
Asma tercengang ketika Yusuf menghentikan mobilnya di depan kantor penegak hukum. Tempat dimana ayahnya tinggal sekarang.
Yusuf tersenyum ketika Asma memandangnya seolah meminta penjelasan kenapa dia membawanya ke tempat itu. "Sebentar lagi kita akan menikah. Ayahmu belum memberikan restu," ucapnya yang langsung membuka seatbeld.
"Mas Yusuf gak malu?" Asma pikir Yusuf tidak akan menemui ayahnya.
"Kenapa harus malu? Bukankah ayahmu yang akan menjadi wali nanti."
"Tapi Mas, bagaimana bisa ayah ,kan sedang di penjara. Jika datang mungkin para petugas polisi akan menemani. Apa Mas Yusuf tidak malu?"
"Apa kamu tidak ingin ayahmu menjadi wali nikah mu?"
"Tentu saja Asma ingin. Ibu dan ayah ada di samping Asma nanti."
"Turunlah, kita temui ayah dulu."
Mereka berdua berjalan memasuki kantor polisi. Menunggu di sebuah ruangan yang akan mempertemukannya dengan Anshor.
Seorang pria berdiri dihadapannya. Asma tercengang melihat penampilan sang ayah yang berbeda. Bukan seragam orange yang selalu dipakai, tetapi pakaian formal yang dikenakannya hari ini.
"Ayah." Asma menghambur memeluk Anshor. Hingga ia lupa dengan kostum yang dipakai sang ayah.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Anshor setelah melepas pelukannya.
"Asma baik Ayah. Bagaimana kabar Ayah?"
"Alhamdulillah ayah baik. Ayah dengar kamu akan menikah Nak?"
"Iya Ayah. Asma ke sini mau meminta restu Ayah."
"Sudah Ayah berikan restu pada calon suami mu." Asma menatap heran pada Anshor. Lalu menatap pada Yusuf.
"Maksud Ayah? Apa Mas Yusuf pernah datang kesini?"
"Sebenarnya hari ini adalah pembebasan ayahmu. Mas membawa mu kesini untuk menjemputnya. Mas sudah mencabut tuntutan nya."
Asma semakin terkejut. Ayahnya bebas dalam waktu singkat. Benar-benar anugerah yang luar biasa. Siang dan malam tidak hentinya Asma panjatkan doa, memohon agar sang ayah dibebaskan. Kini doanya terkabul, Allah mendengar doanya.
"Terimakasih Mas." Ini hadiah yang terindah. Ayah akan menemani Asma di pernikahan nanti.
Yusuf segera mengurus dan menandatangani semua berkas pembebasan Anshor. Setelah selesai ia pun bersalaman dengan petugas polisi dan pergi. Asma terlihat bahagia duduk bersama sang ayah.
"Kita pergi sekarang."
"Kemana Mas?"
"Masih ada hadiah untukmu." Entah kejutan apalagi yang akan Yusuf berikan.
__ADS_1
Mobil Yusuf mulai memasuki sebuah rumah sakit. Asma sangat hapal rumah sakit itu yang menjadi tempat tinggal ibunya. Asma berpikir Yusuf akan membawanya menjenguk sang ibu.
"Ini rumah sakit yang merawat ibu ayah. Mas Yusuf apa kita akan menjenguk ibu?"
"Iya," jawab Yusuf. Tentu saja Asma sangat bahagia. Namun, tanpa Asma tahu Yusuf sudah menyiapkan kejutan lain untuknya.
Mereka berjalan memasuki ruangan. Anshor sudah lama tidak bertemu sang istri setelah di penjara. Sudah tidak sabar melihat wajah istrinya itu.
"Mas Yusuf kita kenapa tunggu di sini? Biasanya akan langsung ke kamar Ibu."
"Mereka akan membawanya. Tunggu saja di sini."
Clekk,
Pintu terbuka lebar. Sepatu heels yang pertama kali terlihat memasuki ruangan. Tubuh tinggi yang tertutup kain syar'i serta hijab panjang yang terurai menutupi kepalanya hanya wajah cantik berseri yang terlihat.
"Ibu," ucap Asma bersamaan dengan Anshor.
Wajah cantik, pakaian rapih yang tidak pernah Asma lihat sebelumnya. Ibunya selalu terlihat berantakan. Tapi kini jauh berbeda.
"Ibu? Ini Ibu?" Asma masih tidak percaya.
"Iya Asma ini Ibu."
"Ibu ingat namaku?"
Apakah semua ini mimpi? Setelah sekian lama ibunya mengalami gangguan jiwa, tidak pernah memanggil namanya. Kini tidak hanya ingatannya saja tetapi perlakuan dan cara berpakaiannya sangatlah baik.
