
Sherly memutuskan untuk merubah diri menjadi lebih baik. Menetap di pondok dan menjadi santri di sana. Kehamilannya tetap dirahasiakan kecuali Ummi dan Kiyai juga Adam yang tahu.
Mereka merahasiakannya bukan karena ingin melindungi tetapi untuk menghindari hal buruk terutama dari sisi pandang masyarakat. Merekapun berusaha menghubungi orangtua Sherly untuk datang dan membicarakannya.
"Kita tidak bisa terus menyembunyikan ini. Perutnya akan semakin membesar itu akan lebih buruk yang akan menjadi masalah nanti."
"Lalu bagaimana By?" Ummi dan Kiyai sedang berunding.
"Apa pria itu belum di temukan?"
"Belum."
"Lalu bagaimana orangtuanya?"
"Belum juga datang."
Tok, tok, tok.
Baru saja mereka membicarakannya. Ketukan pintu terdengar keras. Mungkinkah itu keluarga Sherly? Memang benar, saat Khodijah membukakan pintu terlihat seorang pria dan wanita yang berdiri dihadapannya.
Tanpa rasa malu mereka tidak mengucapkan salam.
"Dimana anak saya?" Dengan tegasnya wanita itu bertanya.
"Kalian orangtua Sherly?"
"Ya, saya ibunya," ucap wanita itu dengan dingin.
"Silahkan masuk Bu, Pak " tawar Khodijah. Wanita itu mendengus kesal lalu masuk dengan tidak sopan ke dalam rumah itu.
Khodijah hanya memperhatikan sepasang suami itu yang berpenampilan formal. Sepertinya pulang bekerja. Mereka berdua duduk di sofa yang kosong.
"Ummi ambilkan mereka minum," titah Kiyai. Namun, dibantah wanita itu.
"Tidak usah saya tidak akan lama. Sekarang mana anak saya?"
Sungguh sangat tidak sopan dan sombong.
"Kami sibuk tidak ada waktu. Kami kesini untuk menjemput anak kami," ucap suaminya menegaskan. Mereka seperti orang sibuk yang tidak ada waktu untuk apapun. Apalagi putrinya.
Kiyai pun meminta Ummi memanggil Adam dan Hawa juga menghubungi Ustadzah Lili untuk memanggil Sherly yang sedang di kamar santri saat ini.
*****
Hoek … hoek … hoek.
"Sherly kenapa?" tanya Asma, Aisyah dan Asiyah saat mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Biar aku yang lihat," ujar Mira yang memang sangat dekat dengan Sherly. Dan kini mereka di pertemukan lagi di pondok.
Mira berjalan ke arah kamar mandi.
"Sherly ini gue Mira. Bisa buka pintunya?"
Pintupun terbuka. Keluarlah Sherly dengan wajah pucatnya..
"Sher lo sakit?"
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Cuma muntah."
"Mungkin kamu masuk angin. Ayo aku punya obat kamu minum dulu."
Mira menuntun Sherly ke atas ranjangnya. Semenjak hamil Sherly sering mengalami mual dan pusing. Kadang membuat tubuhnya lemas.
Mira memberikan minyak angin yang diusapkan pada kening. Namun, malah membuat Sherly mual.
"Hoek … Mira stop jauhkan itu dariku."
Mira merasa aneh. Kenapa Sherly tiba-tiba bau mencium wangi minyak angin. Tidak hanya Mira semua yang ada di dalam kamar pun merasa heran.
"Assalamualaikum." Suara salam mengejutkan mereka semua.
"Walaikumsalam," jawab Asma lalu membuka pintu.
"Ustadzah?"
"Sherly ada?"
"Ada Ustadzah."
"Tolong kasih tahu orangtuanya datang di suruh ke rumah Kiyai."
"Iya Ustadzah." Ustadzah Lili pun melangkah pergi dan Asma kembali masuk ke dalam kamar.
"Siapa?" tanya Aisyah.
"Ustadzah Lili," jawab Asma. "Sherly kamu dipanggil Kiyai katanya orangtua mu datang kamu disuruh ke rumah Kiyai."
Bukannya senang Sherly merasa terkejut. Sherly takut jika mereka akan memarahinya. Apalagi sifat sang ibu yang tempramental.
*****
"Assalamualaikum."
"Sherly!" Ibunya sangat terkejut melihat penampilan Sherly berpakaian seperti santri. Bahkan rambutnya tertutup hijab syar'i yang panjang.
"Hawa! Kamu sudah mempengaruhi anak saya."
Hawa yang mendapat bentakan itu langsumg tercengang. Apa salahnya? Ia pun tidak mengerti.
"Maksud Tante apa?"
