Kisah Kasih Anak Santri

Kisah Kasih Anak Santri
Bab 39- Naik Motor


__ADS_3

"Ustadz Adam?" panggil Ustadzah Lili saat Adam berjalan di tengah taman menuju kelas santri.


Adam pun menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Ustadzah Lili.


"Ustadzah manggil saya?" tanya Adam.


"Iya, Ustadz." Ustadzah Lili berkata seraya tersenyum tipis. Hanya saja tatapannya ia fokuskan ke bawah tidak langsung memandang Adam.


"Ada apa ya Ustadzah?"


"Tidak ada apa-apa sih Ustadz. Saya hanya mau tanya Ustadz tidak ikut ke acara lomba?"


"Sepertinya tidak Ustadzah, pak Soleh yang akan ikut."


Ekspresi Lili berubah muram, seperti merasa kecewa karena yang ikut bukanlah Adam melainkan Soleh.


"Kenapa? Padahal saya inginnya Ustadz Adam yang ikut."


Adam tersenyum, merasa lucu.


"Kenapa? Kan sama saja mau Ustadz Soleh atau pun saya."


"Ya … sama sih. Tapi …."


"Ustadz Adam!" panggilan seorang santri menghentikan perkataan Ustadzah Lili, dan mengganggu kebersamaan mereka. Mungkin, hanya Ustadzah Lili yang merasa terganggu bukan Adam.


Mereka berdua menoleh pada sumber suara, terlihat Hawa berdiri dari ujung sana. Ustadzah Lili merasa kesal, karena Hawa sudah mengganggunya.


Ustadzah Lili pun berjalan mendekati Hawa lalu bertanya, "Ada apa Hawa? Ngapain kamu di sini bukannya siap-siap pergi lomba."


"Saya ada urusan dengan ustadz Adam, tenang saja Ustadzah Hawa sudah siap tinggal berangkat."


"Ada urusan apa?" tanya Lili dengan tatapan penuh selidik.


"Ih, kepo. Ya rahasia Ustadzah tidak perlu tahu."


Dengan bibir mencebik dan mengerucut Lili melangkah pergi meninggalkan Hawa dan Adam.


Adam masih berada di tempat yang sama. Berdiri dengan wajah datar melihat calon istrinya itu. Hawa, berlari menghampiri Adam, hingga langkahnya tidak dapat tertahan dan hampir saja menabrak tubuh Adam.


"Kenapa kamu ke sini bukannya pergi lomba?"


"Ustadz ada yang ingin saya katakan," ucap Hawa sedikit berbisik.


"Katakan saja ada apa?"


Hawa mulai gugup dan ragu, mengatakan jika cincin nya hilang. Apa Adam akan marah atau tidak.


"Begini Ustadz, mm … aku tidak tahu tiba-tiba cincin yang Ummi berikan hilang. Tapi bukan aku yang menghilangkannya. Apa Ummi akan marah?"


"Jika bukan kamu lalu siapa yang menghilangkannya?"


"Ya aku juga tidak tahu."


"Ummi tidak akan marah, tapi beliau akan merasa bersedih karena barang yang ia berikan tidak di jaga dengan baik. Jika kamu menghargai pemberian Ummi kamu akan menjaga cincin itu."


"Kan aku sudah bilang tidak tahu, aku tidak menghilangkannya."


"Tetap saja itu artinya kamu tidak bisa menjaga pemberian orang lain. Cari sampai ketemu."

__ADS_1


"Kalau tidak ada bagaimana aku sudah mencarinya."


"Belum mencari sampai seluas pondok 'kan? Masih ada kemungkinan cincin itu akan di temukan." Adam berkata dengan tegasnya lalu pergi.


Hawa merasa kesal, karena Adam tidak peduli padanya. Adam hanya memintanya untuk mencari tidak dengan membantunya


"Main suruh-suruh saja bantuin tidak. Ih, nyebelin. Kemana itu cincin ya?" Pikir Hawa lalu melangkah pergi meninggalkan taman menuju kamarnya.


Dari balik tembok Adam mengintip. Adam hanya ingin tahu seberapa sayangnya Hawa terhadap Umminya. Dan apakah Hawa akan berusaha mencari cincin itu atau tidak.


Semua santri sudah siap untuk pergi. Para Ustad dan Santri berkumpul untuk memberi semangat pada temannya yang akan berpartisifasi pada lomba. Kiyai dan Ummi pun ada di sana.


Ustadzah Lili dan Ustadz Soleh pamit, meminta doa restu pada mereka semua. Hanya saja pandangan Ustadzah Lili memandang sedih pada Adam, mungkin ia berharap Ustad Adam yang menemaninya.


Adam tidak menghiraukan pandangan Lili. Sepasang netra itu terus memindai sekitarnya tidak menemukan calon istri kecilnya. Sedangkan semua santri sudah masuk ke dalam bis yang siap berangkat.


Hatinya mulai gelisah mencari Hawa.


"Kemana Hawa?" pikirnya.


Suara mesin bis mulai terdengar, kenal pot mulai mengeluarkan asap dan ban mobil mulai berputar. Sang supir yang mengendalikan bis mulai menginjak gas dan memutar stir, bis pun mulai bergerak.


Namun, saat akan melaju tiba-tiba.


