
Brak!
Pintu rumah dibanting keras. Sherly hanya pasrah saat ditarik paksa oleh ibunya yang sangat marah saat mengetahui kehamilannya.
"Mah ... Mama sakit."
"Diam!"
Ah ... ringis Sherly saat tubuhnya dibanting keras ke atas sofa. Ibunya hanya mendelik seraya bersidekap di bawah dada., tidak merasa kasihan sama sekali. Sorot matanya begitu tajam hingga Sherly tidak sanggup untuk menatap.
"Kamu sudah mempermalukan Mama Sherly!" Suara itu sangat menggema.
"Sekarang katakan apa benar kamu hamil? Siapa yang menghamili mu?"
"Sherly jawab ibu mu."
Kini ayahnya yang berkata. Sungguh kasihan tidak ada pembelaan dari siapapun untuknya. Bahkan ayahnya hanya menanggapi dengan santai saat sang istri memukul putrinya.
"Ini balasan kamu terhadap kami? Yang selama ini berjuang untukmu. Bekerja hingga malam demi dirimu. Apa yang tidak pernah kami berikan padamu Sherly sehingga kamu membalasnya seperti ini."
"Perhatian," lirih Sherly yang masih menunduk. Sedetik kepalanya mendongak menatap kedua wajah yang selalu ia rindukan.
"Apa kalian pernah memberikan perhatian untukku? Jangankan perhatian meluangkan waktu saja tidak pernah. Sekarang pun kalian tidak peduli dan malah memarahiku. Apa kalian tidak pikir jika keadaanku saat ini adalah karena kalian."
"Apa yang kamu katakan? Menyalahkan orangtuamu."
"Apa kalian pernah bertanya. Kemana ku pergi? Dan kapan ku kembali. Kalian selalu acuh tidak pernah sedikit pun ada rasa cemas pada putri kalian. Apa kalian peduli dengan siapa ku bergaul?"
"Jangan lemparkan pertanyaan. Kami tidak ada waktu untuk semua itu. Seharusnya kamu bisa jaga diri Sherly. Kamu yang tidak pandai memilih teman."
"Ck ... tidak pandai memilih teman? Kadang ku selalu iri pada temanku Hawa. Punya orangtua yang begitu peduli. Selalu bertanya kemana kau pergi? Dari mana? Dengan siapa? Saking cerewetnya Hawa kesal pada mereka. Dan dia merasa akulah paling beruntung karena orangtuaku tidak pernah mempermasalahkan kehidupanku. Namun, aku sangat ingin memiliki keluarga sepertinya, yang sangat perhatian dan peduli."
"Apa sekarang kamu sedang membuat drama Sherly? Topik pembicaraanmu malah menyebar kemana-mana. Sekarang katakan siapa yang menghamili mu?"
"Percuma saja dia tidak akan mau bertanggungjawab."
"Berapa usia kandungan mu?"
"Satu bulan."
"Satu bulan, masih belum terlambat. Ayo ikut Mama."
"Ma! Kita mau kemana?"
"Diam saja jangan banyak tanya." Sherly di bawa pergi oleh ibunya entah mau kemana.
*****
__ADS_1
Adam duduk dengan gelisah menunggu dokter yang sedang memeriksa istrinya. Kehamilan pertama dan anak pertama, wajar saja kepanikan mereka sangat besar karena ini untuk pertama kalinya.
Namun, sakit yang dialami Hawa bukanlah hal yang serius. Karena itu wajar terjadi pada kehamilan trimester pertama.
"Dok, bagaimana kandungan istri saya?"
"Jangan terlalu cemas Pak. Sakit perut pada kehamilan 0 sampai 12 minggu sudah biasa terjadi. Karena meningkatnya hormon progesteron dan relaksin yang membuat sambungan-sambungan tulang pada sekeliling rahim merenggang."
"Jadi ... Itu tidak terlalu parah?"
"Tidak Pak. Dan sakitnya akan hilang dengan sendirinya. Yang perlu di perhatikan, jangan terlalu stress dan cemas mungkin itu menjadi penyebabnya. Untuk pola makan juga tolong diperhatikan, perbanyak minum air putih, kurangi makanan yang membuat perut begah, konsumsi makanan berserat, dan makan dalam porsi kecil."
"Terimakasih Dok, saya akan perhatikan semua itu."
Dokter itupun tersenyum. Lalu memberikan beberapa resep obat vitamin padanya. Setelah itu Adam pun pamit pergi.
"Apa sekarang masih sakit?"
"Udah enggak By."
"Syukurlah. Jangan terlalu stres dan jangan terlalu memikirkan masalah Sherly. Biarkan saja mereka urus masalahnya sendiri. Toh kita sudah memberitahukan, mengajak bicara baik-baik tapi apa yang orangtuanya lakukan padamu."
