
Di belakang rumah Yusuf dan Adam bersantai sambil menikmati kopi. Aroma kopi yang khas menjadikan pikiran lebih rileks dan tubuh terasa bugar kembali.
Melayani istri sepanjang waktu itu lebih melelahkan dari pada mengajar seharian. Namun, Adam bersyukur karena sudah memuaskan dan membahagiakan istrinya.
"Minum dulu Dam, kopinya selagi hangat."
"Iya Kak, Yusuf terimakasih." Dalam waktu bersamaan mereka menyeruput kopi.
"Berapa ronde Dam? Adikku pasti minta jatah terus ya?" Awalnya Adam bingung, tetapi setelah mendengar kata terakhir dari Yusuf barulah Adam mengerti, merasa malu sendiri.
"Kak, Yusuf bisa saja."
"Itu, jejak cintanya terlihat."
Yusuf berkata seraya menggerakkan telunjuk pada lehernya. Dengan isyarat itu Adam mengerti yang langsung menutup kancing kemeja yang sedikit terbuka.
"Adikku ganas juga ya." Yusuf tergelak.
"Ah, Kak Yusuf ini bisa saja. Nanti juga Kak Yusuf akan tahu seperti apa rasanya."
Yusuf tersenyum. Merasa bersyukur jika rumahtangga adiknya harmonis. Awalnya Yusuf takut jika Hawa, tidak akan pernah menerima pernikahan itu selamanya. Namun, ternyata dugaannya salah.
"Ngomong-ngomong, apa Kak Yusuf sudah punya calon? Jangan sampai di jodohin lo kak, Hawa ngebet banget mau cariin jodoh buat kakaknya."
"Dasar, anak itu. Jodoh itu urusan Allah lagian kakak belum niat untuk menikah."
"Jodoh memang urusan Allah, tapi tetap saja harus di cari. Asma, wanita baik Adam sangat mengenalnya."
"Apa kamu berniat menjodohkan ipar mu ini?" tanya Yusuf dengan tatapan menyelidik. Dan Adam hanya tersenyum.
Namun, perkataan Adam itu membebani pikirannya. Yang terus terbayang-bayang akan pesan Anshor yang menitipkan Asma padanya.
Bagaimana dia bisa menjaga Asma sedangkan jarak mereka berjauhan. Tidak tahu bagaimana keadaan Asma saat ini. Apakah sehat atau sakit.
Tok, tok, tok.
Hawa mengetuk pintu salah satu kamar santri yang saat dibuka muncullah Asma dari balik pintu itu. Asma menatap heran pada Hawa yang malam-malam begini datang menemuinya.
"Hawa, ada apa?"
"Jangan GR. Aku ke sini di suruh kak Yusuf melihat keadaanmu."
Wajah cemberut Hawa sangat lucu di mata Asma, yang jelas terlihat sedang kesal. Bisa saja Hawa tidak menuruti perkataan kakaknya itu karena jarak mereka yang berjauhan. Namun, Hawa tetap mendatangi Asma walau dengan raut wajah kesalnya.
"Bilangin saja aku baik-baik saja."
Hampir setiap hari Yusuf akan menghubungi adiknya hanya untuk menanyakan Asma.
"Sebenarnya apa sih hubunganmu dengan kakak ku? Apa kalian … "
__ADS_1
"Apa Wa? Aku mengenal kak Yusuf saat di sekolah. Karena kak Yusuf sempat mengajar tapi hanya sebentar. Lalu kami bertemu lagi saat aku akan bekerja di tempatnya tapi, kak Yusuf tidak mengizinkan yang mengirimkan ku langsung ke pondok," jelas Asma. Namun Hawa tetap curiga.
Kayanya gak mungkin deh jika mereka tidak ada hubungan apa-apa. Kak Yusuf begitu perhatian. Tapi … masa iya aku punya ipar seumuran.
Batin Hawa yang terus menatap penuh selidik.
"Hawa!" panggilan Asma membuyarkan lamunannya.
"Sudah malam lebih baik kamu pulang. Nanti di cariin mas Adam lo."
"Sok tahu!" balasnya dengan ketus lalu pergi menuju rumah Kiyai.
*****
"Istri Aby kenapa cemberut terus?"
Adam gemas melihat bibir kerucut istrinya. Akhir-akhir ini Hawa selalu emosi bawaannya ingin marah. Jika Adam tidak bersabar mungkin hampir setiap hari mereka akan bertengkar karena tidak ada yang mengalah.
"Kesel By."
"Kesel kenapa?"
"Kak Yusuf terus saja telepon hanya untuk menanyakan Asma. Katanya tidak ada hubungan apa-apa ngapain coba nanyain terus."
