Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab44- Pagi Yang Mendebarkan


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang. Seorang wanita yang tertidur menggeliat lalu mengerjap saat mendengar suara adzan memanggilnya. 


Tubuhnya seketika terbangun saat melihat sekeliling kamar yang merasa asing baginya. Hawa lupa jika dirinya sudah resmi menikah tadi malam dan menjadi seorang istri. 


Sedetik Hawa teringat bayangan semalam, tentang pakaian, guling dan pembatas. Namun, saat di lirik hamparan kasur serta pembatas yang ia buat sudah berantakan. Entah di mana guling itu berada. 


Posisi tubuhnya pun sudah tidak benar dan berada di tempat yang Adam tiduri. 


"Kemana gulingnya? Apa semalam …." 


Hawa segera meraba seluruh pakaiannya, tidak ada yang aneh. Bahkan baju gamis yang di kenakan semalam masih membalut tubuhnya begitupun dengan jilbabnya. 


"Syukurlah," ucapnya bersamaan dengan helaan nafas yang panjang. 


"Kemana Ustadz Adam?" 


Hawa tidak melihat Adam di sampingnya, kemungkinan Adam sudah pergi ke mesjid. Hawa, bergegas turun dari ranjang menuju kamar mandi. Namun, seketika langkahnya terhenti, mengingat tidak ada Adam di dalam kamar Hawa memutuskan untuk mandi. 


Tubuhnya berbalik menuju lemari mengambil pakaian ganti dan handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. 


Hawa merasa tenang karena Adam tidak ada. Kamar mandi di kamar Adam pun cukup luas seperti di rumahnya, di lengkapi shower dan bathub untuk berendam. Tidak seperti di kamar mandi para santri sudah kecil dan harus mengantri menunggu giliran. 


"Kasihan Aisyah, Minah, dan Asiyah pasti sekarang sedang berebut kamar mandi. Hehe." 


Hawa tertawa renyah sambil menggosok tangannya dengan sabun. 


Cukup lama Hawa berendam, Hawa langsung membersihkan tubuhnya dari sabun dan segera mengambil air wudhu, karena waktu subuh akan segera habis. 


Sebelum keluar dari kamar mandi Hawa bercermin sebentar, tetapi saat menatap bibirnya Hawa merasa aneh. Bibirnya terlihat bengkak.


"Kenapa dengan bibir ku?" Pikir Hawa yang terus menyentuh bibirnya. 


*****


Adam baru saja selesai berjamaah subuh. Saat keluar dari mesjid tidak sengaja berpapasan dengan Ustadz Soleh yang banyak melontarkan pertanyaan. 


"Assalamualaikum Ustadz?" 


"Walaikumsalam Ustadz Soleh." 


"Kalau pengantin baru udah keramas saja ya, rambutnya basah," goda Soleh. Namun, yang di goda tidak mengerti.


"Ustadz Soleh ini, tiap hari juga saya keramas Ustadz." 


"Ah bisa saja Ustadz ini. Tapi keramas pagi ini beda, iya kan?" 


Adam hanya tersenyum masam menanggapi perkataan Ustadz Soleh. 


Tidak hanya Ustadz Soleh, para santri wanita pun sedang membincangkan si pengantin baru. Mereka semakin heboh membicarakan pernikahan Adam dan Hawa, apalagi Hawa tidak terlihat berjamaah sholat subuh. 


"Namanya pengantin baru pasti lelah." 


"Iya, mungkin. Soalnya gak kelihatan berjamaah subuh." 


"Kalian ini malah ghibah. Bukannya pergi ke asrama siap-siap untuk sekolah!" tegur Ustadzah Lili menghentikan tawa mereka. 


"Iya Ustsdzah. Tapi ini baru jam 5 masih lama untuk masuk kelas." 


"Di bilangin malah bantah. Kalian masih harus piket." 


"Iya Ustadzah." 


Dengan mata mendelik Ustadzah Lili pun melangkah pergi. 


"Kenapa ya Ustadzah Lili cepat marah. Semakin galak sekarang." 


"Patah hati mungkin karena di tinggal nikah sama Ustadz Adam." 

__ADS_1


"Ah, kamu kalau ngomong suka ngasal. Bahaya kalau Ustadzah Lili denger. Ayo kita ke asrama nanti di marahin lagi kalau masih di sini." 


"Iya." 


Mereka pun pergi meninggalkan mesjid. 


Hawa baru saja selesai mengerjakan Sholat. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. 


Saat di lihat nama yang tertera ternyata dari ibunya. Hawa, sangat senang dan langsung menjawabnya. 


"Assalamualsikum Mama." 


"Waalaikumsalam, kamu sedang apa sayang?" 


"Baru selesai sholat Ma." 


"Tidak ke mesjid?" 


"Kesiangan." 


Marwah yang berada di rumahnya tersenyum mendengar celotehan Hawa. Bagi Marwah itu hal biasa jika seorang pengantin bangun kesiangan. 


Namun, kenyataan nya tidak seperti yang di bayangkan Marwah. 


"Hawa, sekarang kamu sudah jadi istri dan punya suami. Setiap pagi kamu bereskan tempat tidur, buatkan teh atau kopi untuk suamimu. Buatkan sarapan karena kamu sekarang sudah jadi istri." 


"Kan ada Ummi Ma yang nyiapin." 


"Ya beda dong sayang. Masa kamu ngandelin mertuamu. Jangan malu-maluin Mama ah." 


"Ribet juga jadi istri." 


"Hawa, jangan bilang begitu." 