"Berhenti!" teriak Adam menghentikan bis itu. Namun, suara Adam tidak terdengar karena suara mesin bis lebih keras dari pada suaranya sehingga bis pun melaju jauh.


"Pak berhenti!"


Adam kembali berteriak, dan berlari mengejar bis itu. Tetapi tetap tidak menghentikannya. Kiyai dan Ummi pun bertanya ada apa? Kenapa menghentikan bis itu.


Dari jauh terlihat Hawa yang sedang berlari ingin mengejar bis, tetapi bis itu sudah tidak ada. Barulah Kiyai dan Ummi mengerti kenapa Adam rela berteriak untuk menghentikan bis itu.


"Iya Adam cepatlah. Selagi mereka belum jauh."


"Tidak apa-apa Ummi jika bis itu sudah jauh. Adam akan mengantarkan Hawa ke tempat lomba itu."


"Iya, antarkan saja. Biar nanti Aby yang gantikan kamu mengajar."


Adam segera berlari menuju rumahnya. Fi ambilnya kunci motor dalam kamar lalu membuka sebuah garasi. Terlihat satu mobil dan motor sport bertengger di sana.


Dengan segera Adam menaiki motornya memakai helm fullpace untuk melindungi kepalanya, tidak lupa jaket kulit hitam yang ia pakai dan celana jeans hitam yang ia kenakan.


Sungguh tidak akan ada yang menyangka penampilan Adam hari ini. Pakaian itu tidak pernah ia pakai selain koko, sarung, dan peci.


Kunci motor mulai di putar, suara mesin dan knalpot bergemuruh sangat keras, asap lebat keluar dari arah belakang. Dalam seketika kedua tangan itu menekan gas di kedua sisi motor dan kedua kakinya mulai mengatur gigi.


Dalam hitungan detik motor itu melesat keluar dari rumah Kiyai. Suara bisingnya mampu mengalihkan pandangan semua santri.


"Siapa itu yang naik motor?"


"Meuni gaya pisan. Keren euy." Puji seorang santri bernama ujang. Mereka tidak tahu jika yang mengendalikan motor itu adalah Adam anak pemimpin pondok.


"Gayanya kaya badboy," seru Ikhsan temannya.


"Wih! Kaya tahu saja badboy," cibir Idris.


"Tahulah gini-gini saya penggemar novel badboy, cerita yang keren-keren itu tuh."


"Haha … haha … so' kamu." Tawa Idris dan Ujang.

__ADS_1


Di saat Hawa sedang lelah, berhentilah sebuah motor di depannya. Awalnya Hawa tidak mengenali Adam. Namun, saat Adam membuka kaca fullpace nya barulah Hawa mengenalnya.


"Ayo naik!"


"Kamu siapa?"


"Kamu mau sampai di tempat lomba tidak? Ayo cepat naik!"


"Tidak-tidak. Kita tidak saling kenal, nanti aku di culik lagi."


"Astagfirullah."


Adam langsung membuka helmnya. Rambut Adam yang berantakan seketika membuat Hawa terpana. Ketampanan Adam tidak dapat mengalihkan pandangannya. Apalagi melihat penampilan Adam yang seperti anak-anak geng motor.


"Hawa Aqila Putri!" tegur Adam, yang sudah pegal menyerahkan helm pada Hawa yang tidak di terima.


"Hawa!"


"Eh, iya."


"Sampai kapan kamu akan bengong. Cepat pakai!"


"Iya-iya. Galak amat sih sama calon istri," rutuk Hawa dalam hati. Lalu memakai helm itu dan naik ke atas motor Adam.


"Pegangan."


"Pegangan kemana? Bukannya kita bukan muhrim."


"Pegangan saja pada bahu ku. Itu akan lebih aman, lagi pula kita tidak bersentuhan langsung ada jaket ku yang menghalangi."


"Baiklah."


Setelah Hawa siap, Adam segera menstater motornya melajukannya dengan kecepatan penuh. Sehingga Hawa begitu erat memegang bahunya.


"Bisa juga ya Ustadz terlihat keren," batin Hawa. Yang tanpa terasa bibirnya melengkung sempurna. Adam hanya melihat senyuman itu di balik kaca spionnya.


Satu kata untuk Hawa 'Cantik' tapi Adam tidak berani mengatakannya.


"Kamu dari mana saja kenapa bisa tertinggal?" tanya Adam sedikit berteriak.


"Itu semua karena cincin aku mencarinya dulu."


Seketika bibir Adam melengkung, senyuman manis di balik kaca fullpacenya. Entah kenapa Adam merasa bahagia saat Hawa, mencari cincin itu dengan sungguh-sungguh.


"Apa cincin nya ketemu?"


"Tentu. Lihat ini." Hawa menunjukksn jari manis di tangan kanannya, terlihat cincin berlian dengan permata bening tersemat di jari manisnya.


Adam bisa melihat itu pada kaca spionnya.


"Aku takut Ummi marah, jadi aku mencarinya dulu. Alhamdulillah akhirnya ketemu."


"Jangan sampai hilang lagi."


"Iya."


Adam kembali fokus pada jalanan, membawa Hawa ke tempat tujuan hingga selamat. Mereka pun sampai bersamaan dengan bis yang meninggalkan Hawa.


******

__ADS_1


Hai redaer minta vote nya dong, jangan lupa like dan komentarnya juga setiap babnya biar author semangat 🙏☺


__ADS_2