduk di jok depan bersama Kiyai karena Adam yang mengambil alih kemudi. Sedangkan Ummi berada di kursi belakang bersama Hawa.


Sepanjang jalan mereka hanya diam, tetapi tidak dengan Hawa, yang terus tersenyum memandang jalanan yang bergerak mundur di luar jendela.


Selama satu jam mereka melewati jalanan padat itu. Mobil mereka pun sampai di depan sebuah pagar tinggi yang kini banyak di kunjungi para warga entah itu kerabat, atau tetangga terdekat. 


Hawa, merasa bingung apa ada acara penyambutan untuknya? Tetapi tidak terlihat kedua orang tua maupun kakaknya. 


Hati Hawa mulai gelisah, senyumannya mulai pudar saat melihat sebuah bendera kuning yang di pasang di pagar rumahnya.


"Bendera kuning? Siapa yang meninggal?" 


Dengan segera Hawa turun dari mobilnya berlari memasuki rumahnya melewati kerumunan orang-orang yang keluar masuk rumahnya. 


"Kak Yusuf! Papa! Mama!" teriakan Hawa begitu menggema, membuat Yusuf menoleh pada sumber suara. 


Di lihatnya sang adik yang berdiri, tercengang melihat seseorang yang terlentang di tutup kain batik. 


Yusuf bangkit berdiri melangkah mendekati Hawa. Sedangkan sang ibu terlihat lemah di pelukan saudaranya. 

__ADS_1


"Siapa yang meninggal?" lirih Hawa dengan suara bergetar.


Bukannya menjawab, Yusuf malah memeluk Hawa. Seketika punggungnya bergetar, tangisannya pecah.


__ADS_2