
Semua santri dan santriwati berhamburan keluar dari kamarnya. Langkah mereka serempak menuju mesjid, entah ada apa sehingga panggilan yang menggema menuntun mereka untuk ke sana.
Mesjid yang luas itu seketika penuh dan padat karena para santri. Mereka semua duduk di tempatnya masing-masing.
Santri pria menempati bagian depan sedangkan santri wanita berada di belakang yang sudah di batasi dengan pembatas shaf agar wanita dan lelaki tidak saling bertemu.
Di karenakan tidak ada Kiyai, Ustadz Soleh yang memimpin. Soleh pun berdiri di hadapam semua para santri, tidak sedikit dari mereka yang bertanya, ada apa? Dan kenapa? Sebab hari ini adalah hari libur para santri, waktu sholat jum'at pun masih lama, tetapi sudah di panggil ke mesjid.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua santri.
"Hari ini saya mendapatkan kabar duka bahwa, saudara kita, teman kita semua Hawa Aqila Putri baru saja di tinggalkan ayahnya. Ayahnya baru saja wafat beberapa menit yang lalu," jelas Soleh.
Mereka semua mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun"
Mereka semua merasa terpukul dan sedih, terutama Aisyah, Asiyah, dan Minah. Hingga tidak rela untuk melepas pelukannya.
"Mari sama-sama kita doakan beliau semoga pergi dengan tenang. Dan meninggal dengan husnul khotimah."
"Aamiin."
Mereka semua mulai mengaji bersama, berdoa untuk almarhumah, ayah dari teman mereka.
Sedangkan Hawa baru saja sampai di rumahnya. Sama sekali tidak di beritahu tentang kematian sang ayah, karena memang ayahnya meninggal secara mendadak karena serangan jantung.
Awalnya Marwan sehat-sehat saja. Yusuf pun masih sempatnya mengajar, begitupun dengan Marwah sang istri yang asyik memasak untuk kepulangan suami dan putranya.
Bahkan, mereka berencana untuk menjenguk Hawa sore ini.
Tiba-tiba kondisi perusahaan mendadak pailid. Dana perusahaan hilang untuk proyek terbaru. Bahkan mengalami kerugian besar karena seorang klien mereka menuntut karena salah satu manajemen perusahaan telah menipu orang tersebut.
Mengambil uang proyek namun tidak menjalankan proyek dengan benar. Sehingga Marwan syok dan serangan jantung yang menyebabkan fatal hingga meninggal.
Kabar duka yang mengejutkan keluarga, Marwan langsung di bawa ke rumah sakit terdekat dalam keadaan masih bernyawa. Yusuf dan Marwah terlihat panik memasuki ruang ICU karena Marwan sudah di rujuk ke ruang itu.
Mereka sedih, melihat keadaan Marwan yang lemah, tidak berdaya bahkan semua alat medis menancap di tubuhnya. Marwah hanya bisa menangisi suaminya dan Yusuf harus bisa menenangkan sang ibu.
Yusuf, menghubungi pihak pondok. Memberitahukan keadaan Marwan saat ini dan meminta supaya ada pihak mereka yang mengantarkan Hawa pulang, karena dirinya tidak bisa menjemput adiknya.
Mendengar kabar duka itu Kiyai dan Ummi langsung memanggil Hawa, berencana untuk menjenguk Marwan, sambil mengantarkan Hawa.
Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Yusuf menghubungi mereka kembali dengan kabar mengejutkan. Hal yang sulit di percayai, tetapi harus ikhlas.
"Sebentar Aby jawab telepon dulu."
"Dari siapa By?"
"Yusuf."
Kiyai Abdullah menjawab telepon itu dengan sabarnya ia mendengarkan, hingga bibirnya berkata, "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Di turunkannya ponsel itu menjauh dari telinganya.
__ADS_1
"Ada apa By?"
Adam dan Ummi jadi panik. Namun tidak dengan Kiyai yang terlihat tenang.
"Pak Marwan telah berpulang."
"Innalillahi wainnailahi rojiun."
Mereka semua sedih, begitupun Adam yang tidak percaya.
"Bagaimana dengan Hawa?" Ummi merasa khawatir.
"Jangan katakan dulu, biar saja nanti dia melihat sendiri. Adam kamu siap-siap sekarang kita akan pergi takjiyah, dan kamu bawa mobil."
"Iya By."
Sebelum pergi Kiyai pun memberitahukan
ustadz-ustadz yang lain, meminta mereka untuk berdoa bersama. Sedangkan Kiyai, Ummi, Adam dan Hawa mereka pergi menuju kediaman Marwan.
*****
"Bendera kuning? Siapa yang meninggal?"
