
Setelah peristiwa semalam Adam memutuskan untuk tidur di luar. Sedangkan Hawa tidur sendiri di dalam kamarnya.
Walaupun Adam tidak berniat menyentuh Hawa, tetap saja Hawa takut jika tiba-tiba Adam menyerang tubuhnya. Demi kenyamanan sang istri Adam pun mengalah.
Adzan subuh sudah berkumandang. Namun, mereka masih tertidur pulas. Mungkin karena lelah setelah berlarian semalam.
Suara komat pun sudah berkumandang Adam tetap pada tempat tidurnya. Hingga alrm pada ponselnya berbunyi barulah Adam mendengar dan terbangun.
"Astagfirullah! Sudah jam 5," ucapnya saat melihat jam menunjukkan pukul 05.00.
Segera Adam beranjak dari kursi, berjalan menuju kamar mandi. Namun, saat akan melaksanakan sholat, Adam teringat Hawa apa sudah bangun atau belum.
"Hawa! Hawa!" panggil Adam yang mengetuk pintu. Namun, tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.
Beruntung pintu itu tidak terkunci, Adam langsung membukanya dan masuk ke dalam kamar. Terlihat Hawa yang masih terbaring di bawah selimut yang begitu nyenyaknya sehingga suara Adam pun tidak didengar.
"Hawa, bangun sholat subuh dulu."
Dengan hati-hati Adam menggoyangkan tubuh Hawa, agar tidak tersentuh. Karena tubuhnya sudah suci dengan air wudhu.
Berkali-kali Adam goyangkan, tapi Hawa tetap tidak terbangun.
"Astaghfirullah, Hawa cepat bangun. Nanti waktu subuh keburu habis."
Bukannya bangun Hawa malah menggeliat. Dan lagi-lagi tangannya menyentuh kejantanan Adam.
"Astaghfirullah aladzim, godaan apa lagi ini ya Allah." Sebagai seorang lelaki Adam pasti merasakan sesuatu yang berbeda.
Dan bukannya melepaskan tangannya Hawa semakin *******-***** benda kenyal miliknya. Adam semakin frustasi dan hilang kesabaran, terpaksa Adam mengangkat tubuh Hawa tidak peduli lagi dengan wudhunya.
Merasakan tubuhnya terangkat Hawa pun mengerjap, membuka mata itu dengan lebar. Menyadari tubuhnya sangat dekat dengan Adam, Hawa segera mendorong tubuh Adam.
Namun, bukannya mendorong, tangannya malah menarik bahu Adam yang langsung menindih tubuhnya. Mata keduanya terbelalak seketika saat sebuah benda kenyal mendarat di bibirnya.
Tanpa sengaja Adam mengecup bibir Hawa.
Dalam waktu yang lama mereka tertegun mencoba merasakan sesuatu yang luar biasa berbeda, tetapi semua itu tidak bertahan lama, saat Hawa menerjang dengan kedua kakinya yang menendang kejantanannya.
Tentu saja Adam menjerit yang langsung melepaskan pagutan bibirnya. Di pegangnya dengan erat barang berharga miliknya. Ada rasa nyeri, ngilu, bahkan tubuhnya kini terasa demam ada aliran-aliran listrik yang menjalar.
"Aby tidak apa-apa?"
Polosnya Hawa yang bertanya seperti itu. Hawa menyadari kesalahannya yang merasa ngilu sendiri melihat Adam memegang benda miliknya.
"Maaf Aby, Hawa tidak sengaja." Hawa merasa bersalah.
"Cepat turun, ambil wudhu kita sholat subuh sebelum waktunya habis," ucap Adam datar yang melangkah pergi.
Wajahnya masih terlihat memerah, entah menahan amarah atau rasa sakit dan nyeri.
Hawa turun dari ranjangnya mengikuti Adam menuju kamar mandi, lalu melaksanakan sholat berjamaah.
