
Hawa turun dari sebuah motor sport. Tidak ada yang mengira jika itulah Adam. Semua santri terutama Ustadzah Lili memandang pada Hawa yang baru saja membuka helmnya. Mereka melihatnya tidak suka.
"Bukannya itu Hawa," ujar Minah.
"Dengan siapa dia? Pantes di bis tidak ada," tutur Aisyah.
"Dasar anak nakal, beraninya dia datang bersama orang lain," umpat Lili lalu melangkah menuju Hawa, yang masih merapikan hijabnya yang di terpa angin.
Adam, masih belum membuka helmnya, Ustadzah Lili datang dengan emosi memarahi Hawa.
"Hawa! Kamu kemana saja. Di cariin malah datang sama orang lain."
"Ih, Ustdzah kenapa sih datang marah-marah, sabar! Lagian kalian yang ninggalin. Untung ada Ustadz Adam yang nganterin."
"Apa! Ustadz Adam?"
Sedetik tatapan Lili beralih pada seorang pria penunggang kuda besi itu. Matanya semakin membulat saat Adam membuka helm fullpace nya, rambut hitam yang di terpa angin, membuat Lili semakin terpesona.
Tidak hanya Lili semua santriwati pun menatap takjub pada Adam, saat rambut itu Adam kibaskan.
"Masyaallah, tampannya."
"Ustadz Adam terlihat keren, dan berbeda."
"Huum, masyaallah."
"Ehm."
Sedetik deheman Soleh mengalihkan pandangan para santri.
"Jaga pandangan kalian. Istighfar."
"Astagfirullah," jawab mereka serempak seraya mengelus dadanya.
Ustadz Soleh merasa tersingkirkan, karena Adam memang di kagumi banyak orang. Terutama para santriwati di pondok.
"Aku memang kurang tampan, tapi bagiku sama tampannya dengan Adam. Ish … jika seperti ini kapan aku akan nikah, para santri hanya melihat Adam saja," gumam Soleh yang bercermin pada layar ponselnya. Tanpa dia tahu ada santri yang mendengar perkataannya.
"Sabar Ustadz. Kali saja ketemu jodoh di sini. Tuh banyak para Ustadzah," ujar Aisyah dan Asiyah di iringi tawa.
Soleh, langsung mendelik pada kedua santrinya itu. Merasa di hina karena belum dapat jodoh di usianya yang sudah matang.
"Kalian ini beraninya menghina saya."
"Ish, siapa yang menghina. Justru kami mendoakan Ustadz segera dapat jodoh harusnya Ustadz aamiinkan."
"Iya, aamiin," jawab Soleh dengan nada ketus.
****
"Ustadz Adam katanya tidak akan datang, tapi …." Ustadzah Lili merasa sedih, seandainya dirinya yang di bonceng Adam, mungkin akan sangat bahagia dan terlihat keren. Sedetik tatapan membunuh ia hunuskan pada Hawa, membuat Hawa bergidik ngeri.
"Saya memang tidak akan datang. Tapi karena Hawa tertinggal, terpaksa saya harus datang untuk mengantarkannya."
"Kalau tahu begitu saya saja yang tertinggal." Ustadzah Lili merengek lalu melangkah masuk menuju gedung lomba.
Adam dan Hawa merasa heran dengan tingkah Ustadzah Lili. Namun, sebagai wanita Hawa bisa menebak jika Ustadzah Lili menyukai Adam.
"Apa Ustadzah Lili suka ya sama Ustadz Adam," batin Hawa.
__ADS_1
"Hawa!"
"Eh, iya."
"Kamu suka sekali bengong ya? Cepat masuk. Tidak lihat dari tadi Aisyah dan Asiyah menunggu mu." Tunjuk Adam pada kedua santri yang berdiri di depan pintu masuk gedung.
"Oh iya. Aku masuk dulu terimakasih sudah mengantarkan ku," ujar Hawa sedikit berteriak lalu melangkah masuk.
Namun, langkahnya seketika terhenti saat suara Adam kembali memanggil.
"Hawa!"
"Apalagi Ustadz!" sahut Hawa yang berbalik.
"Nanti pulang saya tunggu di sini."
"Apa kita mau jalan-jalan dulu?"
"Jalan-jalan ke mana! Cepat sana masuk."
"Ish, pelit banget. Jalan-jalan ke ngajakin calon istri naik motor. Dasar calon suami pelit," sungut Hawa lalu berlenggang pergi.
Sedetik senyuman Adam kembali mengembang saat mendengar perkataan Hawa, yang memanggilnya dengan panggilan calon suami. Itu tandanya Hawa, sudah mulai menerimanya mungkin.
"Dasar calon istri kecil," lirih Adam lalu turun dari motornya.
*****
Semua santri berbaris, dan duduk di bangku yang sudah tersedia. Mereka semua menunggu giliran seraya menonton pertunjukkan santri yang lain.
Adam, duduk bersama Ustadz Soleh dan pemimpin pondok lainnya hanya saja untuk Ustadzah Lili mereka duduk terpisah dengan santri wanita.
Tanpa sengaja Adam mendengar perkataan seorang pemuda, yang duduk di sebelahnya. Pemuda itu terus memperhatikan Hawa yang sedang menyanyi, memujinya, dan sangat mengagumi Hawa.
"Masyaallah suaranya indah seperti rupanya."
Adam langsung melirik pada pemuda itu, yang sudah memuji calon istrinya.
"Jaga pandangan Ustadz," singgung Adam. Pemuda itupun menoleh.
"Maaf, saya khilaf. Tapi saya benar-benar mengaguminya."
"Kalau begitu lamar saja Ustadz," ujar temannya membuat emosi Adam mendidih.
