Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 30- Fitnah


__ADS_3

Ummi Khodijah dan Kiyai Abdullah saling memandang putranya. Adam yang bilang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi sudah 30 menit lamanya mereka terduduk, tidak ada sepatah kata pun yang Adam lontarkan. Membuat kedua orang tuanya bingung.


"Adam, Ummi bilang ada yang ingin kamu katakan tentang apa?" tanya Kiyai, Adam masih diam, seraya menautkan jari jemarinya.


"Iya Adam. Apa kamu sedang ada masalah? Katakanlah," tambah Ummi.


Adam menatap kedua orang tuanya sejenak. Lalu berkata,


"Begini Ummi, Aby. Sebenarnya … ada yang mengganggu pikiran Adam selama ini. Ada seseorang yang melamar ku untuk adiknya."


"Melamar?" Ummi dan Kiyai kaget. Sedetik bibir mereka melengkung dengan sempurna.


"Siapa Adam? Siapa yang melamar mu untuk adiknya?" Ummi Khodijah terlihat senang.


"Apa kami kenal keluarganya?" tanya Kiyai.


"Iya Aby. Kalian sangat kenal keluarganya dan wanita itu pun adalah santri di sini."


"Santri di sini siapa? Lalu apa tanggapan mu Adam?" tanya Ummi yang begitu antusias ingin tahu.


Adam melirik orang tuanya bergantian. Ragu, jika hasil istikhorohnya salah. Dan takut jika Ummi dan Aby nya tidak setuju karena tahu seperti apa wanita yang akan menjadi menantunya.


"Siapa Adam katakan Ummi ingin tahu."


"Wanita itu …."


"Assalamualaikum Pak Kiyai."


Baru saja Adam ingin mengatakan tiba-tiba suara Ustadzah Lili memanggil membuat ucapan Adam terhenti.


"Waalaikumsalam. Ada apa Ustadzah?" Ummi dan Kiyai langsung beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Ustadzah Lili.


"Ada santri yang jatuh Ummi."


"Jatuh di mana?"


"Jatuh dari pohon jambu Ummi."


Mereka semua langsung melangkah keluar untuk melihat siapa santri yang jatuh itu. Mereka tidak habis pikir untuk apa santrinya naik ke atas pohon.


"Astaghfirullah," ucap mereka serempak. Apa lagi Adam yang merasa malu melihat tingkah santrinya. Sampai menutup wajahnya.


"Hawa!"


Santri itu adalah Hawa, beruntung Adam belum mengatakan siapa nama wanita itu. Bagaimana tanggapan orang tuanya jika calon istrinya seperti ini. Salah satu santri yang nakal, dan bar-bar.


"Ya Allah, sepertinya aku harus mengulang istikhoroh ku," gumam Adam.

__ADS_1


Ummi dan Ustadzah Lili membangunkan Hawa yang sudah di kelilingi para santriwati lain. Hawa memegang punggungnya yang sakit karena terbentur.


"Hawa apa yang kamu lakukan di atas pohon hm …? Mau kabur lagi?"


"Siapa yang mau kabur suudzon saja Ummi."


"Begini Ummi." Aisyah menjelaskan kronologinya.


Hawa yang saat itu sedang berjalan-jalan bersama ketiga temannya. Cuaca siang ini begitu panas. Mereka duduk sebentar di bawah pohon jambu yang sangat lebat.


Hingga saat Hawa mendongak, sungguh tergiurnya Hawa saat melihat jambu-jambu merah di atas sana. Hawa pun menawarkan pada teman-temannya untuk memakan rujak.


"Kalian mau makan rujak gak? Kayanya panas-panas gini enak deh."


"Iya sih Wa, tapi rujak apa Wa?"


"Di kantin 'kan tidak ada rujak."


"Tuh di atas," tunjuk Hawa ke atas pohon jambu.


"Maksudnya jambu ini? Kita harus minta izin dulu pada Kiyai. Lagian gimana ngambilnya terlalu tinggi."


"Pohon ini 'kan ada di pesantren berarti milik kita bukan cuma milik Kiyai. Jika masalah memanjat aku ahlinya tenang saja. Kalian tunggu saja di sini dan tangkap buah jambu yang sudah ku petik."


"Tapi Wa."


Namun, namanya juga Hawa yang selalu mengandalkan berbagai cara. Entah tergelincir atau salah melangkah sehingga Hawa pun terjatuh dari atas pohon.


"Hawa!" Ummi terlihat kesal. "Ustadzah tolong bawa Hawa ke klinik takutnya ada yang terluka.