Dokter pun menjelaskan bahwa kesehatan mental ibunya sudah membaik. Dan berkat Yusuf juga yang meminta dokter untuk memberikan perawatan yang terbaik.
Tidak hanya kesembuhan ibunya. Asma juga kedatangan Marwah, yang ternyata orang yang telah merias ibunya. Asma sangat senang calon mertuanya sudah mulai menerimanya.
Kini lengkap sudah hidup Asma. Menjelang hari pernikahannya semua keluarga berkumpul. Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Kiyai dan pondok pesantren. Anshor dan Zaenab ingin sekali meminta maaf pada keluarga Kiyai atas kesalahannya waktu lalu. Merekapun tidak lupa bertemu dengan Hawa dan Adam meminta maaf atas fitnah yang sudah mereka sebar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anshor terdiam sejenak, manik matanya menyapu setiap sudut ruangan. Masih dia ingat hari dimana dia datang dan pergi dari rumah itu. Hari yang dimana membuat hatinya tertutup karena dendam.
"Anshor?" panggil Kiyai yang cukup terkejut dengan kedatangan Anshor.
"Apa kabar Abdullah?"
"Alhamdulillah baik, bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah. Maafkan aku Abdullah." Tiba-tiba saja Anshor memeluk Abdullah hendak bersujud di kakinya tetapi Abdullah tidak membiarkan itu.
__ADS_1
"Bangunlah Anshor jangan seperti ini."
"Saya sudah sangat berdosa. Sudah memfitnah mu dan keluargamu. Bahkan saya sudah mengirimkan guna-guna untukmu. Saya tidak bisa kamu maafkan." Dengan isakan tangis Anshor menunduk memegang kaki Abdullah. Dia benar-benar sangat menyesal sekarang.
"Anshor, bangunlah dulu. Kita duduklah dulu," ajaknya yang menuntun Anshor.
"Ummi, ambilkan mereka minum."
"Iya Aby." Ummi Khodijah segera mengambil minum ke dapur. Zaenab yang melihat itu langsung mengikutinya.
"Biar saya bantu," ujar Zaenab saat Khodijah hendak mengangkat nampan.
"Zaenab? Apa kabar? Kamu sudah sembuh?" Bukannya menjawab Zaenab malah menangis dan memeluknya.
"Kenapa ini Zaenab?"
"Maafkan aku Khodijah. Maafkan suamiku kami sudah bersalah."
"Zaenab, aku dan suamiku sudah memaafkan kalian. Sudahlah jangan kamu ungkit lagi masalah itu. Melihat mu sembuh dan sehat seperti dulu aku sangat bersyukur. Kalian datang di waktu yang tepat. Sebentar lagi putri kalian akan menikah."
"Iya. Berkat kamu dan suami mu Asma mendapatkan calon suami yang sangat baik, tulus."
"Itu sudah jodoh yang Allah takdirkan untuk Asma. Sekarang kita ke depan, bawakan minuman ini." Zaenab mengangguk.
Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu.
"Anshor, saya sangat senang kamu sudah bebas. Sebelum kamu meminta maaf saya sudah memaafkan mu. Allah saja maha pemaaf apalagi saya dan istri saya yang hanya seorang manusia."
"Terimakasih Abdullah."
"Sama-sama."
"Dimana Adam?" tanya Anshor yang tidak melihat keberadaan Adam.
"Adam sedang di rumah sakit menjaga istrinya."
"Adam sudah menikah?" Zaenab dan Anshor belum mengetahui pernikahan Adam dan Hawa. Namun, Asma menjelaskan jika Hawa wanita yang telah di fitnahnya dulu adalah istri dari Adam dan adik dari Yusuf calon menantunya.
Mendengar penjelasan itu Anshor semakin merasa bersalah. Ia malu pada Yusuf yang sudah mau menjadikan Asma sebagai istrinya sedangkan mertuanya adalah orang yang sudah memfitnah adiknya.
"Saya dan Mama sudah memaafkan kalian. Susah jangan di sesali masalah yang sudah berlalu," ujar Yusuf.
"Benar. Sekarang kita jalani hidup ini menjadi lebih baik tidak mengulangi kesalahan yang sama."
"Kami benar-benar beruntung punya kerabat dan calon menantu sepertimu Yusuf. Asma tidak salah memilih." Yusuf hanya tersenyum mendengar pujian itu.
"Kebetulan kami mau ke rumah sakit. Apa ada yang mau ikut?" tawar Khodijah.
__ADS_1
"Tentu saja. Mari kita sama-sama menjenguk Hawa," ajak Anshor dengan semangat. Mereka semua pun pergi ke rumah sakit.