"Astaghfirullah," lirih Adam sambil menahan amarahnya. Butuh kesabaran jika memiliki calon istri yang masih muda juga cantik.
"Terimakasih atas pujiannya, alhamdulilah saya sudah mengkhitbahnya," ungkap Adam membuat kedua pemuda itu tercengang dan saling pandang.
"Apa maksud anda wanita yang bernyanyi itu calon istri anda?"
"Iya, kami sudah bertunangan hanya saja kami menunda pernikahan hingga calon saya lulus sekolah."
"Oh, begitu. Maaf Ustadz kami tidak bermaksud."
"Tidak apa-apa. Jangan sungkan justru saya berterimakasih karena sudah memuji penampilan calon istri saya." Adam mengulum senyum walau hatinya sangat marah.
Tanpa Adam tahu Ustadz Soleh mendengar pengakuannya. Namun, berusaha diam dan akan menanyakan kebenarannya setelah sampai pondok nanti.
Acara lombapun selesai, mereka pulang membawa kebanggaan bagi para santri dan pondok mereka. Karena menjadi juara utama. Kini mereka sudah bersiap-siap untuk pulang.
__ADS_1
Adam, sudah menunggu di atas motornya. Namun, bukannya Hawa yang menghampiri tetapi Ustadzah Lili yang ingin pulang bersama Adam.
"Ustadzah ada apa ini?" tanya Adam saat Lili naik begitu saja pada motornya.
"Ustadz Adam saya pulang dengan Ustadz ya. Kalau naik bis saya pusing suka mabuk."
"Tapi …."
"Ayo Ustadz."
"Maaf Ustadzah tapi saya menunggu …."
"Hawa sudah masuk dengan teman-temannya ke dalam Bis. Lebih baik kita berangkat sekarang keburu sore."
Adam, berpikir perkataan Lili benar karena Adam tidak melihat Hawa dari tadi. Mungkin Hawa bersama teman-temannya. Sedangkan Hawa, baru saja keluar dari gedung itu memindai pandangan ke setiap halaman tidak mencari keberadaan Adam yang menghilang.
"Lo, kok tidak ada. Katanya nunggu di sini."
"Hawa! Ngapain kamu di sini ayo masuk ke bis."
"Tidak Aisyah kamu duluan saja, aku nunggu Ustadz Adam."
"Bukannya Ustad Adam tadi bersama Ustadzah Lili ya? Itu." Tunjuk Aisyah pada ujung jalan yang memperlihatkan Ustadzah Lili di atas motor sport.
Hawa sangat mengenali motor itu milik Adam, yang merasa kesal karena di tinggalkan.
"Ih nyebelin. Katanya di suruh nunggu tapi dia sendiri yang bonceng cewek lain. Nyebelin!" gerutu Hawa dalam hati.
Dengan penuh amarah Hawa pun masuk ke dalam bis. Wajahnya terlihat merah bahkan matanya mulai berair. Entah kenapa Hawa ingin menangis melihat Adam bersama wanita lain dan malah meninggalkannya.
"Hawa kamu kenapa kok nangis?"
"Lagi kesel!" jawabnya ketus.
Ketiga temannya hanya saling pandang tidak mengerti apa yang membuat Hawa menangis.
Adam tetap diam sepanjang perjalanan, entah kenapa hatinya sangat gelisah karena telah meninggalkan Hawa. Tetapi tidak dengan Lili yang tersenyum bahagia karena di bonceng oleh pria pujaannya.
Di pertengahan jalan Lili menghentikan Adam, mengajak Adam makan di sebuah rumah makan. Adam menolak, tetapi Lili terus memaksa dan mengatakan jika ia tidak akan makan jika Adam tidak ikut.
Lagi-lagi Adam terpaksa menerima ajakannya. Walau sebenarnya Adam ingin sekali kembali ke tempat lomba untuk menjemput Hawa.
Hati Adam semakin gelisah terus memikirkan calon istrinya itu. Adam merasa bersalah karena dirinya meminta Hawa untuk menunggu dan takut jika Hawa masih menunggu di sana.
Untuk memastikan Adam pun menghubungi Soleh, yang memimpin para santri di dalam bis. Soleh yang sudah tahu hubungan Adam dan Hawa, yang langsung mengatakan keadaan Hawa di dalam bis, yang terus murung bahkan menangis.
"Ustadz maaf saya mau tanya apa Hawa bersama Ustadz? Saya takut jika Hawa tertinggal lagi. Karena saya sudah pulang duluan."
"Hawa ada bersama kami Ustadz. Hanya saja dia terlihat murung matanya sembab seperti sudah menangis. Ustadz Adam tenang saja. Saya akan jaga tunangan Ustadz."
"Dari mana Ustad Soleh tahu?"
Adam tercengang, karena tidak ada satupun yang tahu tentang hubungannya dengan Hawa. Namun, Adam lupa baru saja ia mengakui Hawa sebagai calon istrinya di hadapan kedua pemuda. Tanpa Adam tahu Soleh mendengarnya.
"Pak Soleh, saya boleh minta bantuan. Sekarang saya sedang berada di rumah makan Amvera. Tolong bawa semua santri ke sini untuk istirahat dan makan, saya tunggu di sini."
Soleh mengulum senyum, dia tahu apa maksud Adam yang sangat mencemaskan Hawa. Soleh pun setuju dan akan membawa para santri ke tempat yang Adam tujukkan.
"Baik Ustad Adam, saya akan membawa anak-anak ke sana."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu sambungan telepon pun di tutup. Adam semakin gelisah saat mendengar kata Soleh jika Hawa menangis.
Mungkinkah Hawa menangis karenanya, itu yang ada dalam pikiran Adam membuatnya semakin bersalah.