Dengan segera Hawa turun dari mobilnya berlari memasuki rumahnya melewati kerumunan orang-orang yang keluar masuk rumahnya.
"Kak Yusuf! Papa! Mama!" teriakan Hawa begitu menggema, membuat Yusuf menoleh pada sumber suara.
Yusuf bangkit berdiri melangkah mendekati Hawa. Sedangkan sang ibu terlihat lemah di pelukan saudaranya.
"Siapa yang meninggal?" lirih Hawa dengan suara bergetar.
Bukannya menjawab, Yusuf malah memeluk Hawa. Seketika punggungnya bergetar, tangisannya pecah.
"Kak jawab! Siapa yang meninggal?" Punggung Hawa mulai bergetar, air matanya mulai menetes.
"Sabar Hawa, papa Hawa … papa."
Sedetik tubuh Hawa melorot, terduduk lemah di atas lantai. Hawa tertegun, dengan tatapan yang kosong. Seperti merasakan penyesalan yang amat dalam.
Seketika teringat bayangan masa lalu bersama papanya. Bagaimana perlakuannya kepada sang ayah, membangkang, membentak, bahkan membohongi ayahnya.
Seketika bibirnya bergetar, tangisanpun pecah.
"PAPA!" teriaknya membuat panik semua orang.
Yusuf, langsung memeluk Hawa yang semakin menggila. Histeris, seraya memukul dadanya.
Ummi khodijah yang melihat itu langsung mendekat mencoba menenangkan Hawa, tetapi Hawa malah memarahinya, mendorong tubuhnya.
"Kenapa Ummi tidak bilang jika papa meninggal! Kenapa?"
__ADS_1
"Hawa tenang, ikhlas Nak, ikhlas."
Kiyai dan Adam langsung menghampiri, Adam langsung menarik tubuh ibunya agar tidak terkena lagi pukulan Hawa.
Adam pun merasa kasihan melihat keadaan Hawa seperti ini. Karena kabar meninggalnya pak Marwan sungguh membuatnya terkejut, apalagi Hawa sebagai putrinya pasti merasa terpukul.
"Yusuf, sebaiknya bawa Hawa ke kamar," saran Kiyai.
Yusuf pun mengangguk dan ingin membawa Hawa. Namun, tiba-tiba Hawa pingsan, tubuhnya terjatuh tepat di pangkuan Adam.
Adam mulai canggung dan bingung. Ingin mengangkat tubuh Hawa namun ia takut dosa, karena laki-laki yang bukan mahrom di larang menyentuh wanita, walaupun kulit mereka tidak bersentuhan karena terhalang pakaian yang menutupinya.
Akan tetapi, Adam tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Hawa yang begitu cantik dan mulus. Sebagai lelaki normal Adam bisa merasakan hati yang bergetar.
"Adam?" panggil Kiyai, sedetik tatapannya dapat berpaling.
"Iya Aby?"
"Bantu Yusuf membawa Hawa ke dalam kamarnya."
"Ta-tapi Aby?"
"Tidak apa-apa. Kamu melakukannya karena ada alasan," tutur Kiyai.
Tidak boleh menyentuh kulit wanita yang bukan mahram tanpa (ada alasan) darurat, seperti berobat dan lain-lain. “Syarah shahih Muslim”
Karena keadaan darurat lelaki boleh menyentuh perempuan, atau hanya sekedar menggendong dan memeluk dengan alasan.
Seperti saat ini Hawa pingsan, dan Yusuf harus menyambut para tamu takjiyah, tidak bisa meninggalkan sang ibu sendirian.
Dengan terpaksa dan ragu Adam pun menggendong tubuh Hawa, membawanya naik ke dalam kamarnya yang di temani Ummi Khodijah.
Hati Adam mendadak berdebar, begitupun tangan dan kakinya. Lalu bagaimana jantungnya? Sudah seperti pompaan yang berpacu sangat cepat.
Nafas berat pun terus Adam hembuskan. Karena ini untuk pertama kalinya bagi Adam memangku seorang wanita.
"Adam turunkan saja di sini," titah Ummi menunjuk sebuah ranjang king size yang di penuhi boneka. Serta kamar indah yang di penuhi pajangan mewah dengan interior merah muda.
Adam merasa tenang saat menurunkan Hawa ke atas kasurnya.
"Adam kamu boleh turun ke bawah. Biar Ummi yang temani Hawa."
"Iya Ummi."
Adam pun melangkah pergi. Hembusan nafas tidak ia hentikan, sepanjang langkahnya tangan itu terus menyentuh dada bidangnya entah apa yang sedang Adam rasakan.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah." Selalu itu yang Adam ucapkan.
...----------------...
Lucu ya lihat tingkah Adam hehe ...
__ADS_1