"Iya Ma, iya. Sudah dulu Ma, Hawa mau beres-beres dulu takut Ustadz Adam keburu pulang dari mesjid." 


"Ya sudah. Salamkan salam dari Mama untuk Ummi dan Kiyai juga Adam." 


"Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam." 


Sambungan telepon pun di tutup. Hawa, langsung membuka mukenanya di lipatnya dengan rapih lalu di simpan kembali ke dalam lemari. 


 


Mengingat pesan ibunya, Hawa segera membereskan dan merapihkan kasur yang berantakan. Tanpa Hawa sadari ia lupa memakai jilbabnya membiarkan rambut basahnya terurai. 


Pintu terbuka lebar, Adam memasuki kamarnya yang belum menyadari penampilan Hawa. Sedetik langkah Adam terhenti saat melihat seorang wanita dengan rambut hitam panjang membereskan seprey nya. 


"Siapa kamu?" 


Sungguh pertanyaan yang konyol. Sepertinya Adam pun lupa jika dirinya sudah menikah. Mendengar panggilan Adam Hawa pun berbalik menghadap Adam. 


Seketika pandangan mereka bertemu. Adam tertegun sejenak melihat rambut indah yang terurai, dan leher jenjang yang begitu mulus, putih dan halus. 


Keduanya sama-sama diam sebelum akhirnya, 


Aaaaaa!!  


Keduanya saling teriak terutama Hawa yang berteriak sangat keras. Hingga teriakan itu terdengar oleh Ummi dan Kiyai. Membuat mereka langsung menghampiri kamar Adam.


"Adam! Hawa! Kalian tidak apa-apa 'kan?" 


Sedetik Adam langsung tersadar dan berlari ke arah Hawa untuk membungkam mulutnya. 


"Ssst, jangan teriak nanti Ummi dan Aby dengar," bisiknya pada Hawa, dengan posisi tangan yang memeluk Hawa. 

__ADS_1


"Adam!"


"Iya Ummi, tidak ada apa-apa Ummi. Hanya ada kecoa!" 


"Oh, kecoa By," ucap Ummi pada Kiyai. 


"Aby pikir ada apa. Mau Aby bantu Adam?" 


"Tidak usah Aby, kecoanya sudah pergi." 


"Yakin?" ulang Ummi.


"Iya Ummi!" teriak Adam dari dalam. 


"Ya, sudah kita kembali ke meja makan Aby." 


"Iya, kasih tahu Adam untuk segera makan," titah Kiyai. Ummi pun memberitahukan Adam. 


Hawa merasa sesak karena tangan Adam masih membekapnya, terpaksa Hawa menggigit tangan itu. Hingga Adam menjerit kesakitan.


"Aahh!" 


Adam langsung melepaskan tangannya.


"Kamu itu seperti serangga kerjaannya menggigit saja." 


"Abis Ustadz Adam kaya penculik saja main bekap mulut ku," gerutu Hawa yang belum menyadari pelukan Adam. 


"Kenapa berteriak? Aby dan Ummi jadi dengar di kira aku ngapa-ngapain kamu lagi." 


"Ya, aku kaget. Masuk gak ketuk-ketuk aku kan belum pakai jilbab." 


"Untuk apa pakai jilbab?" 


"Ustadz! Bukankah Ustadz yang bilang harus menutup aurat, sekarang malah melarangku." 


Adam langsung menarik tangan Hawa dan menarik pelukannya agar tubuh Hawa mendekat. Seketika jantung Hawa bergetar, hatinya semakin berdebar saat tubuh keduanya menempel, bahkan wajah mereka hampir bersentuhan. 


Tatapan Adam semakin dalam membuat Hawa gugup dan hanya bisa menelan salivanya. 


"Mau ngapain dia?" batinnya. 


"Hawa Aqila Putri sekarang kamu adalah istriku, jangankan rambutmu aku berhak melihat seluruh tubuh mu dan berhak menyentuhnya." 


Seketika Hawa terbelalak yang merasa takut. 


"I-ingat perjanjian itu?" ucap Hawa gugup.


"Dalam pernikahan tidak ada perjanjian, kamu tahu menolak suami adalah dosa terbesar, dengan perjanjian itu tanpa sengaja kamu telah melakukan dosa pada suami mu." 


"Ta-tapi kita sudah sepakat sebelum …," ucap Hawa tertahan saat wajah Adam semakin mendekat. 


"Apa yang mau dia lakukan?" Hawa langsung menutup matanya saat wajah Adam semakin mendekat. 


Adam hanya tersenyum melihat mata Hawa yang semakin terpejam, dengan kedua bibir yang mengatup rapat. 


"Buka mata mu aku tidak akan melakukan apapun," ucap Adam membuat Hawa tersipu malu. 


"Lalu ke-kenapa mendekat?" 


"Kenapa? Apa kamu ingin aku …." 


"Ah, tidak-tidak. Siapa yang berpikir aku ingin di cium." Adam semakin tertawa mendengar jawaban Hawa. 


"Jangan menutup rambutmu aku suka melihatnya. Tetaplah seperti ini jika saat bersama ku." 


Seketika jantung Hawa berhenti berdetak. Ungkapan Adam membuat angannya melayang seketika. 

__ADS_1


"Mulai saat ini jangan panggil aku Ustadz. Panggil aku Aby. Mengerti?" 


Dengan gugup Hawa mengangguk. Adam langsung melepas pelukannya. Meminta Hawa untuk memakai jibabnya dan pergi keluar untuk sarapan. 


__ADS_2