"Kami sudah berteman sangat lama. Tidak mungkin jika Hawa tidak mencemaskan nya."
"Sudah Aby bilang jangan terlalu dipikirkan. Tunggu dulu," ujar Adam yang menghentikan mobilnya. "Tunggu di sini Aby mau beli air minum dulu." Adam pun turun melangkah menuju warung. Hanya berinteraksi sebentar dengan si pemilik warung lalu kembali masuk ke dalam mobil."
"Ini minum dulu." Adam memberikan sebotol air mineral pada Hawa yang sudah ia buka. "Dokter bilang harus banyak minum air putih."
"Mau beli sesuatu?" Hawa mengangguk.
*****
Hawa dan Adam sudah sampai di pondok. Mereka tiba larut malam karena harus pergi ke rumah sakit yang cukup jauh dari pondok. Kebetulan bidan terdekat sedang tidak praktek.
"Assalamualaikum." Adam dan Hawa memasuki rumah.
"Walaikumsalam," jawab Ummi yang menghampiri mereka.
"Baru pulang? Bagaimana keadaan Hawa?"
"Tidak apa-apa Ummi jangan panik. Alhamdulillah Hawa dan janinnya baik-baik saja. Kata Dokter itu hal yang wajar bagi ibu hamil yang mengalami sakit perut di usia kehamilan 0 sampai 12 minggu. Dan kami pergi ke rumah sakit yang cukup jauh karena bidan terdekat sudah tutup."
"Pantas saja lama," balas Ummi. "Ya sudah bawa Hawa ke kamar harus banyak istirahat."
"Iya Ummi. Oh ya? Itu ada tamu siapa Ummi?" tanya Adam yang melihat seorang tamu yang bicara dengan Kiyai.
"Teman Aby, yang lagi cari jodoh."
__ADS_1
"Jodoh?"
"Aby ... Hawa ke kamar duluan." Potong Hawa. Namun, Adam tidak akan membiarkan Hawa sendirian. Adam ikut mengantarkan Hawa lalu kembali ke luar setelah tamu itu pergi.
"Ummi ... Aby." Sedetik sepasang suami istri yang tengah duduk pun berbalik menghadap Adam.
"Eh, Adam. Sini duduk, Nak. Belum tidur?"
"Belum Ummi. Tapi Hawa sudah. O ya Ummi Adam penasaran tentang tamu tadi. Dia mencari jodoh santri sini maksudnya?"
"Kata Aby begitu. Iya 'kan Aby?" tanya Khodijah pada Kiyai.
"Iya. Dan tadi dia bertanya apa sudah ada yang mengkhitbah seorang santriwati yang sudah dia kenal sangat lama. Katanya mereka bertemu di sebuah sekolah negri dan berniat melamarnya sekarang."
"Siapa By santri itu?" tanya Ummi dan Adam.
"Asma, mereka ingin mengkhitbah Asma."
"Asma!" Sedetik Adam teringat pada Yusuf. Adam pikir Yusuf punya ketertarikan pada Asma dan harus memberitahukan kabar ini.
"Aby maaf, apa Aby menyetujui lamarannya?"
"Aby belum mengatakan apapun. Aby bilang akan tanyakan dulu pada Asma yang mungkin saja sudah ada yang melamar." Adam tersenyum lega.
"Sebaiknya Aby jangan dulu katakan apapun. Sepertinya ada seseorang yang sudah lama menaruh rasa pada Asma. Namun, orang itu masih malu mengatakannya."
"Siapa Adam?" Ummi dan Kiyai penasaran.
"Nanti Ummi dan Aby akan tahu saat dia datang untuk melamar Asma." Ummi dan Kiyai semakin dibuat penasaran.
Sepertinya aku harus segera beri tahu kak Yusuf, batin Adam.
*****
"Tidak Ma! Sherly gak mau."
Sherly begitu ketakutan. Saat sang ibu membawanya ke sebuah klinik aborsi.
"Sherly, ini belum terlambat. Kamu bisa melakukannya tidak akan sakit. Iya 'kan Dok?"
"Iya, hanya sedikit tidak akan terlalu sakit. Silahkan Nona Sherly untuk tidur."
"Tidak! Aku tidak mau Mah."
"Sherly!" bentak sang ibu dengan raut amarah.
...----------------...
__ADS_1
Kira-kira Asma akan dilamar siapa ya? Yusuf atau pria misterius itu? Siapa yang mendukung Asma dan Yusuf? Silahkan tulis komentar.
Dan kita doakan semoga Sherly tidak melakukan aborsi.