
Marwah, Yusuf dan Hawa masih berada di rumah sakit. Mereka masih menunggu kabar Asma yang masih diperiksa Dokter.
"Kapan kamu tahu hal ini Suf?" tanya Marwah.
"Setelah Asma keguguran. Dokter mengatakan jika ada sel kanker di rahimnya. Itulah yang menyebabkan Asma keguguran. Dokter mengatakan jika pun Asma hamil lagi tetap akan berakhir seperti ini."
"Yang memutuskan adalah Allah S.W.T. Mungkin saja Asma masih bisa hamil," ucap Hawa.
"Yang merasakan sakit adalah Asma bukan kita. Semasa kehamilan Asma selalu mengeluh kedatangan tamu bulanan. Bahkan dalam keadaan hamil Asma masih mengalami menstruasi. Pendarahan yang dia alami membuat tubuhnya lemah."
"Jika kakak saja menyerah siapa yang akan menguatkan Asma?" Yusuf hanya menatap Hawa dalam diam.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa." Marwah menengahi perdebatan mereka. Tidak berselang lama Dokter pun keluar. Dia mengatakan bahwa sel-sel kanker sudah mulai menyebar. Dan meminta Yusuf untuk membawa Asma ke Dokter spesialis yang menangani kanker.
Yusuf semakin bingung bagaimana mengatakannya pada Asma. Apa Asma akan menerima penyakit yang ia derita?.
"Kenapa Mas? Apa ada yang ingin di katakan?" Diantara Yusuf, Marwah dan Hawa tidak ada yang berani mengatakan apa yang sudah dikatakan Dokter. Namun, mereka tidak punya waktu lagi, Asma harus segera tahu.
"Apa karena penyakit ku? Aku sudah tahu Mas, jika aku mengidap kanker." Mereka semua terkejut. Dari mana Asma tahu hal itu.
Tanpa mereka tahu Asma mendengar pembicaraan Dokter. Hingga tidak kuat menahan tangis. Asma takut jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk Yusuf.
"Kalian kenapa diam? Insya Allah aku ikhlas menerima ujian ini. Dan maafkan aku Mas, yang sudah berburuk sangka padamu."
"Setiap penyakit pasti ada obatnya. Kamu jangan khawatir kamu pasti sembuh. Kita akan konsultasikan pada Dokter."
"Iya Asma. Tetap semangat. Aku yakin kamu bisa melewatinya." Hawa merasa sedih. Bendungan air mata tidak mampu terbendung.
"Terimakasih Hawa." Asma tersenyum tapi dengan hatinya yang takut, jika penyakitnya tidak bisa di sembuhkan.
****
Satu bulan kemudian
Semua orang sedang mempersiapkan kelahiran bayi Hawa. Dari kamar yang sudah di dekor sedemikian rupa, dari pakaian dan aksesoris lainnya.
"Asma apa baju ini bagus?"
"Ya. Cocok untuk dipakai bayimu nanti. Memangnya bayimu perempuan? Kok semua serba pink?"
"Tidak tahu juga sih. Dokter tidak mengatakannya karena Aby bilang biar menjadi kejutan."
"Gimana kalau bayi laki-laki? Semua serba pink. Dari dekorasi kamar, baju, hingga cat dan seprei."
"Tapi aku maunya perempuan Asma."
"Perempuan atau laki-laki sama saja. Yang penting sehat dan selamat. Semoga saja Allah mengabulkan doa mu memberikan anak laki-laki."
"Aamiin."
"Kapan Adam datang?"
"Nanti malam setelah restoran tutup katanya."
"Kalau begitu Asma ke atas dulu ya Wa."
"Iya kakak ipar."
"Jangan terlalu banyak duduk. Jalan-jalanlah walau hanya di sekitar rumah. Katanya itu baik untuk wanita yang akan melahirkan."
__ADS_1
"Iya, nanti ku gerakan kaki ini." Asma tersenyum lalu melangkah pergi menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar ia hanya duduk merenung di bibir ranjang. Dalam hatinya mungkin sedang menangis bagaimanapun juga Asma pernah melewati masa-masa ngidam, hamil, dan hampir akan menjadi seorang ibu.
"Begini rasanya kehilangan calon bayi," ucapnya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Asma segera berdiri menyambut kepulangan Yusuf.
"Sudah pulang Mas? Tumben masih siang?"
"Mm ... tiba-tiba tidak enak badan," ujar Yusuf lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Apa perlu ku ambilkan obat Mas?"
"Nanti saja. Mas ingin berbaring sebentar."
"Ya udah kalau gitu Asma siapkan air hangat untuk Mas mandi. Sekalian ku ambilkan teh." Yusuf hanya mengangguk, menatap kepergiaan Asma. Entah apa yang terjadi di kantornya.
