
Bulan madu sudah berakhir. Hadiah terindah dari kedua orangtua yang membawa berkah. Berkat tiket honeymoon itu Adam dan Hawa semakin dekat, membuat hubungan keduanya semakin erat.
Bahkan Adam sudah memiliki Hawa seutuhnya. Kini hubungan mereka semakin romantis walau di antara keduanya masih malu-malu.
Seperti saat ini, tangan keduanya saling menggenggam erat. Walau sedang mengendalikan mobil Adam tidak pernah melepaskan genggaman tangannya itu.
"Aby."
"Iya sayang."
Sedetik pipi merahnya kembali merekah, saat panggilan sayang Adam ucapkan. Hawa langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menyembunyikan pipi tomat itu.
"Ada apa sayang?" Adam pun tersenyum melihat tingkah Hawa.
"Aby! suka sekali menggoda."
"Siapa yang menggoda? Memang Hawa kesayangan Aby 'kan?"
"Sayang, tapi suka marah-marah."
"Kapan? Aby tidak pernah marah."
"Dulu. Aby juga kejam, nyuruh Hawa setor hapalan 10 ayat dalam sehari."
"Dulu 'kan Aby gak tahu jika Hawa adalah jodoh Aby. Lagi pula itu untuk kebaikan Hawa biar bisa hapal Al-Quran. Aby merasa diingatkan. Sudah berapa ayat hapal surah Al-baqoroh?"
"Ih, Aby. Sekarang bukan waktunya belajar. Jangan ungkit-ungkit tentang hapalan. Sekarang itu kita suami istri bukan guru dan murid."
"Jika bukan waktunya belajar lalu apa? Waktunya bikin cucu buat Ummi ya?"
"Ih, Aby!"
Adam semakin tergelak, dan Hawa semakin cemberut. Bagi Adam Hawa semakin lucu apalagi saat bibir itu monyong ke depan. Membuat Adam semakin gemas.
"Aby tadi keluarin nya di luar 'kan?"
Hawa seolah diingatkan tentang malam Sunnah nya, antara kapan Adam menyemburkan lahar vanila nya. Apakah di luar atau di dalam. Karena Hawa belum siap jika harus hamil. Namun, jawaban Adam membuat Hawa kecewa.
"Aby lupa Hawa, di dalam atau di luar ya?"
"Ih, Aby!" Pukul Hawa pada Adam.
"Kok marah sama Aby sih! Abis tadi istri Aby yang minta nambah jadi Aby lupa, kalau untuk yang pertama Aby keluarkan di luar. Tapi untuk yang kedua dan ketiga Aby lupa." Ucap Adam sambil cengengesan.
Karena kesal Hawa mencubit tangan Adam, membuat Adam kesakitan.
"Hawa jangan ganggu Aby, Aby lagi nyetir." Adam takut jika kejadian sebelumnya terulang. Kejadian yang hampir membuat mereka kecelakaan.
"Abis Aby jahat. Aby malah lupa gimana kalau Hawa hamil Aby!"
"Kita baru sekali melakukannya belum tentu hamil sekarang."
"Tapi tetap saja kalau keluarnya saat di dalam."
__ADS_1
"Ya, kalau hamil juga tidak apa-apa. Ummi senang nanti mau punya cucu."
"Aby! Ih, nyebelin."
Adam tertawa renyah dan Hawa semakin cemberut.
Mobil mereka akhirnya sampai di depan gerbang pesantren Annur. Mobil itu semakin masuk ke dalam hingga tiba di depan rumah Kiyai.
Adam dan Hawa turun dari mobil. Ummi langsung menyambut kedatangan mereka setelah mendengar suara deruan mobil putranya.
"Assalamualaikum Ummi."
"Waalaikumsalam."
Hawa dan Adam pun mencium tangan Ummi Khodijah. Senyuman Ummi begitu merekah melihat kedatangan putra dan menantunya.
"Aduh, yang baru pulang honeymoon. Gimana perjalanannya lancar?"
"Alhamdulillah Ummi lancar," jawab Adam.
"Bagaimana pesan Ummi?" Hawa mendadak malu saat mendengar pertanyaan Ummi, yang sudah pasti menanyakan tentang percetakan cucunya.
Karena tidak ingin terus diungkit masalah itu, Hawa memutuskan untuk masuk terlebih dulu.
"Ummi Hawa masuk dulu ya Ummi. Hawa mau istirahat."
"Oh iya. Maaf Ummi lupa kalian pasti capek. Adam antarkan Hawa ke kamar. Barang-barang biar nanti Ujang yang bawakan."
"Iya Ummi."
"Capek?"
"Iya Aby. Badan Hawa pegel semua."
"Ya sudah, Hawa duduk bersandar pada ranjang," titah Adam. Hawa menatap curiga.
"Mau ngapain?"
"Curiga terus. Duduk saja biar Aby pijitin."
