
Setelah libur selama satu minggu. Hawa, kembali masuk kelas. Begitupun dengan Adam yang kembali mengajar.
Hawa mengendap-ngendap dalam berjalan, kepalanya celingukan memantau seisi kelas yang masih dalam keadaan sepi.
Hawa, merasa lega karena seluruh teman kelasnya belum datang. Dan itu menyelamatkannya dari cibiran mereka. Namun, tanpa Hawa tahu mereka semua bersembunyi untuk mengejutkannya.
Saat langkahnya mulai berjinjit menuju bangkunya yang berada paling belakang, tiba-tiba ketiga temannya muncul dari bawah meja. Membuat Hawa terkejut.
"Selamat datang Hawa!" teriak ketiga temannya Minah, Aisyah, dan Asiyah. Teriakan itu cukup mengejutkan baginya.
"Kalian kapan masuknya?" tanya Hawa gelagapan.
"Ciee, pengantin baru. Sini Wa duduk." Aisyah langsung menarik tangan Hawa untuk duduk di bangkunya. Selagi keadaan sepi mereka mengerumuni Hawa seakan-akan sedang mengintrogasinya.
"Kalian kenapa sih, kok natap aku seperti itu." Hawa mulai risi.
"Kita dengar kamu pulang honeymoon ya? Ceritain dong seperti apa sih honeymoon itu?"
"Oh iya, kamu sudah malam pertama kan Wa? Cerita dong gimana sih malam pertama itu."
"Ih! Kepo deh."
"Ih Hawa gitu saja marah. Kamu itu paling beruntung, dapat suami baik, tampan, pintar kaya Ustadz Adam. Masya Allah jadi berharap juga aku," tutur Minah seolah sedang membayangkan Adam saat ini.
"Jangan mengharapkan suami orang!" ketus Hawa tidak terima ada yang mengagumi suaminya.
"Siapa yang ngarepin suami orang."
"Itu tadi," tuding Hawa.
"Sudah-sudah jangan berantem!" rerai Aisyah. "Wa, ayo dong cerita kamu ngapain saja selama honeymoon. Kita 'kan pengen tahu Wa, seperti apa Ustad Adam yang kelihatannya acuh, tegas, kalau sama istrinya gimana?"
"Ya tentu romantis. Kalian tahu tidak, kami jalan-jalan mengelilingi kebun teh, pergi ke curug yang indah, aku dipijitin, masak bareng, pokoknya seru banget."
"Ustad Adam seromantis itu ternyata? Uhh … jadi iri deh." Hawa tersenyum merasa bangga menceritakan perhatian Adam selama ini. Ternyata banyak sekali wanita yang mengagumi Adam.
"Kalau untuk malam pertama gimana?" tanya Aisyah lagi.
"Mau tahu?" Mereka semua mengangguk.
"Nikah dulu nanti juga tahu."
"Ih, Hawa nyebelin. Orang kita udah fokus mau dengerin." Aisyah cemberut merasa dibohongi, tapi Hawa malah tergelak.
"Kalian ada-ada saja sih tanya soal itu. Ya gak bisa aku jelasin karena memang tidak bisa di jelaskan. Pokoknya kalian akan tahu itulah surga."
__ADS_1
"Ih, Hawa bikin penasaran saja." Aisyah semakin kesal. Hawa hanya tertawa, baginya itu adalah rahasia. Hawa saja merasa ketagihan saat membayangkan malam sunnah itu.
"Hawa kenapa senyum-senyum? Ayo lagi bayangin apa?"
"Enggak ada, pengen senyum saja. Senyumkan ibadah." Padahal Hawa sedang membayangkan Adam saat ini.
"Ini hadiah dari kita. Semoga kamu suka. O iya, katanya kamu pakai ini nanti malam saat tidur sama suamimu."
Minah memberikan sebuah kado pada Hawa, entah apa isinya.
"Apa ini?"
"Eh, jangan dibuka Wa. Nanti saja di bukanya." Mereka membuat Hawa penasaran apa yang di berikan ketiga sahabatnya itu.
Kelas sudah di mulai, kegiatan belajarpun mulai dilakukan. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi ujian membuat Hawa sibuk terus belajar. Begitupun dengan Adam, membuat mereka berdua tidak ada waktu bersama.
Dan kini giliran Adam yang mengajar di kelasnya. Namun, tetap saja mereka tidak bisa saling bicara atau menatap. Yang bisa Adam lakukannya hanyalah mencuri pandang.
"Wa, lihat tuh Ustadz Adam, lihatin kamu terus," bisik Asiyah yang duduk dengannya.