"Jadi istri Aby ini cemburu sama kakaknya. Ada wanita lain yang di perhatikan selain adiknya. Gimana kalau nanti kak Yusuf sudah nikah."
"Kak Yusuf seperti itu karena dapat amanat dari papanya Asma untuk menjaga putrinya. Ya jelas kak Yusuf pasti nanyain terus."
"Kalau gitu kenapa gak nikah saja. Jadi Hawa yang capek 'kan."
"Boleh juga, nanti Aby sampaikan sarannya."
"Eh Aby jangan! Hawa gak setuju. Masa punya ipar yang seumuran." Sepertinya Hawa tidak ingin tersaingi. Bukan karena tidak setuju.
"Ya, sudah deh. Setuju atau enggak terserah istri Aby karena jodoh tidak ada yang tahu. Sekarang kita tidur sudah malam."
Baru saja mereka akan merebahkan tubuhnya tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Suara minta tolong yang sangat keras entah hanya mereka yang mendengar atau seluruh penghuni pondok mendengarnya.
Sejenak Hawa dan Adam saling pandang, sebelum akhirnya mereka turun dan keluar dari kamar. Bersamaan dengan Kita juga Ummi yang keluar dari kamarnya.
"Ummi? Aby? Mendengar suara teriakan tidak?"
"Iya Adam, Ummi dan Aby dengar. Itu sebabnya Aby dan Ummi keluar."
"Kita lihat saja di luar takut ada apa-apa."
Mereka pun melangkah bersama keluar rumah. Ternyata tidak hanya mereka, sebagian penghuni pondok juga mendengarnya. Mereka celingukan mencari sosok seorang wanita yang berteriak.
Tolong! tolong!
__ADS_1
Teriakan itu kembali terdengar.
"Suaranya terdengar lagi."
"Di situ!" Tunjuk Hawa pada luar gerbang. Seorang wanita yang tengah berlari yang di kejar seorang pria di belakangnya.
"Ya Allah." Ummi terkejut saat melihat senjata yang dipegang pria itu. Seolah akan membunuh wanita di depannya.
"Adam, gerakkan para santri. Kita tolong wanita itu."
Adam dan Kiyai menggerakkan seluruh santri berlari menuju gerbang. Beruntung Adam sampai dengan cepat, membuka gerbangnya.
"Mba masuk!"
Wanita dengan rambut singa yang berantakan. Wajah kusut penuh lebam, keadaan tubuh yang kotor penuh dengan noda merah segera berlari dan masuk ke dalam pondok.
Adam segera menutup pintu gerbangnya. Dan pria asing berbalik meninggalkan area pondok. Mungkin dia takut dikerumuni para santri. Wanita itupun langsung terduduk lemah di bawah lantai.
Tubuh penuh dengan keringat, kotor, dengan nafas yang tersengal-sengal. Pasti masih ada rasa trauma pada dirinya. Entah apa yabg terjadi, dan entah siapa pria itu. Namun, sepertinya sudah terjadi hal buruk membuat wanita itu takut hingga gemetar.
"Astaghfirullah." seru Idris dan Ujang yang menutupi wajahnya segera memalingkan pandangannya.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Ikhsan menatap kedua temannya dengan bingung.
"Aurat San, aurat."
"Astaghfirullah!" ucap Ikhsan yang tersadar apa yang sudah dia lihat.
Paha mulus, dan kedua belah dada yang terlihat. Wanita itu hanya menggunakan rok mini dan t-shirt yang membentuk tubuhnya.
Entah mereka harus bersyukur atau memohon ampun atas pemandangan indah itu. Pemandangan yang langka yang tidak pernah mereka lihat. Indah tapi takut dosa.
Berbeda dengan Adam, yang melemparkan pandangannya ke sembarang arah asal tidak melihat wanita itu. Wanita itu mendongak, menatap para santri di sekelilingnya. Menyadari keberadaannya di dalam sebuah pondok ia merasa malu sendiri hingga menutupi tubuh itu dengan tangannya.
Namun, tetap memperlihatkan lengkuk tubuhnya.
"Mba tidak apa-apa?"
Ummi Khodijah dan para santriwati segera menghampiri. Membantu wanita itu untuk berdiri. Dari sebagian mereka membawa selimut yang sengaja di tutupi pada tubuh wanita itu. Menyadari para santrinya yang melihat.
"Tenangnya Mba di sini aman."
"Terimakasih," ucap wanita itu lalu mendongak, memperlihatkan wajahnya. Hawa terkejut mengenal jika itu temannya.
"Mira!"
...----------------...
Maaf ya kemarin salah copy teks. Dan maaf banyak typo karena author tulis pake hp jadi suka salah pencet.
__ADS_1