"Lihatlah pakaian anak ku. Sherly ku jadi seperti ini. Kita pulang! Lama-lama di sini kamu akan terpengaruh buruk."
"Astaghfirullah," ucap semua serempak.
"Tante!" Ingin rasanya Hawa marah dan emosi. Tetapi Adam menahannya memintanya untuk tetap tenang.
Lalu Adam berkata, "Apa yang dimaksud anda mempengaruhi hal buruk adalah cara berpakaiannya? Apa salah jika wanita menutup auratnya?"
"Diam! Kalian tidak tahu apapun tentang keluargaku," sanggah ibu Sherly.
"Sherly kita pulang."
"Tunggu dulu," tahan Kiyai. "Ada yang harus kami katakan tentang putrimu," tambah Kiyai.
__ADS_1
"Tentang apa?" Kini ayahnya yang bertanya.
"Duduklah dulu."
Terpaksa mereka duduk kembali. Raut wajah ibu Sherly terlihat marah. Enggan berlama-lama di tempat itu.
"Apa kalian tidak menanyakan kabar anak kalian terlebih dulu? Kenapa dia bisa ada di sini."
"Kami bisa menanyakannya setelah sampai di rumah. Lagi pula kami tidak ada waktu berbincang-bincang seperti ini." Ibu Sherly menjawab perkataan Kiyai.
"Apa kalian tidak sayang pada anak kalian? Dia mengalami hal buruk dan mendapat musibah apa kalian tidak tahu hal itu?"
"Sudahlah Pak jangan berputar-putar. Waktu saya itu bukan hanya mengurusi masalah anak saya. Masih banyak kerjaan yang lain. Sekarang katakan saja ada masalah apa? Apa kalian meminta uang karena putriku sudah tinggal di sini?" tanya wanita itu merendahkan.
"Papa, berikan uangnya."
"Sherly sedang hamil Tante." Terpaksa Hawa mengatakannya. Menghentikan papa Sherly yang akan mengeluarkan beberapa lembar uang.
Mereka berdua tertegun dalam beberapa saat.
"Hamil? Jangan sembarangan kamu ya Hawa. Anak saya tidak seburuk yang kamu kira. Memangnya kamu, tubuh saja ditutupi kelakuanmu tidak ada bedanya dengan wanita kotor."
"Apa maksud Tante?"
"Alah jangan so suci kamu. Kamu lupa kasusmu yang sudah tersebar itu. Dan sekarang kamu juga mempengaruhi anak saya. Untuk masuk pesantren."
Hati Hawa terasa sakit. Seperti mendapat hinaan. Dia pikir masalah yang sudah terjadi tidak akan diingat lagi. Ternyata masih ada orang yang mengingatnya walaupun kenyataannya itu hanya fitnah.
"Mama apa yang dikatakan Hawa memang benar. A-aku …"
Plak!
Mereka semua terbelalak saat melihat Sherly ditampar oleh ibunya. Apa Sherly anak kandung? Itu yang menjadi pertanyaan. Sebab, perlakukan ibunya sangatlah kejam.
"Kita bisa bicarakan baik-baik jangan menamparnya."
"Diam! Kalian tidak tahu apapun."
"Pulang sekarang. Kamu sudah mempermalukan orangtuamu." Dengan kasarnya tangan Sherly ditarik paksa oleh ibunya. Meninggalkan pondok tanpa pamit.
"Ya Allah semoga Sherly baik-baik saja."
"Apa mungkin Sherly akan menggugurkannya?"
"Ummi dan Abah bisa lihat sendiri bagaimana perlakuan mereka. Tidak ada sedikit pun rasa sayang. Yang mereka pikirkan hanyalah uang dan uang. Semenjak sekolah kadang Hawa berpikir mereka lebih beruntung karena tidak pernah dapat amarah orangtuanya. Namun, sekarang aku melihat hubungan mereka lebih buruk dari pada aku. Mereka bukannya sayang melainkan tidak peduli."
"Adam, bawa Hawa ke kamar."
Khodijah menjadi cemas pada kondisi Hawa setelah mendengar perkataan ibunya Sherly tadi. Hingga tangannya gemetar, Khodijah takut jika akan terjadi hal buruk pada janinnya..
"Ayo kita ke kamar," ajak Adam. Namun tiba-tiba Hawa meringis kesakitan seraya memegang bagian perutnya.
"Aby …."
"Hawa! Hawa kenapa?" Mereka semua jadi panik.
"Sakit Ummi."
__ADS_1
"Adam bawa Hawa ke bidan sekarang."
Seketika suasana jadi panik. Adam segera membawa Hawa ke dalam mobil yang segera dilajukan menuju tempat bidan berada. Sedangkan Hawa masih meringis yang megang perutnya.