Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 26- Kembali mondok


__ADS_3

Hawa dan Yusuf sudah sampai di pondok pesantren An-nur. Pemandangan pertama yang di lihat adalah penampakan aktifitas para santri yang sedang rehat.


Yusuf tidak menunggu esok pagi untuk mengantarkan adiknya. Sore itu juga Yusuf langsung berangkat ke kota bogor. Di mana letak pesantren itu berada.


Sebagian santri ada yang sedang bersantai, mengobrol dan bercanda. Ada juga yang sibuk menghapal, mungkin mereka yang sedang di kejar hapalan oleh gurunya.


Mobil Yusuf berhenti di depan rumah Kiyai. Malas sekali Hawa untuk turun, jika tidak terpaksa karena kakaknya.


"Hawa turun!"


"Kak!"


"Jangan kaya anak kecil, ayo turun. Kamu mau kakak kirim ke kairo?"


"Kakak! Itu saja yang di bahas," gerutu Hawa kesal, lalu turun dari mobil dengan ekspresi bibir mencebik.


Yusuf memberikan pilihan, jika Hawa tidak ingin kembali mondok Yusuf akan kirimkan Hawa ke kairo, tempat Yusuf menempuh pendidikannya. Tentu saja Hawa tidak ingin itu terjadi.


Yusuf dan Hawa mengucap salam, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah Kiyai. Kebetulan hanya ada Ummi Khodijah sedangkan Kiyai dan Adam sedang berada di luar.


Yusuf dan Hawa duduk di atas sofa yang sudah tersedia. Ummi Khodijah melangkah menuju dapur membawakan mereka jamuan dan minuman.


Dua cangkir teh Ummi letakan di atas meja tidak lupa bolu talas yang sudah tersaji ia suguhkan.


"Silahkan di minum, maaf tidak di jamu apa-apa," tutur Khodijah yang sudah terduduk di sofa.


"Terimakasih Ummi," ucap Yusuf lalu meneguk secangkir tehnya begitu pun dengan Hawa.


"Bu Marwah tidak ikut?" tanya Khodijah yang tidak melihat Marwah.


Yusuf menyimpan kembali cangkir tehnya, lalu menjawab perkataan Khodijah. "Mama sedang tidak sehat. Jadi Yusuf titipkan pada saudara karena jika di rumah tidak ada yang menjaganya. Karena Yusuf juga harus fokus pada perusahaan."


"Iya, ya. Semoga ibu kalian segera sembuh. O ya, Hawa sudah mau mulai mondok lagi?"


"Iya, lagi pula jika di rumah tidak ada yang menjaganya."


"Bukan aku yang mau tapi kak Yusuf," protes Hawa yang masih tidak terima jika dirinya di kirim lagi ke pondok.


Yusuf hanya menggeleng seraya mengembuskan nafas nya kasar. Ia sudah mengerti bagaimana sikap adiknya itu.


"Hawa kamu dengarkan apa kata Mama? Mama bilang apa tadi saat di telepon?"


"Iya-iya."


Marwah dan Hawa sempat berbicara walau hanya lewat sambungan telepon. Dan Marwah berpesan untuk selalu menurut pada kakaknya. Kembali ke pondok den menetap di pondok.


"O ya Ummi di mana pak Kiyai?" Baru saja Yusuf bertanya, dari luar terdengar suara salam seperti suara Kiyai dan Adam.


Saat menengok ternyata benar, Kiyai Abdullah dan Adam sedang melangkah ke arahnya.


"Assalamualaikum," mereka mengucap salam lalu duduk bergabung bersama.

__ADS_1


Yusuf menanyakan tentang kepergian pak Kiyai sebelumnya. Namun, kiyai hanya menjawab 'Ada urusan sebentar' selalu itu yang Kiyai katakan. Walau wajahnya terlihat tidak sehat.


Kiyai pun menoleh pada Hawa ia senang karena Hawa sudah kembali lagi ke pondoknya.


"Hawa sudah mulai masuk lagi?"


"Iya pak Kiyai." Yusuf yang menjawab. Sedangkan Hawa tetap diam.


"Bagaimana kabar mu Yusuf?"


"Alhamdulillah baik."


"Ummi antarkan Hawa ke asrama atau panggil Ustadzah Lili untuk mengantarkannya."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Tapi … bisakah Ustadz Adam yang membawakan barangku?"


Adam tercekat saat namanya di panggil. Untuk pertama kalinya ada seorang murid yang memerintahnya. Adam masih mengingat kejadian saat Hawa pingsan. Perasaan itu kembali ia rasakan jika pandangan mereka berdua bertemu.