"Astaghfirullah. Apa yang ku pikirkan," umpatnya yang mengusap wajahnya kasar.
"Yusuf, apa kamu tahan jika tidak menyentuh istrimu?"
"Demi kebaikannya kenapa tidak bisa. Yang ku pikirkan sekarang adalah kesehatan Asma."
"Biasanya. Kanker itu sulit di sembuhkan Suf. Kita tidak tahu sampai kapan istrimu bertahan. Apa kamu tidak ingin memiliki anak? Usia mu sudah matang. Aku saja sudah dua gede-gede lagi."
"Siapa sih yang tidak ingin. Untuk sementara aku harus sabar, sampai istriku sembuh."
"Suf, begini. Kenapa kamu tidak menikah lagi saja? Tidak ada larangan bagi seorang laki-laki untuk menikah lagi. Apalagi dengan alasan memiliki keturunan."
"Aku tidak akan mengkhianati istriku."
"Istriku tidak mandul."
"Asma memang tidak mandul. Tapi ....," ucap temannya tertahan. Dia tidak berani melanjutkan perkataannya.
Perkataan itulah yang membuat Yusuf kepikiran hingga pulang lebih awal dari kantor.
"Mas! Mas Yusuf!" teriak Asma membuyarkan lamunan Yusuf hingga terperanjat.
"Ada apa?" tanya Yusuf panik.
"H-Hawa Mas, sepertinya Hawa akan melahirkan. Ayo Mas bawa Hawa ke rumah sakit. Adam belum datang." Segera Yusuf bangkit berlari keluar kamarnya.
Hawa sudah tidak tahan. Marwah ikut panik, karena air ketuban sudah pecah lebih dulu. Segera Yusuf memangku Hawa menuju mobilnya di ikuti Marwah dan Asma.
Adam yang baru saja dapat kabar jika Hawa akan melahirkan segera meluncur ke rumah sakit.
****
"A ...! Mama sakit."
"Istighfar Hawa."
"Mas cepetan dong!"
"Ini juga sudah cepat Asma."
"Hawa, tahan ... tarik nafas keluarkan." Mereka semua jadi panik. Yusuf pun tidak bisa konsentrasi dalam menyetir.
__ADS_1
Hingga sampai di rumah sakit mereka langsung membawa Hawa ke ruang bersalin.
"Apa anda suaminya?"
"Bukan. Saya kakak nya."
"Maaf ya untuk keluarga bisa tunggu di sini kecuali suaminya."
"Saya Sus, suaminya!" teriak Adam yang berlari dari ujung lorong. Mengalihkan pandangan mereka semua.
"Anda suaminya?*
"Iya, Sus."
"Anda boleh masuk." Adam pun melangkah mengikuti suster masuk ke dalam ruang bersalin.
"Kenapa kita juga ikut panik juga ya Ma."
"Nanti juga kamu merasakannya Asma," ujar Marwah tanpa tahu menyinggung perasaan menantunya. Yusuf menatap Asma yang masih diam setelah mendapat cibiran itu. Lalu menggenggam tangan istrinya.
"Jangan diambil hati." Asma hanya mengangguk dengan senyuman.
Oek ... Oek ... Oek ...
Satu jam lamanya menunggu. Akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi yang membuat mereka bahagia.
"Alhamdulillah."
Adam begitu bahagia menggendong buah hatinya. Di adzanin-Nya bayi itu suaranya begitu merdu menenangkan tangisan bayinya.
"Alhamdulillah anak kita perempuan Sayang."
"Alhamdulillah." Tentu saja Hawa senang karena dia sangat menginginkan anak perempuan. Tidak sia-sia dia mendekor kamar bayinya dengan warna pink. Marwah, pun ikut senang ingin segera melihat wajah cucunya itu.
"Masya Allah cantik ya."
"Seperti ibunya."
"Akhirnya doamu terkabul ya Wa. Anakmu perempuan."
"Iya Asma. Alhamdulillah."
"Apa kamu sudah memberikan nama?" Adam dan Hawa berpikir. Nama apa yang bagus maknanya.
"Aby, apa sudah ada nama yang cocok?"
"Belum. Sebentar Aby pikirkan dulu .... gimana kalau Aisyah Azzahra, artinya sangat bagus hidup, sehat, unggul dan pintar. Nama Aisyah juga dinilai bijaksana, diplomatif, pandai bekerja sama dalam tim, mampu memahami emosi serta dalam pikiran orang lain. Semoga Aisyah kita memiliki sifat seperti itu."
"Nama yang bagus. Aisyah Azzahra."
"Cantik nya anak Aby."
"Cucu Mama."
"Ponakan kakak yang cantik."
Kehadiran Aisyah membawa kebahagiaan bagi mereka.
...THE END...
__ADS_1