Hawa hanya ber 0h ria. Adam mulai memijat kedua kakinya dari betis hingga paha. Sungguh suami yang sangat perhatian.
Tidak pernah lelah memanjakan istrinya.
"Makasih Aby. Aduh enak banget Aby."
"Enak ya, nanti giliran Aby ya pijitin."
"Boleh."
"Tapi … plus-plus ya."Adam berkata seraya menaik-turunkan alisnya. Hawa yang tahu maksud suaminya itu hanya diam tidak memberikan komentar.
Berbeda dengan Hawa, yang saat lelah ada yang mengobati rasa lelahnya. Memijatnya dan memanjakannya. Tapi Asma, ia hanya memijat kedua kakinya sendiri saat merasakan pegal di seluruh badannya karena mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
Asma sudah mulai bekerja di rumah Yusuf, walaupun Yusuf tidak memerintahkannya untuk melakukan pekerjaan yang berat. Yang kini Asma hanya beberes saja menyapu dan mengepel.
Bagi sebagian orang mungkin itu tidak terlalu berat. Namun, tidak bagi Asma yang baru pertama kali melakukannya. Naik turun tangga membuat kakinya pegal seperti diikat tali rasanya begitu nyeri.
"Assalamualaikum."
Suara salam mengejutkannya membuat Asma berdiri dan langsung berlari menuruni tangga menuju lantai dasar.
"Waalaikumsalam," sahut Asma yang tengah berlari lalu membuka pintu.
"Mbok Ijah tolong bawa barang-barang di mobil ya."
Marwah yang baru datang terkejut melihat seorang gadis seumuran putrinya di pikirnya itu adalah Mbok Ijah. Marwah yang hendak masukpun berhenti saat menatap Asma.
"Kamu siapa?"
"Saya Asma Bu, yang baru bekerja di sini," ucap Asma, yang mengingatkan Marwah pada pesan Yusuf beberapa jam lalu. Yang mengatakan jika mereka akan kedatangan pekerja untuk membantu Mbok Ijah.
Marwah Pun teringat. Namun, tidak menyangka jika pembantu barunya semuda itu.
"Bu biar saya saja yang ambil barangnya."
"Oh iya, namamu Asma ya? Semoga betah kerja di sini."
"Iya Bu."
Asma pun membawa semua barang yang ada dalam mobil ke dalam rumah. Marwah baru saja belanja berbagai kebutuhan untuk dirinya juga putra dan putrinya.
"Ini Bu, sudah Asma letakkan. Apa Asma perlu menyimpannya di tempat?"
"Tidak usah makasih ya. Asma, boleh duduk sebentar." Marwah menepuk kursi kosong di sampingnya. Asma yang mengerti maksud Marwah langsung terduduk di atas sofa yang kosong.
"Kamu berapa tahun Asma? Kamu mengingatkan saya pada Hawa."
Sedetik Asma tertegun mendengar nama Hawa yang di sebut. Hawa yang penasaran akan foto Hawa pun bertanya pada Marwah siapakah Hawa? Marwah pun menjelaskan jika Hawa adalah putri satu-satunya.
"Jadi benar, Hawa adalah adiknya kak, Yusuf. Ya Allah kenapa aku bisa bekerja di rumahnya. Apa nanti kata Hawa jika tahu aku menjadi pembantu di rumahnya. Pasti Hawa akan mengejekku dan
memberitahukan pada teman-teman."
Asma, masih belum siap jika pekerjaannya itu di ketahui banyak orang. Apalagi teman-temannya. Asma yang dulu disegani karena anak dari keluarga terpandang, di hormati banyak orang akan sangat malu jika Adam dan keluarganya mengetahui kehidupannya yang sekarang.
"Asma kenapa bengong?"
"Tidak apa-apa Bu."
"Yusuf sudah cerita, dan Ibu juga setuju jika kamu harus fokus pada sekolahmu. Untuk bekerja kamu bisa kerjakan sepulang dari sekolah. Karena bagaimanapun kamu tetap masih harus belajar."
"Terimakasih Bu. Asma, tidak akan mengecewakan Ibu dan kak Yusuf. Dan Asma, akan tanggungjawab dengan pekerjaan Asma."
"Sudah jangan terlalu memikirkan pekerjaan, karena ada Mbok Ijah yang mengerjakan. Ibu turut prihatin atas musibah yang menimpa ibu dan ayahmu. Jika Ibu boleh tahu kenapa ayahmu di penjara?"
Asma terdiam, bingung harus mengatakan apa.
__ADS_1
"Ya Allah, keluarga Hawa sangat baik. Tapi apakah mereka akan tetap baik padaku jika tahu ayahlah yang menyebarkan fitnah itu dan memfitnah nama pesantren. Apa yang harus aku katakan," batin Asma.
"Asma?" panggil Marwah. Namun, Asma hanya tersenyum masih bingung harus menjawab apa.