*****
Adam membaringkan tubuhnya sejenak di atas kursi seraya menghembuskan nafasnya. Ngilu dan nyeri masih ia rasakan. Bukannya mendapat sentuhan malah mendapat tendangan.
Dan rasa ngilu itu hingga terasa ke atas kepalanya, membuat kepalanya berdenyut dan pusing. Di saat tangannya sedang memijat pelipisnya, tiba-tiba aroma kopi hitam begitu harum tercium.
Saat membuka mata secangkir kopi sudah tersedia di depannya. Adam merasa heran siapa yang sudah membuatkannya kopi?
"Aby, Hawa sudah buatkan kopi untuk Aby. Silahkan di minum."
__ADS_1
Suara indah itu mengalihkan pandangannya. Diliriknya Hawa sedang tersenyum manis padanya. Bukannya senang Adam malah menatap heran pada istrinya itu.
"Tumben. Ini kamu yang buat?" tanya Adam untuk memastikan. Hawa langsung mengangguk.
"Sini Aby biar Hawa pijitin. Pasti Aby pusing ya."
Tanpa di suruh Hawa langsung memijat pelipisnya. Tingkah Hawa memang sangat aneh, tapi Adam senang karena di perhatikan istrinya itu.
Mungkin saja Hawa merasa bersalah karena sudah menendang kejantanannya.
Adam membiarkan Hawa memijatnya dengan lembut lalu tangannya mengambil secangkir kopi hitam di depannya.
Baru saja Adam menyeruput kopinya langsung ia muntahkan. Hawa yang melihat itu sangat terkejut kenapa Adam menyemburkan kopinya.
"Aby kenapa apa kopinya tidak enak?"
"Tidak, kopinya masih panas jadi Aby semburkan."
"Kalau gitu biar Hawa buatkan lagi."
"Tidak usah, biar Aby saja nanti yang buat."
Terpaksa Adam berbohong karena tidak ingin menyakiti hati istrinya. Bukan karena panas melainkan karena rasa kopi itu yang pahit dan asin, mungkin bukan gula yang Hawa tambahkan melainkan garam.
"Apa kamu mau jalan-jalan pagi? Sepertinya di luar sangat sejuk," ajak Adam untuk menghilangkan kecanggungan. Hawa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tunggu di sini Aby mau simpan cangkirnya dulu." Adam bangun dari duduknya melangkah menuju dapur.
Setelah menyimpan cangkirnya, Adam kembali ke ruangan utama. Tangannya langsung menarik tangan Hawa.
"Ayok." Hawa hanya diam saat tangan itu di genggan lalu di tuntun.
*****
Mencium aroma teh yang khas dan saat di seduh langsung rasanya akan sangat khas dan wangi.
Villa Istana Bunga ini benar-benar memanjakan mata mereka. Perkebunan teh yang membentang sangat luas. Tidak hanya kebun teh tempat itu juga sangat dekat dengan tempat wisata yang ada di kota bandung.
Adam mengajak Hawa menyusuri satu curug yang dekat dengan villa itu. Namanya curug Aseupan yang airnya sangat jernih yang tersembunyi di balik pohon-pohon hijau dan perkebunan.
Jalanan yang dilewati cukup terjal karena tidak semulus jalanan aspal. Banyak bebatuan, dan tanah yang berlenggok, serta ranting-ranting pohon yang menghalangi dan jalanan setapak.
Jadi harus lebih hati-hati untuk pergi ke sana.
"Aby kita mau ke mana?"
"Ikuti saja Aby, nanti kamu juga suka sama tempatnya."
"Jalanannya susah, kalau tahu gini aku pakai jeans."
Tentu saja Hawa akan kesulitan karena memakai gamis.
"Sini pegang tangan Aby. Jalan pelan-pelan saja, sebentar lagi juga sampai."
Tanpa ada penolakan Hawa langsung menerima uluran tangan Adam. Dengan hati-hati mereka berjalan setapak demi setapak. Hingga tibalah di ujung jalan yang memperlihatkan sebuah curug yang tinggi dengan air jernih yang meluncur dari atas sana.