Ustadzah Lili pun membawa Hawa pergi bersama teman-temannya. Adam menatap sendu kepergian Hawa.


"Ada-ada saja Hawa ini," ujar Ummi.


"Adam tadi kamu bilang apa? Siapa wanita itu apa ada di antara mereka?" Ummi semakin penasaran. Namun Adam ragu untuk mengatakan.


"Hm …."


"Assalamualaikum Pak Kiyai?" panggil seorang Ustadz membuat ucapan Adam kembali terhenti.


"Waalaikumsalam."


"Ada apa Ustadz Soleh?" tanya Kiyai, wajah Ustadz Soleh begitu gelisah.


"Ada kabar yang tidak baik Kiyai."


"Maksudnya? Kabar tidak baik bagaimana?" Adam dan Ummi saling pandang.

__ADS_1


Mereka langsung melangkah menuju kantor. Entah ada masalah apa sehingga membuat Soleh gelisah.


"Ada seseorang mencemarkan nama baik pesantren. Di internet, bahkan masalah ini sudah di ketahui oleh masyarakat."


"Coba saya lihat."


Adam langsung mengambil ponsel milik Soleh. Matanya terbelalak saat melihat sebuah foto dalam ponsel itu. Foto seorang santri wanita yang di genggam seorang pria di sebuah cafe.


Bahkan wanita itu juga di peluk oleh si pria. Dalam postingan itu tertulis SANTRI BERTOPENG.


'Baju Syar'i, khimar panjang, hanyalah topeng untuk menutupi keburukannya. Mereka berdakwah pada orang lain, untuk tidak bersentuhan, berpandangan, bahkan bersalaman pun tidak kena. Tapi nyatanya hari ini saya melihat seorang santri yang bermesraan, di sebuah caffe bersama seorang pemuda. Saya kenal betul wanita itu adalah santri dari pondok pesantren An-nur.'


Tangan Adam langsung mengepal kuat. Setelah membaca postingan itu. Entah siapa yang sudah menyebarkan fitnah itu. Adam tidak hanya marah karena pondok pesantrennya di fitnah, tetapi …. wanita yang ada dalam foto itu adalah Hawa, calon istrinya.


Mungkinkah Adam terbakar cemburu? Karena calon istrinya sudah di sentuh pria lain.


"Adam Aby mau lihat," pinta Kiyai. Namun Adam tidak memberikannya.


"Aby dan Ummi tidak boleh. Ini sungguh memalukan. Ada seseorang yang ingin menghancurkan pondok kita terutama kehormatan Aby. Tapi Aby dan Ummi jangan khawatir Adam akan menyelesaikan semua ini."


"Adam jelaskan fitnah apa? Ada masalah apa lagi?"


Adam tidak ingin Aby dan Umminya sakit hanya karena fitnah itu. Adam harap tidak ada yang memberitahukan tentang fitnah itu pada orang tuanya.


Adam meminta Aby dan Ummi nya kembali ke rumah. Sedangkan Adam tetap di kantor untuk mencari tahu dari mana kabar itu berasal. Bahkan semua orang dengan cepatnya membagikan postingan yang belum tentu benar.


Postingan itu bahkan sudah tersebar ke seluruh kota, hingga Yusuf dan Asma pun tahu foto itu.


"Hawa! Ini bukannya Hawa?" ujar Asma, yang melihat foto itu dari ponselnya.


"Sungguh memalukan. Dia sudah mencoreng nama baik pesantren An-nur. Aku harus kasih tahu Mas Adam," ujarnya.


Asma memang masih perduli pada Adam, bahkan perasaannya masih untuk Adam.


Yusuf menatap datar ponselnya, ada rasa marah dan kecewa saat melihat postingan itu. Potret adiknya di jadikan fitnah oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Dan Yusuf semakin gelisah, bagaimana jika Adam melihat ini yang akan merubah pikirannya untuk menikahi Hawa.


"Ini tidak bisa di biarkan."


Yusuf segera menghubungi temannya yang bisa menghaker postingan itu. Dan Yusuf juga meminta bantuan pada temannya untuk melacak siapa yang membuat kabar itu, menyebarkannya yang sudah menjadikan adiknya kambing hitam.


Setelah menghubungi temannya Yusuf segera menghubungi Adam, takut jika Adam terpengaruh fitnah itu. Namun sayangnya Adam tidak menjawab teleponnya.


"Aku harus datang menemuinya. Aku harus melindungi adikku."


Yusuf langsung menyambar kunci mobil dan tuxedonya yang di simpan di atas meja. Detik itu juga Yusuf pergi meninggalkan kantornya.

__ADS_1


__ADS_2