"Tidak apa-apa karena yang ditatap adalah istrinya. Kalau kamu tatap Ustadz Adam itu dosa karena bukan muhrim," celetuk Hawa yang ada rasa cemburu karena Asiyah terus memperhatikan Adam.
"Jangan tatap suamiku."
"Kalian selesaikan tugasnya, nanti kumpulkan pada Hawa, setelah selesai semua kamu berikan pada saya ya Hawa."
"Iya Ab … eh iya Ustadz." Baru saja Hawa akan memanggilnya Aby. Namun tertahan karena Hawa malu jika di dengar teman-temannya.
Asiyah yang duduk di sampingnya menatap penuh selidik.
Pada waktu jam istirahat, Hawa mengumpulkan semua tugas temannya lalu di bawa ke ruangan Adam.
"Assalamualaikum Ustadz," serunya. Adam pun menyahut dari dalam seraya membukakan pintu.
"Waalaikumsalam." Adam tersenyum lalu membantu Hawa mengambil beberapa tumpukan buku itu yang disimpannya di atas meja.
Adam kembali melangkah menuju pintu dan menutupnya. Saat Hawa akan beranjak dari kursi, Adam tiba-tiba memeluknya. Membuat Hawa terkejut.
"Aby!"
"Ssst … biarkan Aby memeluk sebentar saja. Jangan dulu keluar duduk dulu," bisik Adam pada Hawa.
"Tapi By ini'kan waktu istirahat gimana kalau ada yang masuk?"
"Gak akan ada, ini ruangan Aby. Aby kangen."
__ADS_1
"Ih, Aby semalamkan kita ketemu. Aby sih sibuk terus sama laptop jadi gak sadar ada istri di samping."
"Maaf ya, semalam Aby lagi sibuk mempersiapkan ujian besok. Dan ada kerjaan yang lain."
"Jadi lebih penting kerjaan dari pada istrinya?"
"Marah nih ceritanya," goda Adam yang mencubit gemas pipi Hawa. Lalu mengecupnya dengan lembut.
Kesibukan keduanya membuat waktu bersamanya terganggu. Jangankan bermanja-manja, ingin peluk cium saja sulit dilakukan, karena Adam selalu selesai bekerja pada tengah malam.
Kali ini Adam tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Mungkin Adam akan meminta jatahnya malam ini. Setelah merasakan nikmatnya cinta membuat keduanya tidak pernah melewati malam sunnahnya.
Jika Adam yang tidak meminta mungkin Hawa yang akan merajuk. Namun, selama persiapan ujian mereka sama-sama sibuk dan tidak ada waktu untuk melakukan malam sunnahnya.
"Aby, jangan di sini."
Tahan Hawa saat tangan Adam mulai membuka hijabnya. Bukannya Hawa menolak, ia sangat ingin apalagi saat mendapat sentuhan lembut dari Adam membuat hasratnya bergejolak.
Namun, Hawa takut jika ada yang melihat. Bagaimanapun mereka berada di kantor bukan rumah.
"Dikit saja."
"Enggak By." Hawa merasa bersalah karena menolak ajakan suaminya. Adam hanya membuang nafasnya berat. Padahal hasratnya sudah tidak tertahan lagi.
Hawa merasa bersalah melihat ekspresi Adam yang sedih karena ditolaknya. Membuat hadis abu hurairah kembali terngiang di kepalanya. Tidak boleh menolak ajakan suami maka wanita itu akan dilaknatnya.
"Aby."
"Tidak apa-apa Aby mengerti. Kita bisa lanjut nanti malam saja."
"Aby, tidak marah?"
"Untuk apa Aby marah sama istri Aby yang cantik ini. Selagi waktu istirahat masih ada kita makan bersama ya."
"Aby, bawa bekal?"
"Tadi diantarkan Ummi. Makanya Aby panggil istri Aby ke ruangan, biar kita makan bersama."
"Makasih Aby, kebetulan Hawa sudah lapar."
"Astaghfirullah, Aby sudah dosa karena membuat istri Aby kelaparan."
Adam pun meminta Hawa untuk duduk di kursinya. Adam menyiapkan hidangan yang ada. Sungguh perhatiannya Adam, yang selalu memanjakan Hawa dengan perhatian kecilnya.
Perlahan sendok itu ia arahkan ke dalam mulut Hawa. Suap demi suap Hawa terima, bukannya ingin memanjakan. Namun, itulah yang di sebut nafkah sesungguhnya.
__ADS_1