Desiran air yang mengalir di bawah bebatuan, sangat bening hingga dasar sungai pun terlihat jelas. Tumbuhan hijau di sekelilingnya sungguh menyejukkan.
"Masya Allah, indah sekali ciptaanmu."
Tidak sia-sia mereka menempuh perjalanan yang cukup sulit yang akhirnya di manjakan dengan panorama indah.
__ADS_1
"Aby ini indah sekali." Puji Hawa, "Baru tahu ada tempat seperti ini."
"Mau foto?" tawar Adam tentu saja Hawa mengangguk.
Mereka mengambil beberapa foto dari tiap sudut. Adam diam-diam mempotret Hawa saat sedang memainkan air sungai. Adam jadi teringat tentang foto dirinya saat di bukit.
Karena foto itu membuat mereka terikat tali suci pernikahan. Adam tersenyum mengingat hal itu, dan Adam berharap semoga foto saat ini akan membawa berkah lagi bagi dirinya.
Setelah puas bermain air mereka duduk di tepian batu besar. Duduk dengan tenang seraya menikmati indahnya pemandangan curug.
"Aby tempat ini sepi sekali. Apa tidak takut ada ular?"
"Ular tidak mungkin betah di tempat ini."
"Ya mungkin saja By, ini kan sungai dekat hutan juga lagi."
"Kan ada Aby ngapain takut?"
"Aby aku serius."
"Aby juga serius."
Sedetik pandangan mereka bertemu. Adam menatap Hawa di sampingnya begitupun dengan Hawa. Debaran jantung mulai tidak karuan, aliran darah mulai berdesir merasakan setiap genggaman.
Adam sama sekali tidak melepas genggaman tangannya. Hawa semakin takut saat Adam terus menatapnya. Pikiran liar pun mulai berkelana.
"Aby jangan macam-macam."
"Tidak mungkin Aby melukai istri Aby sendiri."
"Bukan itu maksud Hawa, Aby tidak ada niat untuk …."
"Kamu pikir Aby akan melakukannya di tempat ini? Hawa, Aby tidak akan memaksa mu dan Aby tidak akan melakukannya jika kamu belum siap. Jadi jangan lagi takut sama Aby. Memang kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Tetapi, jika salah satu diantara mereka ada yang tidak ikhlas melakukannya apa lagi karena terpaksa, sama saja Aby sebagai suami sudah dosa karena memaksa istri Aby."
"Maafkan Hawa Aby, tapi Hawa belum siap. Hawa takut, jika nanti Hawa hamil bagaimana? Hawa 'kan masih sekolah."
"Kenapa takut 'kan ada Aby yang tanggungjawab," ucap Adam yang menggoda.
"Aby!"
Seketika Adam tertawa melihat ekspresi Hawa yang lagi-lagi takut.
"Aby, bercanda. Tapi … apa boleh Aby meminta sesuatu?"
"Apa?" Hawa mulai curiga.
"Apa boleh Aby, melakukan hal seperti tadi pagi?"
Sedetik Hawa tertegun memikirkan perkataan Adam. Apa yang dilakukannya saat di villa? Hawa pun kejadian saat subuh. Saat kedua bibir mereka bersentuhan.
Pipi Hawa tiba-tiba memerah mengingat peristiwa itu. Hawa merasa malu apalagi melihat Adam yang terus menatapnya.
"Hawa!"
"Gimana ya By," ucap Hawa malu-malu.
Namun, tiba-tiba Hawa memejamkan matanya seakan siap menerima sentuhan dari Adam.
"Hawa kenapa terpejam?"
"Lakukan saja By, tapi pelan-pelan."
__ADS_1
"Alhamdulillah."
Satu sinyal yang Hawa berikan, membuat Adam tersenyum. Tanpa menunggu lama lagi Adam mendekatkan wajahnya. Dalam seketika kedua benda kenyal itu sudah saling menyatu.