Adam tidak tahu perasaan apa itu, perasaan yang sama sekali belum ia rasakan.


"Simpan saja di sana nanti aku bawakan," ucap Adam yang segera memalingkan wajahnya.


Yusuf menatap Hawa dengan kesal. Baginya sikap adiknya sangat tidak sopan. Memerintah sang guru sesuka hatinya.


"Tidak perlu Adam biar saya saja yang membawanya," tutur Yusuf.


Namun di sanggah Kiyai. Yang memanggil seorang pengurus pondok untuk membawakan koper Hawa.


"Adam bisa kita bicara?" tawar Yusuf. Adam hanya mengangguk lalu mereka berdua pun pamit keluar untuk bicara seraya melihat-lihat area pondok.


*****


"Aby apa kata Polisi?"


"Mereka akan segera mengurusnya."


"Syukurlah, tapi Ummi masih takut Aby."


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Masih ada Allah yang melindungi kita."


Ummi Khodijah begitu gelisah. Sebab, keluarganya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada seseorang yang mengancam dan meneror keluarga ini, entah apa maksud orang itu yang berniat jahat pada Kiyai dan keluarganya.


Seperti tadi pagi mereka mendapat sebuah kiriman berupa seekor bangkai ayam yang baunya sangat menyengat. Beberapa hari yang lalu mereka pun mendapat teror.


Sebuah kotak yang berisi miniatur sebuah pesantren yang sama percis dengan pesantrennya, miniatur itu dalam keadaan hancur atau ambruk.


Mungkin ada seseorang yang ingin melihat pondok pesantrennya hancur. Namun Kiyai, Ummi dan Adam tetap tenang tidak mengatakan teror itu pada orang lain.


Namun, ada yang membuat mereka takut. Jika orang itu mengancam para santrinya.


"Jangan melamun," tegur Kiyai pada istrinya. "Aby ke kamar dulu mau siap-siap sebentar lagi waktu magrib."

__ADS_1


"Iya By. Ummi mau beberes dulu," ucap Ummi yang membereskan cangkir kotor bekas jamuannya tadi.


Kiyai melangkah menuju kamarnya. baru saja membuka pintu sudah di suguhkan dengan bau busuk dan anyir yang berasal dari dalam kamarnya.


"Astagfirullah aladzim."


Sungguh terkejutnya Kiyai saat melihat banyaknya darah yang membasahi lantai kamarnya.


Yang menjadi pertanyaan dari mana darah itu berasal?


"Aby mm …."


Khodijah berniat memanggil suaminya, tetapi bau anyir langsung tercium membuat tangan itu menutup hidungnya. Saat ini tatapan khodijah tertuju pada cairan kental merah yang memenuhi isi kamarnya.


"Aby itu darah apa? Bau sekali."


"Aby juga tidak tahu."


"Perasaan tadi Ummi membersihkan kamar tidak ada darah."


"Sekarang kita bersihkan. Jangan bilang pada siapa-siapa terutama Adam."


Ummi segera membawa kain pel lalu membersihkan noda darah itu satu persatu. Namun, Kiyai melarang Ummi membersihkan sisa noda darah yang ada di hadapannya.


Awalnya Ummi bingung, tapi tetap menurut. Setelah lantai di bersihkan, Kiyai mulai duduk di hadapan darah itu, membacakan doa-doa amalan yang ia ketahui.


Ummi hanya duduk di ranjangnya memperhatikan Kiyai membacakan doa untuk darah itu. Setelah selesai barulah Kiyai meminta Ummi untuk membersihkannya.


"By siapa yang tega melakukan ini? Apa tujuannya?"


"Sudahlah Ummi, kita serahkan ke pada Allah Ta'ala. Sekarang Aby mau pergi ke mesjid sebentar lagi magrib."


"Tunggu Aby, Ummi ikut mau berjamaah di mesjid."


Rasa takut Ummi tidak bisa di tutupi. Walau pun berada di lingkungan santri dan mempunyai suami seorang ulama tetap saja dirinya merasa takut jika menyangkut hal-hal seperti ini.


Sebab, orang yang dzolim tidak akan tahu kapan datangnya, bisa saja saat dirinya sendirian datang lagi berbagai kiriman.


"Ya sudah, cepat siap-siap Aby tunggu di luar."


Khodijah langsung membawa mukena dan sajadahnya lalu pergi meninggalkan kamarnya.


...****...


Allah Ta’ala berfirman:


أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ


“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).


“jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

__ADS_1


__ADS_2